Quote

“The mind replays what the heart can’t delete”
-Yasmin Mogahed

Advertisements

Tak Dapat Kembali

Aku berjalan menelusuri rak-rak buku di toko buku yang sedang ramai mengadakan pesta anniversary salah satu perusahaan penerbit. Warna hijau muda dan biru tua mendominasi di tiap sudut ruangan bahkan rak-rak bukunya, sesuai dengan warna logo dari penerbit yang sedang berulang tahun ke 30 itu. Mall yang aku datangi memiliki satu toko buku dengan dua lantai, di lantai dua khusus untuk buku-buku saja dan ada dua ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk fan-signing atau diskusi tentang buku-buku yang best seller.  Di lantai satu khusus untuk semua hal yang berbau stationary, dimulai dari alat tulis sekolah, alat tulis kantor hingga pernak-pernik lucu hiasan dinding dan meja.

Aku kesini berniat untuk mengambil hadiah yang aku dapat dari undian poin yang diselenggarakan penerbit yang sedang berulang tahun itu. Aku nggak tau sebelumnya apa yang akan aku dapatkan nanti. Di bagian depan toko di situlah tempat pengambilan hadiah undian, ada  wanita berkaoskan sama dengan para karyawan lain di toko buku itu.

“Mba, saya mau ambil hadiah undian poin” saya memperlihatkan sms yang telah dikirimkan pihak penerbit sebagai bukti memang aku salah satu pemenang.

“Sebentar ya, mba. Saya urus dua mba yang ini dulu” aku pun meletakkan buku yang aku bawa di atas meja. dan menunggu sambil memperhatikan wanita di sebelahku. Dia sedang serius mengisi kertas yang mungkin itu adalah kuesioner pembaca, aku nggak pasti.

“Yap, terima kasih telah bekerja sama dengan membeli buku-buku kami, sebagai hadiah tambahan saya berikan satu buah buku untuk kalian masing-masing ya,” mba karyawan itu mengambil satu buah buku dari rak, memberikannya kepada salah satu dari dua orang di sebelahku, dan mengambil bukuku untuk diserahkan kepada yang lainnya.

Entah apa yang ada di mulutku, sehingga aku tidak bisa memberi tahu kepadanya bahwa itu buku milikku. Setelah kedua pemenang itu pergi, baru lah aku diladeni. Aku diberikan parsel yang berisikan banyak coklat dan syrup. Sebelum aku beranjak dari sana, aku baru bisa mengatakan, “mba buku yang tadi mba kasih ke orang lain itu buku saya.”

“Buku yang mana ya?” tanya nya sambil mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda.

“Yang judulnya ‘Seseorang yang Tak Kan Pernah Ada’, buku yang saya punya versi covernya bergambar siluet laki-laki, sedangkan buku yang ada di rak mba itu versi cover yang baru.”

“Oh begitu ya? Maaf kalau begitu, karena dari tadi saya bekerja terus nggak ada istirahat, jadi ribet sendiri. Oke, kalau gitu tolong kamu cari yang namanya Mba Riska, minta buku dengan judul yang sama. Kalau ditanya, bilang aja diminta Mba Kukuh gitu.”

Aku hanya mengangguk tanpa pikir-pikir lagi. Bodoh, aku diminta untuk mencari mba Riska tapi aku nggak tahu pasti di mana aku harus mencarinya, Riska yang seperti apa pula. Kaki melangkah ke lantai atas, aku pikir karena dilantai atas itu khusus untuk buku-buku mungkin orang yang aku cari ada di sana. Sesampainya di sana ternyata suasana sudah ramai, kedua ruang pertemuan di isi dengan seminar yang pesertanya anak-anak usia 10-12 tahun, di setiap rak juga dipenuhi orang. Aku tanya ke setiap karyawan dengan baju yang seragam semua tidak tahu dimana Riska. ‘Oh mungkin mba Riska ada di lantai bawah, di ruang khusus karyawan/gudang buku’, pikirku dalam hati. Tapi langkah kakiku malah menjauh dari toko buku itu, dan aku pun melupakan hadiah parsel yang aku dapat. Aku makin jauh hingga keluar dari mall. Pikiran ku malah tertuju dengan rumah yang ada di dalam buku itu. Buku yang tadi salah di ambil oleh Mba Kukuh. Buku yang baru selesai aku baca. 

Awalnya aku berjalan, lalu berlari, berlari dan berlari, hingga akhirnya aku berada di satu perumahan di daerah St. Louis. Ya aku sedang berada di Amerika. Aku tidak asing dengan suasana dan hawa dingin musim semi yang baru saja ditinggalkan musim salju itu. Yang berbeda dari pemandangan yang ku lihat adalah banyak rumah-rumah baru yang dibangun disekitar jalanan utama St. Louis. Aku seperti sudah tahu ke arah mana tujuan kakiku melangkah saat itu.

Aku mencari rumah dengan gambaran yang sama dalam buku. Sebelum aku sampai kerumah itu, aku melihat ada sepasang pengantin baru yang baru saja selesai melaksanakan pesta pernikahan. Dari mana aku tahu? Dari pakaian mereka yang masih berpakaian pengantin warna putih. Mereka sedang asik menata rumah baru, dibantu dengan teman dan keluarganya. Kegembiraan terpancar dari wajah pasangan baru itu dan terdengar dari gelak tawa keluarga yang sambil lalu membantu membenahi rumah baru.

Rumahnya unik, persis dengan pakaian pengantin yang bernuansa putih-putih. Rumah yang modelnya menjulang keatas, ada tiga tingkat, memiliki jendela yang berukuran besar. Khas rumah orang Amerika, seperti mereka selalu akan merasa aman dengan rumah yang memiliki jendela besar dan bening. Aku bisa lihat jelas letak-letak lemari, guci dan posisi barang-barang lain dari rumah itu. Aku terus memperhatikan rumah itu, ‘enaknya pengantin baru,’ itu yang ada dipikiranku.

Oh ya, kembali ke rumah yang ku tuju. Rumah itu berada di belakang rumah pengantin baru tadi. Rumah tua dengan cat berwarna hijau muda. Ada tanda hitam besar di depan pintu hingga tembok disebelahnya, tanda itu seperti bekas tembok yang terkena bocor. Lalu lagi-lagi, aku tergerak oleh pikiran bawah sadarku untuk melakukan hal yang sebenarnya aku tak mau. Aku menulis di tembok samping pintu utama dengan pensil yang aku bawa, ‘this house is like mine‘, selagi aku menulis, aku melihat bayang-bayang bekas tulisan di tempat yang sama, tetapi aku tak tau pasti tulisan apa itu. Aku hanya dapat membaca kata belakangnya ‘to you‘. Dan jujur, aku nggak tahu pasti mengapa aku bisa menulis ‘rumah ini seperti milikku’ padahal aku tidak memiliki rumah aku tinggal bersama orang tua. Dan aku tahu rumah itu dari buku yang aku baca. Aneh.

Ku ketuk pintunya, tapi aku mendengar bunyi bel dari dalam. ‘Aku mengetuk pintu, mengapa yang terdengar bunyi bel?’ aku membatin. Ku dengar derap langkah dari dalam rumah yang mendekat ke arah pintu. Aku melihat sosok kakek-kakek yang semakin mendekati ku, semakin terlihat muda dan bahkan seperti, sorry to say, anak cacat dengan kepala membesar. Wajahnya lama kelamaan semakin imut seperti anak usia 7-8 tahun.

Good evening” sambil tersenyum dan matanya menatapku lekat.

E-e-evening. Sorry, is this house a store?” aku tergagap. Aku bingung berhadapan dengan orang aneh ini. Dan aku juga baru tersadar saat itu, buat apa aku datang kesini, padahal yang aku cari itu Mba Riska, yang seharusnya aku datangai bukan rumah ini tapi toko buku.

Oh this is not a store,” tersenyum senang dan masih terpaku menatapku, sampai akhirnya aku pamit dan berlari menjauh. 

Di perjalanan ingin kembali ke toko buku, angin kencang berhembus aku tidak bisa melihat jelas kemana arah langkah kakiku. Sampai akhirnya aku kembali lagi melihat rumah pengantin baru tadi, mereka sedang sibuk menutup jendela rumah karena tiba-tiba hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kencang. Lalu aku kembali lagi ke rumah tua itu. Aku berlari lagi menjauhi rumah itu, lalu kembali lagi di depan rumah yang sama. Ini aneh. Terus hingga malam pun tiba, area St. Louis semakin gelap, minim lampu jalan dan aku ketakutan. Dari situlah akhirnya aku tak dapat kembali ke kehidupanku yang lama. Aku sekarang tinggal di dalam rumah yang temboknya pernah ku tulis ‘this house is like mine‘. Aku akhirnya menjadi pemilik rumah itu sampai sekarang.

Working hours

Me: i said to you i can’t.

Me: Please Mamu, my aim to phone you is not for arguing.

You: please understand me Attha, i was absent from my office tonight only because i want to talk this topic with you.

Me: i didn’t ask you to absent from your job, never. you had decided by yourself. You shouldn’t talk with me tonight. i only asked if you able to call me, not u have to do right after that. i didn’t shame into calling me.

You: okay, i know, i’m sorry, if you want to scold me, i can take it. But please, answer my question.

Me: i said to you before, i can NOT.

You: but why?

Me: oh, you make my mood down now. I’m tired, can we continue again tomorrow without saying anything about why. i only don’t know what i must say. Please. We should stop this arguing.

Mba Ollie said,

“if a guy answers you text during working hours, marry him.”

What if a guy, answer the text like the situation above? He was not in office, the condition was, his office needed his help to come at late night, some problem happened and only him who can help it. Firstly, he said that he only able to talk 2 hours to go, after came back from the office, but beneath it all he denied, he left his job only to talk with you on phone. Should we marry a guy like this?

Random #2

Watch out, there’s an alien in my room!

Dear Penu,

Good morning, i fail again keep the promises. you said i only permissible to mail you at least on next March. but please read this, i only want to inform something, something weird happened in my room.

i got shock, trully.

When i woke up from the very long dramatic night with you, i found odd creature stood up on edge of my bed. First time i saw it, I was only shaking. I was afraid.
Slowly but sure, I came nearly. You know what did I saw? It’s ALIEN. A L I E N. I never believe about alien, because I’ve never ever seen it before.

Then i dare to give its greeting first. Ohya, i think that alien’s gender is female, since i saw the shape of its body, looks like a girl.
First she was only look at me, without saying. I accost her and ask her why she came to my room.

You know what she said, it because she heard the kunjukunna song from my room lat night. Good gracious! She said that she was from the planet called Kunjukunna. do you know it? I’ve never heard it before. I only know the 9 planets, Mars, Venus, Earth, Pluto and so on. Not Kunjukunna, it’s lol. But since i saw her face was pale and looked so sad, i kept in mind.

She also heard Kunjukunna song from your room actually, but since you are a boy, she couldnt enter it.

Then now, i make a friend with her. But i want her to turn back to her place soon, that Kunjukunna planet. Because i think she looks doubtful and sad, she needs her family and friends, not me or stay on this earth. It’s not good place for her. I want she return before night comes. Yeah you know, it because tomorrow morning I’ve should start my new job. I only want to send her home. i dont want mom & pap know there’s an alien in my room.

I dont know when will able to talk with you again. Thank you and happy Sunday Penu~ Keep this story from others. The alien is not only a story or joke, it’s true! Ssst.

The Boy and The Tree

Pada jaman dahulu kala, ada sebuah pohon apel yang sangat besar. Seorang bocah laki-laki sangat suka datang dan bermain disekitar pohon tiap hari. Dia memanjat pohon hingga puncak, tidur siang di bawah bayangan… dia sangat suka pohon itu dan begitu juga pohon sangat suka bermain dengannya. Waktu berlalu… bocah laki-laki ini beranjak dewasa dan tidak lagi bermain di sekitar pohon tiap hari.

Satu hari, anak laki-laki itu kembali pada pohon dan terlihat sedih. “ayo datang dan bermain dengan ku” pinta pohon. “aku bukan anak kecil lagi, aku tidak bermain dengan pohon lagi” balas anak laki-laki itu.

“aku ingin mainan. Aku butuh uang untuk membelinya” “Maaf, aku tidak punya uang… tapi kamu bisa mengambil semua apel dan jual lah, kamu akan mendapatkan uang.” Anak laki-laki itu sangat gembira. Dia mengambil semua apel tanpa sisa dan meninggalkan pohon dengan riang. Anak laki-laki itu tidak pernah kembali lagi setelah mengambil semua apel. Pohon pun bersedih.

Satu hari, anak laki-laki yang telah menjadi pria datang kembali dan pohon menjadi gembira. “ayo ke sini dan main bersama ku” kata pohon. “aku tidak punya waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk keluarga ku. Kami butuh rumah untuk berteduh. Apakah kamu bisa membantu ku, Pohon?” “Maaf, aku tidak punya rumah. Tapi kamu bisa memotong ranting ku dan buatlah rumah.” Akhirnya pria itu memotong semua ranting dan meninggalkan dengan riang gembira. Pohon sangat senang melihat pria itu bahagia tapi pria itu tidak pernah kembali setelahnya. Pohon pun merasa sedih lagi dan sendirian.

Di satu hari di musim panas, pria itu kembali dan seketika pohon bergembira. “ayo ke sini dan bermain bersama ku” kata pohon. “aku sudah tua. Aku mau pergi berlayar untuk bersantai-santai. Bisakah kamu memberikanku perahu?” kata pria itu. “Gunakan batang ku untuk membuat perahu. Kamu dapat berlayar jauh dan bersenang-senang.” Lalu pria itu menebang batang pohon untuk membuat perahu. Lalu dia pergi berlayar dan tidak pernah menampakan diri lagi untuk waktu yang lama.

Akhirnya, pria itu kembali setelah beberapa tahun. “Maaf, anak ku. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi sekarang. Tidak ada apel untuk mu…” kata pohon. “oh, tidak masalah, aku tidak memiliki gigi untuk menggigitnya” jawab pria itu. “Tidak ada lagi batang yang dapat kamu panjat” “aku sudah sangat terlalu tua untuk melakukan itu” kata pria itu. “Aku benar-benar tidak dapat memberi mu apa-apa… yang tersisa hanya akar-akar besar ini” kata pohon sambil menangis. “aku tidak membutuhkan banyak hal sekarang, hanya sebuah tempat untuk istirahat yang aku mau. Aku lelah” balas pria itu. “Bagus! Akar tua pohon adalah tempat yang sangat baik untuk bersandar dan beristirajat, ayo ke sini, duduk bersamaku dan beristirahat.” Pria itu duduk dan pohon merasa bahagia dan tersenyum sambil menangis…

Mungkin cerita ini tidak asing untuk sebagian kalian yang udah pernah dengar atau baca. Gw dapat dari islamicthinking.tumblr.com, cerita ini untuk siapa pun. Pohon dianggap seperti orang tua kita. Ketika kita muda, kita sangat suka bermain bersama ayah dan ibu…

Ketika kita besar, kita meninggalkan mereka… hanya datang kepada mereka ketika kita membutuhkan sesuatu atau ketika kita sedang ada masalah. Bagaimana pun juga, orang tua akan selalu ada dan memberikan segalanya yang mereka bisa hanya untuk membuat kita bahagia.

Mungkin kalian berpikir, anak laki-laki ini sangat jahat kepada pohon, tapi itulah bagaimana sikap kita terhadap orang tia kita. Gw bilang begini bukan gw mau menggurui, gw masih tinggal bersama orang tua, gw pun orangnya tidak suka sharing masalah ke orang tua, tapi banyak banget hal yang gw lakuin yang bikin sakit orang tua gw. Gw masih manja, gw masih tergantung sama orang tua… gw sedih, kalau seandainya nanti gw ninggalin orang tua gw dan tinggal bersama suami, apa iya gw nanti akan seperti laki-laki ini, berkunjung ke rumah orang tua beberapa kali dalam setahun… semoga Allah selalu melindungi orang tua kita dan hati kita untuk selalu menuntut kita ke jalan yang benar. Semoga hubungan kita dan orang tua tetap harmonis.

Five For Fighting – Superman (It’s Not Easy)

credit: story from islamicthinking/tumblr ; translate geniskencur ; picture from Elizabeth Gowan