Image

Dear good eaters,

Dua kalimat terakhir yang menolong saya. Terima kasih, mas Gun! Semoga Allah pantaskan saya untuk bisa menjadi pendamping yang qurata a’yun, yang sami’na wa atha’na, pendamping yang bisa me-recharge semangat berkebaikan, pendamping yang bersabar dalam taat. Semoga Allah melindungi kamu, Gen.

Advertisements

Visi Pernikahan

Dear good eaters,

Beberapa hari lalu ada yang terlintas dipikiran kalau ditanya apa visi pernikahanku. Maka jawabannya ini, ketika aku random membuka mushaf aku temukan apa yang harus aku jadikan visi dalam berumah tangga yaitu, memiliki keluarga yang mendirikan solat.

Dalam beberapa bahasan Ustad Nouman tentang ujian atau cobaan banyak ditemukan bahwa Solat dan Sabar adalah jalan keluarnya. Maka alangkah indah jika ayah, ibu dan anak mereka berdiri bersama bersujud bersama memuji nama Allah. Apalagi jika diingat lagi pelajaran Agama Islam waktu sekolah dulu kalau amal yang akan dihisab pertama kali adalah solat. Jadilah ini yang akan menjadi visi pernikahan yang akan datang.

Maka bagaimana mencapainya, selain menemukan (bukan mencari) pasangan yang mendirikan solat, akupun harus aware dengan diriku, apakah aku pribadi mengutamakan solat setiap harinya?

Lalu setelahnya aku ingin setiap kesempatan ada halaqah di keluarga kecil nanti. Baik ayah atau ibu yang berbagi. Sungguh ini menjadi mimpi kelak ketika berkeluarga. Gak mau meremehkan solat. Gak mau neglect panggilan Allah. Karena pasti aku juga kesel kalau udah suka ngasih perhatian eh orang gak perhatian balik. Aku akan kesel kalau udah suka ngasih waktu di antara waktu sibuk tapi orang lain ga bisa kasih hal yang sama. Mungkin Allah juga begitu.

Untuk teman-teman shalihah yang sedang menunggu. Semoga menunggumu berbuah manis hingga ke surga. Jika yang sudah menikah dan dirimu merasakan bahagia maka aku pinta, doakan aku agar bisa menyusul kebahagiaan itu.

Aamiin

Pesan Besar

Image

Jodoh itu sudah ditulis di lauhul mahfudz, jauh sebelum kita dipertemukan dengan ‘beliau’ yang kita nanti ini, jauh sebelum amanah-amanah kita, jauh sebelum ikhtiar-ikhtiar perjodohan kita, sehingga sepakat kalau masalah jodoh ini bisa dibilang masalah akidah. {via Big Zaman}

♥ setuju! Akidah itu urusan percaya sama janji Allah. Soal tag line, jodoh ditangan Tuhan udah kesebar dimana-mana dan nggak ada yang bisa menyanggah tag line ini. Kita masing-masing punya buku besar (lauhul mahfudz), isinya ibarat film buku itulah naskahnya, semua tentang kejadian di hidup kita, setting, juga dialog kita dengan orang lain tertulis. Di mana nggak ada makhluk Allah satupun yang tau persis isinya, malaikat yang suci dan kerjanya langsung dikasih oleh Allah aja nggak tau, apalagi kita. Jadi kalau kata Big Zaman nih seharusnya nggak perlu ada lagi tuh galau-galau masalah beginian. Tinggal action aja. Action dengan berikhtiar supaya jodoh yang ada di tangan Tuhan itu bisa kita dapatkan. Gimana ikhtiarnya? Nanti deh kapan kalau sempat dibahas. Soalnya malu, karena belum sungguh-sungguh ikhtiar soal begini. Mungkin boleh galau berkeluh kesah sama orang lain soal penantian ini, tapi nggak usah terlalu diumbar-umbar. Inget masalahnya cuma akidah, percaya, kalau akan ada masanya. Karena… Good thing takes time, brothers sisters. Cheer up yah!