He is Beautiful in His Way

Separuh hidup lelaki tua itu dalam kekelaman jahiliyah. Tumbuh dalam kehidupan yang keras. Dhajanan adalah kenangan. Adalah sejarah masa kecil. Adalah bukit yang abadi dalam ingatannya. Sebab di sana ia menggembala unta. Di sana ia mendapat pendidikan keras. Dan di sana kepribadian itu terbentuk. Tidak seperti anak-anak yang lain, masa mudanya dihabiskan dengan hura-hura dan bergelimang harta. Ia kesepian, sendiri di bukit itu. Tapi Al-Khathab tidak peduli padanya.

“Sungguh, aku telah coba melupakan kenangan itu, tapi hati kecilku berkata padaku.”

Ia memang tidak menyukai takdir itu. Tapi ia belajar berdamai dengan dirinya bahwa itulah yang terbaik untuknya. Ia juga tahu diri. Karena itu ia belajar banyak hal; baca tulis, bergulat, menunggang kuda, mencipta dan mendendang syair. Kemudian ia menaruh perhatian terhadap masalah sejarah dan urusan bangsa Arab. Sosial, politik dan budaya mereka. Ia giat belajar di universitas itu, Pasar Ukazh. Dan kini takdir itulah yang telah mengajarinya tegar dalam menanggung beban berat. Takdir itulah yang memberinya keberanian. Takdir itulah yang menciptakan misi: ia ingin membuktikan bahwa dunia itu salah. Ia bisa berbuat dan menghasilkan sesuatu. Dan kelak, takdir itu pula yang membawanya pada kemuliaan. Ia adalah orang yang diberi ilham. Ia yang memiliki kemampuan seperti nabi. Ia adalah Umar bin Khathab.

Menginjak masa muda, ia mulai menekuni dunia bisnis. Melakukan kunjungan niaga ke berbagai daerah. Pada musim panas, Ia berniaga ke negeri Syam dan pada saat musim dingin berniaga ke negeri Yaman. Dari perniagaan itu ia mendapat dua keuntungan besar: harta dan ilmu. Harta menghantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Mekah. Sedang ilmu mengantarkannya menjadi orang besar.

Tiga puluh tahun dalam jahiliyah. Umar dapat menduduki posisi strategis di tengah masyarakat Mekah. Kontribusinya sangat signifikan terhadap berbagai peristiwa. Suku Quraisy mempercayainya sebagai hakim. Seperti kata Ibnu Sa’ad: “Sebelum masuk Islam, Umar sudah terbiasa menyelesaikan pelbagai sengketa yang terjadi di kalangan bangsa Arab.” Ia terkenal sebagai orang yang bijaksana, bicaranya fasih, pendapatnya baik, kuat, penyantun, terpandang, argumentasinya kokoh, dan bicaranya jelas.

Saat bangsa Arab berada di antara dua imperium besar: Persia dan Romawi. Bangsa Arab tidak memiliki pusat pemerintahan yang mengintegrasi mereka. Dan mengatur seluruh sisi kehidupan mereka. Setiap suku mencerminkan kesatuan politik yang independen. Suku-suku bangsa Arab saat itu saling bermusuhan. Bahasa sosial mereka adalah rimba raya. Hidup dengan cara melakukan perampasan dan penghadangan di tengah jalan. Di antara mereka terjadi perang yang berlarut-larut sebab hal sepele. Maka pantas Umar bin Khathab diangkat menjadi delegasi suku Quraisy. Duta untuk menangani konflik di antara mereka.

Barangkali sebab itu Allah SWT memilih Umar bin Khathab dari pada Amr bin Hisyam. Mungkin sebab itu pula masa kecil Umar bin Khathab begitu keras. Allah ingin ia menghabiskan separuh hidupnya lagi untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah. Dan itu adalah tugas yang lebih berat dari kehidupan masa kecilnya yang dianggapnya berat. Sekaligus itu adalah jawaban doa Rasulullah: “Ya Allah, muliakan Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini; Amr bin Hisyam atau Umar bin Khathab.”

Begitulah kisah dibalik keharuman namanya. Tidak ada orang besar tanpa kehidupan yang keras. Tidak ada orang hebat tanpa pembelajaran. Umar tidak pernah putus asa dari takdirnya. Baik takdir dirinya ataupun bangsanya saat itu. Karena itu, jika takdirmu berbeda dengan yang lain. Maka bedalah cara hidupmu dari yang lain.

source : http://www.dakwatuna.com/2012/08/22188/di-balik-keharuman-nama-besar-umar-bin-khattab/

——————-

Pada pembaiatannya sebagai khalifah, Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin! Kalian semua memiliki hak-hak atas diriku, yang selalu bisa kalian pinta. Salah satunya adalah jika seorang dari kalian memintakan haknya kepadaku, ia harus kembali hanya jika haknya sudah dipenuhi dengan baik.”

“Hak kalian yang lainnya adalah permintaan kalian bahwa aku tidak akan mengambil apa pun dari harta negara maupun dari rampasan pertempuran. Kalian juga dapat memintaku untuk menaikkan upah dan gaji kalian seiring dengan meningkatnya uang yang masuk ke kas negara.”

“Aku akan meningkatkan kehidupan kalian dan tidak akan membuat kalian sengsara. Juga merupakan hak, apabila kalian pergi ke medan pertempuran, aku tidak akan menahan kepulangan kalian. Dan ketika kalian sedang bertempur, aku akan menjaga keluarga kalian laksana seorang ayah.”

“Wahai kaum Muslimin, bertakwalah selalu kepada Allah SWT! Maafkan kesalahan-kesalahanku dan bantulah aku dalam mengemban tugas ini. Bantulah aku dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan. Nasihatilah aku dalam pemenuhan kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.”

——

Serius, 23 tahun aku belajar ngaji, membersamai diri dengan orang-orang soleh, tapi aku baru kenal beliau, sahabat Rasul yang paling bijak, brilliant, dan almost perfect. Setiap membaca kisahnya, kata-kata mutiaranya, mendengar cerita tentangnya, aku berkata pada diriku sendiri, “hey, kemana aja lo selama 23 tahun, tau kalau satu dari 4 sahabat Rasul itu Umar bin Khattab tapi lo ga tau kalau ternyata dia satu-satunya dari keempat itu yang dulunya jahiliyyah nauzubillah? Suka minum arak, membunuh anak perempuannya hidup-hidup, berniat membunuh Rasul pula.” Allah punya cara dan waktu yang tepat untuk mengenalkan kita pada sosok yang lain. Di usia 23 tahun aku seperti menemukan cahaya yang terang tapi adem, bukan terang tapi panas. Bahkan jika ditanya siapa idolaku, aku bukan menjawab Rasulullah tapi dia, Umar bin Khattab. He is beautiful in his way.

Ingat kata Rasul, “seandainya ada nabi setelahku, dialah Umar Bin Khattab.”

Semoga aku bisa bertemu dengannya nanti. Agak egois memang tapi misi ku ke jannah salah satunya untuk bertemu dengannya. Itu dulu. Salam Ya Omar.

source: here

Advertisements

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 7

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 7

#Isi Cerita

Meneruskan adegan Abdullah bin Massoud yang membaca surat Ar-rahman dengan suara keras di depan orang-orang Quraisy. Abu Jahal dan para petinggi Quraisy mendengar dari tempat perkumpulan mereka, lalu Abu Jahal menghampiri Abdullah dan mencambuknya. Jika kaum muslimin dicambuk atau dicacri mereka hanya pasrah atau melempar salam damai kepada mereka-mereka yang menyakitinya. Umar ra tidak tega, melihat adegan itu dia pergi mengunjungi rumah Fatima, adiknya.

Dihari lain umat muslimin terus mencoba untuk berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah sering melaksanakan solat di depan Ka’bah. Sampai suatu ketika, Rasulullah melakukan solat di dekat Ka’bah dan Abu Jahal melihatnya. Saat itu Abu Jahal memanggil para petinggi Quraisy untuk tidak tinggal diam dan harus memberi pelajaran kepada Rasul. Tetapi saat itu, Abu Bakr ra menjaga disamping Rasulullah yang sedang solat. Abu Bakr ra mencegah Abu Jahal yang mendekat ingin melucuti Rasulullah. Akhirnya, Abu Bakr ra lah yang disiksa sampai pingsan. Ketika Abu Bakr ra sadar, kalimat yang diucapkannya adalah menanyakan kabar Rasulullah, beliau khawatir akan keadaan Rasulullah. Setelah sedikit membaik, Abu Bakr ra meminta diantarkan ke tempat Rasul berada,yaitu di rumah Al-Aqram.

Petinggi-petinggi makin jengkel terhadap kaum muslimin, mereka mendapat kecaman dari keluarga mereka yang sudah masuk Islam atas tindakan yang keji terhadap umat Islam. Keadaan Mekah kacau, beberapa orang menilai tindakan Abu Jahal dan kawan-kawannya salah tetapi mereka juga belum mau meninggalkan agama nenek moyang mereka. Sampai pada adegan Umar ra yang bertemu dengan Abdullah Bin Suhail, saat itu tengah malam Abdullah duduk termenung. Ketika Umar ra bertanya sedang apa dia berdiam sendiri, Abdullah menjawab,

“Siapapun bisa hidup dengan dua hati, Ya Umar, satu untuk dirinya sendiri satu untuk orang lain. Tapi haruskah kita mematuhi nenek moyang kita dan tidak mengikuti kata hati kita sendiri?”.

Lalu Umar ra memberi jawaban, jawaban yang sangat masuk akal, kurang lebih seperti ini,

“Kamu sedang memikirkan Islam? Jika kamu berpikir Islam adalah keyakinanmu,maka lakukan dan terima semua konsekuensinya. Biarpun hal itu menjadikan kita musuh, tetapi aku akan kagum padamu. Namun jika kamu memilih agama nenek moyang yang bukan keyakinanmu dan kamu terpaksa melakukannya, maka kamu adalah temanku tetapi aku akan melihatmu dengan penghinaan.”

Setelah pembicaraan singkat itu, Abdullah mengakui dirinya memeluk Islam dihadapan bapaknya, Suhail Bin Amr. Sedangkan saudaranya Abu Jandal, masih belum memasuki Islam dengan alasan mungkin suatu saat nanti akan berubah, karena kita tidak akan tahu bagaimana masa depan.

Umat muslim semakin sering diperlakukan tidak adil di Mekah saat itu, lalu sebagian dari umat muslim berhijah ke Habasyah, di sana ada raja yang sangat adil, yang bisa menerima mereka dengan baik. Tetapi berkat perlindungan dari kaum Bani Hasyim, Rasulullah dan beberapa sahabat masih tetap berada di Mekah. Melihat hijrahnya umat muslim, petinggi Quraisy tetap tidak bisa tinggal diam, Utbah berencana untuk mengutus orang ke Habasyah, menemui raja Najashyi dan menghasut agar raja mengembalikan seluruh umat muslim ke Mekah.

#Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

  1. Hanya Allah-lah yang memiliki hati kita, Allah-lah yang bisa membolak-balikan hati. Sama seperti yang dikatakan Abu Jandal. Dan masuknya Abdullah ke Islam itupun pasti sudah kehendak Allah.
  2. Yakinlah pada apa menurut kalian baik dan terima semua konsekuensinya.
  3. Jika Islam sudah mendarah daging, maka hanya pada Allah-lah tempat untuk berserah diri dan bersandar.
  4. Bersabarlah, seperti yang dikatakan raja Najashyi kepada umat muslim yang hijrah, meminta perlindungan ke Habasyah.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan para pemain. Aamiin.

Saya bukan ahli agama, jadi tulisan saya ini menjadi pengingat juga bagi diri saya pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 7 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Saya bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Saya hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Saya hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 6

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 6

#Isi Cerita

Bilal masih saja tidak mau menuruti apa kata majikannya, Bilal tetap dengan pendiriannya, akan cintanya kepada Allah dan Rasul sehingga dia terus menyeru “Ahadun Ahad” biar sekalipun dia mati dicambuk. Tetapi Alhamdulillah, atas izin Allah, Abu Bakr ra datang menolong dengan membeli Bilal sehingga dia terbebaskan dari siksaan tersebut. Terpujilah Abu Bakr ra, beliau membeli beberapa orang budak muslim agar terbebas dari cambukan kaum Quraisy. Sedangkan Yassir dan keluarganya tetap mendapat siksaan dari Abu Jahal karena seperti yang Rasulullah katakan “Bersabarlah keluarga Yassir sesungguhnya kalian akan berkumpul di surga”. Dan sampai suatu waktu, Abu Jahal naik pitam, dan dibunuhlah istri Yassir, sedangkan Yassir meninggal karena kelelahan disebelah anaknya ketika malam. Tinggal tersisa anaknya, Ammar, Abu Jahal mempersiapkan pisau yang telah dipanaskan dengan api, karena pisau itu, Ammar mencela Nabi sesuai yang dipinta Abu Jahal. Dan lalu dia terbebaskan. Di perjalanan Ammar bertemu dengan Abu Bakr ra dan dia meminta untuk diantarkan ke hadapadan Nabi karena dia telah berbuat zalim atas namanya.

Di suatu pagi, Umar ra mengunjungi Ayyash dan Salamah di tempat mereka dikurung. Umar berkata bahwa dia tidak suka berkumpul dengan Abu Jahal, dia hanya senang berkumpul dengan Ayyash dan Salamah mendiskusikan macam-macam seperti biasanya. Namum Ayyash dan Salamah mencoba mendesak Umar ra agar dia mau melihat Islam sebagai agama yang baik, yang memisahkan yang benar dan yang salah. Karena sesungguhnya Umar ra adalah orang terpandang, berakhlak baik dan mementingkan moral, seharusnya dialah orang yang paling bisa memahami Islam. Mulai dari apa yang Umar ra lihat dan dengar dari orang Islam, terlihat diwajahnya kekaguman akan Islam. Sampai akhirnya bertemu dengan Abdullah Ibnu Massoud, dan berkatalah dia kepada Umar ra, “Anda pasti lebih baik dari dua laki-laki, dan saya yakin bahwa doa Nabi tidak akan salah.”

Di suatu tempat, umat muslim yang hanya sebagian kecil berkumpul dan membicarakan mengenai tindakan apa yang sepantasnya mereka lakukan untuk mencegah keburukan dari kaum Quraisy. Bukan membalas dengan hal yang sama, bukan mencaci berhala, tetapi menyerukan ayat Quran, Surat Ar-Rahman, agar orang-orang Quraisy berpikir. Hal tersebut dilakukan oleh salah satu sahabat nabi, Abdullah Ibnu Massoud.

#Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Bersabar karena pertolongan Allah dekat bagi orang yang beriman.

2. Tidak boleh menghina sesembahan orang lain, karena nanti mereka akan membalas dengan menghina Allah

3. Berperilaku baiklah kepada sesama muslim dan saling tolong menolong, baik itu yang kuat dan yang lemah karena kita bersaudara.

Semoga Allah mengampuni dosa kita, melindungi kita dari sifat tercela dan menanamkan serta menjaga sifat baik&taat kepada-Nya.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan para pemain. Aamiin.

Saya bukan ahli agama, jadi tulisan saya ini menjadi pengingat juga bagi diri saya pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 6 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Saya bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Saya hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Saya hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 5

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 5

#Isi Cerita

Pada episode ini, Umar ra telah sepakat dengan Abu Jahal untuk memerangi umat muslim, bukan berperang dengan orang-orang dari Bani Hasyim, melainkan menghukum orang-orang yang mengikuti agama yang dibawa Nabi Muhammad. Namun sebelumnya Uthbah berbicara kepada Rasulullah, adakah sesuatu yang diinginkan Rasulullah SAW (harta, wanita, kedudukan sebagai raja) supaya Rasulullah SAW berhenti menyebarkan Islam. Tapi usahanya sia-sia.

Mulailah hilang kesabaran petinggi Quraisy temasuk Umar ra, para budak-budak yang sudah beragama Islam, dilucuti, ditindih dengan batu besar supaya mereka merasakan akibatnya berkhianat kepada agama nenek moyang mereka. Budak-budak itu diminta untuk menyebutkan bahwa berhalalah yang paling agung. Dan disini dilihatkan bahwa Abu Bakr ra mengorbankan hartanya demi membeli budak-budak yang dilucuti itu dan dibebaskan.

Pada episode ini, umat Islam semakin bertambah bahkan dari kalangan keluarga petinggi Quraisy dan kebanyakan mereka masih bersembunyi-sembunyi. Tidak hanya Abu Hudzaifah dari keluarga Uthbah yang sudah memeluk Islam tetapi Ayyash Bin Abi Rabeeah dan Salamah Bin Hisham dari keluarga Abu Jahal. Dan mereka berdua pun dikurung oleh Abu Jahal, diikat tangannya dan dirantai.  Melihat kenyataan saudaranya memeluk Islam, Umar ra memberi pengumuman bagi kaum Bani Adiy, bagi yang ditemukan telah memeluk Islam akan diceluti dan dihukum. Umar ra berkata (kurang lebih), “saya akan memperlakukan semua orang sama, mereka yang berkhianat dari agama nenek moyang akan dihukum agar bisa menjadi contoh bagi yang lain. Baik dia adalah saudara kandung, sepupu, paman, atau budak. Sama seperti Muhammad katakan semua orang harus diperlakukan sama, maka aku akan seperti itu juga.

Ada perkatakaan yang benar yang dituturkan Umar kepada Zaid dan Saeed, tetapi sayanya Umar ra masih menjadi musuh Islam:

Jika terjadi kekerasan, kekerasan itu hanya untuk menghalangi dan membuat sesuatunya benar. Pemimpin boleh memperlakukan orang baik dengan kekerasan, hukuman untuk kemajuan, balas dendam bisa menghentikan ketidak adilan dan suatu kematian bisa memberikan kehidupan untuk beberapa orang. Jika tidak ada orang yang ditakuti orang lain, dunia akan kacau dan orang-orang akan berkelahi sampai mati.

Ada beberapa orang dari keluarga petinggi Quraisy yang masih menyembunyikan ke Islamannya, Zaid (saudara kandung Umar), Saeed (ipar Umar) dan anak tiri Al-Waleed.

Dan sampai ketika majikan Bilal mendengarkan Bilal sedang berdoa kepada Allah, Bilal juga ikut dicambuk dan dimintai kesaksian bahwa berhalalah Tuhan mereka. Tetapi karena keyakinan dan kecintaan Bilal kepada Allah dan Rasulullah, dia terus mengatakan “Ahadun Ahad” sampai akhirnya badannya ditindih dengan batu yang sangat berat. Tapi Allah memberikan kekuatan kepadanya sehingga Bilal tetap hidup.

#Opini

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Jika kita yakin bahwa Allah satu, Tuhan semesta Alam yang maha Besar dan bekuasa baik itu di langit maupun di bumi, maka kesulitan akan merasa ringan, seperti halnya Bilal.

2. Betapa keras, pedih, sakit perjuangan kaum Muslimin pada saat itu, mereka terasingkan, mereka dikucilkan, bahkan hingga dicambuk untuk berpegang teguh pada Islam. Seharusnya kita bersyukur, apalagi bagi kita yang sudah memeluk Islam dari bayi, karena kedua orang tua kita Islam, maka kita juga Islam. Dan sekarang, kita bisa bebas memeluk agama Islam, tidak seperti masa Nabi Muhammad…

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 5 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Video

[lyric+translation] Salaman Ya Omar

Mashary Alfasy – Salaman Ya Omar

OST Omar Series

Salaman Ya Omar Al Faruq

Peace be on to you, O Omar Al Faruq

Hakamta ‘adalta aminta fanimta rasikhal bal

You ruled with justive, so you became safe

Then you slept peacefully and comfortably

Bimithlika Nastasghiru najman wadhuran wajibal

We see many great and honorable people

That can not be compare to you

Walawla tharu nuri laqulna kunta khayal

If we havent seen your light

We’d have said you are a fantasy

Salaman Ya Omar Al Faruq

Peace be on to you, O Omar Al Faruq

Tahala wajhu nabiyika yawma hadak Allah

The face of the prophet shone

When Allah guided you to Islam

Wakam ayadta elhaqa wakam wafaqk Allah

How many times you showed the truth

And Allah supported you

A’azza Allahu bikal Islam waradhiya Allah

You made Islam glorified with Allah will

Salaman Ya Omar Al Faruq

Peace be on to you, O Omar Al Faruq

Mala’etal ardha bi’adlika wafatahtal amsar

You filled the earth with justice

And you conquered the lands

Wakulta bihaq annas laqad wulidu ahrar

And you said rightly that All people

Wahabatka dunia yazahidan sha’a wataal

This dunia (earthy life) feared of you

You were pious and your face became bright

Salaman Ya Omar Al Faruq

Peace be on to you, O Omar Al Faruq

source: http://islamicsongsarabiclyrics.blogspot.com

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 4

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 4

#Isi Cerita

Diawal episode, masih dengan pembicaraan petinggi Quraisy mengenai langkah-langkah selanjutnya menghentikan Nabi Muhammad untuk menyebarkan Islam. Saat itu dipilih Abu Abd Shams untuk bicara langsung kepada Nabi Muhammad. Di luar majelis Abu Hudzaifah berteriak memberikan pengumuman bahwa Salim (budak) telah dimerdekakan dan diangkat menjadi anaknya.

Setelah itu, Wahsyi dan Bilal membicarakan Salim yang telah merdeka. Wahsyi iri karena mungkin Salim diangkat karena dia ada keturunan Arab berkulit putih. Lalu Bilal yang sudah memeluk Islam meyakinkan bahwa tidak ada bedanya Hitam dan Putih, semua sama di mata Tuhan. Dan Bilal mencoba untuk membahas tentang Muhammad seseorang yang diutus Tuhan bukan hanya untuk orang Arab tapi orang non-Arab juga, serta bukan hanya untuk orang berkulit putih tapi orang berkulit hitam juga, namum Wahsyi tidak peduli.

Di lain tempat, Abu Jahal berpapasan dengan Abu Bakr ra dan Abdullah bin Masoud, Abu Jahal memberi peringatan kepada keduanya yang telah bergabung bersama Nabi Muhammad SAW dan memeluk agamanya. Abdullah bin Masoud berkata bahwa dia akan membalas apa yang dikatakan Abu Jahal tetapi Abu Bakr berkata bahwa kita tidak boleh melakukannya. Rasulullah diutus untuk memberikan kabar gembira dan peringatan, menggunakan kebijaksanaan dan nasihat baik.

Sesuai dengan firman Allah, Al-An’am (108):

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Malamnya, Uthbah mendatangi kediaman Abu Hudzaifah bersama Suhaila dan Abu Jandal saudaranya. Mereka membicarakan tentang bergabungnya Salim dalam keluarga mereka. Uthbah yang bijak akhirnya menerima Salim sebagai anggota keluarganya karena dia melihat Abu Hudzaifah sangat menyayangi Salim. Uthbah memberi nasihat kepada Salim untuk bersikap baik karena aibnya akan menjadi aib keluarga ayah angkatnya. Dan meminta Salim untuk selalu bersama Abu Hudzaifah karena dia lah yang memerdekakannya. Dan Salim menjawab bahwa dia tidak akan meninggalkan ayahnya selama sisa hidupnya dan rela meninggal untuknya.

Di hari lain, Abu Hudzaifah, Salim beserta isri sedang melaksanakan salat ketika Utbah datang mengunjungi rumahnya. Abu Hudzaifah marah dan berkata bahwa anaknya telah membangkang kepadanya. Lalu Salim membacakan Ayat Quran yang menjelaskan mengenai larangan membangkang kepada orang tua, seperti yang diriwayatkan dalam S. Al-Isra (23-24):

Dan Rabb-mu telah memerintahkan, supaya kalian jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya,
dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu (dalam pemeliharaanmu), maka janganlah katakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih-sayang. Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya menyayangiku sewaktu kecil”.

Abu Hudzaifah menjelaskan makna dari Quran tentang seorang anak boleh tidak melakukan apa yang diperintahkan orang tuanya untuk menyekutukan Allah. Seperti dalam S. Lukman (15):

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 

Ada satu keluarga lagi yang dibahas dalam episode ini, yaitu keluarga Suhail bin Amr dengan kedua anaknya Abu Jandal dan Abdullah. Suhail dikenal sebagai pembicara yang pandai, bijak dan disegani. Setiap dia berkhutbah di depan rakyat Quraisy semua orang patuh dan mengikuti kata-katanya. Diantara kedua anaknya Abdullah adalah orang yang terang-terangan tidak suka terhadap ayahnya yang memerangi Nabi Muhammad, sedang Abu Jandal anak yang patuh tetapi sebenarnya dia tidak suka dan memiliki pendapat yang berbeda dari ayahnya.

Abdullah tidak suka menemani ayahnya berkhutbah untuk menjelek-jelekan Nabi Muhammad, dengan alasan dulu ayahnya berkata bahwa Muhammad itu orang baik, jujur, bermurah hati tetapi sekarang malah memakinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah pembohong dan tukang sihir. Dan apa yang telah ayahnya katakan tentang Muhammad sebenarnya Suhail sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Menurut Abdullah, jika dia percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya tentang Muhammad hari ini, berarti ayahnya dulu adalah pembohong.

Menjadi tidak jelas tapi jujur jauh lebih baik dari pada menjadi pandai tapi palsu.

PS. Orang Quraisy menyebut Nabi dengan sebutan Muthammam yang artinya ‘the reviled one’ yaitu yang menjadi kebalikan dari namanya Muhammad yang artinya ‘the praised one’.

#Kataku

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Tidak boleh berkata ah kepada kedua orang tua. Dan harus berbakti kepada mereka biarpun kita dan orang tua berbeda pendapat.

2. Boleh tidak mengikuti perintah orang tua untuk menyekutukan Allah.

3. Derajat/kedudukan manusia dimata Allah sama kecuali hatinya.

4. Selalu berkata baik dan murah hati walaupun itu kepada musuh kita.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 3

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 3

#Isi Cerita

Episode ini menceritakan tentang tindakan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad, mereka mencoba melakukan berbagai cara untuk Melawan nabi.

Meneruskan episode 2 kemarin, episode ini dimulai dari pertemuan petinggi Quraisy yang sedang berdiskusi tentang bagaimana melawan Nabi Muhammad. Abu Jahal (Abu Hakam) menyarankan untuk segera berperang,  sedangkan petinggi Quraisy lain masih menimbang-nimbang saran tersebut. Beberapa petinggi Quraisy memusuhi Nabi Muhammad karena mereka iri mengapa Allah memilih Nabi Muhammad sebagai Rasul padahal ada mereka yang lebih terpandang dan kaya. Umar ra akhirnya ikut bicara, menurutnya kalau langsung mengambil jalan perang maka akan mempercepat apa yang seharusnya bisa dihindari, yaitu perpecahan sanak saudara, kehancuran dll. Maka beliau memberi saran untuk menemui Abu Thalib (paman nabi) untuk meminta dia yang menghentikan Nabi Muhammad untuk berhenti menyebar luaskan agama Islam. Saran Umar ra tersebut disetujui para petinggi Quraisy yang ada disitu.

Di hari lain, Abu Bakar ra memberikan nasihat kepada kaum muslim di atas bukit,untuk tidak mencemaskan petinggi Quraisy dan kearoganan mereka. Beliau mengingatkan bahwa Allah lah yang menentukan nasib seseorang. Jangan terlalu memperdulikan mereka dan jangan pula putus asa, karena perilaku yang baik dan halus akan selalu membuahkan hasil yang lebih baik.

Pada hari dimana Petinggi Quraisy bertemu dengan Abu Thalib, mereka malah meminta Abu Thalib untuk segera menyerahkan Nabi Muhammad, jika tidak maka mereka akan memerangi Nabi beserta Abu Thalib dan membinasakan kaumnya. Biarpun Umar ra berdiri bersama petinggi Quraisy saat itu, tetapi beliau tidak setuju karena dia berpikir petinggi Quraisy tidak memiliki moral. Dia mengatakan kepada Zaid dan Ayyash, jika meminta Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad kepada mereka berarti mereka menjatuhkan kehormatan dan mengina Abu Thalib, karena orang Quraisy menjunjung tinggi persaudaraan.

Biarpun Umar ra sangat membenci nabi Muhammad dan tindakannya menyebarkan agama Islam tetapi menurut Umar ra, moral dan integritaslah yang harusnya muncul ketika menghadapi masalah. Jika hanya mengandalkan perang, maka orang-orang yang menaruh harapan pada pedanglah yang akan terjebak.

Ditempat lain Utbah bin Rabiah (Abu Walid) mengunjungi rumah Abu Hudzaifah yang saat itu sedang makan bersama Salim, budaknya. Abu Walid terkejut melihat putranya bersikap seperti itu, menurutnya itu merendahkan dirinya. Lalu mereka meperdebatkan perbedaan manusia ketika meninggal dan dikubur.

Pada episode ini masih ditutup dengan diskusi petinggi-petinggi Quraisy, mereka mendiskusikan apa yang selanjutnya harus dilakukan ketika sudah berkali-kali bertemu dengan Abu Thalib tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Umar ra pun menjelaskan pemikirannya, seperti dia menjelaskan kepada dua kerabatnya Zaid dan Ayyash. Jika sudah menghinakan satu kaum maka akan dihinakan oleh seluruh orang Arab.

Ada sebuah syair yang disebutkan Umar ra,

Barang siapa yang tidak mendukung anaknya tidak akan membantu tetangganya.

Oleh karena itu, Umar ra memberikan saran untuk tidak mempercepat konfrontasi terhadap keluarga Bani Hasyim dengan kekerasan dan pemutusan kekerabatan. Bagaimanapun juga menurutnya, dulu Abdul Muthalib (Kakek Nabi) menjadi pemimpin nomor satu di Quraisy yang tidak terkalahkan.

#Kataku

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari episode 3 ini, mengenai musyawarah. Seperti cerita diawal mengenai saran Umar ra lebih diterima petinggi Quraisy dibandingkan saran dari Abu Jahal. Musyawarah bertujuan agar semua orang mengeluarkan pendapatnya sehingga anggota bisa memilih tindakan/saran yang terbaik. Bukan karena Umar ra masih muda dan keponakan dari Abu Jahal lantas dia tidak boleh mengeluarkan pendapat dan harus mengikuti saran pamannya itu. Seperti yang Umar ra bilang, musyawarah bukan untuk berkompetensi dalam pendapat tetapi menemukan jalan yang tepat.

Selain itu mengenai kesabaran dalam menghadapi musuh. Seperti yang dikatakan Usman ra bahwa yang berperilaku jahat maka balaslah dengan berperilaku baik, yang keras sebaiknya dihadapi dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Jika tidak, musuh yang akan menang karena mereka berhasil membuat kita seperti mereka.

Dan, adegan Utbah dan anaknya Abu Hudzaifah yang berdebat setelah melihat Abu hudzaifah makan bersama budaknya di satu piring. Disitu dikatakan bahwa baik Tuan dan budak sama-sama mati dan dikuburkan dalam tanah. Dan ketika manusia mati mereka tidak membawa apa-apa kecuali amal baik mereka.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv