[Bicara Buku] Reclaim Your Heart by Yasmin Mogahed

​Judul: Reclaim Your Heart

Penulis: Yasmin Mogahed

Alih bahasa: Nadya Andwiani

Penerbit: FB Publishing

Tahun: 2012

ISBN: 978-602-1687-38-3
Sejatinya kita selalu mendambakan hal-hal baik. Inilah buku hebat yg bisa menghebatkan. Reclaim your heart, rebut kembali hatimu, buku yang berisikan wawasan dan pencerahan tentang cinta, duka dan bahagia. Yasmin Mogahed menuliskan dengan pengalaman pribadinya disertai analogi yang cukup logis. Topik yang dituliskan semua berkaitan dengan sungguh segala hal mengenai habluminannas itu dilandasi dengan bagaimana habuminallah kita. 

Isi buku ini dibagi beberapa bab mengenai, Keterikatan, Cinta, Penderitaan, Hubungan dengan Sang Pencipta, Status Perempuan, Umat dan ditutup dengan kumpulan puisi. 

Tauhid adalah benang merah yang mengkaitkan topik-topik di atas, bagaimana kepercayaan kita terhadap kuasa Allahlah yang menjadikan hidup kita damai dan tentram. Ada beberapa ayat yang sering muncul di tiap topik yaitu Surat Al Baqarah 216, bahwa boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. 

Buku ini memfokuskan pada hati, seperti yang pernah Rasul katakan jika hati rusak maka rusaklah semua tubuh kita. Buku ini menggugah dan memberikan jalan keluar dari kegundahan, kegelisahan, kesedihan, kesenderian, kebingungan yang kita rasakan. Dan buku ini memberikan pengertian bahwa hati kita ini seharusnya hanya diisi dengan Allah saja, sedang masalah dan karunia harusnya kita taruh di tangan kita saja, maka tidak akan merasa begitu sedih dan putus asa jika masalah terjadi atau karunia diambil dari kita. Dont attach anything, good or bad karena sejatinya nikmat yang kita dapat di dunia semua ada pertanggung jawabannya, sejatinya masalah yg ada itu ujian untuk mendekatkan kita pada Pemilik Diri ini. 

Ada dua hal yang saya poinkan untuk diri pribadi setelah membaca buku ini:

1. Perbaiki Salat

2. Bermesraan dengan Allah di sepertiga malam

3. Bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama, bukan setelah. Allah Maha Baik.

Manusia makhluk yang lupa, buku ini harus ada di dekat tempat tidur, menjadi tools untuk bisa refleksi diri. Semua yg tertulis disini berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, ayat dan hadist yang dibahas pun yang sudah pernah kita tau tapi yang gampang sekali kita lupa. 

Buku ini bagus untuk seluruh muslim, hati yang menjadi cerminan diri. :))

[Kisah] Generasi Terbaik: Wanita Anshor

Salaam, 

Kalau kita membaca kisah-kisah di masa Rasulullah dan para sahabat dan pengikutnya yang merupakan generasi terbaik dalam Islam, maka tidak luput pula disebutkan tentang segolongan wanita yang juga masuk ke dalam golongan generasi terbaik itu. Mereka adalahwanita-wanita Anshor.

πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­

SANGAT TAAT

Wanita anshor dikisahkan merupakan wanita-wanita yang sangat taat dalam menjalankan perintah Allah. Ketaatan mereka BAHKANmenuai pujian dari wanita Muhajirin terbaik,Aisyah r.a. Beliau berkata,

β€œSesungguhnya wanita-wanita Quraisy mempunyai banyak kelebihan. Akan tetapi demi Allah, sungguh aku tidak pernah melihat wanita yang lebih utama dari wanita Anshar, yang paling yakin pada Kitabullah dan paling beriman dengan Al-Qur’an.”

Ketika diturunkan satu ayat dalam surah An-Nuur,

β€œ.. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya..” (QS: An-Nuur: 31)

Kaum lelaki pada saat itu segera menemui istri, putri, dan saudari-saudari serta seluruh karib kerabat mereka. Mereka kemudian membacakan ayat tersebut. Mendengar ayat tersebut dibacakan, wanita-wanita Anshar tersebut segera mengambil pakaian yang terbuat dari wol lalu mereka tutupkan ke kepala mereka sebagai bukti keimanan dan pembenaran terhadap firman Allah. Kemudian mereka pergi menemui Rasulullah SAW untuk shalat di belakangnya sambil menutup kepala, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung gagak.

Cermin dari ketinggian iman mereka. Apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara, mereka segera berkata, β€œKami dengar dan kami taat.”

πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­

TIDAK MALU BERTANYA

Pernah pula dikisahkan bahwa suatu hari Ummu Sulaim pernah menemui Rasulullah SAW untuk bertanya,β€œWahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu untuk menjelaskan kebenaran. Apakah wanita wajib mandi junub bila dia bermimpi?”

Rasul menjawab, β€Ya, apabila dia melihat air mani.”

Mendengar hal itu, Ummu Salamah tersenyum keheranan, β€œApakah wanita juga bisa mimpi basah?” 

Rasulullah SAW menjawab, β€œIya benar, lantas darimana bisa ada kemiripan anaknya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Wanita-wanita anshor sangatttttttt sering bertanya kepada Rasul tentang hal-hal terkait Islam dan Fiqh wanita yang mereka ingin tanyakan. Mereka tidak merasa malu bertanya tentang masalah agama, meskipun apa yang mereka tanyakan tabu bagi sebagian orang. Keunggulan ini sampai-sampai diakui oleh Aisyah r.a. dalam ucapannya yang masyhur, β€œSebaik-baik wanita adalah wanita anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk belajar agama.” (Ibnu Majah)

πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­πŸ‘­

SEMANGAT DALAM BELAJAR AGAMA

Kisah lain yang tidak kalah inspiring bagi aku adalah kisah yang menggambarkan bahwa wanita anshor adalah wanita-wanita yang sangat bersemangat dalam belajar agama, sangat kritisssssss pula.

Suatu saat Asma’ mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya, β€œWahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh wanita muslimah yang di belakangku, seluruhnya mengatakan sebagaimana yang aku katakan dan seluruhnya berpendapat sesuai dengan pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepada anda dan membai’at anda. Adapun kami para wanita terkurung dan terbatas gerak langkah kami. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat menyalurkan syahwatnya. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi kaum laki-laki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat Jum’at, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta mereka dan mendidik anak-anak mereka. Maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW menoleh kepada para sahabat dan bersabda, β€œPernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang agama yang lebih baik dari apa yang dia tanyakan?”

Para sahabat menjawab, β€œBenar, kami belum pernah mendengarnya ya, Rasulullah!”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, β€œKembalilah wahai Asma’ dan beritahukan kepada para wanita yang berada di belakangmu, bahwa perlakuan baik salah seorang di antara mereka kepada suaminya, upayanya untuk mendapat keridhaan suaminya, dan ketundukkannya untuk senantiasa mentaati suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka kembalilah Asma’ sambil bertahlil dan bertakbir merasa gembira dengan apa yang disabdakan Rasulullah SAW. (HR. Muslim)

Source: sumber 1sumber 2

Aside

β€œBoleh jadi Allah membuka pintu-pintu ketaatan bagimu, tapi Ia tidak membuka pintu pengabulan (diterimanya amal).” – Ibnu Athaillah,

Salah satu hal yang dapat menghalangi diterimanya ibadah seorang hamba adalah kurangnya tawadhu dan timbulnya rasa bangga atau sombong atas ibadah/kebaikan yang telah diperbuatnya. Hal itu menunjukkan kurangnya keikhlasan dalam beramal.Β 

Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan berkenaan dengan masalah ini, β€œHendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal. Karena sesungguhnya, sedikit amalan yang disertai takwa justru lebih baik. Bagaimanakah amalan itu hendak diterima tanpa ketakwaan?”

Kebanggaan dan kesombongan dalam beribadah tidak akan lahir dari ketakwaan kepada Allah SWT. Sebaliknya, ia lahir dari jiwa yang tamak dan rakus terhadap penghargaan dari sesama manusia. Kebanggaan timbul karena ia merasa telah mampu melakukan ibadah/kebaikan yang belum tentu dapat dilaksanakan orang lain.

Kesombongan lahir dari perasaan dirinya lebih baik dari orang lain yang dianggapnya lebih sedikit amalnya atau bahkan orang lain yang dianggap berdosa.Β 

Ibnu Athaillah lagi-lagi mengingatkan, β€œPerbuatan dosa yang melahirkan perasaan hina dan rendah hati lebih baik dari ketaatan yang melahirkan ujub dan sombong.”

source:Β http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/10/10/mufzcv-tawadhu-dalam-ibadah