[Cerpen] KA 138: Orang-orang Akan Saling Meninggalkan #kelasmenulis @fiksimini

“Hong, hong!” dengan kecepatan standar, 60 km/jam, KA 640 melaju yang seolah-olah menyapa dari arah berlawanan. Nggak pernah banyak hal yang kami utarakan ketika berpapasan, terkadang hanya sapaan ‘hai’, ‘selamat pagi/siang/malam’, atau selayaknya manusia menyapa kawannya dengan ‘bro/sist’. Pernah kami saling mengabarkan rel yang anjlok di dua stasiun berikutnya dengan hong yang agak panjang. Mungkin manusia berpikir bunyi klakson kereta hanya penanda masinis menyapa masinis lain dalam kereta yang berlawanan arah, padahal sebenarnya kami pun dapat saling menyapa.

Aku, KA 138 dengan jadwal melaju dari stasiun Depok dan berakhir di stasiun Duri, sudah 3 tahun mengabdi di Indonesia. Sebelumnya aku bekerja di Stasiun Kami-Shirataki, Hokaiddo dengan berpenumpang satu orang selama 4,5 tahun. Dulu aku merasa sangat nyaman, bekerja hanya dua kali sehari di jam-jam tertentu. Penumpangnya pun hanya seorang gadis berseragam yang biasanya duduk tenang sambil membaca buku. 

Aku terpilih menjadi kereta yang dipercaya untuk mengantarkan anak itu, selain memang aku masih mampu berjalan cukup jauh dari desa menuju kota, aku juga memiliki keterikatan dengan anak itu. Aku suka dengan wangi sabun yang dipakainya, aromanya membuatku melambung ke kebun tulip. Belum lagi anak itu suka membaca buku yang isinya sangat menarik, segala sesuatu tentang hewan. Aku belum pernah bertemu banyak hewan selain burung yang suka hinggap di atas punggungku ketika aku istirahat tidur siang. 

Pada hari terakhir perjumpaan kami pertama kalinya aku mendengar suara gadis itu. Selama ini kami berteman dalam diam. Namanya Erika, ternyata. Dia diberi kesempatan oleh masinis untuk berdiri di belakang stir kereta. Matanya berbinar senang, “terima kasih telah menjemput dan mengantarku ke sekolah selama ini, Pak. Aku nyaman bersama kereta yang Bapak bawa. Aku akan sangat merindukan momen duduk membaca buku di dalam kereta, mendengar bunyi hong sebelum kereta berhenti di hadapanku, dan saat kereta ini dengan sigap menungguku di stasiun dekat sekolah.” Mata Erika menyorotkan kebanggaan dan rasa senang, sedang aku hampir-hampir menangis, belum lagi sore itu gerimis tipis turun dari langit Kota Hokaiddo. Aku pikir Erika akan bertanya, ‘lalu akan dibawa kemana kereta ini?’ setidaknya begitu atau ‘apa kereta ini akan digudangkan?’. Aku ingin Erika lebih menunjukkan penasarannya tentang nasibku nanti. Atau lebih banyak menyinggung tentang memori-memori kebersamaan dia denganku saat perjalanan ke dan dari sekolah. Ternyata tidak ada kata lain lagi, hanya senyum senang dan pelukan yang dia berikan untuk orang-orang yang terlibat dalam proyek pengoperasian kereta stasiun Kami-Shirataki. Aku sedikit kecewa dengan harapan yang tidak sesuai ekspektasi. Aku ingat betul, malam setelahnya aku merasa terpukul. Aku terus memikirkan bahwa aku akan keluar dari rutinitas. Entah apa yang akan menyambutku hari berikutnya. Apakah aku akan berjumpa dengan orang-orang seperti Erika yang tenang, atau yang tidak peduli dengan sekitar dan berbuat kerusakan. 

Aku sempat didiamkan di gudang selama beberapa bulan. Saat itu, aku merasa hancur, aku selalu membayangkan kejadian dan menggambarkan memori ketika bekerja mengantar jemput Erika. Pada awalnya Erika yang meninggalkan aku, sekolahnya telah selesai, selesai juga tugasku untuk menemaninya. Dia pun sudah menetap di kota. Lalu pada akhirnya aku juga yang meninggalkan Erika. Dari Jepang, aku dikapalkan ke Indonesia. Dan, pada akhirnya, kita memang harus saling meninggalkan. Kekosongan pikiranku diisi dengan hal lain, di satu sisi aku merasa penasaran dengan kejadian-kejadian yang akan aku hadapi di Indonesia di sisi lain aku masih belum mau lepas dari kenyamanan mengabdi di Jepang. 

Di Jepang, sudah ada lebih banyak kereta yang memiliki standar internasional. Indonesia butuh kereta yang menunjang pengoperasian waktu penuh dengan kualitas masih di atas standar tapi dengan harga dan biaya pemeliharaan yang ekonomis. Biarpun aku ini disebut kereta bekas di Indonesia, tapi aku tak pernah bekerja setengah-setengah. Itulah kenapa aku yang dipilih pemerintah untuk bekerja di Indonesia.

***

Sabtu memang lebih enak kumpul bersama teman, nge-mall, bangun siang, main bareng kucing kesayangan, dan ngerecokin mama di dapur saat orderan brownies kukusnya menggunung. Tapi buat aku yang masih harus berjuang demi masuk ke tim PON XIX, Sabtu jadi harinya aku pergi pagi pulang sore ke GOR Senayan untuk latihan memanah. Untungnya kereta Sabtu pagi tidak sepadat kereta Senin-Jumat pagi.

“Aduh, finger tab gue ketinggalan,” sambil merogoh tas punggung, aku panik. “Aduh, kalau balik ke rumah gue bakal diomelin Mas Danang lagi karena telat,” kali ini aku mengeluarkan semua isi tas dan meletakkan semua barang di atas kursi peron. 

Sampai akhirnya ada tangan yang menghalangi penglihatanku, “makanya kalau lupa jangan dipelihara.” Iban berdiri di sebelahku sambil tersenyum manis. Laki-laki ini selalu menjadi pahlawan kesianganku yang selalu kepagian, karena sering muncul di saat aku butuh. 

“Kok bisa di elo, Ban?” aku meraih finger tab itu dari tangannya. 

“Gue mau ikut elo latihan. Jadi tadi ceritanya mau jemput elo ke rumah, eh elonya udah berangkat. Untung Kak Angel ngeliat finger tab elo itu di atas meja makan.” Aku menyengir. 

“Hari ini hari penentuan kan?” tambahnya. Lagi, laki-laki ini membuatku kesetanan, setidaknya kesetanan di dalam pikiran. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami berjalan menuju altar, kita menikah. Oh my God. Tidak-tidak, dia sahabatku tidak lebih dari itu, lagi pula dia lebih muda dua tahun dariku. Jangan mimpi kamu, Bel. Beginilah aku kalau sedang kesetanan. 

Kami menaiki kereta menuju Sudirman, aku akan berlatih memanah di GOR Senayan. Kereta ini juga yang biasa aku naiki setiap hari mengantarku ke kampus. Aku bisa mengenalinya dari tempelan di dekat pintu dua gerbong tiga. Disitu ada tempelan yang bertuliskan huruf Kanji, aku kurang paham tentang perkanjian, itu kata kak Angel yang mendalami Bahasa Jepang. 

***

“Kok senyam-senyum Ngel?” kataku saat pertama kali naik kereta pada hari pertama kuliah. 

“Tempelan itu,” mengisyaratkan aku untuk melihat ke arah tempelan dengan matanya. 

“Artinya apa?” mau seberapa lama aku pandangpun aku nggak mengerti.

“Tetaplah menjadi hebat. Erika.” Aku ingat itu yang dikatakan kak Angel, percaya atau tidak perkataannya, aku harus percaya, kak Angel sudah sering diminta menjadi LO orang-orang Jepang di acara bertaraf internasional. 

***

Jadi setiap aku menaiki kereta di gerbong tiga dan melihat tulisan itu, seketika aku melengkungkan senyum, seolah kereta ini memberiku sapaan dengan kata indah itu, ‘hey, tetaplah menjadi hebat, Bel.’ 

Aku sampai di lapangan tepat waktu, Mas Danang malah yang kesiangan. Mas Danang itu seniorku, paling keras dan sedikit angkuh setidaknya hanya kepadaku. Dia bisa bersikap manis ke siapapun kecuali aku. Tapi peduli apa, aku punya Iban. Aku menoleh ke arah Iban setiap kali berhasil menembakan anak panah tepat mengenai target dan mendapat poin 10. Senyumnya menyejukan hati. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami pergi berlibur ke Bali. Begitulah setiap melihat senyum Iban, lagi-lagi aku kesetanan. Terima kasih Iban, adanya kamu, aku sudah bisa mencium wangi lapangan PON XIX di Gelora Sabilulungan Jalak Harupat, Bandung.

Latihan terakhir menuju perhelatan PON XIX sungguh membuat tanganku hampir mau copot, tapi nggak perlu khawatir aku sudah latihan intensif dari 6 bulan sebelumnya, sudah terbiasa. Di akhir latihan, Pak Rointo mengumumkan siapa saja yang berhak mewakili Jakarta untuk PON XIX, salah satunya aku. Aku senang bukan main biarpun Mas Danang tetap dengan tampang angkuhnya memberikanku selamat. Iban? Jangan ditanya, dia memeluk ku dari samping, katanya, “Katnis Everdeen-nya siapa dulu.” Iban sangat menyukai gayaku saat memanah, katanya. Alasannya karena kharismaku bisa terlihat mirip seperti tokoh Katnis Everdeen dalam film Hunger Games.

Diperjalanan pulang, aku kembali menaiki kereta yang sama. Iban nggak habis-habisnya membahas permainan ku hari ini. Pujiannya menerbangkan aku ke mimpi-mimpi bersamanya. Aku nggak perlu menggambarkan kesetanan apalagi yang terlihat di pikirnku kan? Cukup, semuanya hal yang memalukan. Sampai akhirnya Iban mengeluarkan amplop putih dan memintaku membaca suratnya. Sesaat aku lihat wajah Iban berbinar, “surat apa ini?” 

“Baca aja. Kebahagian berpihak ke kita, Bel.”

“Ini untuk elo? Australia? Kapan?”

Iban mengangguk senang. Surat itu undangan dari prodi untuk Iban yang berhasil mendapat kesempatan belajar di Universitas Melbourne, menyukseskan mimpinya yang ingin punya double degree. Iban kuliah arsitek di kelas internasional jadi memang di tahun ketiga akan berkesempatan untuk melanjutkan ke universitas di luar negeri. Tapi, kenapa datangnya berita ini di saat yang sama ketika aku sedang berada di titik membutuhkan dia untuk menjadi energiku? Kenapa?

“Berapa tahun, Ban?”

“Dua tahun aja, gue nggak mau lama-lama. Gue nggak tahu bisa bertahan lama atau nggak tanpa bisa melihat sahabat istimewa gue ini.”

Ah rasanya, aku ingin menyumpalkan kaos kaki ke mulutnya, supaya dia berhenti menyanjungku. Ini adalah hari yang mungkin akan menjadi hari terakhir aku bersamanya. “Sayangnya, gue harus pergi pas elo lagi sibuk-sibuknya di Bandung.”

Iya, aku tahu. Di surat ini tertulis tanggal 18 September 2016, hari pertama pertandingan panahan. Iban merogoh tas selempangnya. Apa lagi yang akan diperlihatkan padaku, cukup ini sudah membuat hatiku rontok. Aku tahu memanah juga mimpiku, tapi Iban juga menjadi mimpi di tidur siangku yang sayang untuk dilewatkan. “Gue punya ini, kita tempel di bawah tempelan itu ya,” Iban melepaskan double tip yang tertempel di bagian bawah kertas itu dan menempelkannya tepat di bawah tempelan ‘Tetaplah mejadi hebat. Erika.’ itu. 

‘Tetaplah menjadi hebat, Bella.’

Iban memintaku untuk mengambil gambar saat dia sedang menempelkan kertas itu. “Kalau elo berangkat dan pulang kampus melihat ini, elo akan bisa ingat gue, Bel.” Ya Tuhan, ini seperti sedang asik-asiknya terbang, gaya grafitasi lebih hebat dari kekuatan terbangku, jadinya aku ambruk menghantam tanah. Ibaaaaan.

***

Erika sudah hampir aku lupakan, sampai akhirnya muncul kembali ketika ada dua perempuan muda menyebut namanya. Di gerbong sebelah mana asal suara itu, tubuhku tetap melaju tapi pikiranku berpaling kebelakang, mencari-cari di tiap gerbong. Di gerbong tiga aku temukan maksud dua anak itu menyebutkan nama yang pernah menjadi kekuatanku. Erika boleh saja meninggalkanku dan aku pun pergi menjauh dari kehidupannya tetapi kata-katanya nggak akan aku lupa. 

Ada tempelan bertuliskan tulisan kanji.

素晴らしいのままです.

エリカ

Orang-orang Jepang membaca tulisan kanji itu dengan subarashī no mamadesu. Dan di bawahnya ada tulisan tangan yang tertulis nama ‘Erika’, pasti Erika yang menuliskannya. Dalam Bahasa Indonesia kalimat itu berarti tetaplah menjadi hebat.

Waktu menyembuhkan. Aku bekerja semakin rajin setelah tahu bahwa Erika menempelkan kata-kata penyemangat itu. Aku pun terbiasa dengan orang-orang yang berjubal di tiap peron setiap harinya. Beban yang aku bawa awalnya sering membuatku mengeluh, sering aku merindukan Jepang yang nyaman dan tentram. Biarpun dipaksa bekerja penuh waktu di Jakarta, aku mendapatkan banyak pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Orang-orang yang naik pun bermacam-macam. Kalau sedang bosan, biasanya aku mengintip kegiatan mereka, kebanyakan dari mereka senang menyibukan diri dengan ponselnya. 

Aku menemukan banyak peristiwa, ternyata manusia hidup dalam keadaan yang kompleks, tidak sedikit dari mereka sebenarnya mengalami peristiwa pahit tapi raut wajah mereka begitu tegar, seperti nggak terjadi apa-apa. Aku bukan cenayang, aku tidak bisa mengetahui isi hati mereka. Tapi aku bisa mengintip dan mencuri dengar setiap obrolan mereka lewat ponsel atau dengan penumpang di sebelahnya. Tidak beda dengan aku yang disebut benda mati oleh mereka, padahal kitapun sama, bisa memiliki perasaan dengan tampilan yang bisa membohongi.

Aku berterima kasih dengan dua perempuan muda yang aku ketahui namanya Angel dan Bella. Bella sering aku temukan berdiri di dekat tulisan yang ditempelkan Erika, dan tersenyum menatap tulisan itu. Bella menemani perjalananku, paling tidak sehari sekali. Biasanya aku mengantarkannya ke stasiun dekat kampus. Tidak ada Erika, aku  mendapatkan energi dari dirinya. Akhirnya aku tahu dia mahasiswa yang juga atlet panahan. Anak yang terlihat lebih aktif dari pada Erikaku. Dan anak yang memiliki banyak teman.

Malam ini, aku lihat dia menyembunyikan kesedihan. Aku melihat raut wajahnya yang berubah setelah membaca kertas entah apa isinya. Aku juga melihat tangan kirinya mengepal hebat. Ada perasaan yang dia tahan. Pemuda yang berdiri di sebelahnya menempelkan sesuatu di dekat tempelan milik Erika. 

Oh, ternyata itu kalimat yang sama, hanya saja dibahasa Indonesia kan. Dan oh, pemuda itu akan meninggalkan Bella. Oh, pemuda itu memiliki hubungan yang spesial dengannya. Oh, pemuda itu ingin meninggalkan kata-kata penyemangat sebelum nggak lagi bersamanya, sama seperti Erika kepadaku. 

Ingin rasanya aku memberitahu Bella bahwa hal yang biasa jika orang-orang yang kita sayang akhirnya meninggalkan kita. Ingin rasanya aku bilang, biarkan mereka meraih mimpinya, sama seperti mereka membiarkan mu meraih mimpimu hingga tinggi melangit. Orang-orang yang pernah berarti di hidupmu akan tetap berarti bagi hidupmu. Setidaknya mereka pernah bersikap begitu.

Ingin aku bilang tapi aku ini siapa. Pastilah Bella tidak akan pernah memahami bunyian hong-ku, atau hembusan mesin pendingin ruangan yang aku arahkan selalu ke tubuhnya agar hatinya yang mendidih sedikit adem. Tapi ucapanku sudah terwakili oleh tempelan yang ditempel Erika, ‘Tetaplah mejadi hebat.’

[Kisah] Generasi Terbaik: Wanita Anshor

Salaam, 

Kalau kita membaca kisah-kisah di masa Rasulullah dan para sahabat dan pengikutnya yang merupakan generasi terbaik dalam Islam, maka tidak luput pula disebutkan tentang segolongan wanita yang juga masuk ke dalam golongan generasi terbaik itu. Mereka adalahwanita-wanita Anshor.

👭👭👭👭👭👭👭👭👭👭

SANGAT TAAT

Wanita anshor dikisahkan merupakan wanita-wanita yang sangat taat dalam menjalankan perintah Allah. Ketaatan mereka BAHKANmenuai pujian dari wanita Muhajirin terbaik,Aisyah r.a. Beliau berkata,

Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy mempunyai banyak kelebihan. Akan tetapi demi Allah, sungguh aku tidak pernah melihat wanita yang lebih utama dari wanita Anshar, yang paling yakin pada Kitabullah dan paling beriman dengan Al-Qur’an.”

Ketika diturunkan satu ayat dalam surah An-Nuur,

“.. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..” (QS: An-Nuur: 31)

Kaum lelaki pada saat itu segera menemui istri, putri, dan saudari-saudari serta seluruh karib kerabat mereka. Mereka kemudian membacakan ayat tersebut. Mendengar ayat tersebut dibacakan, wanita-wanita Anshar tersebut segera mengambil pakaian yang terbuat dari wol lalu mereka tutupkan ke kepala mereka sebagai bukti keimanan dan pembenaran terhadap firman Allah. Kemudian mereka pergi menemui Rasulullah SAW untuk shalat di belakangnya sambil menutup kepala, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak.

Cermin dari ketinggian iman mereka. Apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara, mereka segera berkata, “Kami dengar dan kami taat.”

👭👭👭👭👭👭👭👭👭

TIDAK MALU BERTANYA

Pernah pula dikisahkan bahwa suatu hari Ummu Sulaim pernah menemui Rasulullah SAW untuk bertanya,“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu untuk menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi junub bila dia bermimpi?”

Rasul menjawab, ”Ya, apabila dia melihat air mani.”

Mendengar hal itu, Ummu Salamah tersenyum keheranan, “Apakah wanita juga bisa mimpi basah?” 

Rasulullah SAW menjawab, “Iya benar, lantas darimana bisa ada kemiripan anaknya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Wanita-wanita anshor sangatttttttt sering bertanya kepada Rasul tentang hal-hal terkait Islam dan Fiqh wanita yang mereka ingin tanyakan. Mereka tidak merasa malu bertanya tentang masalah agama, meskipun apa yang mereka tanyakan tabu bagi sebagian orang. Keunggulan ini sampai-sampai diakui oleh Aisyah r.a. dalam ucapannya yang masyhur, “Sebaik-baik wanita adalah wanita anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama.” (Ibnu Majah)

👭👭👭👭👭👭👭👭👭

SEMANGAT DALAM BELAJAR AGAMA

Kisah lain yang tidak kalah inspiring bagi aku adalah kisah yang menggambarkan bahwa wanita anshor adalah wanita-wanita yang sangat bersemangat dalam belajar agama, sangat kritisssssss pula.

Suatu saat Asma’ mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepada anda dan membai’at anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW menoleh kepada para sahabat dan bersabda, “Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”

Para sahabat menjawab, “Benar, kami belum pernah mendengarnya ya, Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Kembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Source: sumber 1sumber 2

Melengkapi

Teman baik itu seperti pizza dengan taburan keju mozarela
Teman baik itu seperti senja dan deru sayap kelelawar yang hendak berkeliaran
Teman baik itu seperti buku dan secangkir hangat caramel macchiato
Teman baik itu seperti roti gandum dan selai kacang
Teman baik itu seperti cookies dan secangkir teh yang asapnya masih mengepul
Teman baik itu seperti hujan dan alunan musik klasik
Teman baik itu seperti deru ombak dan papan luncur
Teman baik itu seperti musim panas dan segelas ice lemonade
Teman baik itu seperti pena dan ide-ide brilian
Teman baik itu seperti aku dan kamu
Saling melengkapi.
♥♥♥