[Cerpen] KA 138: Orang-orang Akan Saling Meninggalkan #kelasmenulis @fiksimini

“Hong, hong!” dengan kecepatan standar, 60 km/jam, KA 640 melaju yang seolah-olah menyapa dari arah berlawanan. Nggak pernah banyak hal yang kami utarakan ketika berpapasan, terkadang hanya sapaan ‘hai’, ‘selamat pagi/siang/malam’, atau selayaknya manusia menyapa kawannya dengan ‘bro/sist’. Pernah kami saling mengabarkan rel yang anjlok di dua stasiun berikutnya dengan hong yang agak panjang. Mungkin manusia berpikir bunyi klakson kereta hanya penanda masinis menyapa masinis lain dalam kereta yang berlawanan arah, padahal sebenarnya kami pun dapat saling menyapa.

Aku, KA 138 dengan jadwal melaju dari stasiun Depok dan berakhir di stasiun Duri, sudah 3 tahun mengabdi di Indonesia. Sebelumnya aku bekerja di Stasiun Kami-Shirataki, Hokaiddo dengan berpenumpang satu orang selama 4,5 tahun. Dulu aku merasa sangat nyaman, bekerja hanya dua kali sehari di jam-jam tertentu. Penumpangnya pun hanya seorang gadis berseragam yang biasanya duduk tenang sambil membaca buku. 

Aku terpilih menjadi kereta yang dipercaya untuk mengantarkan anak itu, selain memang aku masih mampu berjalan cukup jauh dari desa menuju kota, aku juga memiliki keterikatan dengan anak itu. Aku suka dengan wangi sabun yang dipakainya, aromanya membuatku melambung ke kebun tulip. Belum lagi anak itu suka membaca buku yang isinya sangat menarik, segala sesuatu tentang hewan. Aku belum pernah bertemu banyak hewan selain burung yang suka hinggap di atas punggungku ketika aku istirahat tidur siang. 

Pada hari terakhir perjumpaan kami pertama kalinya aku mendengar suara gadis itu. Selama ini kami berteman dalam diam. Namanya Erika, ternyata. Dia diberi kesempatan oleh masinis untuk berdiri di belakang stir kereta. Matanya berbinar senang, “terima kasih telah menjemput dan mengantarku ke sekolah selama ini, Pak. Aku nyaman bersama kereta yang Bapak bawa. Aku akan sangat merindukan momen duduk membaca buku di dalam kereta, mendengar bunyi hong sebelum kereta berhenti di hadapanku, dan saat kereta ini dengan sigap menungguku di stasiun dekat sekolah.” Mata Erika menyorotkan kebanggaan dan rasa senang, sedang aku hampir-hampir menangis, belum lagi sore itu gerimis tipis turun dari langit Kota Hokaiddo. Aku pikir Erika akan bertanya, ‘lalu akan dibawa kemana kereta ini?’ setidaknya begitu atau ‘apa kereta ini akan digudangkan?’. Aku ingin Erika lebih menunjukkan penasarannya tentang nasibku nanti. Atau lebih banyak menyinggung tentang memori-memori kebersamaan dia denganku saat perjalanan ke dan dari sekolah. Ternyata tidak ada kata lain lagi, hanya senyum senang dan pelukan yang dia berikan untuk orang-orang yang terlibat dalam proyek pengoperasian kereta stasiun Kami-Shirataki. Aku sedikit kecewa dengan harapan yang tidak sesuai ekspektasi. Aku ingat betul, malam setelahnya aku merasa terpukul. Aku terus memikirkan bahwa aku akan keluar dari rutinitas. Entah apa yang akan menyambutku hari berikutnya. Apakah aku akan berjumpa dengan orang-orang seperti Erika yang tenang, atau yang tidak peduli dengan sekitar dan berbuat kerusakan. 

Aku sempat didiamkan di gudang selama beberapa bulan. Saat itu, aku merasa hancur, aku selalu membayangkan kejadian dan menggambarkan memori ketika bekerja mengantar jemput Erika. Pada awalnya Erika yang meninggalkan aku, sekolahnya telah selesai, selesai juga tugasku untuk menemaninya. Dia pun sudah menetap di kota. Lalu pada akhirnya aku juga yang meninggalkan Erika. Dari Jepang, aku dikapalkan ke Indonesia. Dan, pada akhirnya, kita memang harus saling meninggalkan. Kekosongan pikiranku diisi dengan hal lain, di satu sisi aku merasa penasaran dengan kejadian-kejadian yang akan aku hadapi di Indonesia di sisi lain aku masih belum mau lepas dari kenyamanan mengabdi di Jepang. 

Di Jepang, sudah ada lebih banyak kereta yang memiliki standar internasional. Indonesia butuh kereta yang menunjang pengoperasian waktu penuh dengan kualitas masih di atas standar tapi dengan harga dan biaya pemeliharaan yang ekonomis. Biarpun aku ini disebut kereta bekas di Indonesia, tapi aku tak pernah bekerja setengah-setengah. Itulah kenapa aku yang dipilih pemerintah untuk bekerja di Indonesia.

***

Sabtu memang lebih enak kumpul bersama teman, nge-mall, bangun siang, main bareng kucing kesayangan, dan ngerecokin mama di dapur saat orderan brownies kukusnya menggunung. Tapi buat aku yang masih harus berjuang demi masuk ke tim PON XIX, Sabtu jadi harinya aku pergi pagi pulang sore ke GOR Senayan untuk latihan memanah. Untungnya kereta Sabtu pagi tidak sepadat kereta Senin-Jumat pagi.

“Aduh, finger tab gue ketinggalan,” sambil merogoh tas punggung, aku panik. “Aduh, kalau balik ke rumah gue bakal diomelin Mas Danang lagi karena telat,” kali ini aku mengeluarkan semua isi tas dan meletakkan semua barang di atas kursi peron. 

Sampai akhirnya ada tangan yang menghalangi penglihatanku, “makanya kalau lupa jangan dipelihara.” Iban berdiri di sebelahku sambil tersenyum manis. Laki-laki ini selalu menjadi pahlawan kesianganku yang selalu kepagian, karena sering muncul di saat aku butuh. 

“Kok bisa di elo, Ban?” aku meraih finger tab itu dari tangannya. 

“Gue mau ikut elo latihan. Jadi tadi ceritanya mau jemput elo ke rumah, eh elonya udah berangkat. Untung Kak Angel ngeliat finger tab elo itu di atas meja makan.” Aku menyengir. 

“Hari ini hari penentuan kan?” tambahnya. Lagi, laki-laki ini membuatku kesetanan, setidaknya kesetanan di dalam pikiran. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami berjalan menuju altar, kita menikah. Oh my God. Tidak-tidak, dia sahabatku tidak lebih dari itu, lagi pula dia lebih muda dua tahun dariku. Jangan mimpi kamu, Bel. Beginilah aku kalau sedang kesetanan. 

Kami menaiki kereta menuju Sudirman, aku akan berlatih memanah di GOR Senayan. Kereta ini juga yang biasa aku naiki setiap hari mengantarku ke kampus. Aku bisa mengenalinya dari tempelan di dekat pintu dua gerbong tiga. Disitu ada tempelan yang bertuliskan huruf Kanji, aku kurang paham tentang perkanjian, itu kata kak Angel yang mendalami Bahasa Jepang. 

***

“Kok senyam-senyum Ngel?” kataku saat pertama kali naik kereta pada hari pertama kuliah. 

“Tempelan itu,” mengisyaratkan aku untuk melihat ke arah tempelan dengan matanya. 

“Artinya apa?” mau seberapa lama aku pandangpun aku nggak mengerti.

“Tetaplah menjadi hebat. Erika.” Aku ingat itu yang dikatakan kak Angel, percaya atau tidak perkataannya, aku harus percaya, kak Angel sudah sering diminta menjadi LO orang-orang Jepang di acara bertaraf internasional. 

***

Jadi setiap aku menaiki kereta di gerbong tiga dan melihat tulisan itu, seketika aku melengkungkan senyum, seolah kereta ini memberiku sapaan dengan kata indah itu, ‘hey, tetaplah menjadi hebat, Bel.’ 

Aku sampai di lapangan tepat waktu, Mas Danang malah yang kesiangan. Mas Danang itu seniorku, paling keras dan sedikit angkuh setidaknya hanya kepadaku. Dia bisa bersikap manis ke siapapun kecuali aku. Tapi peduli apa, aku punya Iban. Aku menoleh ke arah Iban setiap kali berhasil menembakan anak panah tepat mengenai target dan mendapat poin 10. Senyumnya menyejukan hati. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami pergi berlibur ke Bali. Begitulah setiap melihat senyum Iban, lagi-lagi aku kesetanan. Terima kasih Iban, adanya kamu, aku sudah bisa mencium wangi lapangan PON XIX di Gelora Sabilulungan Jalak Harupat, Bandung.

Latihan terakhir menuju perhelatan PON XIX sungguh membuat tanganku hampir mau copot, tapi nggak perlu khawatir aku sudah latihan intensif dari 6 bulan sebelumnya, sudah terbiasa. Di akhir latihan, Pak Rointo mengumumkan siapa saja yang berhak mewakili Jakarta untuk PON XIX, salah satunya aku. Aku senang bukan main biarpun Mas Danang tetap dengan tampang angkuhnya memberikanku selamat. Iban? Jangan ditanya, dia memeluk ku dari samping, katanya, “Katnis Everdeen-nya siapa dulu.” Iban sangat menyukai gayaku saat memanah, katanya. Alasannya karena kharismaku bisa terlihat mirip seperti tokoh Katnis Everdeen dalam film Hunger Games.

Diperjalanan pulang, aku kembali menaiki kereta yang sama. Iban nggak habis-habisnya membahas permainan ku hari ini. Pujiannya menerbangkan aku ke mimpi-mimpi bersamanya. Aku nggak perlu menggambarkan kesetanan apalagi yang terlihat di pikirnku kan? Cukup, semuanya hal yang memalukan. Sampai akhirnya Iban mengeluarkan amplop putih dan memintaku membaca suratnya. Sesaat aku lihat wajah Iban berbinar, “surat apa ini?” 

“Baca aja. Kebahagian berpihak ke kita, Bel.”

“Ini untuk elo? Australia? Kapan?”

Iban mengangguk senang. Surat itu undangan dari prodi untuk Iban yang berhasil mendapat kesempatan belajar di Universitas Melbourne, menyukseskan mimpinya yang ingin punya double degree. Iban kuliah arsitek di kelas internasional jadi memang di tahun ketiga akan berkesempatan untuk melanjutkan ke universitas di luar negeri. Tapi, kenapa datangnya berita ini di saat yang sama ketika aku sedang berada di titik membutuhkan dia untuk menjadi energiku? Kenapa?

“Berapa tahun, Ban?”

“Dua tahun aja, gue nggak mau lama-lama. Gue nggak tahu bisa bertahan lama atau nggak tanpa bisa melihat sahabat istimewa gue ini.”

Ah rasanya, aku ingin menyumpalkan kaos kaki ke mulutnya, supaya dia berhenti menyanjungku. Ini adalah hari yang mungkin akan menjadi hari terakhir aku bersamanya. “Sayangnya, gue harus pergi pas elo lagi sibuk-sibuknya di Bandung.”

Iya, aku tahu. Di surat ini tertulis tanggal 18 September 2016, hari pertama pertandingan panahan. Iban merogoh tas selempangnya. Apa lagi yang akan diperlihatkan padaku, cukup ini sudah membuat hatiku rontok. Aku tahu memanah juga mimpiku, tapi Iban juga menjadi mimpi di tidur siangku yang sayang untuk dilewatkan. “Gue punya ini, kita tempel di bawah tempelan itu ya,” Iban melepaskan double tip yang tertempel di bagian bawah kertas itu dan menempelkannya tepat di bawah tempelan ‘Tetaplah mejadi hebat. Erika.’ itu. 

‘Tetaplah menjadi hebat, Bella.’

Iban memintaku untuk mengambil gambar saat dia sedang menempelkan kertas itu. “Kalau elo berangkat dan pulang kampus melihat ini, elo akan bisa ingat gue, Bel.” Ya Tuhan, ini seperti sedang asik-asiknya terbang, gaya grafitasi lebih hebat dari kekuatan terbangku, jadinya aku ambruk menghantam tanah. Ibaaaaan.

***

Erika sudah hampir aku lupakan, sampai akhirnya muncul kembali ketika ada dua perempuan muda menyebut namanya. Di gerbong sebelah mana asal suara itu, tubuhku tetap melaju tapi pikiranku berpaling kebelakang, mencari-cari di tiap gerbong. Di gerbong tiga aku temukan maksud dua anak itu menyebutkan nama yang pernah menjadi kekuatanku. Erika boleh saja meninggalkanku dan aku pun pergi menjauh dari kehidupannya tetapi kata-katanya nggak akan aku lupa. 

Ada tempelan bertuliskan tulisan kanji.

素晴らしいのままです.

エリカ

Orang-orang Jepang membaca tulisan kanji itu dengan subarashī no mamadesu. Dan di bawahnya ada tulisan tangan yang tertulis nama ‘Erika’, pasti Erika yang menuliskannya. Dalam Bahasa Indonesia kalimat itu berarti tetaplah menjadi hebat.

Waktu menyembuhkan. Aku bekerja semakin rajin setelah tahu bahwa Erika menempelkan kata-kata penyemangat itu. Aku pun terbiasa dengan orang-orang yang berjubal di tiap peron setiap harinya. Beban yang aku bawa awalnya sering membuatku mengeluh, sering aku merindukan Jepang yang nyaman dan tentram. Biarpun dipaksa bekerja penuh waktu di Jakarta, aku mendapatkan banyak pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Orang-orang yang naik pun bermacam-macam. Kalau sedang bosan, biasanya aku mengintip kegiatan mereka, kebanyakan dari mereka senang menyibukan diri dengan ponselnya. 

Aku menemukan banyak peristiwa, ternyata manusia hidup dalam keadaan yang kompleks, tidak sedikit dari mereka sebenarnya mengalami peristiwa pahit tapi raut wajah mereka begitu tegar, seperti nggak terjadi apa-apa. Aku bukan cenayang, aku tidak bisa mengetahui isi hati mereka. Tapi aku bisa mengintip dan mencuri dengar setiap obrolan mereka lewat ponsel atau dengan penumpang di sebelahnya. Tidak beda dengan aku yang disebut benda mati oleh mereka, padahal kitapun sama, bisa memiliki perasaan dengan tampilan yang bisa membohongi.

Aku berterima kasih dengan dua perempuan muda yang aku ketahui namanya Angel dan Bella. Bella sering aku temukan berdiri di dekat tulisan yang ditempelkan Erika, dan tersenyum menatap tulisan itu. Bella menemani perjalananku, paling tidak sehari sekali. Biasanya aku mengantarkannya ke stasiun dekat kampus. Tidak ada Erika, aku  mendapatkan energi dari dirinya. Akhirnya aku tahu dia mahasiswa yang juga atlet panahan. Anak yang terlihat lebih aktif dari pada Erikaku. Dan anak yang memiliki banyak teman.

Malam ini, aku lihat dia menyembunyikan kesedihan. Aku melihat raut wajahnya yang berubah setelah membaca kertas entah apa isinya. Aku juga melihat tangan kirinya mengepal hebat. Ada perasaan yang dia tahan. Pemuda yang berdiri di sebelahnya menempelkan sesuatu di dekat tempelan milik Erika. 

Oh, ternyata itu kalimat yang sama, hanya saja dibahasa Indonesia kan. Dan oh, pemuda itu akan meninggalkan Bella. Oh, pemuda itu memiliki hubungan yang spesial dengannya. Oh, pemuda itu ingin meninggalkan kata-kata penyemangat sebelum nggak lagi bersamanya, sama seperti Erika kepadaku. 

Ingin rasanya aku memberitahu Bella bahwa hal yang biasa jika orang-orang yang kita sayang akhirnya meninggalkan kita. Ingin rasanya aku bilang, biarkan mereka meraih mimpinya, sama seperti mereka membiarkan mu meraih mimpimu hingga tinggi melangit. Orang-orang yang pernah berarti di hidupmu akan tetap berarti bagi hidupmu. Setidaknya mereka pernah bersikap begitu.

Ingin aku bilang tapi aku ini siapa. Pastilah Bella tidak akan pernah memahami bunyian hong-ku, atau hembusan mesin pendingin ruangan yang aku arahkan selalu ke tubuhnya agar hatinya yang mendidih sedikit adem. Tapi ucapanku sudah terwakili oleh tempelan yang ditempel Erika, ‘Tetaplah mejadi hebat.’

Advertisements

Random #1

“Mencuri Waktu”

“Maaf bu, saya terlambat.” Tio tertunduk malu memasuki kelas. Sudah beberapa kali dia terlambat masuk sekolah dan ibu guru pun hanya menatap sekilas tanpa berkata-kata. Dua hari lalu ibu guru kehilangan kesabarannya, beliaupun memarahi Tio. Bukan apa-apa karena di hari ujian pun Tio tidak bisa merubah kebiasaan barunya itu untuk datang lebih pagi.

Hari itu sudah hari ke-6 Tio terlambat masuk kelas dengan tampang mengantuk. Hal ini terjadi semenjak Tio diam-diam mencuri waktu bermainnya. Rutinitas yang biasa dijadwalkan ibu untuk Tio bermain dimulai dari jam 8 sampai 9 malam. Tetapi semenjak ayah membelikan kaset game terbaru, Tio jadi ketagihan. Hasilnya, dia bermain hingga larut malam, terkadang sampai lebih dari jam 10 malam.

“Tio, sudah waktunya tidur nak. Sudah jam berapa ini?” Ibu memasukan sebagian badannya ke ruang game khusus tempat bermain untuk Tio.

“Sudah jam 9. Baik bu, Tio segera tidur,” Tio tidak memperlihatkan ekspresi kecewa di depan ibu, biarpun sebenarnya saat itu permainannya sedang seru. Ibu menunggu Tio membereskan kaset-kaset game-nya, mematikan peralatan game dan televisi, lalu mengantar Tio sampai ke kamar dan menyelimutinya.

Kecupan hangat ibu tidak pernah absen dari kening Tio. Hal yang paling Tio tunggu-tunggu adalah saat ibu menciumnya dan tersenyum kepadanya. Senyum itu begitu indah, dan menurut Tio ibunya lah yang paling cantik di dunia ini. Ibarat kerajaan, Ibu adalah permasyuri yang cantik dan bersahaja sedangkan dirinya pangeran yang tampan dan manis sikapnya.

Tetapi selang 15 menit kemudian, Tio yang memang sudah berniat untuk meneruskan permainannya, bangun dari tempat tidurnya. Selama 15 menit lalu dia sengaja untuk terjaga, tidak memejamkan mata hanya berpura-pura tidur. Diam-diam Tio mengendap ke kamar bermainnya. Sebelum itu, Tio mengintip ke ruang televisi yang berada tepat di bawah lantai kamarnya. Oh, ibu dan ayah sedang asik menonton, mereka tidak akan mendengar langkahku ke kamar bermain. Aman. Pikir Tio dalam hati. Tio berhati-hati melangkah tanpa meninggalkan suara sekecil apapun menuju ruang bermain.

Hampir 30 menit Tio bermain, biarpun saat itu belum merasa puas tetapi rasanya sudah mulai mengantuk. Matanya sudah tidak kuat lagi menatap layar televisi. Dengan hati-hati tanpa menimbulkan suara, Tio membereskan peralatan game-nya, meletakkan seperti sedia kala. Lalu berjalan mengendap kembali ke kamarnya.

Begitulah selama 6 hari Tio mencuri dan berbohong kepada ibu tentang pelanggaran jadwal bermain. Selama 6 hari itu, ibu pun tidak mengetahui kejadian ini. Tio selalu pintar menutupinya, biarpun memang 6 kali juga Tio terlambat bangun pagi.

“Ibu heran deh bang Tio. Kenapa 6 hari ini abang selalu bangun terlambat ya? Tidak seperti biasanya,” ibu bertanya kepada Tio ketika berjalan mengantarkan Tio ke sekolah.

“Tio selalu merasa capek akhir-akhir ini, Bu. Mungkin karena pertandingan futsal 2 hari lalu,” Tio berbohong.  Padahal keterlambatan Tio pun terjadi sebelum pertandingan itu. “Tapi itu kan 2 hari lalu, hari-hari sebelumnya Abang juga telat bangun pagi,” ibu terheran, tapi Tio bisa mengalihkan pembicaraan. “Ibu, gerbang sekolahnya mau ditutup, ibu sampai sini aja, Tio mau lari,” Tio mencium tangan ibunya sambil berpamitan. “Dah ibu!” Lalu ibu membalas lambaian Tio dan berkata, “Hati-hati nanti terjatuh.”

Sesampainya di rumah, ibu yang penasaran dengan kebiasaan buruk Tio yang sering terlambat sekolah, akhirnya mencoba mencari tau dengan memasuki kamar Tio. Ternyata tidak ada hal-hal aneh. Tapi ketika Ibu memasuki kamar bermain, ibu melihat peralatan game Tio berantakan. Kaset game tergeletak asal, kabel-kabel pun masih tersambung televisi. Padahal kemarin malam, ibu melihat sendiri Tio membereskannya. Tidak akan mungkin pagi sebelum berangkat sekolah Tio sempat bermain dulu.

Malamnya, Tio tetap berniat untuk mencuri waktu bermain. Enam kali Ibu tidak mengetahui kebiasaan jelek Tio ini, dia merasa ke-7 kalinya pun dia mungkin ibu masih akan tidak tau apa-apa. Tapi malam itu, ibu tidak mengantarkan Tio masuk kamar untuk tidur dengan sengaja. Ibu hanya berteriak dari lantai bawah mengingatkan jam bermain sudah habis.

Dari lantai atas, “Ibu, Tio tidur dulu.” Tio sengaja berteriak karena ingin memberi tanda bahwa dia ingin kecupaan ibunya sebelum tidur. Tapi ibu hanya membalas dari lantai bawah, “Iya, selamat tidur ya Bang. Ibu lagi membuatkan air hangat untuk ayah nih.” Mendengar ibu berkata seperti itu, Tio tidak perlu menunggu sampai 15 menit untuk berpura-pura tidur. Berarti ibu tidak akan pergi melihat ku tidur, baiklah aku akan langsung meneruskan bermain lagi, pikir Tio dalam hati. Tio saat itu hanya berpura-pura membuka dan menutup pintu kamar yang sebenarnya bukan pintu kamar tidurnya, tetapi pintu bermain. Lalu, Tio masuk ke kamar bermain dan melanjutkan permainannya.

“Asik, hari ini bisa tuntaskan permainan di level 3. Seru.” Dengan mata berbinar-binar, semangat yang membara, Tio bermain sampai melupakan keadaan ibu dan ayah yang berada di lantai bawah. Tio tidak lagi memikirkan untuk berhati-hati. Padahal bisa saja ibu atau ayah mendengar suara dari dalam kamar bermain.

30 menit Tio bermain dan hampir saja mengeluarkan suara karena dia menang dalam permainan, tiba-tiba pintu terbuka. “Lho, Abang Tio?” Tio kaget sampai menjatuhkan stick game. “I-i-ibu?” muka Tio langsung berubah takut karena ketahuan berbohong. “Tadi sepertinya Abang sudah izin untuk tidur deh ke Ibu. Apa ibu salah dengar ya?” Ibu berpura-pura. Tio tahu sebenarnya bahwa ibu pun berpura-pura tidak tahu, “eh, itu… Iya, mungkin ibu salah dengar. Tio dari tadi di sini.”

“Tapi sekarang sudah hampir jam setengah sepuluh. Jam bermain kamu sudah lewat 30 menit yang lalu. Seharusnya kamu sudah ada di kamar,” ibu menatap bola mata Tio tajam tapi tetap teduh.

Tio hanya terdiam dan memalingkan wajahnya. “Jadi ini jawaban dari pertanyaan ibu kemarin ya, waktu jalan mengantarkan Abang ke sekolah. Jadi karena ini Bang Tio terlambat bangun pagi.”

“Bukan begitu bu, Tio memang…” belum sempat beralasan, Ibu cepat menimpali perkataan Tio. “Tio anak ibu yang baik, Tio sudah berbohong pada ibu dengan mencuri waktu bermain, padahal kita sudah sepakat untuk memberi jatah bermain game hanya satu jam,” ibu duduk manis sambil menasihati Tio. Dan Tio pun hanya menatap sesekali ke arah ibu, selebihnya menunduk.

“Abang Tio mau bilang apa ke ibu?”

“Maafkan Tio ya Bu.”

“Ya sudah, sekarang bereskan mainannya, lalu pergi tidur,” ibu menuggu Tio membereskan mainan lalu bersama memasuki kamar tidur. Tanpa ada kecupan dari ibu, lampu kamar dimatikan dan ibu pun pergi menutup pintu. Sebelum ibu benar-benar pergi Tio memanggil, “Bu, tidak ada kecupan selamat malam kali ini?” Ibu terdiam lalu menoleh, “kamu sudah mencuri jam bermain selama 7hari, terhitung dari kamu terbiasa bangun telat. Jadi ibu tidak akan menciummu sebelum tidur selama 7 hari di mulai dari sekarang. Kamu setuju sayang?” Tio tertunduk dan menghilang di balik selimut, “baiklah, selamat tidur bu.”

THE GOALS!

Kikuk kikuk.

Bunyi jam burung di rumah Mira yang menandakan sudah jam 12 siang. Mira beranjak dari tempat tidurnya. Makan seadanya dan bersiap-siap dengan pakain seadanya pula. Jeans hitam, kaos garis-garis, tas laptop, dan handbag yang isinya cuma tissue, dompet, handphone dan charger. Lalu Mira memanaskan mobil dan siap untuk berangkat ke kampus.

Di depan ruang sidang gedung B FEUI.

Tempat itu selalu bersih, sepi, seperti tidak pernah dijamah oleh siapapun. Saat itu bulan Oktober minggu kedua, sudah dari awal semester ganjil Mira melakukan rutinitasnya berduduk santai di tempat itu. Sendirian. Ya, sendirian. Rutinitas ini terjadi tepatnya semenjak Mira masih harus berjuang sendirian menyiapkan skripsi untuk sidang di semester ganjil ini, sedangkan teman segengnya semua sudah meninggalkannya lulus menjadi Sarjana Ekonomi semester kemarin.

Bermodalkan roti dan susu terkadang coklat yang dibelinya di koperasi, Mira bisa tenang menikmati waktunya. Berjam-jam duduk disana hingga matahari berubah warna menjadi jingga.

Handphone berdering, tanda sms masuk.

Mir, bimbingan kita diganti jadi besok sore jam 3 ya. Saya masih ngajar.

Ibu Elis, dosen pembimbing skripsinya.

Baik Bu, tidak apa-apa. Besok saya bisa datang. Terima kasih.

Agak kaku memang kalau membalas sms dari dosen, biarpun dosen pembimbingnya itu ramah dan bisa diajak ngobrol seperti teman, tapi tetap saja status mereka berdua beda. Mahasiswa harus sopan dan segan dengan dosennya.

Mira meneruskan bermain-mainnya dengan laptop. Setelah menerima sms dari Bu Elis, Mira yang tadinya asik meng-edit revisian Bab 2 langsung menutup semua draft dokumen yang berhubungan dengan skripsi dan menyalakan wifi untuk browsing.

Begitu hampir setiap hari kegiatan Mira, ke kampus, menyendiri, ngemil, mengerjakan skripsi, terkadang bertemu dosen pembimbing, browsing. Tetapi disela-sela kegiatan yang monoton itu, Mira punya satu obsesi yang membuat dirinya asik dengan dunianya. Menulis dongeng.

3 bulan berlalu, skripsinya sekarang sedang tahap revisi akhir sebelum maju sidang. Tulisan kumpulan dongengnya pun tinggal dibaca ulang. Hari itu, lagi-lagi Bu Elis membatalkan janji karena ada rapat mendadak katanya. Tanpa pikir lama, dia mengalihkan pikirannya ke draft kumpulan dongengnya.

Katak Penari Balet, Peri Hijau yang Pemalu, Buku Masa Depan, Kotak Berbentuk Lonjong, Kebohongan yang Bertambah, Nenek Mary Penjual Bunga Mawar, Anak Babi Berekor Lurus,  Elang yang Tidak Bisa Menengok ke Kanan, dan Boneka-Boneka Belinda.

Yap, semuanya sudah dibaca ulang, di-edit, dan design cover bukunya yang dibuat Tyo pun sudah diterima lewat e-mail. Tanpa ragu, Mira mengklik website nulisbuku.com, sebuah perusahaan self-publishing berbasis online pertama di Indonesia yang bisa mengantarkan mimpi Mira sebagai penulis. Mira meng-upload naskah dongengnya ke website tersebut dan tinggal menunggu e-mail notifikasi dari tim penulisbuku untuk mencetak buku pertamanya.

2 minggu kemudian.

“Mira Citra Pratama, selamat sidang kamu hari ini dinyatakan lulus.”

Ibu Elis tersenyum manis dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman, disusul dengan Pak Edi dan Ibu Yuni.

Di luar ruang sidang.

“Mba Mir, tadi siang ada pos nih dari nulisbuku,”

Bunga memberikan buku yang bersampul putih bertuliskan nulisbuku, dibuka sampul itu dan tada buku pertama Mira rilis. Begitu senang hati Mira sampai diapun meneteskan air mata. Mimpinya menjadi sarjana dan menulis sebuah buku tercapai.

————————————————————————————– end :’)

-Genis Anggraeni (Ekstensi FEUI 2010)

Words: 493/500 words

credit: pic by charletskinbote @ tumblr.