Mimpi #13

Dear you,

Suara Ustad Nouman terngiang ditelinga gw, ustad punya ciri dan nada kalau reciting Quran. Di mimpi beliau baca surat Al Insyirah. Gak tau ya maksudnya apa. Surat favorite banyak orang termasuk gw. 

Apa mungkin gw diminta kencengin bersyukurnya? Jadi ingat sama kajian Ustad Salim A Fillah yang sempat gw catat.

Hanya Allah yang tahu maksud dari mimpi kali ini. Semoga yang baik-baik.

Embarrassed Dream (Again)

Dear,

Again. I dreamt about nothing. it was at my elementary school. I was there like a senior student. Four things that makes me wonder, why could I dream about that? (1) I took wudlu, then when I wanted to come back to the class, (2) I noticed that I didn’t wear pants, only tshirt left, then I felt like I never feel embarrassed I walked in front of students which gathered in school’s yard where (3) one of my teacher had speech in English. I walked to my class then (4) I was ready to study. Hmmm. One thing, I often dream as a girl without full dress while walking through crowded. Yet I don’t feel embarrassed. What ashamed.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Tak Dapat Kembali

Aku berjalan menelusuri rak-rak buku di toko buku yang sedang ramai mengadakan pesta anniversary salah satu perusahaan penerbit. Warna hijau muda dan biru tua mendominasi di tiap sudut ruangan bahkan rak-rak bukunya, sesuai dengan warna logo dari penerbit yang sedang berulang tahun ke 30 itu. Mall yang aku datangi memiliki satu toko buku dengan dua lantai, di lantai dua khusus untuk buku-buku saja dan ada dua ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk fan-signing atau diskusi tentang buku-buku yang best seller.  Di lantai satu khusus untuk semua hal yang berbau stationary, dimulai dari alat tulis sekolah, alat tulis kantor hingga pernak-pernik lucu hiasan dinding dan meja.

Aku kesini berniat untuk mengambil hadiah yang aku dapat dari undian poin yang diselenggarakan penerbit yang sedang berulang tahun itu. Aku nggak tau sebelumnya apa yang akan aku dapatkan nanti. Di bagian depan toko di situlah tempat pengambilan hadiah undian, ada  wanita berkaoskan sama dengan para karyawan lain di toko buku itu.

“Mba, saya mau ambil hadiah undian poin” saya memperlihatkan sms yang telah dikirimkan pihak penerbit sebagai bukti memang aku salah satu pemenang.

“Sebentar ya, mba. Saya urus dua mba yang ini dulu” aku pun meletakkan buku yang aku bawa di atas meja. dan menunggu sambil memperhatikan wanita di sebelahku. Dia sedang serius mengisi kertas yang mungkin itu adalah kuesioner pembaca, aku nggak pasti.

“Yap, terima kasih telah bekerja sama dengan membeli buku-buku kami, sebagai hadiah tambahan saya berikan satu buah buku untuk kalian masing-masing ya,” mba karyawan itu mengambil satu buah buku dari rak, memberikannya kepada salah satu dari dua orang di sebelahku, dan mengambil bukuku untuk diserahkan kepada yang lainnya.

Entah apa yang ada di mulutku, sehingga aku tidak bisa memberi tahu kepadanya bahwa itu buku milikku. Setelah kedua pemenang itu pergi, baru lah aku diladeni. Aku diberikan parsel yang berisikan banyak coklat dan syrup. Sebelum aku beranjak dari sana, aku baru bisa mengatakan, “mba buku yang tadi mba kasih ke orang lain itu buku saya.”

“Buku yang mana ya?” tanya nya sambil mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda.

“Yang judulnya ‘Seseorang yang Tak Kan Pernah Ada’, buku yang saya punya versi covernya bergambar siluet laki-laki, sedangkan buku yang ada di rak mba itu versi cover yang baru.”

“Oh begitu ya? Maaf kalau begitu, karena dari tadi saya bekerja terus nggak ada istirahat, jadi ribet sendiri. Oke, kalau gitu tolong kamu cari yang namanya Mba Riska, minta buku dengan judul yang sama. Kalau ditanya, bilang aja diminta Mba Kukuh gitu.”

Aku hanya mengangguk tanpa pikir-pikir lagi. Bodoh, aku diminta untuk mencari mba Riska tapi aku nggak tahu pasti di mana aku harus mencarinya, Riska yang seperti apa pula. Kaki melangkah ke lantai atas, aku pikir karena dilantai atas itu khusus untuk buku-buku mungkin orang yang aku cari ada di sana. Sesampainya di sana ternyata suasana sudah ramai, kedua ruang pertemuan di isi dengan seminar yang pesertanya anak-anak usia 10-12 tahun, di setiap rak juga dipenuhi orang. Aku tanya ke setiap karyawan dengan baju yang seragam semua tidak tahu dimana Riska. ‘Oh mungkin mba Riska ada di lantai bawah, di ruang khusus karyawan/gudang buku’, pikirku dalam hati. Tapi langkah kakiku malah menjauh dari toko buku itu, dan aku pun melupakan hadiah parsel yang aku dapat. Aku makin jauh hingga keluar dari mall. Pikiran ku malah tertuju dengan rumah yang ada di dalam buku itu. Buku yang tadi salah di ambil oleh Mba Kukuh. Buku yang baru selesai aku baca. 

Awalnya aku berjalan, lalu berlari, berlari dan berlari, hingga akhirnya aku berada di satu perumahan di daerah St. Louis. Ya aku sedang berada di Amerika. Aku tidak asing dengan suasana dan hawa dingin musim semi yang baru saja ditinggalkan musim salju itu. Yang berbeda dari pemandangan yang ku lihat adalah banyak rumah-rumah baru yang dibangun disekitar jalanan utama St. Louis. Aku seperti sudah tahu ke arah mana tujuan kakiku melangkah saat itu.

Aku mencari rumah dengan gambaran yang sama dalam buku. Sebelum aku sampai kerumah itu, aku melihat ada sepasang pengantin baru yang baru saja selesai melaksanakan pesta pernikahan. Dari mana aku tahu? Dari pakaian mereka yang masih berpakaian pengantin warna putih. Mereka sedang asik menata rumah baru, dibantu dengan teman dan keluarganya. Kegembiraan terpancar dari wajah pasangan baru itu dan terdengar dari gelak tawa keluarga yang sambil lalu membantu membenahi rumah baru.

Rumahnya unik, persis dengan pakaian pengantin yang bernuansa putih-putih. Rumah yang modelnya menjulang keatas, ada tiga tingkat, memiliki jendela yang berukuran besar. Khas rumah orang Amerika, seperti mereka selalu akan merasa aman dengan rumah yang memiliki jendela besar dan bening. Aku bisa lihat jelas letak-letak lemari, guci dan posisi barang-barang lain dari rumah itu. Aku terus memperhatikan rumah itu, ‘enaknya pengantin baru,’ itu yang ada dipikiranku.

Oh ya, kembali ke rumah yang ku tuju. Rumah itu berada di belakang rumah pengantin baru tadi. Rumah tua dengan cat berwarna hijau muda. Ada tanda hitam besar di depan pintu hingga tembok disebelahnya, tanda itu seperti bekas tembok yang terkena bocor. Lalu lagi-lagi, aku tergerak oleh pikiran bawah sadarku untuk melakukan hal yang sebenarnya aku tak mau. Aku menulis di tembok samping pintu utama dengan pensil yang aku bawa, ‘this house is like mine‘, selagi aku menulis, aku melihat bayang-bayang bekas tulisan di tempat yang sama, tetapi aku tak tau pasti tulisan apa itu. Aku hanya dapat membaca kata belakangnya ‘to you‘. Dan jujur, aku nggak tahu pasti mengapa aku bisa menulis ‘rumah ini seperti milikku’ padahal aku tidak memiliki rumah aku tinggal bersama orang tua. Dan aku tahu rumah itu dari buku yang aku baca. Aneh.

Ku ketuk pintunya, tapi aku mendengar bunyi bel dari dalam. ‘Aku mengetuk pintu, mengapa yang terdengar bunyi bel?’ aku membatin. Ku dengar derap langkah dari dalam rumah yang mendekat ke arah pintu. Aku melihat sosok kakek-kakek yang semakin mendekati ku, semakin terlihat muda dan bahkan seperti, sorry to say, anak cacat dengan kepala membesar. Wajahnya lama kelamaan semakin imut seperti anak usia 7-8 tahun.

Good evening” sambil tersenyum dan matanya menatapku lekat.

E-e-evening. Sorry, is this house a store?” aku tergagap. Aku bingung berhadapan dengan orang aneh ini. Dan aku juga baru tersadar saat itu, buat apa aku datang kesini, padahal yang aku cari itu Mba Riska, yang seharusnya aku datangai bukan rumah ini tapi toko buku.

Oh this is not a store,” tersenyum senang dan masih terpaku menatapku, sampai akhirnya aku pamit dan berlari menjauh. 

Di perjalanan ingin kembali ke toko buku, angin kencang berhembus aku tidak bisa melihat jelas kemana arah langkah kakiku. Sampai akhirnya aku kembali lagi melihat rumah pengantin baru tadi, mereka sedang sibuk menutup jendela rumah karena tiba-tiba hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kencang. Lalu aku kembali lagi ke rumah tua itu. Aku berlari lagi menjauhi rumah itu, lalu kembali lagi di depan rumah yang sama. Ini aneh. Terus hingga malam pun tiba, area St. Louis semakin gelap, minim lampu jalan dan aku ketakutan. Dari situlah akhirnya aku tak dapat kembali ke kehidupanku yang lama. Aku sekarang tinggal di dalam rumah yang temboknya pernah ku tulis ‘this house is like mine‘. Aku akhirnya menjadi pemilik rumah itu sampai sekarang.

Writing A Book

Dear,

I just read about the interview with author who has committed herself to writing vivid and reliable naration of Qur’anic, a book about Islam stories. She gave advice to you who want to budding as Islamic story writer.

The first focus, as I said before, is Allah. “Seek ye first the Kingdom of Heaven and all else will be added to you.” If one is feeling the urge to write, one should know there is a great need for Muslim writers who are willing to write from a place of authenticity and commitment to Truth.

I would point out that the publishing industry is not in good hands at the moment. For the first time in human history vast numbers of people are reading the most astonishingly virulent poison, where there are no lines drawn between fantasy and reality, no lines drawn between good and evil, and the very idea of humanity is severely deranged. Books like this garner reviews in the thousands, each with dozens of comments. So whatever any of us can do to provide alternatives is so important.

On the practical level, writing means one thing: filling up a blank space with letters, and this can’t be done while out visiting or adventuring or daydreaming or even doing research. It can only be done in solitude sitting in a chair. That’s the bottom line. It’s easy for all kinds of things to happen but somehow that ultra simple thing can be the hardest thing to do.

I like her words, our first thing before do something is to remember that Allah is the Most Knower. so that, we have to take Him first in every our activities. Then, like one of the lecturer of Literature Department in my campus said, literature is created to provide 2 things, enjoyment and benefit to the readers. Not only for becoming galau, confused, imagining, wasting time, there must be wisdom on that.

I wish i could be the one who can provide beautiful words into a book. Amen.

Blame Myself

Dream.
Who can control when it come?
Who can create what would be dreamed then?
Let say, It comes from subconscious mind when u sleep
No one can either control or create it
So, what if i dreamed about you
If i couldn’t control and create it, so who had worked for it?
Who should i blamed for this?
I want complaining to someone, someone who responsible to give me that dream
Because i don’t want only a dream
i want you for real. Like it’s true…
Oh, should i blame myself?

-Geka

Whisper of the Heart

Dear,

Senangnya dianugrahi long weekend, terbebas dari rutinitas Kamis biasanya. Hmm enaknya sih tidur sampai bablas, tapi coba deh manfaatin waktu dengan melakukan aktivitas yang bikin mood seharian jadi lebih fresh. Kalau dibawa tidur pasti bakal ngerasa liburannya cepet banget. Nah, aku punya sesuatu yang bikin liburannya bermanfaat, at least untuk diri sendiri dan mungkin nantinya bisa berguna untuk orang lain.

Nonton film di saat liburan emang bisa jadi alternatif membuang rasa malas. Dari film kita bisa dapat inspirasi lho. Bahkan ada orang yang sampai berhijrah keyakinan karena film, bisa mewujudkan mimpi karena film tapi ada juga sih yang jadi terjerumus ke hal-hal buruk karena film. Kita ambil baiknya aja, kita cari film-film yang bikin kita optimis dan positif kayak film satu ini.

Whisper of the Heart karya Ghibli.

Buat yang senang bermimpi, yang memiliki passion, yang senang baca buku film ini wajib ditonton. No wonder lah karya Ghibli selalu inspiratif. Film ini nggak cuma buat kita semangat meraih mimpi tapi juga ada kisah cinta yang romantis yang bikin meleleh. Tapi jangan berlarut-larut melelehnya. Jangan galau ah. Langsung action lebih enak. Yah biarpun dua tokoh utama di film ini bisa bikin kita mupeng (muka pengen). Hehehe.

Kenapa bisa bikin mupeng, aku ceritain sedikit kisah cintanya ya…

Shizuku yang hobinya baca buku, hampir setiap hari menghabiskan waktu dengan membaca buku yang dia pinjam dari perpustakaan. Sampai akhirnya dia menyadari bahwa tiap buku yang dia pinjam pasti ada nama Seiji, pembaca perpustakaan yang meminjam buku sebelum dirinya. Pencarian dimulai, siapa Seiji itu. Sampai akhirnya ternyata Seiji adalah teman satu sekolahnya. Mereka berdua dipertemukan oleh seekor kucing yang diberi nama Moon. Singkat cerita Shizuku menemukan toko antik yang ternyata punya kakeknya Seiji. Dari situ mereka akhirnya benar-benar saling mengenal. Dari situ pula, Seiji menceritakan tentang keinginannya pergi ke Italy untuk belajar membuat biola karena cita-citanya ingin menjadi pembuat biola yang profesional. Karena ketekunan Seiji, membuat Shizuku berkeinginan juga memiliki cita-cita setinggi Seiji. Shizuku menyadari bahwa waktu telah habis hanya dengan membaca buku tanpa menghasilkan sesuatu. Dari situ, Seiji meyakinkan Shizuku untuk menjadi seorang penulis. Dan Seiji pun mengutarakan hatinya, yang sebenarnya telah lama suka pada Shizuku. Itulah mengapa selalu ada namanya dibuku-buku yang dipinjam Shizuku dari perpustakaan. Karena, Seiji setiap hari juga senang ke perpustakaan, membaca sambil memperhatikan Shizuku. Bahkan sampai duduk disebelahnya tetapi Shizuku tidak menyadari. Seiji meminjam semua buku yang telah di-list Shizuku, jadi sebelum Shizuku pinjam dia sudah meminjamnya terlebih dahulu. So sweet kan… hehehe

Di saat Seiji pergi ke Italy untuk belajar membuat biola, Shizuku memantapkan hati untuk membuat buku. Setelah Seiji pulang dari Italy dia harus menyelesaikan buku itu. Bermodal cerita tentang Baron, patung kucing milik kakeknya Seiji, Shizuku membuat cerita hingga menjadi sebuah novel.

Sepulangnya Seiji dari Italy, mereka saling mengutarakan perasaan masing-masing. Sampai Seiji berjanji bahwa setelah mereka dewasa, Seiji akan mengajak Shizuku menikah. Mereka menjadi pasangan yang memilki profesi yang berbeda, Seiji sebagai seorang pembuat biola dan Shizuku sebagai penulis. Dan tetap sebagai pasangan yang saling memberi dukungan, apapun cita-citanya dan seberapa berat mencapainya.

Benar kata Mba Ollie, disetiap kesuksesan seseorang pasti ada orang lain yang membantu mewujudkannya. Baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Semua orang berhak sukses, karena memang manusia itu adalah makhluk yang paling mulia dari makhluk tuhan lainnya. Selamat berlelah-lelah meraih mimpi. Kita ketemu di cerita kesuksesan yang terealisasi ya… Bagi cerita mu juga. Semangat dan rajin kawan!

Not everyone needs to follow the same path…. Go ahead and do what your heart tells you, but it’s never easy when you do things differently from everyone else. If things don’t go well, you only have yourself to blame.

– Seiya Tsukishima, Whisper of the Heart(1995)