Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 6

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 6

#Isi Cerita

Bilal masih saja tidak mau menuruti apa kata majikannya, Bilal tetap dengan pendiriannya, akan cintanya kepada Allah dan Rasul sehingga dia terus menyeru “Ahadun Ahad” biar sekalipun dia mati dicambuk. Tetapi Alhamdulillah, atas izin Allah, Abu Bakr ra datang menolong dengan membeli Bilal sehingga dia terbebaskan dari siksaan tersebut. Terpujilah Abu Bakr ra, beliau membeli beberapa orang budak muslim agar terbebas dari cambukan kaum Quraisy. Sedangkan Yassir dan keluarganya tetap mendapat siksaan dari Abu Jahal karena seperti yang Rasulullah katakan “Bersabarlah keluarga Yassir sesungguhnya kalian akan berkumpul di surga”. Dan sampai suatu waktu, Abu Jahal naik pitam, dan dibunuhlah istri Yassir, sedangkan Yassir meninggal karena kelelahan disebelah anaknya ketika malam. Tinggal tersisa anaknya, Ammar, Abu Jahal mempersiapkan pisau yang telah dipanaskan dengan api, karena pisau itu, Ammar mencela Nabi sesuai yang dipinta Abu Jahal. Dan lalu dia terbebaskan. Di perjalanan Ammar bertemu dengan Abu Bakr ra dan dia meminta untuk diantarkan ke hadapadan Nabi karena dia telah berbuat zalim atas namanya.

Di suatu pagi, Umar ra mengunjungi Ayyash dan Salamah di tempat mereka dikurung. Umar berkata bahwa dia tidak suka berkumpul dengan Abu Jahal, dia hanya senang berkumpul dengan Ayyash dan Salamah mendiskusikan macam-macam seperti biasanya. Namum Ayyash dan Salamah mencoba mendesak Umar ra agar dia mau melihat Islam sebagai agama yang baik, yang memisahkan yang benar dan yang salah. Karena sesungguhnya Umar ra adalah orang terpandang, berakhlak baik dan mementingkan moral, seharusnya dialah orang yang paling bisa memahami Islam. Mulai dari apa yang Umar ra lihat dan dengar dari orang Islam, terlihat diwajahnya kekaguman akan Islam. Sampai akhirnya bertemu dengan Abdullah Ibnu Massoud, dan berkatalah dia kepada Umar ra, “Anda pasti lebih baik dari dua laki-laki, dan saya yakin bahwa doa Nabi tidak akan salah.”

Di suatu tempat, umat muslim yang hanya sebagian kecil berkumpul dan membicarakan mengenai tindakan apa yang sepantasnya mereka lakukan untuk mencegah keburukan dari kaum Quraisy. Bukan membalas dengan hal yang sama, bukan mencaci berhala, tetapi menyerukan ayat Quran, Surat Ar-Rahman, agar orang-orang Quraisy berpikir. Hal tersebut dilakukan oleh salah satu sahabat nabi, Abdullah Ibnu Massoud.

#Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Bersabar karena pertolongan Allah dekat bagi orang yang beriman.

2. Tidak boleh menghina sesembahan orang lain, karena nanti mereka akan membalas dengan menghina Allah

3. Berperilaku baiklah kepada sesama muslim dan saling tolong menolong, baik itu yang kuat dan yang lemah karena kita bersaudara.

Semoga Allah mengampuni dosa kita, melindungi kita dari sifat tercela dan menanamkan serta menjaga sifat baik&taat kepada-Nya.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan para pemain. Aamiin.

Saya bukan ahli agama, jadi tulisan saya ini menjadi pengingat juga bagi diri saya pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 6 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Saya bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Saya hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Saya hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 5

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 5

#Isi Cerita

Pada episode ini, Umar ra telah sepakat dengan Abu Jahal untuk memerangi umat muslim, bukan berperang dengan orang-orang dari Bani Hasyim, melainkan menghukum orang-orang yang mengikuti agama yang dibawa Nabi Muhammad. Namun sebelumnya Uthbah berbicara kepada Rasulullah, adakah sesuatu yang diinginkan Rasulullah SAW (harta, wanita, kedudukan sebagai raja) supaya Rasulullah SAW berhenti menyebarkan Islam. Tapi usahanya sia-sia.

Mulailah hilang kesabaran petinggi Quraisy temasuk Umar ra, para budak-budak yang sudah beragama Islam, dilucuti, ditindih dengan batu besar supaya mereka merasakan akibatnya berkhianat kepada agama nenek moyang mereka. Budak-budak itu diminta untuk menyebutkan bahwa berhalalah yang paling agung. Dan disini dilihatkan bahwa Abu Bakr ra mengorbankan hartanya demi membeli budak-budak yang dilucuti itu dan dibebaskan.

Pada episode ini, umat Islam semakin bertambah bahkan dari kalangan keluarga petinggi Quraisy dan kebanyakan mereka masih bersembunyi-sembunyi. Tidak hanya Abu Hudzaifah dari keluarga Uthbah yang sudah memeluk Islam tetapi Ayyash Bin Abi Rabeeah dan Salamah Bin Hisham dari keluarga Abu Jahal. Dan mereka berdua pun dikurung oleh Abu Jahal, diikat tangannya dan dirantai.  Melihat kenyataan saudaranya memeluk Islam, Umar ra memberi pengumuman bagi kaum Bani Adiy, bagi yang ditemukan telah memeluk Islam akan diceluti dan dihukum. Umar ra berkata (kurang lebih), “saya akan memperlakukan semua orang sama, mereka yang berkhianat dari agama nenek moyang akan dihukum agar bisa menjadi contoh bagi yang lain. Baik dia adalah saudara kandung, sepupu, paman, atau budak. Sama seperti Muhammad katakan semua orang harus diperlakukan sama, maka aku akan seperti itu juga.

Ada perkatakaan yang benar yang dituturkan Umar kepada Zaid dan Saeed, tetapi sayanya Umar ra masih menjadi musuh Islam:

Jika terjadi kekerasan, kekerasan itu hanya untuk menghalangi dan membuat sesuatunya benar. Pemimpin boleh memperlakukan orang baik dengan kekerasan, hukuman untuk kemajuan, balas dendam bisa menghentikan ketidak adilan dan suatu kematian bisa memberikan kehidupan untuk beberapa orang. Jika tidak ada orang yang ditakuti orang lain, dunia akan kacau dan orang-orang akan berkelahi sampai mati.

Ada beberapa orang dari keluarga petinggi Quraisy yang masih menyembunyikan ke Islamannya, Zaid (saudara kandung Umar), Saeed (ipar Umar) dan anak tiri Al-Waleed.

Dan sampai ketika majikan Bilal mendengarkan Bilal sedang berdoa kepada Allah, Bilal juga ikut dicambuk dan dimintai kesaksian bahwa berhalalah Tuhan mereka. Tetapi karena keyakinan dan kecintaan Bilal kepada Allah dan Rasulullah, dia terus mengatakan “Ahadun Ahad” sampai akhirnya badannya ditindih dengan batu yang sangat berat. Tapi Allah memberikan kekuatan kepadanya sehingga Bilal tetap hidup.

#Opini

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Jika kita yakin bahwa Allah satu, Tuhan semesta Alam yang maha Besar dan bekuasa baik itu di langit maupun di bumi, maka kesulitan akan merasa ringan, seperti halnya Bilal.

2. Betapa keras, pedih, sakit perjuangan kaum Muslimin pada saat itu, mereka terasingkan, mereka dikucilkan, bahkan hingga dicambuk untuk berpegang teguh pada Islam. Seharusnya kita bersyukur, apalagi bagi kita yang sudah memeluk Islam dari bayi, karena kedua orang tua kita Islam, maka kita juga Islam. Dan sekarang, kita bisa bebas memeluk agama Islam, tidak seperti masa Nabi Muhammad…

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 5 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 4

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 4

#Isi Cerita

Diawal episode, masih dengan pembicaraan petinggi Quraisy mengenai langkah-langkah selanjutnya menghentikan Nabi Muhammad untuk menyebarkan Islam. Saat itu dipilih Abu Abd Shams untuk bicara langsung kepada Nabi Muhammad. Di luar majelis Abu Hudzaifah berteriak memberikan pengumuman bahwa Salim (budak) telah dimerdekakan dan diangkat menjadi anaknya.

Setelah itu, Wahsyi dan Bilal membicarakan Salim yang telah merdeka. Wahsyi iri karena mungkin Salim diangkat karena dia ada keturunan Arab berkulit putih. Lalu Bilal yang sudah memeluk Islam meyakinkan bahwa tidak ada bedanya Hitam dan Putih, semua sama di mata Tuhan. Dan Bilal mencoba untuk membahas tentang Muhammad seseorang yang diutus Tuhan bukan hanya untuk orang Arab tapi orang non-Arab juga, serta bukan hanya untuk orang berkulit putih tapi orang berkulit hitam juga, namum Wahsyi tidak peduli.

Di lain tempat, Abu Jahal berpapasan dengan Abu Bakr ra dan Abdullah bin Masoud, Abu Jahal memberi peringatan kepada keduanya yang telah bergabung bersama Nabi Muhammad SAW dan memeluk agamanya. Abdullah bin Masoud berkata bahwa dia akan membalas apa yang dikatakan Abu Jahal tetapi Abu Bakr berkata bahwa kita tidak boleh melakukannya. Rasulullah diutus untuk memberikan kabar gembira dan peringatan, menggunakan kebijaksanaan dan nasihat baik.

Sesuai dengan firman Allah, Al-An’am (108):

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Malamnya, Uthbah mendatangi kediaman Abu Hudzaifah bersama Suhaila dan Abu Jandal saudaranya. Mereka membicarakan tentang bergabungnya Salim dalam keluarga mereka. Uthbah yang bijak akhirnya menerima Salim sebagai anggota keluarganya karena dia melihat Abu Hudzaifah sangat menyayangi Salim. Uthbah memberi nasihat kepada Salim untuk bersikap baik karena aibnya akan menjadi aib keluarga ayah angkatnya. Dan meminta Salim untuk selalu bersama Abu Hudzaifah karena dia lah yang memerdekakannya. Dan Salim menjawab bahwa dia tidak akan meninggalkan ayahnya selama sisa hidupnya dan rela meninggal untuknya.

Di hari lain, Abu Hudzaifah, Salim beserta isri sedang melaksanakan salat ketika Utbah datang mengunjungi rumahnya. Abu Hudzaifah marah dan berkata bahwa anaknya telah membangkang kepadanya. Lalu Salim membacakan Ayat Quran yang menjelaskan mengenai larangan membangkang kepada orang tua, seperti yang diriwayatkan dalam S. Al-Isra (23-24):

Dan Rabb-mu telah memerintahkan, supaya kalian jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya,
dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu (dalam pemeliharaanmu), maka janganlah katakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih-sayang. Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya menyayangiku sewaktu kecil”.

Abu Hudzaifah menjelaskan makna dari Quran tentang seorang anak boleh tidak melakukan apa yang diperintahkan orang tuanya untuk menyekutukan Allah. Seperti dalam S. Lukman (15):

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 

Ada satu keluarga lagi yang dibahas dalam episode ini, yaitu keluarga Suhail bin Amr dengan kedua anaknya Abu Jandal dan Abdullah. Suhail dikenal sebagai pembicara yang pandai, bijak dan disegani. Setiap dia berkhutbah di depan rakyat Quraisy semua orang patuh dan mengikuti kata-katanya. Diantara kedua anaknya Abdullah adalah orang yang terang-terangan tidak suka terhadap ayahnya yang memerangi Nabi Muhammad, sedang Abu Jandal anak yang patuh tetapi sebenarnya dia tidak suka dan memiliki pendapat yang berbeda dari ayahnya.

Abdullah tidak suka menemani ayahnya berkhutbah untuk menjelek-jelekan Nabi Muhammad, dengan alasan dulu ayahnya berkata bahwa Muhammad itu orang baik, jujur, bermurah hati tetapi sekarang malah memakinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah pembohong dan tukang sihir. Dan apa yang telah ayahnya katakan tentang Muhammad sebenarnya Suhail sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Menurut Abdullah, jika dia percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya tentang Muhammad hari ini, berarti ayahnya dulu adalah pembohong.

Menjadi tidak jelas tapi jujur jauh lebih baik dari pada menjadi pandai tapi palsu.

PS. Orang Quraisy menyebut Nabi dengan sebutan Muthammam yang artinya ‘the reviled one’ yaitu yang menjadi kebalikan dari namanya Muhammad yang artinya ‘the praised one’.

#Kataku

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Tidak boleh berkata ah kepada kedua orang tua. Dan harus berbakti kepada mereka biarpun kita dan orang tua berbeda pendapat.

2. Boleh tidak mengikuti perintah orang tua untuk menyekutukan Allah.

3. Derajat/kedudukan manusia dimata Allah sama kecuali hatinya.

4. Selalu berkata baik dan murah hati walaupun itu kepada musuh kita.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 3

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 3

#Isi Cerita

Episode ini menceritakan tentang tindakan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad, mereka mencoba melakukan berbagai cara untuk Melawan nabi.

Meneruskan episode 2 kemarin, episode ini dimulai dari pertemuan petinggi Quraisy yang sedang berdiskusi tentang bagaimana melawan Nabi Muhammad. Abu Jahal (Abu Hakam) menyarankan untuk segera berperang,  sedangkan petinggi Quraisy lain masih menimbang-nimbang saran tersebut. Beberapa petinggi Quraisy memusuhi Nabi Muhammad karena mereka iri mengapa Allah memilih Nabi Muhammad sebagai Rasul padahal ada mereka yang lebih terpandang dan kaya. Umar ra akhirnya ikut bicara, menurutnya kalau langsung mengambil jalan perang maka akan mempercepat apa yang seharusnya bisa dihindari, yaitu perpecahan sanak saudara, kehancuran dll. Maka beliau memberi saran untuk menemui Abu Thalib (paman nabi) untuk meminta dia yang menghentikan Nabi Muhammad untuk berhenti menyebar luaskan agama Islam. Saran Umar ra tersebut disetujui para petinggi Quraisy yang ada disitu.

Di hari lain, Abu Bakar ra memberikan nasihat kepada kaum muslim di atas bukit,untuk tidak mencemaskan petinggi Quraisy dan kearoganan mereka. Beliau mengingatkan bahwa Allah lah yang menentukan nasib seseorang. Jangan terlalu memperdulikan mereka dan jangan pula putus asa, karena perilaku yang baik dan halus akan selalu membuahkan hasil yang lebih baik.

Pada hari dimana Petinggi Quraisy bertemu dengan Abu Thalib, mereka malah meminta Abu Thalib untuk segera menyerahkan Nabi Muhammad, jika tidak maka mereka akan memerangi Nabi beserta Abu Thalib dan membinasakan kaumnya. Biarpun Umar ra berdiri bersama petinggi Quraisy saat itu, tetapi beliau tidak setuju karena dia berpikir petinggi Quraisy tidak memiliki moral. Dia mengatakan kepada Zaid dan Ayyash, jika meminta Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad kepada mereka berarti mereka menjatuhkan kehormatan dan mengina Abu Thalib, karena orang Quraisy menjunjung tinggi persaudaraan.

Biarpun Umar ra sangat membenci nabi Muhammad dan tindakannya menyebarkan agama Islam tetapi menurut Umar ra, moral dan integritaslah yang harusnya muncul ketika menghadapi masalah. Jika hanya mengandalkan perang, maka orang-orang yang menaruh harapan pada pedanglah yang akan terjebak.

Ditempat lain Utbah bin Rabiah (Abu Walid) mengunjungi rumah Abu Hudzaifah yang saat itu sedang makan bersama Salim, budaknya. Abu Walid terkejut melihat putranya bersikap seperti itu, menurutnya itu merendahkan dirinya. Lalu mereka meperdebatkan perbedaan manusia ketika meninggal dan dikubur.

Pada episode ini masih ditutup dengan diskusi petinggi-petinggi Quraisy, mereka mendiskusikan apa yang selanjutnya harus dilakukan ketika sudah berkali-kali bertemu dengan Abu Thalib tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Umar ra pun menjelaskan pemikirannya, seperti dia menjelaskan kepada dua kerabatnya Zaid dan Ayyash. Jika sudah menghinakan satu kaum maka akan dihinakan oleh seluruh orang Arab.

Ada sebuah syair yang disebutkan Umar ra,

Barang siapa yang tidak mendukung anaknya tidak akan membantu tetangganya.

Oleh karena itu, Umar ra memberikan saran untuk tidak mempercepat konfrontasi terhadap keluarga Bani Hasyim dengan kekerasan dan pemutusan kekerabatan. Bagaimanapun juga menurutnya, dulu Abdul Muthalib (Kakek Nabi) menjadi pemimpin nomor satu di Quraisy yang tidak terkalahkan.

#Kataku

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari episode 3 ini, mengenai musyawarah. Seperti cerita diawal mengenai saran Umar ra lebih diterima petinggi Quraisy dibandingkan saran dari Abu Jahal. Musyawarah bertujuan agar semua orang mengeluarkan pendapatnya sehingga anggota bisa memilih tindakan/saran yang terbaik. Bukan karena Umar ra masih muda dan keponakan dari Abu Jahal lantas dia tidak boleh mengeluarkan pendapat dan harus mengikuti saran pamannya itu. Seperti yang Umar ra bilang, musyawarah bukan untuk berkompetensi dalam pendapat tetapi menemukan jalan yang tepat.

Selain itu mengenai kesabaran dalam menghadapi musuh. Seperti yang dikatakan Usman ra bahwa yang berperilaku jahat maka balaslah dengan berperilaku baik, yang keras sebaiknya dihadapi dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Jika tidak, musuh yang akan menang karena mereka berhasil membuat kita seperti mereka.

Dan, adegan Utbah dan anaknya Abu Hudzaifah yang berdebat setelah melihat Abu hudzaifah makan bersama budaknya di satu piring. Disitu dikatakan bahwa baik Tuan dan budak sama-sama mati dan dikuburkan dalam tanah. Dan ketika manusia mati mereka tidak membawa apa-apa kecuali amal baik mereka.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 2

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 2

#Isi Cerita

Di episode ini, Abu Bakar Ashidiq ra (selanjutnya disingkat Abu Bakar ra) tidak lagi berkumpul dengan petinggi Quraisy. Beliau adalah sahabat nabi Muhammad SAW yang paling dekat, dan tentu setelah nabi mendapat wahyu mengenai Islam Abu Bakar juga ikut masuk Islam. Beliau merahasiakan dari petinggi-petinggi Quraisy penyembah berhala dan hanya memberi tahu Usman Bin Affan ra (Usman ra).

Ditempat lain, Ali bin Abi Thalib (Ali ra) kecil berlari ke rumah ayahnya, Abu Thalib, untuk memberitahukan bahwa Muhammad sepupunya adalah Nabi, seorang Rasul (utusan Allah). Karena Rasul dikenal sebagai orang yang jujur, selalu berkata benar, maka Abu Thalib menginginkan Ali ra untuk mengikuti kata-katanya dan menjaganya.

Mulai episode ini, petinggi-petinggi Quraisy tahu akan berita tentang kenabian Muhammad dan agama baru yang dibawanya atas perintah Allah melalui malaikat Jibril. Mereka berdiskusi untuk melawan Nabi Muhammad SAW karena beliau telah menolak agama nenek moyang mereka.

Setelah 3 tahun diutusnya Nabi, kaum muslimin yang jumlahnya makin banyak mulai terang-terangan menampakan diri sebagai orang Islam dengan melakukan solat diatas bukit. Dan hal ini memicu Abu Sufyan untuk mengajak petinggi Quraisy agar cepat melawan Rasulullah dan pengikutnya.

Dalam episode ini, jelas sekali bahwa orang-orang Arab sangat bangga akan keArabannya dan mengedepankan asal atau keturunannya. Biarpun dia budak yang telah dibebaskan, oleh orang Quraisy akan tetap diperlakukan seperti budak dan diungkit-ungkit darimana asalnya. Berteman atau bergaul pun begitu, memilih-milih dari mana asalnya dan apa kedudukannya, maka tidak akan ada pertemanan dengan budak. Sedangkan setelah Islam ada, semua orang adalah sama dimata Allah yang berbeda hanya derajat keimanannya. Maka akan terlihat petinggi, orang kaya, orang terpandang bergaul, duduk bersama dan beribadah dengan budaknya.

Sesuai dengan firman Allah S. Asy-Syura’,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Maka Nabi Muhammad SAW memanggil orang-orang dari Bani Hasyim, kelompok/kaumnya untuk berkumpul dan beliau menjelaskan tentang agama Islam. Seperti yang sudah disebutkan, nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dan berkata benar, Abu Thalib meyakinkan akan hal itu dihadapan semua orang dari Bani Hasyim. Beliau meminta agar semua orang yang telah mendengarnya membuat keputusan sendiri untuk memeluk Islam, karena sesungguhnya tidak ada paksaan bagi siapapun untuk memeluk agama Islam. Lalu Abu Lahab berbicara lantang dihadapan semua orang bahwa dia akan menjadi orang yang paling menentang agama Islam biarpun Nabi Muhammad SAW adalah keponakannya. Dan dia malah mengatakan bahwa apa yang dikatakan Nabi adalah sihir.

Sementara di tempat lain, Umar ra berpikir tentang kenabian ini akan berdampak kepada seluruh negara Arab yang telah mempercayakan mereka sebagai kaum yang menjaga Ka’bah. Beliau berpikir tindakan nabi ini akan memecah kaum Quraisy.

Ada yang menarik dari episode ini, ketika Amr Bin Ash, Khalid Bin Walid, Safwan bin Umayyah, Ikrimah dan Umair bermain judi di depan ruang pertemuan petinggi Quraisy berkumpul untuk membahas tentang Nabi Muhammad. Di ceritakan Khalid bertaruh 2 unta dengan Safwan yang dikenal sebagai anak gurun yang dermawan. Safwan ragu dengan taruhan Khalid, karena 2 unta dinilai terlalu banyak, padahal setiap malam Safwan selalu menyembelih unta sebagai hidangan makanan dan dibagikannya kepada orang-orang. Dan kali itu, Safwan kalah, dia berkata, demi berhala, apa balasanku aku memotong unta dan meberikan makan orang-orang setiap hari padahal aku selalu mengitari berhala dan berdoa. Khalid pun menjawab, mungkin ketika berdoa suaramu kurang lantang. Dan Amr menambahkan, atau kamu tidak mengorbankan unta yang terbaik. Lalu mereka semua tertawa.

*jika kalian menonton episode ini, melihat Ali ra kecil menggandeng kakek tua yang buta, beliau adalah Waraqah, penasihat dan pembantu Khadijah. Dan orang tua yang berkata (kurang lebih seperti ini), “Nantinya kota ini (Mekah) akan hanya diinjaki oleh orang-orang muslim”. Beliau adalah Zaid (ayah dari Said bin Zaid ipar Umar ra).

#Kataku

Kita harus bersyukur sebagai pemeluk agama Islam yang bukan berada di zaman Nabi. Bayangkan solat harus mengumpat-umpat, diatas bukit, belum lagi tiap hari pasti dapat hujatan, makian dari orang-orang yang menantang. Dan bersyukur dilahirkan dari keluarga yang sudah Islam maka kita tinggal menuruti apa yang difirmankan Allah. Tetapi enak juga menjadi orang Islam di zaman Rasul karena benar-benar merasakan Islam, buktinya hati langsung bergetar dan yakin bahwa Islam agama yang benar setelah dibacakannya firman Allah dalam Al-Quran.

Kisah Safwan tentang doanya yang tidak pernah dibalas berhala juga bisa diambil hikmah. Pakai logika saja, patung berasal dari tanah liat/semen/ apapun bahannya yang dibuat oleh manusia, tidak bernyawa, tidak pula dapat mengambil nyawa, jadi bagaimana bisa sesuatu yang diciptakan oleh manusia sendiri memberikan manfaat sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa, benda mati.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv; kaskus

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 1

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

Umar Bin Khattab (Samer Ismail)

Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)

Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)

Suhail Bin Amr (Najah Safkounoi)

Abu Jandal (Majd Feda)

#Trailer Episode 1

#Isi Cerita

Diawali dengan Umar Bin Khattab ra (selanjutnya disingkat Umar ra) melakukan umrah bersama umat muslim. Ketika tawaf, mengelilingi Ka’bah, Umar ra berdoa  seperti ini:

“Ya Allah, berikan aku harta di dunia tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Sehingga aku tidak melampaui batas dan juga tidak melupakan tanggung jawabku. Jumlah yang kecil tapi sedikit lebih baik daripada besar tapi menyebabkan lupa kepada-Mu.

Ya Allah, umurku bertambah dan telah banyak hilang kekuatanku, tetapi semakin bertambah. Panggillah aku ketika aku bisa memenuhi tanggung jawabku, tanpa meninggalkan salah satupun.”

Dan beliau berpidato didepan umat muslim, seperti ini:

“Tugas penguasa yang paling penting terhadap rakyatnya, adalah mendahulukan kewajiban mereka terhadap Allah. Tugas kami untuk meminta kalian, memenuhi apa yang Allah perintahkan kepadamu sebagai hamba-Nya yang taat. Serta menjauhkan kalian dari perbuatan maksiat terhadap Allah. Kami juga harus menerapkan perintah-perintah Allah dimana mereka diperlakukan sama untuk setiap orang dalam keadilan yang nyata. Dengan begitu kita memberikan kesempatan kepada orang bodoh untuk belajar, yang lengah untuk memperhatikan dan sesorang yang sedang mencari contoh untuk diikuti. Untuk menjadi orang beriman yang sejati, tidak didapatkan dengan mimpi tetapi dengan perbuatan yang nyata. Makin besar amal perbuatan sesorang, makin besar pula balasan dari Allah dan jihad adalah puncaknya amal kebaikan. Jihad dijalan Allah yang sesungguhnya adalah menjauhkan diri dari dosa.

Tidak ada yang disayangi Allah dan bermanfaat bagi manusia daripada kebaikan pemimpin berdasarkan pemahaman yang benar dan wawasan yang luas. Tidak ada yang paling dibenci Allah selain ketidaktahuan dan kebodohan pemimpin. Sebagai pemimpin, bertakwalah kepada Allah dalam memperlakukan rakyatnya. Untuk semua pejabat, jangan memukuli orang untuk menghinakan mereka, jangan meniadakan hak mereka dan tidak mengurus mereka dan jangan menyusahkan mereka sehingga mereka terasa berat.”

Dari episode ini dimulai lah, penggambaran kilas balik mengenai Umar ra ketika masih jahilliyah (belum memeluk Islam), 6 tahun sebelum diutusnya nabi.

Umar ra adalah anak dari Khattab, masa mudanya dihabiskan untuk mengurus unta ayahnya. Umar ra muda sangat kasar, gesit, berbadan tegap dan pekerja keras. Dia begitu juga karena didikan ayahnya yang keras, dia tidak boleh pulang kerumah jika pekerjaannya dengan unta ayahnya belum selesai. Mekah adalah kota dimana sebagian penduduknya memiliki mata pencarian berdagang, waktu itu dia berkeinginan untuk berdagang, tetapi ditolak ayahnya dengan alasan lantas siapa yang akan mengurus unta, karena dari beberapa anak Khattab Umar ra lah yang mengerti soal unta dan cekatan dalam mengurusnya. Tetapi Zaid, saudaranya memberikan beberapa uang sebagai modal Umar ra untuk memulai berdagang.

Umar muda dikenal sebagai pemuda yang bermoral, berwawasan luas dan pemikirannya berbeda dari orang-orang Mekah kebanyakan. Walaupun saat itu belum masuk Islam, tetapi perilakunya sudah mencerminkan sebagai orang yang berakhlak baik, terpandang, detail, adil dan bijaksana. Dia paling senang membaca syair. Apa yang dilakukan setiap hari, dia tidak pernah mengeluh. Dia mencari pengetahuan dari apa yang dikerjaan, mengambil hikmahnya, belajar dari kehidupan.

“Barang siapa teguh dalam pendirian, tidak akan goyah. Barang siapa takut akan kematian, maka kematian akan menguasainya walaupun dia lari dengan menggunakan tangga menuju langit. Barang siapa berkecukupan tapi menolak untuk menolong orang akan tidak diakui dan dikecam.”

Konsep bahwa manusia itu adalah makhluk sosial pun didapatnya ketika mengembala unta, dia berpikir bahwa setiap manusia punya peran & pemikirannya masing-masing, maka dari itu setiap orang akan membutuhkan orang yang lain. Mereka akan saling mengisi dan bersatu dalam perbedaan.

Pada 2 tahun sebelum diutusnya nabi, saat Umar ra menjadi pedagang, beliau mengedepankan kejujuran & keadilan. Beliau tidak akan sembarangan memberikan diskon, dan tidak pula memberikan harga yang tinggi. Kalau memang itu harganya, dia akan menjual seharga itu. Sungguh adil dan bijak beliau.

Dan di episode ini, diutuslah seseorang dari penduduk Mekah sebagai seorang Rasul (utusan Allah) yang membawa kabar gembira dan peringatan.

Wahyu pertama dari Allah kepada Muhammad Rasulullah Salaullahualaihi wassalam, S. Al-Alaq:

Bacalah! Dengan nama Tuhan-Mu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Dialah yang mengerjakan dengan pena. Ia mengajarkan manusia yang mereka tidak ketahui.

S. Al-Mudatsir :

Wahai orang yang berselimut! Bangunlah dan berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu! Dan bersihkanlah pakaianmu! Serta menjauhlah dari berhala! Dan janganlah memberikan sesuatu karena menginginkan lebih.

#Kataku

Hal pertama yang membuat aku penasaran dengan serial ini adalah, ini kali pertamanya aku tahu/mungkin pernah tau tapi lupa, bahwa Umar ra adalah sahabat Rasul yang masuk Islamnya belakangan. Mengapa dia bisa masuk Islam, dan kenapa bisa dia menjadi Rasul.. Itulah yang menggerakan aku untuk mengikuti serial ini. ^^

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtube; mmbc1; mnctv; kaskus