[Cerpen] KA 138: Orang-orang Akan Saling Meninggalkan #kelasmenulis @fiksimini

“Hong, hong!” dengan kecepatan standar, 60 km/jam, KA 640 melaju yang seolah-olah menyapa dari arah berlawanan. Nggak pernah banyak hal yang kami utarakan ketika berpapasan, terkadang hanya sapaan ‘hai’, ‘selamat pagi/siang/malam’, atau selayaknya manusia menyapa kawannya dengan ‘bro/sist’. Pernah kami saling mengabarkan rel yang anjlok di dua stasiun berikutnya dengan hong yang agak panjang. Mungkin manusia berpikir bunyi klakson kereta hanya penanda masinis menyapa masinis lain dalam kereta yang berlawanan arah, padahal sebenarnya kami pun dapat saling menyapa.

Aku, KA 138 dengan jadwal melaju dari stasiun Depok dan berakhir di stasiun Duri, sudah 3 tahun mengabdi di Indonesia. Sebelumnya aku bekerja di Stasiun Kami-Shirataki, Hokaiddo dengan berpenumpang satu orang selama 4,5 tahun. Dulu aku merasa sangat nyaman, bekerja hanya dua kali sehari di jam-jam tertentu. Penumpangnya pun hanya seorang gadis berseragam yang biasanya duduk tenang sambil membaca buku. 

Aku terpilih menjadi kereta yang dipercaya untuk mengantarkan anak itu, selain memang aku masih mampu berjalan cukup jauh dari desa menuju kota, aku juga memiliki keterikatan dengan anak itu. Aku suka dengan wangi sabun yang dipakainya, aromanya membuatku melambung ke kebun tulip. Belum lagi anak itu suka membaca buku yang isinya sangat menarik, segala sesuatu tentang hewan. Aku belum pernah bertemu banyak hewan selain burung yang suka hinggap di atas punggungku ketika aku istirahat tidur siang. 

Pada hari terakhir perjumpaan kami pertama kalinya aku mendengar suara gadis itu. Selama ini kami berteman dalam diam. Namanya Erika, ternyata. Dia diberi kesempatan oleh masinis untuk berdiri di belakang stir kereta. Matanya berbinar senang, “terima kasih telah menjemput dan mengantarku ke sekolah selama ini, Pak. Aku nyaman bersama kereta yang Bapak bawa. Aku akan sangat merindukan momen duduk membaca buku di dalam kereta, mendengar bunyi hong sebelum kereta berhenti di hadapanku, dan saat kereta ini dengan sigap menungguku di stasiun dekat sekolah.” Mata Erika menyorotkan kebanggaan dan rasa senang, sedang aku hampir-hampir menangis, belum lagi sore itu gerimis tipis turun dari langit Kota Hokaiddo. Aku pikir Erika akan bertanya, ‘lalu akan dibawa kemana kereta ini?’ setidaknya begitu atau ‘apa kereta ini akan digudangkan?’. Aku ingin Erika lebih menunjukkan penasarannya tentang nasibku nanti. Atau lebih banyak menyinggung tentang memori-memori kebersamaan dia denganku saat perjalanan ke dan dari sekolah. Ternyata tidak ada kata lain lagi, hanya senyum senang dan pelukan yang dia berikan untuk orang-orang yang terlibat dalam proyek pengoperasian kereta stasiun Kami-Shirataki. Aku sedikit kecewa dengan harapan yang tidak sesuai ekspektasi. Aku ingat betul, malam setelahnya aku merasa terpukul. Aku terus memikirkan bahwa aku akan keluar dari rutinitas. Entah apa yang akan menyambutku hari berikutnya. Apakah aku akan berjumpa dengan orang-orang seperti Erika yang tenang, atau yang tidak peduli dengan sekitar dan berbuat kerusakan. 

Aku sempat didiamkan di gudang selama beberapa bulan. Saat itu, aku merasa hancur, aku selalu membayangkan kejadian dan menggambarkan memori ketika bekerja mengantar jemput Erika. Pada awalnya Erika yang meninggalkan aku, sekolahnya telah selesai, selesai juga tugasku untuk menemaninya. Dia pun sudah menetap di kota. Lalu pada akhirnya aku juga yang meninggalkan Erika. Dari Jepang, aku dikapalkan ke Indonesia. Dan, pada akhirnya, kita memang harus saling meninggalkan. Kekosongan pikiranku diisi dengan hal lain, di satu sisi aku merasa penasaran dengan kejadian-kejadian yang akan aku hadapi di Indonesia di sisi lain aku masih belum mau lepas dari kenyamanan mengabdi di Jepang. 

Di Jepang, sudah ada lebih banyak kereta yang memiliki standar internasional. Indonesia butuh kereta yang menunjang pengoperasian waktu penuh dengan kualitas masih di atas standar tapi dengan harga dan biaya pemeliharaan yang ekonomis. Biarpun aku ini disebut kereta bekas di Indonesia, tapi aku tak pernah bekerja setengah-setengah. Itulah kenapa aku yang dipilih pemerintah untuk bekerja di Indonesia.

***

Sabtu memang lebih enak kumpul bersama teman, nge-mall, bangun siang, main bareng kucing kesayangan, dan ngerecokin mama di dapur saat orderan brownies kukusnya menggunung. Tapi buat aku yang masih harus berjuang demi masuk ke tim PON XIX, Sabtu jadi harinya aku pergi pagi pulang sore ke GOR Senayan untuk latihan memanah. Untungnya kereta Sabtu pagi tidak sepadat kereta Senin-Jumat pagi.

“Aduh, finger tab gue ketinggalan,” sambil merogoh tas punggung, aku panik. “Aduh, kalau balik ke rumah gue bakal diomelin Mas Danang lagi karena telat,” kali ini aku mengeluarkan semua isi tas dan meletakkan semua barang di atas kursi peron. 

Sampai akhirnya ada tangan yang menghalangi penglihatanku, “makanya kalau lupa jangan dipelihara.” Iban berdiri di sebelahku sambil tersenyum manis. Laki-laki ini selalu menjadi pahlawan kesianganku yang selalu kepagian, karena sering muncul di saat aku butuh. 

“Kok bisa di elo, Ban?” aku meraih finger tab itu dari tangannya. 

“Gue mau ikut elo latihan. Jadi tadi ceritanya mau jemput elo ke rumah, eh elonya udah berangkat. Untung Kak Angel ngeliat finger tab elo itu di atas meja makan.” Aku menyengir. 

“Hari ini hari penentuan kan?” tambahnya. Lagi, laki-laki ini membuatku kesetanan, setidaknya kesetanan di dalam pikiran. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami berjalan menuju altar, kita menikah. Oh my God. Tidak-tidak, dia sahabatku tidak lebih dari itu, lagi pula dia lebih muda dua tahun dariku. Jangan mimpi kamu, Bel. Beginilah aku kalau sedang kesetanan. 

Kami menaiki kereta menuju Sudirman, aku akan berlatih memanah di GOR Senayan. Kereta ini juga yang biasa aku naiki setiap hari mengantarku ke kampus. Aku bisa mengenalinya dari tempelan di dekat pintu dua gerbong tiga. Disitu ada tempelan yang bertuliskan huruf Kanji, aku kurang paham tentang perkanjian, itu kata kak Angel yang mendalami Bahasa Jepang. 

***

“Kok senyam-senyum Ngel?” kataku saat pertama kali naik kereta pada hari pertama kuliah. 

“Tempelan itu,” mengisyaratkan aku untuk melihat ke arah tempelan dengan matanya. 

“Artinya apa?” mau seberapa lama aku pandangpun aku nggak mengerti.

“Tetaplah menjadi hebat. Erika.” Aku ingat itu yang dikatakan kak Angel, percaya atau tidak perkataannya, aku harus percaya, kak Angel sudah sering diminta menjadi LO orang-orang Jepang di acara bertaraf internasional. 

***

Jadi setiap aku menaiki kereta di gerbong tiga dan melihat tulisan itu, seketika aku melengkungkan senyum, seolah kereta ini memberiku sapaan dengan kata indah itu, ‘hey, tetaplah menjadi hebat, Bel.’ 

Aku sampai di lapangan tepat waktu, Mas Danang malah yang kesiangan. Mas Danang itu seniorku, paling keras dan sedikit angkuh setidaknya hanya kepadaku. Dia bisa bersikap manis ke siapapun kecuali aku. Tapi peduli apa, aku punya Iban. Aku menoleh ke arah Iban setiap kali berhasil menembakan anak panah tepat mengenai target dan mendapat poin 10. Senyumnya menyejukan hati. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami pergi berlibur ke Bali. Begitulah setiap melihat senyum Iban, lagi-lagi aku kesetanan. Terima kasih Iban, adanya kamu, aku sudah bisa mencium wangi lapangan PON XIX di Gelora Sabilulungan Jalak Harupat, Bandung.

Latihan terakhir menuju perhelatan PON XIX sungguh membuat tanganku hampir mau copot, tapi nggak perlu khawatir aku sudah latihan intensif dari 6 bulan sebelumnya, sudah terbiasa. Di akhir latihan, Pak Rointo mengumumkan siapa saja yang berhak mewakili Jakarta untuk PON XIX, salah satunya aku. Aku senang bukan main biarpun Mas Danang tetap dengan tampang angkuhnya memberikanku selamat. Iban? Jangan ditanya, dia memeluk ku dari samping, katanya, “Katnis Everdeen-nya siapa dulu.” Iban sangat menyukai gayaku saat memanah, katanya. Alasannya karena kharismaku bisa terlihat mirip seperti tokoh Katnis Everdeen dalam film Hunger Games.

Diperjalanan pulang, aku kembali menaiki kereta yang sama. Iban nggak habis-habisnya membahas permainan ku hari ini. Pujiannya menerbangkan aku ke mimpi-mimpi bersamanya. Aku nggak perlu menggambarkan kesetanan apalagi yang terlihat di pikirnku kan? Cukup, semuanya hal yang memalukan. Sampai akhirnya Iban mengeluarkan amplop putih dan memintaku membaca suratnya. Sesaat aku lihat wajah Iban berbinar, “surat apa ini?” 

“Baca aja. Kebahagian berpihak ke kita, Bel.”

“Ini untuk elo? Australia? Kapan?”

Iban mengangguk senang. Surat itu undangan dari prodi untuk Iban yang berhasil mendapat kesempatan belajar di Universitas Melbourne, menyukseskan mimpinya yang ingin punya double degree. Iban kuliah arsitek di kelas internasional jadi memang di tahun ketiga akan berkesempatan untuk melanjutkan ke universitas di luar negeri. Tapi, kenapa datangnya berita ini di saat yang sama ketika aku sedang berada di titik membutuhkan dia untuk menjadi energiku? Kenapa?

“Berapa tahun, Ban?”

“Dua tahun aja, gue nggak mau lama-lama. Gue nggak tahu bisa bertahan lama atau nggak tanpa bisa melihat sahabat istimewa gue ini.”

Ah rasanya, aku ingin menyumpalkan kaos kaki ke mulutnya, supaya dia berhenti menyanjungku. Ini adalah hari yang mungkin akan menjadi hari terakhir aku bersamanya. “Sayangnya, gue harus pergi pas elo lagi sibuk-sibuknya di Bandung.”

Iya, aku tahu. Di surat ini tertulis tanggal 18 September 2016, hari pertama pertandingan panahan. Iban merogoh tas selempangnya. Apa lagi yang akan diperlihatkan padaku, cukup ini sudah membuat hatiku rontok. Aku tahu memanah juga mimpiku, tapi Iban juga menjadi mimpi di tidur siangku yang sayang untuk dilewatkan. “Gue punya ini, kita tempel di bawah tempelan itu ya,” Iban melepaskan double tip yang tertempel di bagian bawah kertas itu dan menempelkannya tepat di bawah tempelan ‘Tetaplah mejadi hebat. Erika.’ itu. 

‘Tetaplah menjadi hebat, Bella.’

Iban memintaku untuk mengambil gambar saat dia sedang menempelkan kertas itu. “Kalau elo berangkat dan pulang kampus melihat ini, elo akan bisa ingat gue, Bel.” Ya Tuhan, ini seperti sedang asik-asiknya terbang, gaya grafitasi lebih hebat dari kekuatan terbangku, jadinya aku ambruk menghantam tanah. Ibaaaaan.

***

Erika sudah hampir aku lupakan, sampai akhirnya muncul kembali ketika ada dua perempuan muda menyebut namanya. Di gerbong sebelah mana asal suara itu, tubuhku tetap melaju tapi pikiranku berpaling kebelakang, mencari-cari di tiap gerbong. Di gerbong tiga aku temukan maksud dua anak itu menyebutkan nama yang pernah menjadi kekuatanku. Erika boleh saja meninggalkanku dan aku pun pergi menjauh dari kehidupannya tetapi kata-katanya nggak akan aku lupa. 

Ada tempelan bertuliskan tulisan kanji.

素晴らしいのままです.

エリカ

Orang-orang Jepang membaca tulisan kanji itu dengan subarashī no mamadesu. Dan di bawahnya ada tulisan tangan yang tertulis nama ‘Erika’, pasti Erika yang menuliskannya. Dalam Bahasa Indonesia kalimat itu berarti tetaplah menjadi hebat.

Waktu menyembuhkan. Aku bekerja semakin rajin setelah tahu bahwa Erika menempelkan kata-kata penyemangat itu. Aku pun terbiasa dengan orang-orang yang berjubal di tiap peron setiap harinya. Beban yang aku bawa awalnya sering membuatku mengeluh, sering aku merindukan Jepang yang nyaman dan tentram. Biarpun dipaksa bekerja penuh waktu di Jakarta, aku mendapatkan banyak pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Orang-orang yang naik pun bermacam-macam. Kalau sedang bosan, biasanya aku mengintip kegiatan mereka, kebanyakan dari mereka senang menyibukan diri dengan ponselnya. 

Aku menemukan banyak peristiwa, ternyata manusia hidup dalam keadaan yang kompleks, tidak sedikit dari mereka sebenarnya mengalami peristiwa pahit tapi raut wajah mereka begitu tegar, seperti nggak terjadi apa-apa. Aku bukan cenayang, aku tidak bisa mengetahui isi hati mereka. Tapi aku bisa mengintip dan mencuri dengar setiap obrolan mereka lewat ponsel atau dengan penumpang di sebelahnya. Tidak beda dengan aku yang disebut benda mati oleh mereka, padahal kitapun sama, bisa memiliki perasaan dengan tampilan yang bisa membohongi.

Aku berterima kasih dengan dua perempuan muda yang aku ketahui namanya Angel dan Bella. Bella sering aku temukan berdiri di dekat tulisan yang ditempelkan Erika, dan tersenyum menatap tulisan itu. Bella menemani perjalananku, paling tidak sehari sekali. Biasanya aku mengantarkannya ke stasiun dekat kampus. Tidak ada Erika, aku  mendapatkan energi dari dirinya. Akhirnya aku tahu dia mahasiswa yang juga atlet panahan. Anak yang terlihat lebih aktif dari pada Erikaku. Dan anak yang memiliki banyak teman.

Malam ini, aku lihat dia menyembunyikan kesedihan. Aku melihat raut wajahnya yang berubah setelah membaca kertas entah apa isinya. Aku juga melihat tangan kirinya mengepal hebat. Ada perasaan yang dia tahan. Pemuda yang berdiri di sebelahnya menempelkan sesuatu di dekat tempelan milik Erika. 

Oh, ternyata itu kalimat yang sama, hanya saja dibahasa Indonesia kan. Dan oh, pemuda itu akan meninggalkan Bella. Oh, pemuda itu memiliki hubungan yang spesial dengannya. Oh, pemuda itu ingin meninggalkan kata-kata penyemangat sebelum nggak lagi bersamanya, sama seperti Erika kepadaku. 

Ingin rasanya aku memberitahu Bella bahwa hal yang biasa jika orang-orang yang kita sayang akhirnya meninggalkan kita. Ingin rasanya aku bilang, biarkan mereka meraih mimpinya, sama seperti mereka membiarkan mu meraih mimpimu hingga tinggi melangit. Orang-orang yang pernah berarti di hidupmu akan tetap berarti bagi hidupmu. Setidaknya mereka pernah bersikap begitu.

Ingin aku bilang tapi aku ini siapa. Pastilah Bella tidak akan pernah memahami bunyian hong-ku, atau hembusan mesin pendingin ruangan yang aku arahkan selalu ke tubuhnya agar hatinya yang mendidih sedikit adem. Tapi ucapanku sudah terwakili oleh tempelan yang ditempel Erika, ‘Tetaplah mejadi hebat.’

Advertisements

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 5

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Full Episode 5

#Isi Cerita

Pada episode ini, Umar ra telah sepakat dengan Abu Jahal untuk memerangi umat muslim, bukan berperang dengan orang-orang dari Bani Hasyim, melainkan menghukum orang-orang yang mengikuti agama yang dibawa Nabi Muhammad. Namun sebelumnya Uthbah berbicara kepada Rasulullah, adakah sesuatu yang diinginkan Rasulullah SAW (harta, wanita, kedudukan sebagai raja) supaya Rasulullah SAW berhenti menyebarkan Islam. Tapi usahanya sia-sia.

Mulailah hilang kesabaran petinggi Quraisy temasuk Umar ra, para budak-budak yang sudah beragama Islam, dilucuti, ditindih dengan batu besar supaya mereka merasakan akibatnya berkhianat kepada agama nenek moyang mereka. Budak-budak itu diminta untuk menyebutkan bahwa berhalalah yang paling agung. Dan disini dilihatkan bahwa Abu Bakr ra mengorbankan hartanya demi membeli budak-budak yang dilucuti itu dan dibebaskan.

Pada episode ini, umat Islam semakin bertambah bahkan dari kalangan keluarga petinggi Quraisy dan kebanyakan mereka masih bersembunyi-sembunyi. Tidak hanya Abu Hudzaifah dari keluarga Uthbah yang sudah memeluk Islam tetapi Ayyash Bin Abi Rabeeah dan Salamah Bin Hisham dari keluarga Abu Jahal. Dan mereka berdua pun dikurung oleh Abu Jahal, diikat tangannya dan dirantai.  Melihat kenyataan saudaranya memeluk Islam, Umar ra memberi pengumuman bagi kaum Bani Adiy, bagi yang ditemukan telah memeluk Islam akan diceluti dan dihukum. Umar ra berkata (kurang lebih), “saya akan memperlakukan semua orang sama, mereka yang berkhianat dari agama nenek moyang akan dihukum agar bisa menjadi contoh bagi yang lain. Baik dia adalah saudara kandung, sepupu, paman, atau budak. Sama seperti Muhammad katakan semua orang harus diperlakukan sama, maka aku akan seperti itu juga.

Ada perkatakaan yang benar yang dituturkan Umar kepada Zaid dan Saeed, tetapi sayanya Umar ra masih menjadi musuh Islam:

Jika terjadi kekerasan, kekerasan itu hanya untuk menghalangi dan membuat sesuatunya benar. Pemimpin boleh memperlakukan orang baik dengan kekerasan, hukuman untuk kemajuan, balas dendam bisa menghentikan ketidak adilan dan suatu kematian bisa memberikan kehidupan untuk beberapa orang. Jika tidak ada orang yang ditakuti orang lain, dunia akan kacau dan orang-orang akan berkelahi sampai mati.

Ada beberapa orang dari keluarga petinggi Quraisy yang masih menyembunyikan ke Islamannya, Zaid (saudara kandung Umar), Saeed (ipar Umar) dan anak tiri Al-Waleed.

Dan sampai ketika majikan Bilal mendengarkan Bilal sedang berdoa kepada Allah, Bilal juga ikut dicambuk dan dimintai kesaksian bahwa berhalalah Tuhan mereka. Tetapi karena keyakinan dan kecintaan Bilal kepada Allah dan Rasulullah, dia terus mengatakan “Ahadun Ahad” sampai akhirnya badannya ditindih dengan batu yang sangat berat. Tapi Allah memberikan kekuatan kepadanya sehingga Bilal tetap hidup.

#Opini

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Jika kita yakin bahwa Allah satu, Tuhan semesta Alam yang maha Besar dan bekuasa baik itu di langit maupun di bumi, maka kesulitan akan merasa ringan, seperti halnya Bilal.

2. Betapa keras, pedih, sakit perjuangan kaum Muslimin pada saat itu, mereka terasingkan, mereka dikucilkan, bahkan hingga dicambuk untuk berpegang teguh pada Islam. Seharusnya kita bersyukur, apalagi bagi kita yang sudah memeluk Islam dari bayi, karena kedua orang tua kita Islam, maka kita juga Islam. Dan sekarang, kita bisa bebas memeluk agama Islam, tidak seperti masa Nabi Muhammad…

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 5 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 4

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 4

#Isi Cerita

Diawal episode, masih dengan pembicaraan petinggi Quraisy mengenai langkah-langkah selanjutnya menghentikan Nabi Muhammad untuk menyebarkan Islam. Saat itu dipilih Abu Abd Shams untuk bicara langsung kepada Nabi Muhammad. Di luar majelis Abu Hudzaifah berteriak memberikan pengumuman bahwa Salim (budak) telah dimerdekakan dan diangkat menjadi anaknya.

Setelah itu, Wahsyi dan Bilal membicarakan Salim yang telah merdeka. Wahsyi iri karena mungkin Salim diangkat karena dia ada keturunan Arab berkulit putih. Lalu Bilal yang sudah memeluk Islam meyakinkan bahwa tidak ada bedanya Hitam dan Putih, semua sama di mata Tuhan. Dan Bilal mencoba untuk membahas tentang Muhammad seseorang yang diutus Tuhan bukan hanya untuk orang Arab tapi orang non-Arab juga, serta bukan hanya untuk orang berkulit putih tapi orang berkulit hitam juga, namum Wahsyi tidak peduli.

Di lain tempat, Abu Jahal berpapasan dengan Abu Bakr ra dan Abdullah bin Masoud, Abu Jahal memberi peringatan kepada keduanya yang telah bergabung bersama Nabi Muhammad SAW dan memeluk agamanya. Abdullah bin Masoud berkata bahwa dia akan membalas apa yang dikatakan Abu Jahal tetapi Abu Bakr berkata bahwa kita tidak boleh melakukannya. Rasulullah diutus untuk memberikan kabar gembira dan peringatan, menggunakan kebijaksanaan dan nasihat baik.

Sesuai dengan firman Allah, Al-An’am (108):

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.

Malamnya, Uthbah mendatangi kediaman Abu Hudzaifah bersama Suhaila dan Abu Jandal saudaranya. Mereka membicarakan tentang bergabungnya Salim dalam keluarga mereka. Uthbah yang bijak akhirnya menerima Salim sebagai anggota keluarganya karena dia melihat Abu Hudzaifah sangat menyayangi Salim. Uthbah memberi nasihat kepada Salim untuk bersikap baik karena aibnya akan menjadi aib keluarga ayah angkatnya. Dan meminta Salim untuk selalu bersama Abu Hudzaifah karena dia lah yang memerdekakannya. Dan Salim menjawab bahwa dia tidak akan meninggalkan ayahnya selama sisa hidupnya dan rela meninggal untuknya.

Di hari lain, Abu Hudzaifah, Salim beserta isri sedang melaksanakan salat ketika Utbah datang mengunjungi rumahnya. Abu Hudzaifah marah dan berkata bahwa anaknya telah membangkang kepadanya. Lalu Salim membacakan Ayat Quran yang menjelaskan mengenai larangan membangkang kepada orang tua, seperti yang diriwayatkan dalam S. Al-Isra (23-24):

Dan Rabb-mu telah memerintahkan, supaya kalian jangan beribadah melainkan hanya kepadaNya,
dan hendaklah kalian berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu (dalam pemeliharaanmu), maka janganlah katakan kepada keduanya “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih-sayang. Dan katakanlah: “Wahai Rabb-ku, sayangilah keduanya, sebagaimana keduanya menyayangiku sewaktu kecil”.

Abu Hudzaifah menjelaskan makna dari Quran tentang seorang anak boleh tidak melakukan apa yang diperintahkan orang tuanya untuk menyekutukan Allah. Seperti dalam S. Lukman (15):

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. 

Ada satu keluarga lagi yang dibahas dalam episode ini, yaitu keluarga Suhail bin Amr dengan kedua anaknya Abu Jandal dan Abdullah. Suhail dikenal sebagai pembicara yang pandai, bijak dan disegani. Setiap dia berkhutbah di depan rakyat Quraisy semua orang patuh dan mengikuti kata-katanya. Diantara kedua anaknya Abdullah adalah orang yang terang-terangan tidak suka terhadap ayahnya yang memerangi Nabi Muhammad, sedang Abu Jandal anak yang patuh tetapi sebenarnya dia tidak suka dan memiliki pendapat yang berbeda dari ayahnya.

Abdullah tidak suka menemani ayahnya berkhutbah untuk menjelek-jelekan Nabi Muhammad, dengan alasan dulu ayahnya berkata bahwa Muhammad itu orang baik, jujur, bermurah hati tetapi sekarang malah memakinya dan mengatakan bahwa Muhammad adalah pembohong dan tukang sihir. Dan apa yang telah ayahnya katakan tentang Muhammad sebenarnya Suhail sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak. Menurut Abdullah, jika dia percaya dengan apa yang dikatakan ayahnya tentang Muhammad hari ini, berarti ayahnya dulu adalah pembohong.

Menjadi tidak jelas tapi jujur jauh lebih baik dari pada menjadi pandai tapi palsu.

PS. Orang Quraisy menyebut Nabi dengan sebutan Muthammam yang artinya ‘the reviled one’ yaitu yang menjadi kebalikan dari namanya Muhammad yang artinya ‘the praised one’.

#Kataku

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

1. Tidak boleh berkata ah kepada kedua orang tua. Dan harus berbakti kepada mereka biarpun kita dan orang tua berbeda pendapat.

2. Boleh tidak mengikuti perintah orang tua untuk menyekutukan Allah.

3. Derajat/kedudukan manusia dimata Allah sama kecuali hatinya.

4. Selalu berkata baik dan murah hati walaupun itu kepada musuh kita.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan pemain Omar series.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 3

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 3

#Isi Cerita

Episode ini menceritakan tentang tindakan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap Nabi Muhammad, mereka mencoba melakukan berbagai cara untuk Melawan nabi.

Meneruskan episode 2 kemarin, episode ini dimulai dari pertemuan petinggi Quraisy yang sedang berdiskusi tentang bagaimana melawan Nabi Muhammad. Abu Jahal (Abu Hakam) menyarankan untuk segera berperang,  sedangkan petinggi Quraisy lain masih menimbang-nimbang saran tersebut. Beberapa petinggi Quraisy memusuhi Nabi Muhammad karena mereka iri mengapa Allah memilih Nabi Muhammad sebagai Rasul padahal ada mereka yang lebih terpandang dan kaya. Umar ra akhirnya ikut bicara, menurutnya kalau langsung mengambil jalan perang maka akan mempercepat apa yang seharusnya bisa dihindari, yaitu perpecahan sanak saudara, kehancuran dll. Maka beliau memberi saran untuk menemui Abu Thalib (paman nabi) untuk meminta dia yang menghentikan Nabi Muhammad untuk berhenti menyebar luaskan agama Islam. Saran Umar ra tersebut disetujui para petinggi Quraisy yang ada disitu.

Di hari lain, Abu Bakar ra memberikan nasihat kepada kaum muslim di atas bukit,untuk tidak mencemaskan petinggi Quraisy dan kearoganan mereka. Beliau mengingatkan bahwa Allah lah yang menentukan nasib seseorang. Jangan terlalu memperdulikan mereka dan jangan pula putus asa, karena perilaku yang baik dan halus akan selalu membuahkan hasil yang lebih baik.

Pada hari dimana Petinggi Quraisy bertemu dengan Abu Thalib, mereka malah meminta Abu Thalib untuk segera menyerahkan Nabi Muhammad, jika tidak maka mereka akan memerangi Nabi beserta Abu Thalib dan membinasakan kaumnya. Biarpun Umar ra berdiri bersama petinggi Quraisy saat itu, tetapi beliau tidak setuju karena dia berpikir petinggi Quraisy tidak memiliki moral. Dia mengatakan kepada Zaid dan Ayyash, jika meminta Abu Thalib menyerahkan Nabi Muhammad kepada mereka berarti mereka menjatuhkan kehormatan dan mengina Abu Thalib, karena orang Quraisy menjunjung tinggi persaudaraan.

Biarpun Umar ra sangat membenci nabi Muhammad dan tindakannya menyebarkan agama Islam tetapi menurut Umar ra, moral dan integritaslah yang harusnya muncul ketika menghadapi masalah. Jika hanya mengandalkan perang, maka orang-orang yang menaruh harapan pada pedanglah yang akan terjebak.

Ditempat lain Utbah bin Rabiah (Abu Walid) mengunjungi rumah Abu Hudzaifah yang saat itu sedang makan bersama Salim, budaknya. Abu Walid terkejut melihat putranya bersikap seperti itu, menurutnya itu merendahkan dirinya. Lalu mereka meperdebatkan perbedaan manusia ketika meninggal dan dikubur.

Pada episode ini masih ditutup dengan diskusi petinggi-petinggi Quraisy, mereka mendiskusikan apa yang selanjutnya harus dilakukan ketika sudah berkali-kali bertemu dengan Abu Thalib tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Umar ra pun menjelaskan pemikirannya, seperti dia menjelaskan kepada dua kerabatnya Zaid dan Ayyash. Jika sudah menghinakan satu kaum maka akan dihinakan oleh seluruh orang Arab.

Ada sebuah syair yang disebutkan Umar ra,

Barang siapa yang tidak mendukung anaknya tidak akan membantu tetangganya.

Oleh karena itu, Umar ra memberikan saran untuk tidak mempercepat konfrontasi terhadap keluarga Bani Hasyim dengan kekerasan dan pemutusan kekerabatan. Bagaimanapun juga menurutnya, dulu Abdul Muthalib (Kakek Nabi) menjadi pemimpin nomor satu di Quraisy yang tidak terkalahkan.

#Kataku

Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dari episode 3 ini, mengenai musyawarah. Seperti cerita diawal mengenai saran Umar ra lebih diterima petinggi Quraisy dibandingkan saran dari Abu Jahal. Musyawarah bertujuan agar semua orang mengeluarkan pendapatnya sehingga anggota bisa memilih tindakan/saran yang terbaik. Bukan karena Umar ra masih muda dan keponakan dari Abu Jahal lantas dia tidak boleh mengeluarkan pendapat dan harus mengikuti saran pamannya itu. Seperti yang Umar ra bilang, musyawarah bukan untuk berkompetensi dalam pendapat tetapi menemukan jalan yang tepat.

Selain itu mengenai kesabaran dalam menghadapi musuh. Seperti yang dikatakan Usman ra bahwa yang berperilaku jahat maka balaslah dengan berperilaku baik, yang keras sebaiknya dihadapi dengan kesabaran dan kebijaksanaan. Jika tidak, musuh yang akan menang karena mereka berhasil membuat kita seperti mereka.

Dan, adegan Utbah dan anaknya Abu Hudzaifah yang berdebat setelah melihat Abu hudzaifah makan bersama budaknya di satu piring. Disitu dikatakan bahwa baik Tuan dan budak sama-sama mati dan dikuburkan dalam tanah. Dan ketika manusia mati mereka tidak membawa apa-apa kecuali amal baik mereka.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv

Serial Omar (Umar Bin Khattab) Episode 2

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Bilal-i Habesi (Faysal Amiri)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)
  • Wahsyi Bin Harb (Ziad Touati)

#Trailer Episode 2

#Isi Cerita

Di episode ini, Abu Bakar Ashidiq ra (selanjutnya disingkat Abu Bakar ra) tidak lagi berkumpul dengan petinggi Quraisy. Beliau adalah sahabat nabi Muhammad SAW yang paling dekat, dan tentu setelah nabi mendapat wahyu mengenai Islam Abu Bakar juga ikut masuk Islam. Beliau merahasiakan dari petinggi-petinggi Quraisy penyembah berhala dan hanya memberi tahu Usman Bin Affan ra (Usman ra).

Ditempat lain, Ali bin Abi Thalib (Ali ra) kecil berlari ke rumah ayahnya, Abu Thalib, untuk memberitahukan bahwa Muhammad sepupunya adalah Nabi, seorang Rasul (utusan Allah). Karena Rasul dikenal sebagai orang yang jujur, selalu berkata benar, maka Abu Thalib menginginkan Ali ra untuk mengikuti kata-katanya dan menjaganya.

Mulai episode ini, petinggi-petinggi Quraisy tahu akan berita tentang kenabian Muhammad dan agama baru yang dibawanya atas perintah Allah melalui malaikat Jibril. Mereka berdiskusi untuk melawan Nabi Muhammad SAW karena beliau telah menolak agama nenek moyang mereka.

Setelah 3 tahun diutusnya Nabi, kaum muslimin yang jumlahnya makin banyak mulai terang-terangan menampakan diri sebagai orang Islam dengan melakukan solat diatas bukit. Dan hal ini memicu Abu Sufyan untuk mengajak petinggi Quraisy agar cepat melawan Rasulullah dan pengikutnya.

Dalam episode ini, jelas sekali bahwa orang-orang Arab sangat bangga akan keArabannya dan mengedepankan asal atau keturunannya. Biarpun dia budak yang telah dibebaskan, oleh orang Quraisy akan tetap diperlakukan seperti budak dan diungkit-ungkit darimana asalnya. Berteman atau bergaul pun begitu, memilih-milih dari mana asalnya dan apa kedudukannya, maka tidak akan ada pertemanan dengan budak. Sedangkan setelah Islam ada, semua orang adalah sama dimata Allah yang berbeda hanya derajat keimanannya. Maka akan terlihat petinggi, orang kaya, orang terpandang bergaul, duduk bersama dan beribadah dengan budaknya.

Sesuai dengan firman Allah S. Asy-Syura’,

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.”

Maka Nabi Muhammad SAW memanggil orang-orang dari Bani Hasyim, kelompok/kaumnya untuk berkumpul dan beliau menjelaskan tentang agama Islam. Seperti yang sudah disebutkan, nabi Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur dan berkata benar, Abu Thalib meyakinkan akan hal itu dihadapan semua orang dari Bani Hasyim. Beliau meminta agar semua orang yang telah mendengarnya membuat keputusan sendiri untuk memeluk Islam, karena sesungguhnya tidak ada paksaan bagi siapapun untuk memeluk agama Islam. Lalu Abu Lahab berbicara lantang dihadapan semua orang bahwa dia akan menjadi orang yang paling menentang agama Islam biarpun Nabi Muhammad SAW adalah keponakannya. Dan dia malah mengatakan bahwa apa yang dikatakan Nabi adalah sihir.

Sementara di tempat lain, Umar ra berpikir tentang kenabian ini akan berdampak kepada seluruh negara Arab yang telah mempercayakan mereka sebagai kaum yang menjaga Ka’bah. Beliau berpikir tindakan nabi ini akan memecah kaum Quraisy.

Ada yang menarik dari episode ini, ketika Amr Bin Ash, Khalid Bin Walid, Safwan bin Umayyah, Ikrimah dan Umair bermain judi di depan ruang pertemuan petinggi Quraisy berkumpul untuk membahas tentang Nabi Muhammad. Di ceritakan Khalid bertaruh 2 unta dengan Safwan yang dikenal sebagai anak gurun yang dermawan. Safwan ragu dengan taruhan Khalid, karena 2 unta dinilai terlalu banyak, padahal setiap malam Safwan selalu menyembelih unta sebagai hidangan makanan dan dibagikannya kepada orang-orang. Dan kali itu, Safwan kalah, dia berkata, demi berhala, apa balasanku aku memotong unta dan meberikan makan orang-orang setiap hari padahal aku selalu mengitari berhala dan berdoa. Khalid pun menjawab, mungkin ketika berdoa suaramu kurang lantang. Dan Amr menambahkan, atau kamu tidak mengorbankan unta yang terbaik. Lalu mereka semua tertawa.

*jika kalian menonton episode ini, melihat Ali ra kecil menggandeng kakek tua yang buta, beliau adalah Waraqah, penasihat dan pembantu Khadijah. Dan orang tua yang berkata (kurang lebih seperti ini), “Nantinya kota ini (Mekah) akan hanya diinjaki oleh orang-orang muslim”. Beliau adalah Zaid (ayah dari Said bin Zaid ipar Umar ra).

#Kataku

Kita harus bersyukur sebagai pemeluk agama Islam yang bukan berada di zaman Nabi. Bayangkan solat harus mengumpat-umpat, diatas bukit, belum lagi tiap hari pasti dapat hujatan, makian dari orang-orang yang menantang. Dan bersyukur dilahirkan dari keluarga yang sudah Islam maka kita tinggal menuruti apa yang difirmankan Allah. Tetapi enak juga menjadi orang Islam di zaman Rasul karena benar-benar merasakan Islam, buktinya hati langsung bergetar dan yakin bahwa Islam agama yang benar setelah dibacakannya firman Allah dalam Al-Quran.

Kisah Safwan tentang doanya yang tidak pernah dibalas berhala juga bisa diambil hikmah. Pakai logika saja, patung berasal dari tanah liat/semen/ apapun bahannya yang dibuat oleh manusia, tidak bernyawa, tidak pula dapat mengambil nyawa, jadi bagaimana bisa sesuatu yang diciptakan oleh manusia sendiri memberikan manfaat sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa, benda mati.

Aku bukan ahli agama, jadi tulisanku ini menjadi pengingat juga bagi diriku pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 2 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Aku bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Aku hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Aku hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

youtubemmbc1; mnctv; kaskus

Soundtrack Kisah Hidup

Dear,

Gw pernah liat @MaliqMusic nge-RT status orang yang bilang kalau hampir semua lagu Maliq itu soundtrack hidupnya, dan ternyata nggak cuma orang itu, banyak orang yang setuju sama statement itu.

Dari lirik, musik, performance buat gw Maliq jagonya. Menurut gw semenjak ada Maliq yang notabene nya punya musik yang mengarah ke jenis Jazz bikin statement kalau musik jazz cuma untuk kalangan tertentu itu nggak tepat lagi, karena dengan adanya Maliq semua orang jadi bisa menikmati lagu Jazz atau musik semacamnya lah. Begitu juga sama gw, sejak ada Maliq gw jadi banyak dengerin lagu yang mengarah ke Jazz, soul, yang musiknya itu lebih nonjolonin ke kuatnya masing-masing instrument, yang bikin tenang pikiran, dan bisa bikin jatuh cinta terus.

Di sini gw ga mau ngebahas siapa itu maliq, asal nama dari mana, list lagu yang udah dirilis itu apa aja, tapi gw mau yang beda karena lo bisa dapet profile Maliq dari wikipedia. Gw di sini mau menyambungkan beberapa lagu Maliq jadi satu kesatuan jadi satu cerita yang akhirnya bahagia. Hahaha apa sih, gw coba dulu yah.

__________________________________________________________________________

♥ Pertama

Di dalam kelas yang gaduh, anak perempuan di bangku paling depan asik membolak-balikan majalah fashion, beberapa anak laki-laki asik dengan handphone-nya dan anak laki-laki lain asik membicarakan soal pertandingan bola dini hari tadi. Saat itu pergantian jam dari pelajaran Matematika ke Biologi, sedangkan Doni yang notabene-nya anak IPA yang paling rebel dan cuek di kelas, lagi asik dengerin musik lewat ipod-nya. Saat itu ipod yang di set on suffle all song-nya lagi mainin lagu Maliq & D’essentials yang judulnya ‘Funk Flow’. Sedang asik-asik mengikuti irama sambil memanggut-manggutkan kepala, tiba-tiba datang sosok manis yang masuk ke dalam kelas. Wajah cewek itu asing banget dan Doni bertanya-tanya putri nan ayu dari mana yang tiba-tiba menyasar masuk ke kelasnya. Cewek itu mengikuti langkah ibu Sonia yang berhenti di tengah-tengah kelas.

Dengan sigap, Doni membenarkan posisi duduknya yang tadinya malas-malasan jadi tegap, memandang cewek asing itu tanpa berkedip, headset pun dilepas dan disimpan di kolong meja.

“Ya anak-anak, ini Keumala teman baru kalian dari Jogja,” jelas Ibu Sonia sambil membenarkan kacamatanya.

“Halo, nama saya Keumala Triningsih dari SMA 1 Jogja. Saya pindah sekolah karena ayah saya di tugas kan di kota ini. Semoga kita bisa berteman dengan baik, mohon kerja samanya,” Mala tersenyum manis semanis Selena Gomes, penyanyi favoritnya Doni, cuma bedanya Mala punya kulit yang lebih gelap dibanding Selena.

Mala duduk di barisan ke 3 dari depan, satu baris dengan Doni tetapi terhalang oleh Ian ditengah-tengah. Dari Mala berjalan hingga duduk, Doni terus memandangnya dan karena merasa diperhatikan Mala pun menoleh kearah Doni dan mengumbar senyum ala Selena itu. Doni membalas dengan senyuman yang datar, karena dia bingung dengan perasaannya.

Doni memang dikenal sebagai anak band yang cuek, penampilannya tidak seperti anak IPA kebanyakan yang rapi. Doni lebih senang memakai hoody dengan ipod dikantung dan sering terlihat asik mendengarkan musik dengan headset. Tapi Doni cukup rajin dan anak kesayangan beberapa guru wanita, bukan hanya dari tampilannya yang sedikit bule tapi cuek begitu cara Doni bicara kepada yang lebih tua sangat sopan dan pintar pastinya.

Tapi ada satu hal yang merusak image Doni yaitu Doni super cuek ke setiap cewek di sekolah kecuali Detha yang pentolan basket cewek sekolah. Setiap ada yang mendekati Doni, secantik apapun cewek itu bak Doutzen Kroes pun nggak peduli. Bukan karena Doni nggak suka perempuan tapi Doni risih dengan cewek-cewek lenjeh yang datang ke sekolah dengan make-up, tampang penjilat, yang melihatkan sisi imut atau sok imut di depannya. Menurutnya cewek cantik itu yang apa adanya, mungkin mirip Detha, biarpun tomboi, rambut tidak panjang, kulit gelap karena sering terjemur matahari saat latihan basket, tapi sikap Detha nggak lenjeh dan sok imut kayak cewek-cewek lain yang mendekatinya.

Dengan sikap Doni yang seperti itu, Doni pun tahu, karena gambaran dirinya sudah banyak dijadikan sosok di dalam sinetron di televisi. Dia tau benar seperti apa dirinya dan kekurangannya itu, tetapi dia anggap angin lalu jika orang di sekitarnya jengkel dengan sikap cueknya. Banyak yang bilang, ganteng-ganteng kok anti cewek, dan ada pun yang langsung bilang bahwa dia itu penyuka sejenis. Whatever people say, I am what I am, itu kalimat yang sering dia bilang ke Detha dan beberapa teman-temannya.

Doni yang biasa konsen dengan apa yang dijelaskan Ibu Sonia dan guru-guru di depan kelas, hari itu sepertinya badan Doni tetap berada di tempat duduk tetapi ruhnya sedang berdiri di depan Mala, memandang dan berimajinasi. Hahaha, Doni juga cowok kali, boleh dong berimajinasi.

Di ruang basket, di mana saat itu Detha lagi membereskan semua bola basket yang tadi dipakai anak-anak waktu pelajaran olahraga.

“Tha, cowok kalau puber itu umur berapa sih?” ikut membantu memasukan bola-bola basket ke dalam keranjang besar.

“Eh? Kenapa tiba-tiba lo nyebut-nyebut soal itu? Lo sakit?”

I’m fine, very fine. Gw cuma tanya, jadi umur berapa?”

“mmmm, gw cewek, mana gw tau cowok puber umur berapa. Tapi lo pernah ngerasa nggak kalau suara lo berubah? Yang kalau didenger persis kayak banci gimana gitu?”

“pernah, itu puber? Berarti waktu gw SMP kelas 1 donk”

“iya gitu, terus kenapa? Bukan itu maksud pertanyaan lo?”

“bukan, bukan. Yang lain, ciri-ciri cowok puber ada lagi kan? Ga Cuma itu.”

“Bentar gw inget-inget, pubernya cowok itu kalo nggak suara berubah, oh, mimpi basah? Lo pernah mimpi basah?”

Pass it. No comment, ada lagi?”

“Nah kan lo pernah ya Don… sama siapa? Keliatan nggak muka ceweknya? Pas kapan? SMP juga? Apa SMA?”

“Ah mulai rese deh lo, selain itu, selain itu.”

“Nggak tau gw, apaan lagi donk” mereka berdua berjalan keluar dari ruangan olahraga.

“Ah, to the point deh, cowok suka sama cewek biasanya umur berapa?”

Detha berhenti melangkah, “jadi maksud lo, sekarang lo lagi…”

Dont say anything, iya gitu deh” kalimat Detha langsung dipotong Doni, karena dia tidak mau ada anak di sekolahnya yang tau soal arah pembicaraan itu.

“Kita terusin ntar Don, gw ambil tas dulu, lo tunggu gw di depan gerbang ya. Gw penasaran, kita mesti obrolin soal ini.”

Akhirnya pembicaraan dilanjutkan sambil makan bakso di warung bakso favorit mereka di daerah stasiun.

so?” Doni masih penasaran sama apa yang bakal Detha bilang soal cowok suka sama cewek.

so apa?” sambil menarik bangku dan duduk didepan Doni.

this is my 1st time saat gw liat cewek, nggak begitu cantik emang, at least bukan cewek yang sejenis sama gw semampai mendekati cungkring dan bule. Tapi dia kalo senyum itu mirip banget sama Selena Gomes, lo tau kan Selena Gomes itu gw banget?”

“tau banget gw, yang kalau di dunia ini nggak ada yang namanya Justin Bieber pasti yang namanya Selena Gomes itu luluh dipelukan lo.”

“Yeah~ Tapi ketika gw liat cewek ini, bikin jantung gw berhenti sepersekian detik. Lo pernah nyobain naik halilintar kan? Kayak gitu, mau pipis gimana gitu rasanya”

“Jijik deh. Tapi Don, bukannya lo pernah bilang waktu SMP lo pernah suka sama guru komputer lo?”

“iya, tapi gw pikir-pikir itu cuma main-main karena siapa juga yang nggak tertarik sama cewek dewasa yang sexy. Dan saat itu perasaan gw nggak kayak sekarang ini.” Dalam itungan ketiga hening dan tiba-tiba Detha ketawa.

“kok elo ketawa?” mengernyitkan dahi dan jujur saat Doni begini, yang tampangnya dingin, itu saat yang terindah untuk memandang wajah Doni. Gantenggg.

“Ya ampun, temen gw yang bule satu ini, telat banget suka ama cewek”

“hus, jangan heboh deh lo di sini, ini tempat umum”

Sambil memukul-mukul pelan pundah Doni, “Nggap apa-apa masbro, nggak ada kata terlambat buat mencintai siapapun. Finally, lo suka juga sama cewek, cewek yang mana?”

“rahasia… Makasih Mas” memasang tampang mengejek ke Detha sambil memasukan sambal ke mangkok bakso yang baru saja dihidangkan oleh mas-mas tukang bakso.

“jaaah, kenapa mesti dirahasiain? Katanya gw itu sobat lo, yang suka lo ajak ngobrol man to man. Payah lo, suka sama cewek diem-diem”

“Bodo amat, jaga image gw.”

“Makan tu image.”

“Ini bakso kali. Udah ah, makan dulu…”

Sampai mereka pisah di stasiun tujuan, Doni pun belum menyebutkan nama cewek yang bikin jantung dia berhenti sepersekian detik itu. Dan Detha tau memang, kalau Doni bilang A ya pasti akan A, so dia tau bakal ada saatnya Doni siap buat cerita, membeberkan semua siapa cewek itu. Jadi santai aja.

Dua hari, tiga hari berlalu dan akhirnya sampai di hari Jumat, hari yang biasanya kalau mendekati jam-jam pulang sekolah, Doni menengadah sambil melihat ke atas atap ruang kelas dan bilang, Thank God It’s Friday, sekarang diganti jadi, Yah God, kok It’s Friday sih? Yang artinya berarti besok Sabtu dan Minggu nggak bisa ketemu Mala, nggak bisa lirik-lirik ke arah bangkunya Mala. Nggak bisa lagi pura-pura minta tisue karena kacamata bacanya kotor padahal nggak ada apa-apa. Nggak bisa lagi ngasih liat kebolehan memainkan gitar di dalam kelas saat pergantian jam pelajaran atau istirahat. Aaaaakh!

“Bule, kok lo lesu? Ntar lo latihan nggak sama anak-anak? Nyokap gw bilang doi mau buat klapertart hari ini, gw udah pesen buat lo, Jerry, Bagus, Luci ama Dewo.”

“Mata ku terus tertuju padamu, saat ku lihat dirimu tersenyum, ingin aku menyapa namun ke terdiam tak ku lakukan…” Doni nggak menggubris omongan Detha. Melihat Doni malah nyanyi, Detha melepas hoody yang Doni pakai dan mencopot dengan tiba-tiba headset sebelah kiri yang Doni pakai.

“Ah, semprul… Gw ngomong dari tadi, nggak lo denger?”

“Eh, sorry sorry, kenapa?” melepas headset sebelahnya.

“Ntar latihan nggak? Gw mau bawain klapertart, nyokap gw bikin hari ini.”

“Wah boleh-boleh. Ntar latihan kok, biasa jam 4.”

Dan lalu, tiba-tiba dari arah berlawanan, Mala berjalan. Doni memakai lagi headset dan hoody-nya dan menyanyikan lagi lagu Maliq & D’essentials yang Terdiam yang kali ini benar-benar dari lubuk hati, dengan suara sedikit keras supaya Mala dengar, “Apakah kau rasakan getaranku pada dirimu, ku hanya duduk terdiam, menunggu untuk tau namamu…”

Detha mempercepat jalannya jadi lebih depan 2 meter dari Doni berdiri, dipikirnya, cowok kalau lagi suka cewek jadi aneh, jadi gila, jadi nggak peduli. Detha masih belum tau soal Doni suka Mala. Setelah Mala jauh dari Doni, dan Doni merasa kalau ditinggal Detha, dia mempercepat jalan dan berjalan lagi disamping Detha.

-bersambung