Asal Mula Azan

Salaam, 

Nggak bisa ditahan untuk dibagikan ketika gw tau apa yang gw taksir makin bikin gw naksir. 

Pria ini yang paling jadi favorite gw. Suka kejar-kejaran posisi pertama sama Rasulullah di hati gw. Haha. Lebay. Yang kenal gw pasti tau, yap Umar Bin Khattab. Kalau kenapanya gw suka, please baca sendiri sejarah-sejarahnya dan tonton sendiri series-nya. Lo kalau gak kagum dengan beliau ya kagum dengan Islam yang dipegang. 
Dari sekian banyak hal yang bikin gw kagum selain beliau ini kasar tapi berhati lembut, beliau suka banget sama literasi, beliau hobi banget terkagum memandang semesta, karena beliau memeluk Islam Muslim jadi punya harga diri, terus Rasul pernah bilang ‘seandainya ada nabi setelahku, itulaj Umar’, belum lagi setiap pemikiran Umar sering di-iya-kan Allah lewat FirmanNya. Eh tapi ternyata ada lagi.

Begini ceritanya, pasca pindah ke Madinah muslim memiliki hidup yang tenang. Mereka bisa ibadah dengan aman. Mereka akan berkumpul jika waktu solat tiba tanpa kumandang azan, penanda waktu solat. It means mereka solat tepat waktu banget donk ya. *gw mimisan* Awalnya Rasul berpikiran, apa pakai terompet ya seperti orang Yahudi memanggil kaum muslimin. Tapi Rasul nggak suka terompet. Ada yang mengusulkan pakai lonceng, seperti orang nasrani. Saat itu Umar ditugaskan membeli kayu untuk membuat lonceng. Saat beliau tertidur dan lalu terbangun beliau berkata, “jangan gunakan lonceng, untuk solat serukan azan.”

Esoknya, Umar pergi menemui Rasul untuk memberitahukan mimpinya. Jadi Umar bermimpi kalau dia bertemu sorang laki-laki berpakaian hijau lewat di depannya membawa lonceng. Umar betanya “apa lonceng itu dijual?” Orang itu berbalik tanya, “untuk apa hendak dipakai lonceng ini?” Umar menerangkan, “Sebagai panggilan solat.” Lalu orang itu berkata “Maukah aku tunjukan yang lebih baik dari itu?” lalu pria itu memberitahukan lafal azan pada Umar. 

Masha Allah, amazing banget kan? Mimpi dari mana coba kalau bukan mimpi dari Allah. Allah kasih petunjuk lewat Umar dan panggilan itu sampai nanti kiamatpun masih akan menggaung di langit 5 kali sehari. So sweet ya Allah kasih petunjuknya ke Umar. Pilihan banget deh. Pun Allah punya skenario ciamik banget, ini mungkin kenapa Umar yang jadi pilihanNya untuk memeluk Islam, bukan Abu Jahal seperti yang pernah didoakan Rasul. 

Beginilah, kalau gw udah jatuh cinta gak ada habisnya gw akan sanjung dan kagum-kagum. Gw akan cerita ke orang-orang point-point plusnya. Tinggal kamu aja nih, kalau kamu bisa dapetin aku. Jangan harap aku bisa ngejelekin kamu ya, aku bakalan tumpah-tumpah nyanjung sampai capek. Karena kalau lagi seneng ya gw bakal bilang seneng. Gak pakai cuma, gak pakai basa-basi. 

Photo source: here

Sumber cerita dari Buku The Great of Two Umar karya Fuad Abdurrahman

Walaupun sebagian orang menjadi diri mereka di sosial media tapi kita tidak bisa menilai kalau diri mereka juga begitu. Kita berteman dgn dirinya bukan sosmednya. Buang perasaan suka karena statusnya. Yang kita nilai itu pembawaannya, sikapnya, tutur katanya, senyumnya untuk kita. Karena kelak rumah tangga tidak butuh sosmed tapi kebersamaan dan interaksi dengan tetangga. #acatinmyeyes #selftalking #utakatik maaf atas kerandoman yang berulang.

View on Path

KARENA UKURAN KITA TAK SAMA

Seperti sepatu yang kita pakai, tiap kaki memiliki ukurannya memaksakan tapal kecil untuk telapak besar akan menyakiti memaksakan sepatu besar untuk tapal kecil merepotkan kaki-kaki yang nyaman dalam sepatunya akan berbaris rapi-rapi.

Seorang lelaki tinggi besar berlari-lari di tengah padang. Siang itu, mentari seakan didekatkan hingga sejengkal. Pasir membara, ranting-ranting menyala dalam tiupan angin yang keras dan panas. Dan lelaki itu masih berlari-lari. Lelaki itu menutupi wajah dari pasir yang beterbangan dengan surbannya, mengejar dan menggiring seekor anak unta.

Di padang gembalaan tak jauh darinya, berdiri sebuah dangau pribadi berjendela. Sang pemilik, ’Utsman ibn ‘Affan, sedang beristirahat sambil melantun Al Quran, dengan menyanding air sejuk dan buah-buahan. Ketika melihat lelaki nan berlari-lari itu dan mengenalnya, “Masya Allah,” ’Utsman berseru, ”Bukankah itu Amirul Mukminin?!”

Ya, lelaki tinggi besar itu adalah ‘Umar ibn Al Khaththab.

”Ya Amirul Mukminin!” teriak ‘Utsman sekuat tenaga dari pintu dangaunya,

“Apa yang kau lakukan tengah angin ganas ini? Masuklah kemari!”

Dinding dangau di samping Utsman berderak keras diterpa angin yang deras.

”Seekor unta zakat terpisah dari kawanannya. Aku takut Allah akan menanyakannya padaku. Aku akan menangkapnya. Masuklah hai ‘Utsman!” ’Umar berteriak dari kejauhan. Suaranya bersiponggang menggema memenuhi lembah dan bukit di sekalian padang.

“Masuklah kemari!” seru ‘Utsman,“Akan kusuruh pembantuku menangkapnya untukmu!”.

”Tidak!”, balas ‘Umar, “Masuklah ‘Utsman! Masuklah!”

“Demi Allah, hai Amirul Mukminin, kemarilah, Insya Allah unta itu akan kita dapatkan kembali.“

“Tidak, ini tanggung jawabku. Masuklah engkau hai ‘Utsman, anginnya makin keras, badai pasirnya mengganas!” Continue reading

Quote

No amount of guilt can change the past and no amount of worrying can change the future. Go easy on yourself, for the outcome of all affairs is determined by Allah’s decree. If something is meant to go elsewhere, it will never come your way, but if it is yours by destiny, from you it cannot flee.

– Umar Ibn Al-Khattab 

Source: Zarahumaira

He is Beautiful in His Way

Separuh hidup lelaki tua itu dalam kekelaman jahiliyah. Tumbuh dalam kehidupan yang keras. Dhajanan adalah kenangan. Adalah sejarah masa kecil. Adalah bukit yang abadi dalam ingatannya. Sebab di sana ia menggembala unta. Di sana ia mendapat pendidikan keras. Dan di sana kepribadian itu terbentuk. Tidak seperti anak-anak yang lain, masa mudanya dihabiskan dengan hura-hura dan bergelimang harta. Ia kesepian, sendiri di bukit itu. Tapi Al-Khathab tidak peduli padanya.

“Sungguh, aku telah coba melupakan kenangan itu, tapi hati kecilku berkata padaku.”

Ia memang tidak menyukai takdir itu. Tapi ia belajar berdamai dengan dirinya bahwa itulah yang terbaik untuknya. Ia juga tahu diri. Karena itu ia belajar banyak hal; baca tulis, bergulat, menunggang kuda, mencipta dan mendendang syair. Kemudian ia menaruh perhatian terhadap masalah sejarah dan urusan bangsa Arab. Sosial, politik dan budaya mereka. Ia giat belajar di universitas itu, Pasar Ukazh. Dan kini takdir itulah yang telah mengajarinya tegar dalam menanggung beban berat. Takdir itulah yang memberinya keberanian. Takdir itulah yang menciptakan misi: ia ingin membuktikan bahwa dunia itu salah. Ia bisa berbuat dan menghasilkan sesuatu. Dan kelak, takdir itu pula yang membawanya pada kemuliaan. Ia adalah orang yang diberi ilham. Ia yang memiliki kemampuan seperti nabi. Ia adalah Umar bin Khathab.

Menginjak masa muda, ia mulai menekuni dunia bisnis. Melakukan kunjungan niaga ke berbagai daerah. Pada musim panas, Ia berniaga ke negeri Syam dan pada saat musim dingin berniaga ke negeri Yaman. Dari perniagaan itu ia mendapat dua keuntungan besar: harta dan ilmu. Harta menghantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Mekah. Sedang ilmu mengantarkannya menjadi orang besar.

Tiga puluh tahun dalam jahiliyah. Umar dapat menduduki posisi strategis di tengah masyarakat Mekah. Kontribusinya sangat signifikan terhadap berbagai peristiwa. Suku Quraisy mempercayainya sebagai hakim. Seperti kata Ibnu Sa’ad: “Sebelum masuk Islam, Umar sudah terbiasa menyelesaikan pelbagai sengketa yang terjadi di kalangan bangsa Arab.” Ia terkenal sebagai orang yang bijaksana, bicaranya fasih, pendapatnya baik, kuat, penyantun, terpandang, argumentasinya kokoh, dan bicaranya jelas.

Saat bangsa Arab berada di antara dua imperium besar: Persia dan Romawi. Bangsa Arab tidak memiliki pusat pemerintahan yang mengintegrasi mereka. Dan mengatur seluruh sisi kehidupan mereka. Setiap suku mencerminkan kesatuan politik yang independen. Suku-suku bangsa Arab saat itu saling bermusuhan. Bahasa sosial mereka adalah rimba raya. Hidup dengan cara melakukan perampasan dan penghadangan di tengah jalan. Di antara mereka terjadi perang yang berlarut-larut sebab hal sepele. Maka pantas Umar bin Khathab diangkat menjadi delegasi suku Quraisy. Duta untuk menangani konflik di antara mereka.

Barangkali sebab itu Allah SWT memilih Umar bin Khathab dari pada Amr bin Hisyam. Mungkin sebab itu pula masa kecil Umar bin Khathab begitu keras. Allah ingin ia menghabiskan separuh hidupnya lagi untuk membantu Rasulullah dalam berdakwah. Dan itu adalah tugas yang lebih berat dari kehidupan masa kecilnya yang dianggapnya berat. Sekaligus itu adalah jawaban doa Rasulullah: “Ya Allah, muliakan Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini; Amr bin Hisyam atau Umar bin Khathab.”

Begitulah kisah dibalik keharuman namanya. Tidak ada orang besar tanpa kehidupan yang keras. Tidak ada orang hebat tanpa pembelajaran. Umar tidak pernah putus asa dari takdirnya. Baik takdir dirinya ataupun bangsanya saat itu. Karena itu, jika takdirmu berbeda dengan yang lain. Maka bedalah cara hidupmu dari yang lain.

source : http://www.dakwatuna.com/2012/08/22188/di-balik-keharuman-nama-besar-umar-bin-khattab/

——————-

Pada pembaiatannya sebagai khalifah, Umar berkata, “Wahai kaum Muslimin! Kalian semua memiliki hak-hak atas diriku, yang selalu bisa kalian pinta. Salah satunya adalah jika seorang dari kalian memintakan haknya kepadaku, ia harus kembali hanya jika haknya sudah dipenuhi dengan baik.”

“Hak kalian yang lainnya adalah permintaan kalian bahwa aku tidak akan mengambil apa pun dari harta negara maupun dari rampasan pertempuran. Kalian juga dapat memintaku untuk menaikkan upah dan gaji kalian seiring dengan meningkatnya uang yang masuk ke kas negara.”

“Aku akan meningkatkan kehidupan kalian dan tidak akan membuat kalian sengsara. Juga merupakan hak, apabila kalian pergi ke medan pertempuran, aku tidak akan menahan kepulangan kalian. Dan ketika kalian sedang bertempur, aku akan menjaga keluarga kalian laksana seorang ayah.”

“Wahai kaum Muslimin, bertakwalah selalu kepada Allah SWT! Maafkan kesalahan-kesalahanku dan bantulah aku dalam mengemban tugas ini. Bantulah aku dalam menegakkan kebenaran dan memberantas kebatilan. Nasihatilah aku dalam pemenuhan kewajiban-kewajiban yang telah diamanahkan oleh Allah SWT.”

——

Serius, 23 tahun aku belajar ngaji, membersamai diri dengan orang-orang soleh, tapi aku baru kenal beliau, sahabat Rasul yang paling bijak, brilliant, dan almost perfect. Setiap membaca kisahnya, kata-kata mutiaranya, mendengar cerita tentangnya, aku berkata pada diriku sendiri, “hey, kemana aja lo selama 23 tahun, tau kalau satu dari 4 sahabat Rasul itu Umar bin Khattab tapi lo ga tau kalau ternyata dia satu-satunya dari keempat itu yang dulunya jahiliyyah nauzubillah? Suka minum arak, membunuh anak perempuannya hidup-hidup, berniat membunuh Rasul pula.” Allah punya cara dan waktu yang tepat untuk mengenalkan kita pada sosok yang lain. Di usia 23 tahun aku seperti menemukan cahaya yang terang tapi adem, bukan terang tapi panas. Bahkan jika ditanya siapa idolaku, aku bukan menjawab Rasulullah tapi dia, Umar bin Khattab. He is beautiful in his way.

Ingat kata Rasul, “seandainya ada nabi setelahku, dialah Umar Bin Khattab.”

Semoga aku bisa bertemu dengannya nanti. Agak egois memang tapi misi ku ke jannah salah satunya untuk bertemu dengannya. Itu dulu. Salam Ya Omar.

source: here

Mehyar & Ghanem on Kalam Nawaem Talk Show (Translated)

Enjoy the video.. Mehyar & Ghanem are cool!!Masya Allah~ ^^

MC : join me in welcoming Syrian actor Mehyar Khaddour who played the role of Khaled bin Al-Waleed, and Tunisian actor Ghanem Zrelli who played the role of Ali bin Abi Talib, Welcome!
Tunisian and Syrian played an important roles! you are young stars at the beginning of your artistic journey.
How does these roles affect you? Lets start with you.

Mehyar : honestly , I’m proud of this experience! working with Mr. Hatem Ali and Mr. Shadi and MBC group. i’ve been assigned to play this role, which i think it has some peculiarity and extraordinary, so I did my research to present something unique.

MC : What books did you read ?

Mehyar : there are many books! there is a book written by the General A.I. Akram of the Pakistan Army, he talked about Khalid personality and his battles, it was a heavily-detailed book in general, it helped me a lot! moreover, the script! i just remembered a book! it’s called ” The jaws of history ” it talks about some important figures in Islamic History, written by dr. Suhail Issawi.

MC : Khalid bin Waleed known as “Sayf Allah al-Maslul” cuz he was a skilled swordsman.

Mehyar : ” he is a sword of the Swords of Allah, unseated against the unbelievers “

MC : so, how much did you practice to play this role?

Mehyar : I’ve trained on specific movements ,it was a few days before filming. I basically have experience in foils fencing ..It’s not exactly like fencing with a normal sword ..But i think that physical fitness is important for both.

MC : Are You Physically Fit?

Mehyar : sort of.

MC : isn’t clear? // just wanted make sure. // i’m sure of it, i sit next to him!

MC : Mr. Ghanem, we know that you hesitate to do this role .. Why ?

Ghanem : actually, my hesitation didn’t last too long. When i received the offer, i didn’t reply right away .. i wanted to think. Then I got a call from Tunisian actor Fethi Haddaoui, He advised me to accept it without any hesitation. At that time i was sit-in at Kasbah square in Tunisia, My phone was switched off for 3 days, because I was busy with demonstrations.

MC : you are a troublemaker! // When I hear your voice now I find a huge difference between the local dialect and classical Arabic. Was it your real voice in the series or not ?

Ghanem : No, it was dubbed.

MC : And the voice of Khalid bin Walid?

Mehyar : It was my real voice.

MC : but it has been dubbed into Turkish! // What have you learned from this role?

Ghanem : it’s combines many contradictions, he is strong and gentle at the same time. no doubt he is a great figure in Islamic history. As for Classical Arabic, It is a language with a special code, It’s not like the local dialects.

MC : You all are from different nationalities ..tell me what is happening behind the scenes? things that we don’t know..and how was your relationship with each other?

Mehyar : as an actor i believe that the importance of joint actions lies in the human side. There some actors i hadn’t met them before, but now i met them and they became my best friends ..just like Mr. Ghanem.

MC : How long have you been working ? and where you spend most of your time? in desert or what ?

Mehyar : the filming goes through several stages, First, we were in Syria and then we moved to Morocco in Ouarzazate, After that we went to Marrakech, then we went back to Syria again. the location was a little difficult place to work, It was very hot and we were wearing heavy clothes.

MC : does anyone get hurt ?

Mehyar : we all get hurt.

MC : What about “Thirty” movie, you played the role of the president “Bourguiba” ..It was your first experience ..right?

Ghanem : It was my first experience in Tunisian cinema .. This movie is about intellectual renaissance in Tunisia. In my opinion, The movie was similar to “Omar series”, because it’s touched peoples hearts. Interestingly, the DP in ” Omar series” was also the cameraman in “thirty” movie. So, I think Hatem Ali had seen the movie because it was displayed in many Arab countries and Notre Dame in the Netherlands too. Also Fathi Hadawi has introduced me to play this role.

MC : nice! I wish you the best of luck and every success in future. Thank you.

credit: translation by @fabelleza; video by @Fatima88M photo by Mehyar & Ghanem Facebook Fanpage

Serial Omar (Umar Bin Khattab) episode 8

Omar adalah potret figur yang kuat dalam revolusi Islam pertama yang secara umum merubah wajah Timur Tengah secara keseluruhan.

#Cast

  • Umar Bin Khattab (Samer Ismail)
  • Abu Bakar Ash Shidiq (Ghassan Massoud)
  • Usman Bin Affan (Tamer Arbeed)
  • Hamzah Bin Abdul Muthalib (Mohamed Miftah)
  • Abdullah bin Massoud (Jaber Jokhadar)
  • Zaid Bin Khattab (Mahmoud Nasr)
  • Abu Sufyan (Fathi Haddaoui)
  • Abu Jandal (Majd Feda)
  • Amr Bin Ash (Qashin Mlho)
  • Khalid Bin Walid (Mehyar Khaddour)
  • Ikrimah Bin Abu Jahal (Hicham Bahloul)

#Full Episode 8

#Isi Cerita

Kemurkaan petinggi Quraisy terhadap Rasulullah dan usahanya untuk menyebarkan Islam semakin meningkat. Apalagi setelah beberapa keluarga mereka yang muslim hijrah ke Habasyah untuk meminta perlindungan dari raja Najasyi. Mereka berpikir bahwa hal ini tidak dapat ditolerir lagi. Sampai suatu ketika, Abu Jahal melihat Rasulullah sedang beribadah di dekat ka’bah, dia menghampiri beliau dan mencaci maki. Saat itu Rasulullah hanya duduk diam mendengar cacian Abu Jahal, sampai akhirnya Abu Jahal pergi meninggalkannya.

Ada salah seorang wanita yang melihat tindakan Abu Jahal, lalu mengadukannya kepada Hamzah ra, paman Rasulullah. Hamzah ra pun menemui Abu Jahal yang sedang berkumpul bersama petinggi-petinggi Quraisy. Tanpa sapa, salam dan senyum, Hamzah ra langsung memukul Abu Jahal. Dan berkata bahwa dia juga telah masuk Islam. Padahal sebenarnya Hamzah hanya terbawa emosi untuk mengatakan hal itu. Hamzah termasuk orang yang disegani dan paling kuat dikalangan orang Quraisy, jadi saat itu orang-orang yang melihat tindakan Hamzah ra hanya diam, dan Abu Jahal pun tidak membalasnya.

Setelah kejadian itu, Hamzah ra langsung pergi menuju rumah Rasulullah. Dia datang untuk menenangkan Rasulullah, supaya jangan khawatir karena dia akan melindunginya, membela dan menyakiti orang-orang yang menyakiti Rasul. Hamzah ra juga menceritakan mengenai perkataannya di depan orang-orang Quraisy bahwa dia telah masuk Islam. Saat itu, Hamzah ra pun memantapkan hatinya dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Dan akan melindungi Rasulullah karena sesama muslim. Alhamduillah.

Umar ra yang tadi berada ditempat kejadian Abu Jahal dan Hamzah ra, merasa emosinya tidak bisa dibendung lagi. Beliau pulang ke rumah dan keluar lagi sambil membawa pedang. Beliau berpikir untuk membunuh Rasulullah. Ditengah jalan beliau bertemu Nu’aim Ibnu Abdillah an-Nahham yang diam-diam juga memeluk agama Islam. Umar ra menjelaskan bahwa dia akan menemui Rasulullah untuk membunuhnya. Lalu Nu’aim mencegah dengan nasihat agar Umar ra kembali ke rumah dan mengurus keluarganya karena adiknya sendiri, Fatimah, juga telah masuk Islam.

Dengan kesal, dia berjalan menuju rumah Fatimah. Di dalam rumah, Fatimah dan suaminya Said Bin Zaid bin Amr sedang belajar Quran bersama Khabbab. Dan Umar ra mendengarnya dari luar. Umar ra mengedor pintu. Kaget bahwa Umar ra yang datang, Khabbab segera bersembunyi. Umar ra menegaskan kembali apakah mereka telah memeluk agama Islam. Seketika itu, sebelum Said menjawab, dengan cepat Umar ra membanting dan menghajar dengan sekuat tenaga. Fatimah yang ingin melerai mereka berdua akhirnya terkena pukulan Umar ra sampai terluka & berdarah.

Dan Fatimah berkata “Ya musuh Allah, memang kami telah masuka Islam dan beriman kepada Allah serta RasulNya. Sekarang lakukan apa pun yang kau inginkan.” Melihat darah diwajah Fatimah, Umar ra menyesali perbuatannya. Amarah pun pelan-pelan hilang dari diri Umar hingga iya melihat lembaran yang bertuliskan ayat Al-Quran. Surat At-Thaha dan membacanya.

“Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai pengingat bagi orang yang takut kepada Allah; diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi; (yaitu) Yang Maha Pengasih, yang besemayam di atas ‘Arsy. Miliknyalah apa yang ada di langit, apa yang ada di bumi, apa yang ada di antara keduanya, dan apa yang ada di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh, Dia mengetahui rahasia yang lebih tersembunyi. (Dialah) Allah, tidak ada tuhan selain Dia, yang mempunyai nama-nama yang terbaik.” (Thaha: 1-8)

Lalu Umar ra berenti sejenak, beliau berkeringat. dan meneruskannya lagi beberapa ayat,

“Sungguh, Aku ini Allah tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat Aku. Sungguh, hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar setiap orang dibalas sesuai dengan apa yang telah diusahakan.” (Thaha : 14-5)

lalu berkata kepada dirinya sendiri,

“Ya, siapaun yang mengeluarkan pernyataan seperti ini berhak untuk tidak dipersekutukan dengan sesuatu selainnya.”

Lalu Khabbab keluar dari tempat persembunyiannya, dan menyatakan doa yang pernah ia dengar dari Rasulullah,

“Aku berharap engkaulah yang dipilih Allah sebagai jawaban doa Rasulullah. Beliau berdoa agar Allah menguatkan Islam dengan salah satu dari dua orang: engkau atau Abu Jahal.”

Dan Umar ra pun teringat perkataan Abdullah Bin Massoud mengenai hal yang sama. Dan setelah itu, Umar ra meminta Khabbab untuk menunjukan di mana Rasulullah berada.

Melihat Umar ra yang ada didepan pintu dengan membawa pedang, sahabat-sahabat Rasulullah di dalam rumah merasa cemas. Tapi Hamzah meyakinkan mereka semua, bahwa dia akan melindungi Rasulullah. Umar masuk, awalnya ditahan oleh Hamzah. Tetapi beliau mengatakan bahwa akan memeluk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Alhamdulillah.

Setelah masuknya beliau kepada Islam, Umar ra langsung memberi tahu Abu Jahal bahwa dia telah memeluk agama Islam. Dan dia juga mengatakannya di depan orang-orang Quraisy. Beberapa orang-orang Quraisy menikamnya, memukulnya. Lalu datanglah Ashi ibnu Wail As-Sahmi untuk melerainya. Dan meminta lebih baik Umar ra diam, lalu Umar ra menjawab,

“aku tidak akan menyembunyikannya kebenaran setelah menyadarinya. Saya akan terus memisahkan kebenaran dari kebatilan, sama seperti Allah membedakan siang dan malam.”

Semenjak Hamzah ra dan Umar ra memeluk agama Islam, umat muslim semakin berani untuk beribadah terang-terangan. Dan Umar ra pun ikut menyiarkan agama Islam kepada seluruh orang Quraisy. Mendengar kabar ini, umat muslim di Habasyah merasa senang dan berkeinginan untuk pulang ke Mekah. Mereka mendapat kabar, Mekah sudah aman.

Tetapi ketika sudah kembali ke Mekah, mereka tetap mendapat cacian, makian, siksaan dari orang-orang Quraisy yang belum beragama Islam. Itu juga yang dialami Abdullah Bin Suhail Bin Amr. Sepulangnya ia dari Habasyah, ayahnya, Suhail, langsung mengurungnya. Melihat hal itu, Abu Jandal, saudara Abdullah, mengakui didepan ayanya, bahwa dia juga meyakini Allah dan Rasul-Nya. Maka dia pun ikut dikurung.

#Kesimpulan

Beberapa hal yang dapat diambil pelajaran dari episode ini:

  1. don’t give up on people. Rasulullah biarpun dicaci cimaki, dicemooh oleh musuh, dia tetap menginginkan musuhnya bisa mendapat hidayah dari Allah. Akhirnya, terbukti, Umar ra bisa masuk Islam.

Serial ini makin memperlihatkan bahwa wajib ditonton seluruh umat di dunia, tidak ada yang terkecuali. Karena, setiap tokoh diceritakan dengan porsi yang pas dan setiap kejadian memiliki makna yang bisa diambil sebagai pelajaran serta inilah Islam yang sebenarnya. Selain itu, ayat-ayat Quran yang dikatakan pada dialog dalam serial ini juga pas, sehingga kita yang lupa diingatkan kembali oleh serial ini. Semoga Allah merahmati dan memberkahi setiap jalan crew dan para pemain. Aamiin.

Saya bukan ahli agama, jadi tulisan saya ini menjadi pengingat juga bagi diri saya pribadi. Semoga penceritaan kembali tentang serial Omar episode 8 ini bermanfaat.

#Notes

Tulisan ini dimaksudkan hanya untuk berbagi pengetahuan. Saya bukan ahli dalam sejarah, apalagi sejarah Islam. Saya hanya mengagumi cerita dari serial ini, dan ingin sekali berbagi isi cerita kepada semua orang, karena banyak sekali pelajaran yang bisa didapat, nasihat yang bisa membawa kita untuk muhasabah (introspeksi) diri. Sosok Umar ra patut dicontoh bagi setiap makhluk, karena tiap makhluk harus bisa memimpin dirinya sendiri. Saya hanya membuat sinopsis berdasarkan apa yang didapat dari serial ini. Wallahualam bishawaf.

#Source 

mmbc1mbc @ youtube