Mimpi #13

Dear you,

Suara Ustad Nouman terngiang ditelinga gw, ustad punya ciri dan nada kalau reciting Quran. Di mimpi beliau baca surat Al Insyirah. Gak tau ya maksudnya apa. Surat favorite banyak orang termasuk gw. 

Apa mungkin gw diminta kencengin bersyukurnya? Jadi ingat sama kajian Ustad Salim A Fillah yang sempat gw catat.

Hanya Allah yang tahu maksud dari mimpi kali ini. Semoga yang baik-baik.

Mimpi #11

1370771268-157313623

Dear you,

I miss my Pop so bad. Dan akhirnya kemarin beliau mampi ke mimpi gw. Dna mimpinya berasa nyata banget. He smiled widely at me, and i shook his hand, kiss his cheek, and smelled his perfume. Oh Allah thank you karena telah menghadirkan Pop dalam mimpi. Karena setelah ke Dieng, momski sempat tanya apa Pop mengunjungi rumah dalam mimpi gw lagi. hhee pada saat itu, too bad. Nggak.

Kira-kira Pop hadir dalam mimpi pukul 1 malam. Semoga ini mimpi dari Allah karena mimpinya tengah malam. Semoga. Keadaannya sama seperti gw malam itu yang nggak bisa tidur. Lampu kamar tidur gw selalu dalam keadaan remang-remang, pakai lampu kecil. Tetiba ada cowok masuk kamar dan bilang, “pinjam bed covernya ya. Ohya, foto yang di twitter disave ya, untuk diikutkan dalam lomba.” Yang ada dipikiran gw saat itu, foto gurun pasir entah itu di Mekah atau Madinah. gw bingung, itu siapa.

Karena tidur dalam kamar ber-AC, gw mulai kedinginan. Dan gw covered badan gw dengan bantal-bantal. Gw liat itu jam 2 pagi, dan nggak lama, terdengar suara pengajian subuh. Dalam mimpi gw mikir, áh fixed gw gak tidur malam ini, jangan sampai gw di kantor ngantuk.’ Biasa kalau sudah ada pengajian subuh, momski bangun. “bed covernya mana? mama kedinginan.”Gw tariklah bed cover yang ada diujung selimut, yang dipakai sama cowok tadi yang masih gw gak tau itu siapa. Pas gw tarik, cowok itu bilang Ëh jangan, kedinginan.”gw liat, lah itu Pop. Kok Pop ada disini. Pop gw sudah meninggal setahun lalu. Tapi yang keluar dari mulut gw untuk jawab pertanyaan momski cuma “balagada papa bamlalabud.” Rasanya gw gak bisa bilang, mah! ada papa dateng disituuuu.

terus tiba-tiba Pop bangun, awalnya pas datang pakai batik cokelat sarung hijau muda. Saat bangun, pakai koko putih sarung hijau muda, i forgot dia pakai peci gak. Momski yang liat langsung merespon, ëh papa, pantes tadi ada yang pesan. Boleh minta waktu malamnya untuk ngobrolin soal masa SMA?’

gw yang melihat mimik momski biasa aja sama kedatangan mama, langsung nanya, “mama sering janjian ketemuan sama papa?”Pop yang duduk disamping gw bilang sambil senyum, “kita udah lama ya gak ketemu, Teh.” Saat itu pikiran gw, ya Allah is it real? gw bener-bener percaya sama ghaib kalau gitu, karena gw bisa ngobrol sama orang yang sudha wafat. Terus sebelum mimpinya selesai, Pop sempat pergi ke dapur, katanya mau ambil minum. Gw yang masih diatas tempat tidur sama momski, lagi asik ngobrol. “jadi Ibu budi, yang kasih pesan ke mama, awalnya dia lihat video mbah Surip yang Tak Gendong. haha ini agak aneh sih. Tapi setelah itu Pop ilang, dan gw sadar dari mimpi.

Semoga Pop benar-benar dalam naunganNya 🙂

pic as tagged

Mimpi #6

Dear,

Actually, I feel shy to tell about what i dreamed last night. It happened when i was in REM sleep condition. Because i got that dream right before i woke up. I don’t want to mention all things i saw at that dream. You, hahaha, it is ridiculous, cheap, but one thing, I think girls/women will dream about it too, and they must be have got this dream, not only boys/men. Okay, I dream about something, you can say, like, hemm, hahaha, embarrassing moment, oh My God please forgive me first. I saw an adult scene in my dream. Please forgive me, God.

I can not write further, because it is disgusting. It came randomly. I didn’t see or think or whatever about it before sleep. No. But it came randomly as I said. It must be from evil. But i want to know, if women/girls had dreamed like this. Let me know if you, girls, have had that.

Ignore my dream, but please give me some responds.

Thanks

Mimpi = dream

Mimpi #5

Dear,

Balik lagi, kita beralih ke mimpi ku yang lain.

Ada beberapa hal yang sering terulang dalam mimpi, entah itu kejadian, latar, atau penokohannya. Tadi malam, lagi, entah ini sudah yang keberapa kali, aku memimpikan kucing peliharaanku, Huki. Dan lagi, aku mencarinya, takut kehilangannya. Ceritanya, aku dan keluarga pergi ke Cirebon ke rumah bibiku. Dan aku nggak tahu kalau dari rumah Huki dibawa papa ikut dan ditempatkan di kursi belakang. Saat bertamu ke rumah bibi, aku diminta papa untuk meminta restu bibi, entah untuk apa. Lalu waktu ingin masuk kembali ke dalam mobil, ada kucing yang juga ingin masuk ke dalam mobil, tapi aku geser dengan kaki. Aku pikir kucing peliharaan bibiku. Tapi waktu mobil sudah jalan papa bilang kalau Huki ditinggal sebentar di rumah bibi, nanti ketika ingin pulang ke Depok, dibawa lagi. Seketika aku minta papa untuk kembali, untuk mengambil Huki agar dibawa ikut jalan-jalan.

Aku terpikir Tablo, dulu Tablo juga di tinggal papa, di kebunnya. Dan ketika aku cari, sudah tidak ada. Aku ingat kata temanku, kucing itu hanya ingat rumahnya, bukan majikannya. Aku takut kehilangan Huki karena asing dengan rumah bibiku. Jadi dalam mimpi itu, aku minta papa untuk kembali ke rumah bibi. Dan waktu aku cari, alhamdulillah ketemu, Huki melihatku dengan tampang sedih, setiap ingin mengambil Huki, ada binatang aneh yang mematuk-matuk tanganku. Sakit. Tapi Huki harus aku gendong. Dan finally aku bisa menangkapnya. Dan membawanya ke dalam mobil. And i felt relief. 

Berkali-kali sudah memimpikan Huki. Sebelumnya lima hari lalu, tapi hanya sekelibat. Aku marah dengan seorang wanita berkerudung yang ingin mengambil Huki dari gendonganku. Ya Allah, begitu cintanya aku pada sesuatu yang sudah ‘biasa’ ada dalam hidupku. Aku takut, aku tidak bisa menerima jika orang-orang tersayang pergi dari kehidupanku. Karena aku terlalu merasa sangat memiliki mereka.

Mimpiku itu, apa mimpimu tadi malam?

Mimpi #4

Dear,

Balik lagi aku membahas soal mimpi. Mimpi yang kali ini kalau menurut buku* yang aku baca, kalau kemarin malam itu aku berada pada saat tidur ku berada di posisi tidur REM (Rapid Eye Movement).

Jadi ada dua tahap tidur. Tidur dengan gerak mata cepat, rapid eye movement yang biasa dikenal dengan REM dan tidur non-REM. Jika kita mengalami tidur REM semua otot yang berada di tubuh kita menjadi tenang sepenuhnya, sementara irama jantung, pernapasan, tekanan darah, suhu otak dan aliran darang cenderung meningkat. Tahap-tahap tidur REM dan non-REM silih berganti sepanjang malam, saling berselang bergantian dalam 90 menit. Saat kita tertidur lelap, biasanya terjadi di malam hari dan tidur REM selanjutnya lebih menonjol saat kita akan terbangun.

Sebenarnya kalau dikatakan tidur itu mengistirahatkan aktivitas otak dan pikiran, menurutku tidak 100% benar. Karena selama tidur dan kita bermimpi, kita justru berada dalam keadaan yang tidak tenang.

Orang yang dibangunkan selama tidur non-REM biaanya bercerita bahwa dia sempat melihat gambar-gambar tidak rinci yang sangat mirip dengan kehidupan sehari-hari. Sementara orang yang dibangunkan dalam fase tidur REM, mereka melihat sesuatu dalam mimpinya, gambar-gambar dan alur cerita, tokoh-tokoh yang lebih jelas dan terperinci yang biasanya sangat berbeda dengan kejadian sehari-hari.

Sesuai dengan pengalaman, sepertinya aku lebih sering berada diposisi tidur yang REM. Tadi malam, aku bermipi aku ikut dalam suatu acara sebagai panitia/pemeran dalam pentas seni dengan 20 lebih orang berbaju merah dan tidak lama berganti pakaian menjadi putih. Bernyanyi, berjoget dan berkumpul-kumpul senang. Ada satu tokoh masyarakat di sana. Lalu aku berkenalan dengan satu orang cowok, aku lupa namanya. Tapi ada kalimat yang aku hapal “pasti mas kelahiran tahun 1987 kan?” Dan cowok itu tersenyum. Yeah ada satu cowok dalam mimpi itu yang senang memperhatikanku dan berkesempatan untuk berjoget bersama tepat di sebelah aku berdiri. Dan nggak berapa lama pindah sketsa, aku bersama beberapa orang dalam grup ke satu gubuk yang disana terdapat tengkorak yang umurnya sudah ratusan tahun, tengkorak yang katanya orang paling kurus di Indonesia tapi memiliki tulang yang besar. Aneh.

Hahaha. Selalu punya cerita yang unik ketika tidur. Semoga ada kabar gembira, segembira keadaanku disana. Aamiin. Dan ini aku dapat sebelum aku terbangun. Jadi jelas, aku mengalami tahap tidur REM saat itu. Katanya*, sebagian orang dewasa menghabiskan 20% waktu tidurnya dengan tidur REM, jadi orang dewasa memiliki cukup banyak peluang untuk bermimpi. Berarti no wonder ya kalau aku sering bermimpi aneh dan lengkap dengan ceritanya akhir-akhir ini.

Kalau kamu mimpi apa tadi malam?

*NB: Buku Menatap Punggung Muhammad oleh Fadh Djibran

Impikan Sepucuk Surat

Membaca buku dipojokan, ku baca halaman per halaman. Terbesit dalam pikiran, andai kamu mengabarkan ku dengan satu surat bersisi pemberitahuan: “Aku sedang belajar Islam.” Seperti yang pernah berkali-kali aku impikan. Hmm, mungkin itu hanya lamunan. Tapi aku tahu Tuhan selalu berkemampuan. Biarkan waktu berjalan. Haduh sudalah, lupakan! Itu cuma angan.

-Depok, 24 April 2013 // 13.34

Tak Dapat Kembali

Aku berjalan menelusuri rak-rak buku di toko buku yang sedang ramai mengadakan pesta anniversary salah satu perusahaan penerbit. Warna hijau muda dan biru tua mendominasi di tiap sudut ruangan bahkan rak-rak bukunya, sesuai dengan warna logo dari penerbit yang sedang berulang tahun ke 30 itu. Mall yang aku datangi memiliki satu toko buku dengan dua lantai, di lantai dua khusus untuk buku-buku saja dan ada dua ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk fan-signing atau diskusi tentang buku-buku yang best seller.  Di lantai satu khusus untuk semua hal yang berbau stationary, dimulai dari alat tulis sekolah, alat tulis kantor hingga pernak-pernik lucu hiasan dinding dan meja.

Aku kesini berniat untuk mengambil hadiah yang aku dapat dari undian poin yang diselenggarakan penerbit yang sedang berulang tahun itu. Aku nggak tau sebelumnya apa yang akan aku dapatkan nanti. Di bagian depan toko di situlah tempat pengambilan hadiah undian, ada  wanita berkaoskan sama dengan para karyawan lain di toko buku itu.

“Mba, saya mau ambil hadiah undian poin” saya memperlihatkan sms yang telah dikirimkan pihak penerbit sebagai bukti memang aku salah satu pemenang.

“Sebentar ya, mba. Saya urus dua mba yang ini dulu” aku pun meletakkan buku yang aku bawa di atas meja. dan menunggu sambil memperhatikan wanita di sebelahku. Dia sedang serius mengisi kertas yang mungkin itu adalah kuesioner pembaca, aku nggak pasti.

“Yap, terima kasih telah bekerja sama dengan membeli buku-buku kami, sebagai hadiah tambahan saya berikan satu buah buku untuk kalian masing-masing ya,” mba karyawan itu mengambil satu buah buku dari rak, memberikannya kepada salah satu dari dua orang di sebelahku, dan mengambil bukuku untuk diserahkan kepada yang lainnya.

Entah apa yang ada di mulutku, sehingga aku tidak bisa memberi tahu kepadanya bahwa itu buku milikku. Setelah kedua pemenang itu pergi, baru lah aku diladeni. Aku diberikan parsel yang berisikan banyak coklat dan syrup. Sebelum aku beranjak dari sana, aku baru bisa mengatakan, “mba buku yang tadi mba kasih ke orang lain itu buku saya.”

“Buku yang mana ya?” tanya nya sambil mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda.

“Yang judulnya ‘Seseorang yang Tak Kan Pernah Ada’, buku yang saya punya versi covernya bergambar siluet laki-laki, sedangkan buku yang ada di rak mba itu versi cover yang baru.”

“Oh begitu ya? Maaf kalau begitu, karena dari tadi saya bekerja terus nggak ada istirahat, jadi ribet sendiri. Oke, kalau gitu tolong kamu cari yang namanya Mba Riska, minta buku dengan judul yang sama. Kalau ditanya, bilang aja diminta Mba Kukuh gitu.”

Aku hanya mengangguk tanpa pikir-pikir lagi. Bodoh, aku diminta untuk mencari mba Riska tapi aku nggak tahu pasti di mana aku harus mencarinya, Riska yang seperti apa pula. Kaki melangkah ke lantai atas, aku pikir karena dilantai atas itu khusus untuk buku-buku mungkin orang yang aku cari ada di sana. Sesampainya di sana ternyata suasana sudah ramai, kedua ruang pertemuan di isi dengan seminar yang pesertanya anak-anak usia 10-12 tahun, di setiap rak juga dipenuhi orang. Aku tanya ke setiap karyawan dengan baju yang seragam semua tidak tahu dimana Riska. ‘Oh mungkin mba Riska ada di lantai bawah, di ruang khusus karyawan/gudang buku’, pikirku dalam hati. Tapi langkah kakiku malah menjauh dari toko buku itu, dan aku pun melupakan hadiah parsel yang aku dapat. Aku makin jauh hingga keluar dari mall. Pikiran ku malah tertuju dengan rumah yang ada di dalam buku itu. Buku yang tadi salah di ambil oleh Mba Kukuh. Buku yang baru selesai aku baca. 

Awalnya aku berjalan, lalu berlari, berlari dan berlari, hingga akhirnya aku berada di satu perumahan di daerah St. Louis. Ya aku sedang berada di Amerika. Aku tidak asing dengan suasana dan hawa dingin musim semi yang baru saja ditinggalkan musim salju itu. Yang berbeda dari pemandangan yang ku lihat adalah banyak rumah-rumah baru yang dibangun disekitar jalanan utama St. Louis. Aku seperti sudah tahu ke arah mana tujuan kakiku melangkah saat itu.

Aku mencari rumah dengan gambaran yang sama dalam buku. Sebelum aku sampai kerumah itu, aku melihat ada sepasang pengantin baru yang baru saja selesai melaksanakan pesta pernikahan. Dari mana aku tahu? Dari pakaian mereka yang masih berpakaian pengantin warna putih. Mereka sedang asik menata rumah baru, dibantu dengan teman dan keluarganya. Kegembiraan terpancar dari wajah pasangan baru itu dan terdengar dari gelak tawa keluarga yang sambil lalu membantu membenahi rumah baru.

Rumahnya unik, persis dengan pakaian pengantin yang bernuansa putih-putih. Rumah yang modelnya menjulang keatas, ada tiga tingkat, memiliki jendela yang berukuran besar. Khas rumah orang Amerika, seperti mereka selalu akan merasa aman dengan rumah yang memiliki jendela besar dan bening. Aku bisa lihat jelas letak-letak lemari, guci dan posisi barang-barang lain dari rumah itu. Aku terus memperhatikan rumah itu, ‘enaknya pengantin baru,’ itu yang ada dipikiranku.

Oh ya, kembali ke rumah yang ku tuju. Rumah itu berada di belakang rumah pengantin baru tadi. Rumah tua dengan cat berwarna hijau muda. Ada tanda hitam besar di depan pintu hingga tembok disebelahnya, tanda itu seperti bekas tembok yang terkena bocor. Lalu lagi-lagi, aku tergerak oleh pikiran bawah sadarku untuk melakukan hal yang sebenarnya aku tak mau. Aku menulis di tembok samping pintu utama dengan pensil yang aku bawa, ‘this house is like mine‘, selagi aku menulis, aku melihat bayang-bayang bekas tulisan di tempat yang sama, tetapi aku tak tau pasti tulisan apa itu. Aku hanya dapat membaca kata belakangnya ‘to you‘. Dan jujur, aku nggak tahu pasti mengapa aku bisa menulis ‘rumah ini seperti milikku’ padahal aku tidak memiliki rumah aku tinggal bersama orang tua. Dan aku tahu rumah itu dari buku yang aku baca. Aneh.

Ku ketuk pintunya, tapi aku mendengar bunyi bel dari dalam. ‘Aku mengetuk pintu, mengapa yang terdengar bunyi bel?’ aku membatin. Ku dengar derap langkah dari dalam rumah yang mendekat ke arah pintu. Aku melihat sosok kakek-kakek yang semakin mendekati ku, semakin terlihat muda dan bahkan seperti, sorry to say, anak cacat dengan kepala membesar. Wajahnya lama kelamaan semakin imut seperti anak usia 7-8 tahun.

Good evening” sambil tersenyum dan matanya menatapku lekat.

E-e-evening. Sorry, is this house a store?” aku tergagap. Aku bingung berhadapan dengan orang aneh ini. Dan aku juga baru tersadar saat itu, buat apa aku datang kesini, padahal yang aku cari itu Mba Riska, yang seharusnya aku datangai bukan rumah ini tapi toko buku.

Oh this is not a store,” tersenyum senang dan masih terpaku menatapku, sampai akhirnya aku pamit dan berlari menjauh. 

Di perjalanan ingin kembali ke toko buku, angin kencang berhembus aku tidak bisa melihat jelas kemana arah langkah kakiku. Sampai akhirnya aku kembali lagi melihat rumah pengantin baru tadi, mereka sedang sibuk menutup jendela rumah karena tiba-tiba hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kencang. Lalu aku kembali lagi ke rumah tua itu. Aku berlari lagi menjauhi rumah itu, lalu kembali lagi di depan rumah yang sama. Ini aneh. Terus hingga malam pun tiba, area St. Louis semakin gelap, minim lampu jalan dan aku ketakutan. Dari situlah akhirnya aku tak dapat kembali ke kehidupanku yang lama. Aku sekarang tinggal di dalam rumah yang temboknya pernah ku tulis ‘this house is like mine‘. Aku akhirnya menjadi pemilik rumah itu sampai sekarang.