Quote

Untuk Temanku

Dear you,

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
Karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
Karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali: “jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”. Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja menjadi kepompong dan menyendiri
Berdiri malam-malam, bersujud dalam dalam
Bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
Hingga tiba waktunya menjadi kupu kupu yang terbang menari
Melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

– Salim A. Fillah

Advertisements

Mimpi #14

Dear Good Eaters, 

Kali ini bukan mimpi gw. Tapi mimpi sahabat bokap gw yang MashaAllah mimpinya pas ketiduran di Masjid Nabawi. Allahumma shalli ala Muhammad. 
Jadi sebelum berangkat gw titip pesan ke bapak, “Pak, kalau bisa ada di depan makam Rasul salam untuk Amirul Mukminin Umar ya bilang saya nyusul.” dan kata Bapak, setelah nyampein salam dan ketiduran di Masjid. Hemmm saat itu musim Hajj bapak kloter terakhir dan saat itu cuaca di Saudi lagi panas-panasnya jadi Bapak sering seharian di Masjid belum lagi Masjid sama tempat inap jauh. 

Pas ketiduran Bapak mimpi, gw jalan di depan dia. Karena Bapak jalannya lama, gw megang tangan bapak nuntun dan bilang, “Ayo, Pak.” Dengan wajah yang berseri katanya. 

Aaah setelah dimimpiin pakai gamis putih. Bapak mimpiin gw nya di Masjid Nabawi. Semoga ketika dapat invitation dari Allah kelak ke Masjid itu ibadah Umrah gw dan keluarga lancar. Dan gak mikirin dunia sama sekali mikirinnya cuma semoga nanti bertemu di padang Mahsyar dan di barisan Rasulullah. Aamiin.

Ohya katanya yang seharusnya kita itu berdoa untuk sodara-sodara kita terlebih dahulu. Karena tiap doa yang kita pinta untuk sodara kita tanpa sepengetahuan mereka, dijawab sama malaikat dengan: “aamiin semoga untukmu juga.” Karena hadist tentang mendoakan sodara tersebut dulu para sahabat nabi senang memperbanyak doa untuk sodara-sodaranya. Wehehe so, doain gw ya semoga dipermudah perjalanannya. 

Semangat bersiap!!

Mimpi #13

Dear you,

Suara Ustad Nouman terngiang ditelinga gw, ustad punya ciri dan nada kalau reciting Quran. Di mimpi beliau baca surat Al Insyirah. Gak tau ya maksudnya apa. Surat favorite banyak orang termasuk gw. 

Apa mungkin gw diminta kencengin bersyukurnya? Jadi ingat sama kajian Ustad Salim A Fillah yang sempat gw catat.

Hanya Allah yang tahu maksud dari mimpi kali ini. Semoga yang baik-baik.

#Aliensjournal: Penat dengan Broadcast

Dear you,

Setelah pemberitaan siapa menista apa, lalu siapa dukung siapa, siapa berpihak kemana, muncul pemberitaan tentang bakal kemana negara ini. Ada artikel yang bilang negara ini dijual lah atau negara ini krisis identitas atau pemimpinnya boneka. Whatever. Gak terlalu jadi pikiran walaupun kepikiran juga kalau seandainya semua artikel yang berisikan kekhawatiran itu benar terjadi.

Ditengah postingan itu dan teman-teman segrup berkomentar. Aku malah kepikiran tentang 2 ayat favorite Rasul saat solat rawatib Subuh. Jadi pernah dengar kajian, Rasul suka baca surat Al Kafirun di rakaat pertama dan surat Al Ikhlas di rakaat kedua saat solat rawatib qabliyah Subuh. Ntah kepikiran aja pasti ada kenapanya itu jadi favorite Rasul. Dan setelahnya teman digrup diam gak ada yang komentar lagi. Haha maaf ya jadi pemecah suasana. 

Lalu seminggu setelah pemikiran random gw itu, barusan teman satu grup ngasih link tentang faedahnya 2 surat favorite Rasul itu, Al Ikhlas dan Al Kafirun. Seperti memperjelas kontemplasi yang pernah terlintas di otak. Bahwa, kedua surat tersebut mengajarkan prinsip-prinsip tauhid. Tentang apa saja yang harus kita yakini tentang Allah dan bahwa kita diminta untuk worshiping Him Only not else. Dan kepada siapa kita harus loyal dan nggak. Dengan penutup surat, lakum dinukum waliya deen, untuk mu agamamu dan untukku agamaku. Baca selengkapnya disini.

Bukannya solat itu tujuannya untuk mengingat Allah, Gen? Benar kata gurunda-gurunda kalau mau lebih bermakna solatnya, kita harus paham arti bacaan-bacaan solat. Mungkin surat ini juga surat favorite kalian karena ayatnya sedikit. Ternyata dibalik sedikitnya ayat itu maknanya dalem. Tentang tauhid. Dan tauhid ini yang seharusnya mengakar di diri kita sebagai muslim.

Yuk berfastabiqul khairat.

Wallahualam bishawaf. 

Renungan: Tanda Allah Menelantarkan Kita

Salaam, 

Berawal dari teman yang tiba-tiba tanya di grup, 

Btw btw, sebenarnya boleh gak sih kita kepoin orang? Kayak ‘eh si A jadian ya sama si B. Eh si B kenapa berantem sama si C. Si D abis jalan-jalan keluar negeri ya? Sama pacarnya katanya ya? 

Dan lalu ada yang langsung kasih link kajian ustad Nuzul Dzikri. Yang isinya: 

Hasan Al Basri pernah bilang, salah satu tanda Allah menelantarkan kita yaitu dengan cara membiarkan kita sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Kita sibuk dengan sosmed kita, kita kebangetan update dengan yang gak ada benefitnya untuk kehidupan selanjutnya. 

Didiamkan Allah, dibiarin Allah, dimasa bodoin Allah lebih ngeri dibanding berkesusahan tapi masih bisa dekat dengan Allah masih merasakan indahnya dan tenangnya berbincang dengan Allah disepertiga malam misalnya. Percaya deh. Bukannya kita ini akan dikumpulkan dalam keadaan gelap dan orang-orang yang dimuliakan Allah lah yang memiliki cahayaNya. 

Imam Malik pernah ditanya, umur ente berapa sih? Jawabannya apa coba, ente urus diri ente sendiri gak perlu urusin ane. Nah lho. 

Ustad Nuzul di video ini bilang, kalian ngebahas isu politik, trending topik, status-status yang menggelitik berjam-jam mending belajar ngaji. Iqra. Karena itu urusan kalian sebagai Muslim yang sebenarnya. Makjleb banget gak sih. 

Video kajian singkat itu yang menambah niatan gw untuk mengurangi bermain sosmed. Jadi beberapa pertanyaan teman yang japri gw, 

Genis apa kabar? Kamu sakit? Kok gak keliatan di twitter dan path. 

Genis kamu sibuk apa? Kok aku gak liat tulisan kamu lagi di path.

Jawabannya, gw baik-baik aja kok cuma sedang mengurangi mengurusi hal-hal yang bukan urusan gw. Karena biar diri ini gak kepoan orangnya tapi banyak orang lain yang kepingin dikepoin dengan posting curahan hatinya yang mengundang gw untuk bertanya, posting foto yang mengundang gw untuk komentar yang akhirnya jadi ikut campur. Once you care you’re f*cked katanya, jadi lebih baik mundur. Allah menjadikan gw sebagai Muslim untuk bisa banyak melakukan manfaat bukan hal-hal remeh temeh yang sekedarnya. 

Semoga Allah selalu membimbing kita dan memberikan ilham kepada kita agar senantiasa kita diberi kesempatan untuk selalu berkebaikan. I hope kindness is the next trend :)) selamat berfastabiqul khairat guys. 

Renungan: Jangan Berakhir Seperti Andalus, Berakhirlah Seperti Pembebasan Al Quds

​Salaam,

Ketika dunia telah menampakan arah kepada tanda akhir zaman, maka bergabunglah pada barisan. Simak tulisan ini hey pemuda, bukankah Allah telah memuliakan pemuda lewat kisah pemuda Kahfi dalam Quran. 

JANGAN BERAKHIR SEPERTI ANDALUS, NAMUN BERAKHIRLAH LAKSANA PEMBEBASAN AL QUDS

Janganlah berakhir seperti Andalus; berawal dari kedatangan Ziryab si pemusik yang dipuja-puji pemuda muslim mengganti cinta pada ilmu, memanjakan nafsu memalingkan khusyu.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; yang dimulakan dengan pendidikan Al Quran Madrasah Nizam Al Mulk, menggarap generasi agung nan gagah menderu.

Janganlah berakhir seperti Andalus; ketika mode pakaian jadi bahasan utama setiap kalangan, sedang aurat tak lagi jadi tolak ukur kesopanan.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; ketika kesederhanaan ditempa, anak-anak muda dibina mencinta rasa qanaah, dan menjaga iffah.

Janganlah berakhir seperti Andalus; ketika majelis-majelis ilmu agama ditinggalkan, kafe-kafe untuk mendengar musik semakin ramai.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; ketika masjid kembali pada fungsi hakikatnya, merekatkan umat dan mendidik anak-anak belia.

Janganlah berakhir seperti Andalus; tatkala anak muda menangis di bawah rimbun pohon, resah ditinggal kekasih hati, galau dilamun emosi, retak jiwa disesaki goda syahwati.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; tatkala muda-mudi sedih melihat Al Aqsha ditawan, “bagaimana aku tersenyum jika Al Aqsha terjajah?”, kemudian bertekad untuk melawan.

Jangan berakhir seperti Andalus; ketika para pemimpin sibuk menata istana dan lebih memilih setia pada musuh dibanding membela saudara seaqidahnya.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; ketika para Amir rela meleburkan diri dalam satu gelombang besar, setia pada para pejuang, mencari persamaan dan mengesampingkan perbedaan.

Jangan berakhir seperti Andalus; ketika benteng-benteng bertahta permata dibangun memeras uang rakyatnya, dinar dihimpun dengan jumawa di gudang-gudang terjaga.

Namun berakhirlah laksana pembebasan Al Quds; seperti Shalahuddin yang amatlah sederhana, meninggalkan warisan hanya cukup tuk membeli kafan, menghapus pajak dan hidupkan nilai zakat.

Indonesiaku, moga tak berakhir seperti kehancuran Andalus, ku berdoa dan bertekad mencipta akhir laksana pembebasan Al Quds.

Oleh Edgar Hamas.