Penasaran

Kau bertanya mengapa kita terus berjalan

//You asked me why we keep walking?//

Mencoba pertahankan meskipun tau ada yang salah

//Trying to defend although we knew there’s something wrong//

Benarkah ini hanyalah penasaran cinta

//Does it only the curiosity of love?//

*Ku dengan mu selalu menjadi pertanyaan tanpa sebuah jawab tentang cinta

//I and you always be the question without an answer about love//

Dirimu dan aku tlah banyak buang waktu

//You and I had spent much time//

Trus mencari jawaban tentang kita

//Keep seeking the answer about us//

Impian bahagia akan menjadi nyata bila ada rasa saling percaya

//The happy dream would be come true if there’s trusted feeling to each other//

Benarkah atau hanyalah penasaran cinta

//Does it only the curiosity of love?//

*Ku dengan mu selalu menjadi pertanyaan tanpa sebuah jawab tentang cinta

//I and you always be the question without an answer about love//

Dirimu dan aku tlah banyak buang waktu

//You and I had spent much time//

Trus mencari jawaban, mencari alasan tentang cinta

//Keep seeking the answer, seeking the reason about love//

Eng trans by me (dont blindly to follow, my English still need correction)

Advertisements

Soundtrack Kisah Hidup

Dear,

Gw pernah liat @MaliqMusic nge-RT status orang yang bilang kalau hampir semua lagu Maliq itu soundtrack hidupnya, dan ternyata nggak cuma orang itu, banyak orang yang setuju sama statement itu.

Dari lirik, musik, performance buat gw Maliq jagonya. Menurut gw semenjak ada Maliq yang notabene nya punya musik yang mengarah ke jenis Jazz bikin statement kalau musik jazz cuma untuk kalangan tertentu itu nggak tepat lagi, karena dengan adanya Maliq semua orang jadi bisa menikmati lagu Jazz atau musik semacamnya lah. Begitu juga sama gw, sejak ada Maliq gw jadi banyak dengerin lagu yang mengarah ke Jazz, soul, yang musiknya itu lebih nonjolonin ke kuatnya masing-masing instrument, yang bikin tenang pikiran, dan bisa bikin jatuh cinta terus.

Di sini gw ga mau ngebahas siapa itu maliq, asal nama dari mana, list lagu yang udah dirilis itu apa aja, tapi gw mau yang beda karena lo bisa dapet profile Maliq dari wikipedia. Gw di sini mau menyambungkan beberapa lagu Maliq jadi satu kesatuan jadi satu cerita yang akhirnya bahagia. Hahaha apa sih, gw coba dulu yah.

__________________________________________________________________________

♥ Pertama

Di dalam kelas yang gaduh, anak perempuan di bangku paling depan asik membolak-balikan majalah fashion, beberapa anak laki-laki asik dengan handphone-nya dan anak laki-laki lain asik membicarakan soal pertandingan bola dini hari tadi. Saat itu pergantian jam dari pelajaran Matematika ke Biologi, sedangkan Doni yang notabene-nya anak IPA yang paling rebel dan cuek di kelas, lagi asik dengerin musik lewat ipod-nya. Saat itu ipod yang di set on suffle all song-nya lagi mainin lagu Maliq & D’essentials yang judulnya ‘Funk Flow’. Sedang asik-asik mengikuti irama sambil memanggut-manggutkan kepala, tiba-tiba datang sosok manis yang masuk ke dalam kelas. Wajah cewek itu asing banget dan Doni bertanya-tanya putri nan ayu dari mana yang tiba-tiba menyasar masuk ke kelasnya. Cewek itu mengikuti langkah ibu Sonia yang berhenti di tengah-tengah kelas.

Dengan sigap, Doni membenarkan posisi duduknya yang tadinya malas-malasan jadi tegap, memandang cewek asing itu tanpa berkedip, headset pun dilepas dan disimpan di kolong meja.

“Ya anak-anak, ini Keumala teman baru kalian dari Jogja,” jelas Ibu Sonia sambil membenarkan kacamatanya.

“Halo, nama saya Keumala Triningsih dari SMA 1 Jogja. Saya pindah sekolah karena ayah saya di tugas kan di kota ini. Semoga kita bisa berteman dengan baik, mohon kerja samanya,” Mala tersenyum manis semanis Selena Gomes, penyanyi favoritnya Doni, cuma bedanya Mala punya kulit yang lebih gelap dibanding Selena.

Mala duduk di barisan ke 3 dari depan, satu baris dengan Doni tetapi terhalang oleh Ian ditengah-tengah. Dari Mala berjalan hingga duduk, Doni terus memandangnya dan karena merasa diperhatikan Mala pun menoleh kearah Doni dan mengumbar senyum ala Selena itu. Doni membalas dengan senyuman yang datar, karena dia bingung dengan perasaannya.

Doni memang dikenal sebagai anak band yang cuek, penampilannya tidak seperti anak IPA kebanyakan yang rapi. Doni lebih senang memakai hoody dengan ipod dikantung dan sering terlihat asik mendengarkan musik dengan headset. Tapi Doni cukup rajin dan anak kesayangan beberapa guru wanita, bukan hanya dari tampilannya yang sedikit bule tapi cuek begitu cara Doni bicara kepada yang lebih tua sangat sopan dan pintar pastinya.

Tapi ada satu hal yang merusak image Doni yaitu Doni super cuek ke setiap cewek di sekolah kecuali Detha yang pentolan basket cewek sekolah. Setiap ada yang mendekati Doni, secantik apapun cewek itu bak Doutzen Kroes pun nggak peduli. Bukan karena Doni nggak suka perempuan tapi Doni risih dengan cewek-cewek lenjeh yang datang ke sekolah dengan make-up, tampang penjilat, yang melihatkan sisi imut atau sok imut di depannya. Menurutnya cewek cantik itu yang apa adanya, mungkin mirip Detha, biarpun tomboi, rambut tidak panjang, kulit gelap karena sering terjemur matahari saat latihan basket, tapi sikap Detha nggak lenjeh dan sok imut kayak cewek-cewek lain yang mendekatinya.

Dengan sikap Doni yang seperti itu, Doni pun tahu, karena gambaran dirinya sudah banyak dijadikan sosok di dalam sinetron di televisi. Dia tau benar seperti apa dirinya dan kekurangannya itu, tetapi dia anggap angin lalu jika orang di sekitarnya jengkel dengan sikap cueknya. Banyak yang bilang, ganteng-ganteng kok anti cewek, dan ada pun yang langsung bilang bahwa dia itu penyuka sejenis. Whatever people say, I am what I am, itu kalimat yang sering dia bilang ke Detha dan beberapa teman-temannya.

Doni yang biasa konsen dengan apa yang dijelaskan Ibu Sonia dan guru-guru di depan kelas, hari itu sepertinya badan Doni tetap berada di tempat duduk tetapi ruhnya sedang berdiri di depan Mala, memandang dan berimajinasi. Hahaha, Doni juga cowok kali, boleh dong berimajinasi.

Di ruang basket, di mana saat itu Detha lagi membereskan semua bola basket yang tadi dipakai anak-anak waktu pelajaran olahraga.

“Tha, cowok kalau puber itu umur berapa sih?” ikut membantu memasukan bola-bola basket ke dalam keranjang besar.

“Eh? Kenapa tiba-tiba lo nyebut-nyebut soal itu? Lo sakit?”

I’m fine, very fine. Gw cuma tanya, jadi umur berapa?”

“mmmm, gw cewek, mana gw tau cowok puber umur berapa. Tapi lo pernah ngerasa nggak kalau suara lo berubah? Yang kalau didenger persis kayak banci gimana gitu?”

“pernah, itu puber? Berarti waktu gw SMP kelas 1 donk”

“iya gitu, terus kenapa? Bukan itu maksud pertanyaan lo?”

“bukan, bukan. Yang lain, ciri-ciri cowok puber ada lagi kan? Ga Cuma itu.”

“Bentar gw inget-inget, pubernya cowok itu kalo nggak suara berubah, oh, mimpi basah? Lo pernah mimpi basah?”

Pass it. No comment, ada lagi?”

“Nah kan lo pernah ya Don… sama siapa? Keliatan nggak muka ceweknya? Pas kapan? SMP juga? Apa SMA?”

“Ah mulai rese deh lo, selain itu, selain itu.”

“Nggak tau gw, apaan lagi donk” mereka berdua berjalan keluar dari ruangan olahraga.

“Ah, to the point deh, cowok suka sama cewek biasanya umur berapa?”

Detha berhenti melangkah, “jadi maksud lo, sekarang lo lagi…”

Dont say anything, iya gitu deh” kalimat Detha langsung dipotong Doni, karena dia tidak mau ada anak di sekolahnya yang tau soal arah pembicaraan itu.

“Kita terusin ntar Don, gw ambil tas dulu, lo tunggu gw di depan gerbang ya. Gw penasaran, kita mesti obrolin soal ini.”

Akhirnya pembicaraan dilanjutkan sambil makan bakso di warung bakso favorit mereka di daerah stasiun.

so?” Doni masih penasaran sama apa yang bakal Detha bilang soal cowok suka sama cewek.

so apa?” sambil menarik bangku dan duduk didepan Doni.

this is my 1st time saat gw liat cewek, nggak begitu cantik emang, at least bukan cewek yang sejenis sama gw semampai mendekati cungkring dan bule. Tapi dia kalo senyum itu mirip banget sama Selena Gomes, lo tau kan Selena Gomes itu gw banget?”

“tau banget gw, yang kalau di dunia ini nggak ada yang namanya Justin Bieber pasti yang namanya Selena Gomes itu luluh dipelukan lo.”

“Yeah~ Tapi ketika gw liat cewek ini, bikin jantung gw berhenti sepersekian detik. Lo pernah nyobain naik halilintar kan? Kayak gitu, mau pipis gimana gitu rasanya”

“Jijik deh. Tapi Don, bukannya lo pernah bilang waktu SMP lo pernah suka sama guru komputer lo?”

“iya, tapi gw pikir-pikir itu cuma main-main karena siapa juga yang nggak tertarik sama cewek dewasa yang sexy. Dan saat itu perasaan gw nggak kayak sekarang ini.” Dalam itungan ketiga hening dan tiba-tiba Detha ketawa.

“kok elo ketawa?” mengernyitkan dahi dan jujur saat Doni begini, yang tampangnya dingin, itu saat yang terindah untuk memandang wajah Doni. Gantenggg.

“Ya ampun, temen gw yang bule satu ini, telat banget suka ama cewek”

“hus, jangan heboh deh lo di sini, ini tempat umum”

Sambil memukul-mukul pelan pundah Doni, “Nggap apa-apa masbro, nggak ada kata terlambat buat mencintai siapapun. Finally, lo suka juga sama cewek, cewek yang mana?”

“rahasia… Makasih Mas” memasang tampang mengejek ke Detha sambil memasukan sambal ke mangkok bakso yang baru saja dihidangkan oleh mas-mas tukang bakso.

“jaaah, kenapa mesti dirahasiain? Katanya gw itu sobat lo, yang suka lo ajak ngobrol man to man. Payah lo, suka sama cewek diem-diem”

“Bodo amat, jaga image gw.”

“Makan tu image.”

“Ini bakso kali. Udah ah, makan dulu…”

Sampai mereka pisah di stasiun tujuan, Doni pun belum menyebutkan nama cewek yang bikin jantung dia berhenti sepersekian detik itu. Dan Detha tau memang, kalau Doni bilang A ya pasti akan A, so dia tau bakal ada saatnya Doni siap buat cerita, membeberkan semua siapa cewek itu. Jadi santai aja.

Dua hari, tiga hari berlalu dan akhirnya sampai di hari Jumat, hari yang biasanya kalau mendekati jam-jam pulang sekolah, Doni menengadah sambil melihat ke atas atap ruang kelas dan bilang, Thank God It’s Friday, sekarang diganti jadi, Yah God, kok It’s Friday sih? Yang artinya berarti besok Sabtu dan Minggu nggak bisa ketemu Mala, nggak bisa lirik-lirik ke arah bangkunya Mala. Nggak bisa lagi pura-pura minta tisue karena kacamata bacanya kotor padahal nggak ada apa-apa. Nggak bisa lagi ngasih liat kebolehan memainkan gitar di dalam kelas saat pergantian jam pelajaran atau istirahat. Aaaaakh!

“Bule, kok lo lesu? Ntar lo latihan nggak sama anak-anak? Nyokap gw bilang doi mau buat klapertart hari ini, gw udah pesen buat lo, Jerry, Bagus, Luci ama Dewo.”

“Mata ku terus tertuju padamu, saat ku lihat dirimu tersenyum, ingin aku menyapa namun ke terdiam tak ku lakukan…” Doni nggak menggubris omongan Detha. Melihat Doni malah nyanyi, Detha melepas hoody yang Doni pakai dan mencopot dengan tiba-tiba headset sebelah kiri yang Doni pakai.

“Ah, semprul… Gw ngomong dari tadi, nggak lo denger?”

“Eh, sorry sorry, kenapa?” melepas headset sebelahnya.

“Ntar latihan nggak? Gw mau bawain klapertart, nyokap gw bikin hari ini.”

“Wah boleh-boleh. Ntar latihan kok, biasa jam 4.”

Dan lalu, tiba-tiba dari arah berlawanan, Mala berjalan. Doni memakai lagi headset dan hoody-nya dan menyanyikan lagi lagu Maliq & D’essentials yang Terdiam yang kali ini benar-benar dari lubuk hati, dengan suara sedikit keras supaya Mala dengar, “Apakah kau rasakan getaranku pada dirimu, ku hanya duduk terdiam, menunggu untuk tau namamu…”

Detha mempercepat jalannya jadi lebih depan 2 meter dari Doni berdiri, dipikirnya, cowok kalau lagi suka cewek jadi aneh, jadi gila, jadi nggak peduli. Detha masih belum tau soal Doni suka Mala. Setelah Mala jauh dari Doni, dan Doni merasa kalau ditinggal Detha, dia mempercepat jalan dan berjalan lagi disamping Detha.

-bersambung

Hari itu… Ehem, Eaaa, Jleb

Dear,

Kalo kata orang, hidup itu bisa dirangkum dengan 3 kata bahwa ‘hidup terus berjalan’. Kalau gw, khusus hari Jumat kemarin akan gw rangkum dengan 3 kata juga ‘Ehem, Eaaa dan Jleb’. Agak maksa sih ya, hahaha tapi akan gw ulas maksud dari 3 kata itu.

1. Ehem

Adit (prambors) : “…Hari ini gw dapet request-an spesial dari Nicholas Saputra yang minggu kemarin adalah hari terakhirnya jadi penyiar di acara ini. Dia minta gw puterin lagu Maliq & D’essentials judulnya ‘Terdiam’, karena katanya dia lagi suka sama cewek tapi dia malu buat ngungkapinnya…”

Dialog tunggal itu, dialog yang jadi awal gw tertarik sama musik Maliq & D’essensials tahun 2005 (yang mau tau kayak apa musiknya, klik di sini), dan kondisi gw saat itu lagi sama kayak Nicholas Saputra, jadilah gw jatuh cinta sama musik maliq sampai sekarang.

Nah hari Jumat kemarin itu, gw ikut ke acara Meet & Greet mereka di Ruang Apung Perpus Pusat UI, tadi jam 2 siang. Posisi duduk gw tepat di depan panggung, di depan keyboard pula… Yang dimana, orang yang bakal mainin keyboard itulah yang jadi ehem-nya hari itu, yang jadi poin pertama di hari Jumat yang saat itu ujan. Siapakah dia? Yap ILMAN. Keyboardist Maliq yang baru, yang imut, yang lucu, yang ehem lah pokoknya. Hehe.

Gw udah sempet update status di twitter (@beeestGK) soal niatan gw untuk dateng ke acara ini di hari-hari sebelumnya. Dan emang udah niatan gw untuk berjuang buat duduk di barisan paling depan, nontonin Maliq & D’essentials nyanyiin 3 lagu (‘Dia’, ‘Menari’, dan ‘Pilihanku’). Yang di mana, Menari adalah lagu yang udah gw harap-harapin untuk dibawain di M&G itu. Alhamdulillah kesampean, soalnya itu lagu yang bisa menonjolkan skill Ilman dalam memainkan keyboard-nya… Thank God! Misi pertama untuk dengar Menari secara live terlaksana.

Gw : “Halo Maliq, gw Genis dari FE, kalian kan udah ngeluarin 2 album full dan 2 mini album, lagu udah banyak, ada rencana nggak sih buat bikin konser solo? Terima kasih.”

Angga : “Untuk pertanyaan ini sebenernya udah ada sebelum album ke 4 keluar. Tapi belum kita realisasikan. Kita berencana buat bikin konser di tahun ini, cuma konser ini bukan kayak kebanyakan musisi lain, seperti konser 10 tahun Maliq begitu, tapi kita kembangin konsep supaya bikin konser yang beda. Dan rencananya sih, karena kita punya label sendiri, ORGANIC Records kita maunya nanti seluruh artis ORGANIC Records itu juga manggung… jadi nggak cuma Maliq aja.”

Dialog itu beneran, gw yang biasa males buat tanya diberbagai event diskusi atau apapun, kali itu gw beraniin, salah satu alesannya supaya bisa eye to eye ke mereka dan bisa eye to eye juga lah ke si ehem, karena tadi dia menyimak pertanyaan gw. Haahaha *evil smirk*. Thanks Angga, itu jawaban yang cukup panjang di sesi pertanyaan saat itu. Yes. Misi kedua terselesaikan. Tinggal misi ke tiga nih.

Sebenernya gw ga punya bias di Maliq, awalnya gw suka Satrio tapi dia out, trus gw suka Widi karena dia otak dari semua musik Maliq, setelah gw liat performance mereka live di JGTC (Jazz Goes To Campus) gw jadi suka Jawa, eh suka Angga, eh suka Indah, eh suka Ifa, eh suka Amar juga. Kalo Lale, gw udah suka dari doi jadi cowok Gadis (majalah), dia cowok Gadis favorit gw saat itu, jadi cukup. Dan, tadaaaa, ini foto gw dan si Ehem^^

All Missions completed!

2. Eaaa

Jam 4 nya, gw dan beberapa teman dari Hangugo Dongari (한국어 동아리), yang dalam bahasa Indonesia Perkumpulan Bahasa Korea, ngadain rapat di ruang diskusi perpus. Saat itu yang dateng cuma gw, Kak Luci, Ibu Oh, Dini, Ron, Dimas, Doni, Silvi, Icha, Sa, lanjut ada Chita dan Nessa. Kita ngebahas soal rencana Open Recruitment (Oprec) untuk anggota Dongari yang ke 5. Yang penasaran kayak apa perkumpulan ini, coba klik di sini yah. Blablabla, singkatnya bakal ada Oprec 2 minggu lagi. Jadi buat yang mau ikutan juga nih, anak UI, bisa prepare dan check segala macem nya di link tadi yah.

Ada 1 yang nempel banget di otak gw saat itu, dan itu adalah sesuatu yang gw sebut Eaaa.

Ibu Oh : Saya ingin bicara, blablablabla, Dongari ini tidak hanya sebatas belajar bahasa Korea saja, tetapi untuk kalian bisa bekerja sama dengan orang asing (orang Korea) bahwa tepat waktu itu sangat penting. Otak pintar saja tidak cukup kalau dalam bekerja samanya buruk.

Kira-kira begitu, maksudnya ngingetin kita kalau be on time itu penting banget karena ketika kita nggak on time, orang yang menunggu itu juga punya waktu lain donk, ga cuma mau ketemu kita, menjengkelkan kalau mesti menunggu kan? Apa yang ibu Oh sampein tadi, jadi pelajaran buat gw. Orang pun bisa menilai buruk terhadap kita hanya dengan sikap ngaret yang mungkin (pernah) kita anggap sepele. Makasih untuk Ibu Oh sudah menegur dan mengingatkan kita.

Eaaa nggak bisa yah, kita (orang Indonesia) nggak lagi untuk gunain tuh yang namanya ‘jam karet’.

3. Jleb

Sok padet yah jadwal gw, padahal jarang banget begini, setelah dari rapat gw lanjut masuk kelas. Tiap Jumat di smester ini, gw ikut kelas Akuntansi Syariah. Kelas yang untuk 2 pertemuan awal ini jadi kelas yang bikin otak gw fresh, kelas brain storming, kelas yang bikin beberapa ingatan masa SD sampai SMA popped up lagi di otak gw.

Yang dibahas hari ini tentang Islam dan Hukum-hukumnya. Banyak banget hal yang sempet lupa karena gw dapet pas SD atau SMP atau SMA, dan keluar lagi dari mulut dosen gw, jadi inget lagi deh. Kayak cerita Nabi, asal muasal manusia, apa itu Islam, kenapa begini dan begitu, dll.

Langsung aja deh, singkatnya dosen gw ngejelasin soal 5 Maqashid Syariah, dalam bahasa Indonesia 5 Tujuan Syariah. Jadi tuh, untuk mewujudkan kemaslahatan manusia, di Islam ada tujuan-tujuannya yang meliputi memelihara agama, jiwa, harta, akal dan keturunan.

Bu Miranti : “… Tujuan yang lain, memelihara keturunan. Makanya jangan jomblo terus…”

Segitu yang gw penggal dari ucapan dosen gw, itu aja udah bikin ‘jleb’. Nusuk banget ke gw yang jomblo… Dan sebeneranya dia juga mention tentang, kalau mau keturunan yang baik, bersikaplah yang baik, supaya dapat jodoh yang baik. Kalau ibu baik, ayah baik, insyaallah keturunan juga baik.

Mulai lagi kayak saat itu pikiran gw melantunkan lagu Maliq & D’essential yang ‘Sampai Kapan’… Hei Genis, sampai kapaaaaan dooonk! #menuntudirisendiri. hehehe….

That’s it, itu semua 3 hal yang bisa gw rangkum hari Jumat kemarin dan dari mana 3 kata itu berasal. Seneng banget sama hari itu, berharap semoga Sabtu ini gw bisa happy juga…

So, udah tengah malam dan gw mesti tidur, kalau gitu Have a nice weekend besok…^^ Thank you for reading!

Salam kencur… hehehe

Sampai Kapan

Sampai Kapan

by. Maliq & D’essentials

Menantikanmu dalam jiwaku

Waiting for you in my soul

Sabarku menunggu.. berharap sendiri

I waited patiently.. live in hope of myself

Aku mencoba… merindukan bayangmu

I tried… missing your shadow

Karena hanya bayanganmu yang ada

Because there was only your shadow

Hangat mentari dan terangnya rembulan

The warm sunlight and moonlight

Mengiringi hari-hariku yang tetap tanpa kehadiranmu

Kept up with my days which wasn’t you at all

Indahnya pelangi yang terbit kal sinar matamu menembus relung hati.. ku

Beautiful rainbow that came out when  your beam eyes emerged my hollow heart

Bridge

Pantaskah diriku ini mengharapkan

Does myself suitable for hoping

Sesuatu yang lebih dari hanya sekedar perhatian dari dirimu

Something more than just an attention from you

Yang kau anggap biasa saja

That you hunch with indifference

Atau mestikah ku simpan dalam diri

Or should I keep in mymind?

Lalu ku endapkan rasa ini terus

Precipitate this feeling straight away then

oo… yeah yeah.. selama-lamanya

oo yeah forever

Chorus

Diriku cinta dirimu dan hanya itulah Satu

I love you and the only one

Yang aku tak jujur kepadamu

That I cant be honest to you

Kuingin engkau mengerti

I want you to understand

Mungkinkah engkau sadari

Do you ever realize?

Cinta yang ada di hatiku

The love in my heart

Tanpa sepatah kata kuucapkan padamu

Without one word that I told  you

oo.. oo.. oo.. sayang dapatkah aku memanggilmu.. sayang

ooooo darling can I call you… darling

sampai kapan

when will it happen

akupun tak sanggup tuk pastikan

I cant be prepared to definite

ku dapat memendam seluruh rasa ini

I can bury this feeling

 

Dengarlah.. jeritan hatiku untukmu oo..oo

Listen.. the shrieking of my heart is for you.ooo

Dan aku ingin engkau mengerti apa yang

And I want you to understand what is

Dihatiku.. sanubariku

In my heartstrings

Kita kan berdua selamanya.. yeah yeah

We’d be together forever.. yeah yeah

 

I want to be like other girls, who love and to be loved… pathetic indeed.

PS. my 1st time translating Indonesia song into English, sorry for my mistaken^^