#Aliensjournal: Japchae homemade

Dear you,

Alhamdulillah hari minggu ini bisa produktif. Another mission accomplished: buat japchae. Setelah nyokap komentar: kamu mau ke titan lagi? Mending buat dulu itu bihun Koreanya nanti keburu lupa malah expired terus kebuang. Haha namanya juga Genis, randomnya gak kelar-kelar. Gw kepingin buat Oreo pie with kiwi as topping (minggu depan inshaAllah ya ke Titan dulu), tapi kepingin punya wadah pie nya dulu. 😙 banyak kepinginnya terus mesti segera, masih penyakit gw. 

Japchae yang gw buat contekannya dari maangchi, the best banget deh ajuma satu itu kalau urusan masak-masak Korean food. Biarpun pada akhirnya gw subtitute sendiri bahannya karena males alias on budget kalau mesti ngikutin seasli-aslinya yang didapat dari Ranch Market, mihil sis. 

Bahan japchae itu gampang banget. Dan japchae itu mirip bibimbap (nasi campur) cuma yang ini nasinya diganti bihun korea (minsok dangmyeon). 

Bihun Korea didapat dari Mugunghwa Market

Yang wajib kalian harus punya, kecap asin dan minyak wijen. Masakan Korea gak bisa lepas dari dua bumbu ini. Untuk campurannya kalian siapin aja, 

  • bawang bombay dan daun bawang yang sudah ditumis dgn garam. 
  • Jamur merang putih yang dioseng-oseng dgn garam. Begitu juga wartel. 
  • Bayam yang kalian rebus dulu setelahnya ditiriskan lalu dicampur dengan aatu sendok teh minyak wijen dan kecap asin. Kalau gw, gw ganti dengan pokchay karena gw lebih suka sayuran ini. Suka bangettt.

Rebus bihun Korea

Rebus bihun koreanya, rebus gitu aja nggak perlu dicampur minyak atau garam seperti buat spaghetti. Setelah sudah dirasa chewy, sekitar 7-10 menit tiriskan. Lalu campur semua bahan sebelumnya, wortel dan kawan-kawan itu. 

Ohiya, Supaya lebih kenyang, siapkan daging sapi sebelum memulai acara masak-masak ini. Haha lupa. Kalau gw, gw ganti dengan daging ayam fillet. Campur daging dengan satu sendok teh minyak wijen dan kecap asin. Chopping bawang putih diaduk dulu baru simpan di kulkas.gw juga nyiapin telur sebelumnya, ajuma sih nyaranin egg yolk (kuning telur) aja, tapi karena takut putihnya mubazir jadi gw masak aja semua, didadar deh. 

Campur semua bahan. Diaduk pakai tangan lebih taste good. 😅

Ready semua bahan? Masukan ke dalam wadah, campur-campur semuanya. Jangan lupa ditambah satu sendok kecap asin, minyak wijen dan gula pasir (better pakai brown sugar). Ditambah bawang putih yang sudah diiris kecil-kecil tapi sebelumnya dikeprek dulu ya biar lbh tasty. Tambah juga merica bubuk. Dan biji wijen. Nah pelajarannya, better biji wijen disangrai dulu supaya lebih berasa, tadi gw main tumpahin aja ke wadah. Hehe.

Dan chachaaan! Siap disajikan deh. Rasanya itu manis-manis minyak wijen. Gw yang hobi mewijen-wijenkan makanan, sukaaaak banget Japchae ini. 😜 dihidangkan dengan sepiring kecil kimchi lebih kerasa Koreanya.

Japchae dan Kimchi yang (inshaAllah) dijamin halal.

Jalmeogesseumnida!! 🍝

Advertisements

[Cerpen] KA 138: Orang-orang Akan Saling Meninggalkan #kelasmenulis @fiksimini

“Hong, hong!” dengan kecepatan standar, 60 km/jam, KA 640 melaju yang seolah-olah menyapa dari arah berlawanan. Nggak pernah banyak hal yang kami utarakan ketika berpapasan, terkadang hanya sapaan ‘hai’, ‘selamat pagi/siang/malam’, atau selayaknya manusia menyapa kawannya dengan ‘bro/sist’. Pernah kami saling mengabarkan rel yang anjlok di dua stasiun berikutnya dengan hong yang agak panjang. Mungkin manusia berpikir bunyi klakson kereta hanya penanda masinis menyapa masinis lain dalam kereta yang berlawanan arah, padahal sebenarnya kami pun dapat saling menyapa.

Aku, KA 138 dengan jadwal melaju dari stasiun Depok dan berakhir di stasiun Duri, sudah 3 tahun mengabdi di Indonesia. Sebelumnya aku bekerja di Stasiun Kami-Shirataki, Hokaiddo dengan berpenumpang satu orang selama 4,5 tahun. Dulu aku merasa sangat nyaman, bekerja hanya dua kali sehari di jam-jam tertentu. Penumpangnya pun hanya seorang gadis berseragam yang biasanya duduk tenang sambil membaca buku. 

Aku terpilih menjadi kereta yang dipercaya untuk mengantarkan anak itu, selain memang aku masih mampu berjalan cukup jauh dari desa menuju kota, aku juga memiliki keterikatan dengan anak itu. Aku suka dengan wangi sabun yang dipakainya, aromanya membuatku melambung ke kebun tulip. Belum lagi anak itu suka membaca buku yang isinya sangat menarik, segala sesuatu tentang hewan. Aku belum pernah bertemu banyak hewan selain burung yang suka hinggap di atas punggungku ketika aku istirahat tidur siang. 

Pada hari terakhir perjumpaan kami pertama kalinya aku mendengar suara gadis itu. Selama ini kami berteman dalam diam. Namanya Erika, ternyata. Dia diberi kesempatan oleh masinis untuk berdiri di belakang stir kereta. Matanya berbinar senang, “terima kasih telah menjemput dan mengantarku ke sekolah selama ini, Pak. Aku nyaman bersama kereta yang Bapak bawa. Aku akan sangat merindukan momen duduk membaca buku di dalam kereta, mendengar bunyi hong sebelum kereta berhenti di hadapanku, dan saat kereta ini dengan sigap menungguku di stasiun dekat sekolah.” Mata Erika menyorotkan kebanggaan dan rasa senang, sedang aku hampir-hampir menangis, belum lagi sore itu gerimis tipis turun dari langit Kota Hokaiddo. Aku pikir Erika akan bertanya, ‘lalu akan dibawa kemana kereta ini?’ setidaknya begitu atau ‘apa kereta ini akan digudangkan?’. Aku ingin Erika lebih menunjukkan penasarannya tentang nasibku nanti. Atau lebih banyak menyinggung tentang memori-memori kebersamaan dia denganku saat perjalanan ke dan dari sekolah. Ternyata tidak ada kata lain lagi, hanya senyum senang dan pelukan yang dia berikan untuk orang-orang yang terlibat dalam proyek pengoperasian kereta stasiun Kami-Shirataki. Aku sedikit kecewa dengan harapan yang tidak sesuai ekspektasi. Aku ingat betul, malam setelahnya aku merasa terpukul. Aku terus memikirkan bahwa aku akan keluar dari rutinitas. Entah apa yang akan menyambutku hari berikutnya. Apakah aku akan berjumpa dengan orang-orang seperti Erika yang tenang, atau yang tidak peduli dengan sekitar dan berbuat kerusakan. 

Aku sempat didiamkan di gudang selama beberapa bulan. Saat itu, aku merasa hancur, aku selalu membayangkan kejadian dan menggambarkan memori ketika bekerja mengantar jemput Erika. Pada awalnya Erika yang meninggalkan aku, sekolahnya telah selesai, selesai juga tugasku untuk menemaninya. Dia pun sudah menetap di kota. Lalu pada akhirnya aku juga yang meninggalkan Erika. Dari Jepang, aku dikapalkan ke Indonesia. Dan, pada akhirnya, kita memang harus saling meninggalkan. Kekosongan pikiranku diisi dengan hal lain, di satu sisi aku merasa penasaran dengan kejadian-kejadian yang akan aku hadapi di Indonesia di sisi lain aku masih belum mau lepas dari kenyamanan mengabdi di Jepang. 

Di Jepang, sudah ada lebih banyak kereta yang memiliki standar internasional. Indonesia butuh kereta yang menunjang pengoperasian waktu penuh dengan kualitas masih di atas standar tapi dengan harga dan biaya pemeliharaan yang ekonomis. Biarpun aku ini disebut kereta bekas di Indonesia, tapi aku tak pernah bekerja setengah-setengah. Itulah kenapa aku yang dipilih pemerintah untuk bekerja di Indonesia.

***

Sabtu memang lebih enak kumpul bersama teman, nge-mall, bangun siang, main bareng kucing kesayangan, dan ngerecokin mama di dapur saat orderan brownies kukusnya menggunung. Tapi buat aku yang masih harus berjuang demi masuk ke tim PON XIX, Sabtu jadi harinya aku pergi pagi pulang sore ke GOR Senayan untuk latihan memanah. Untungnya kereta Sabtu pagi tidak sepadat kereta Senin-Jumat pagi.

“Aduh, finger tab gue ketinggalan,” sambil merogoh tas punggung, aku panik. “Aduh, kalau balik ke rumah gue bakal diomelin Mas Danang lagi karena telat,” kali ini aku mengeluarkan semua isi tas dan meletakkan semua barang di atas kursi peron. 

Sampai akhirnya ada tangan yang menghalangi penglihatanku, “makanya kalau lupa jangan dipelihara.” Iban berdiri di sebelahku sambil tersenyum manis. Laki-laki ini selalu menjadi pahlawan kesianganku yang selalu kepagian, karena sering muncul di saat aku butuh. 

“Kok bisa di elo, Ban?” aku meraih finger tab itu dari tangannya. 

“Gue mau ikut elo latihan. Jadi tadi ceritanya mau jemput elo ke rumah, eh elonya udah berangkat. Untung Kak Angel ngeliat finger tab elo itu di atas meja makan.” Aku menyengir. 

“Hari ini hari penentuan kan?” tambahnya. Lagi, laki-laki ini membuatku kesetanan, setidaknya kesetanan di dalam pikiran. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami berjalan menuju altar, kita menikah. Oh my God. Tidak-tidak, dia sahabatku tidak lebih dari itu, lagi pula dia lebih muda dua tahun dariku. Jangan mimpi kamu, Bel. Beginilah aku kalau sedang kesetanan. 

Kami menaiki kereta menuju Sudirman, aku akan berlatih memanah di GOR Senayan. Kereta ini juga yang biasa aku naiki setiap hari mengantarku ke kampus. Aku bisa mengenalinya dari tempelan di dekat pintu dua gerbong tiga. Disitu ada tempelan yang bertuliskan huruf Kanji, aku kurang paham tentang perkanjian, itu kata kak Angel yang mendalami Bahasa Jepang. 

***

“Kok senyam-senyum Ngel?” kataku saat pertama kali naik kereta pada hari pertama kuliah. 

“Tempelan itu,” mengisyaratkan aku untuk melihat ke arah tempelan dengan matanya. 

“Artinya apa?” mau seberapa lama aku pandangpun aku nggak mengerti.

“Tetaplah menjadi hebat. Erika.” Aku ingat itu yang dikatakan kak Angel, percaya atau tidak perkataannya, aku harus percaya, kak Angel sudah sering diminta menjadi LO orang-orang Jepang di acara bertaraf internasional. 

***

Jadi setiap aku menaiki kereta di gerbong tiga dan melihat tulisan itu, seketika aku melengkungkan senyum, seolah kereta ini memberiku sapaan dengan kata indah itu, ‘hey, tetaplah menjadi hebat, Bel.’ 

Aku sampai di lapangan tepat waktu, Mas Danang malah yang kesiangan. Mas Danang itu seniorku, paling keras dan sedikit angkuh setidaknya hanya kepadaku. Dia bisa bersikap manis ke siapapun kecuali aku. Tapi peduli apa, aku punya Iban. Aku menoleh ke arah Iban setiap kali berhasil menembakan anak panah tepat mengenai target dan mendapat poin 10. Senyumnya menyejukan hati. Sepersekian detik aku bisa membayangkan kami pergi berlibur ke Bali. Begitulah setiap melihat senyum Iban, lagi-lagi aku kesetanan. Terima kasih Iban, adanya kamu, aku sudah bisa mencium wangi lapangan PON XIX di Gelora Sabilulungan Jalak Harupat, Bandung.

Latihan terakhir menuju perhelatan PON XIX sungguh membuat tanganku hampir mau copot, tapi nggak perlu khawatir aku sudah latihan intensif dari 6 bulan sebelumnya, sudah terbiasa. Di akhir latihan, Pak Rointo mengumumkan siapa saja yang berhak mewakili Jakarta untuk PON XIX, salah satunya aku. Aku senang bukan main biarpun Mas Danang tetap dengan tampang angkuhnya memberikanku selamat. Iban? Jangan ditanya, dia memeluk ku dari samping, katanya, “Katnis Everdeen-nya siapa dulu.” Iban sangat menyukai gayaku saat memanah, katanya. Alasannya karena kharismaku bisa terlihat mirip seperti tokoh Katnis Everdeen dalam film Hunger Games.

Diperjalanan pulang, aku kembali menaiki kereta yang sama. Iban nggak habis-habisnya membahas permainan ku hari ini. Pujiannya menerbangkan aku ke mimpi-mimpi bersamanya. Aku nggak perlu menggambarkan kesetanan apalagi yang terlihat di pikirnku kan? Cukup, semuanya hal yang memalukan. Sampai akhirnya Iban mengeluarkan amplop putih dan memintaku membaca suratnya. Sesaat aku lihat wajah Iban berbinar, “surat apa ini?” 

“Baca aja. Kebahagian berpihak ke kita, Bel.”

“Ini untuk elo? Australia? Kapan?”

Iban mengangguk senang. Surat itu undangan dari prodi untuk Iban yang berhasil mendapat kesempatan belajar di Universitas Melbourne, menyukseskan mimpinya yang ingin punya double degree. Iban kuliah arsitek di kelas internasional jadi memang di tahun ketiga akan berkesempatan untuk melanjutkan ke universitas di luar negeri. Tapi, kenapa datangnya berita ini di saat yang sama ketika aku sedang berada di titik membutuhkan dia untuk menjadi energiku? Kenapa?

“Berapa tahun, Ban?”

“Dua tahun aja, gue nggak mau lama-lama. Gue nggak tahu bisa bertahan lama atau nggak tanpa bisa melihat sahabat istimewa gue ini.”

Ah rasanya, aku ingin menyumpalkan kaos kaki ke mulutnya, supaya dia berhenti menyanjungku. Ini adalah hari yang mungkin akan menjadi hari terakhir aku bersamanya. “Sayangnya, gue harus pergi pas elo lagi sibuk-sibuknya di Bandung.”

Iya, aku tahu. Di surat ini tertulis tanggal 18 September 2016, hari pertama pertandingan panahan. Iban merogoh tas selempangnya. Apa lagi yang akan diperlihatkan padaku, cukup ini sudah membuat hatiku rontok. Aku tahu memanah juga mimpiku, tapi Iban juga menjadi mimpi di tidur siangku yang sayang untuk dilewatkan. “Gue punya ini, kita tempel di bawah tempelan itu ya,” Iban melepaskan double tip yang tertempel di bagian bawah kertas itu dan menempelkannya tepat di bawah tempelan ‘Tetaplah mejadi hebat. Erika.’ itu. 

‘Tetaplah menjadi hebat, Bella.’

Iban memintaku untuk mengambil gambar saat dia sedang menempelkan kertas itu. “Kalau elo berangkat dan pulang kampus melihat ini, elo akan bisa ingat gue, Bel.” Ya Tuhan, ini seperti sedang asik-asiknya terbang, gaya grafitasi lebih hebat dari kekuatan terbangku, jadinya aku ambruk menghantam tanah. Ibaaaaan.

***

Erika sudah hampir aku lupakan, sampai akhirnya muncul kembali ketika ada dua perempuan muda menyebut namanya. Di gerbong sebelah mana asal suara itu, tubuhku tetap melaju tapi pikiranku berpaling kebelakang, mencari-cari di tiap gerbong. Di gerbong tiga aku temukan maksud dua anak itu menyebutkan nama yang pernah menjadi kekuatanku. Erika boleh saja meninggalkanku dan aku pun pergi menjauh dari kehidupannya tetapi kata-katanya nggak akan aku lupa. 

Ada tempelan bertuliskan tulisan kanji.

素晴らしいのままです.

エリカ

Orang-orang Jepang membaca tulisan kanji itu dengan subarashī no mamadesu. Dan di bawahnya ada tulisan tangan yang tertulis nama ‘Erika’, pasti Erika yang menuliskannya. Dalam Bahasa Indonesia kalimat itu berarti tetaplah menjadi hebat.

Waktu menyembuhkan. Aku bekerja semakin rajin setelah tahu bahwa Erika menempelkan kata-kata penyemangat itu. Aku pun terbiasa dengan orang-orang yang berjubal di tiap peron setiap harinya. Beban yang aku bawa awalnya sering membuatku mengeluh, sering aku merindukan Jepang yang nyaman dan tentram. Biarpun dipaksa bekerja penuh waktu di Jakarta, aku mendapatkan banyak pengalaman yang sulit untuk dilupakan. Orang-orang yang naik pun bermacam-macam. Kalau sedang bosan, biasanya aku mengintip kegiatan mereka, kebanyakan dari mereka senang menyibukan diri dengan ponselnya. 

Aku menemukan banyak peristiwa, ternyata manusia hidup dalam keadaan yang kompleks, tidak sedikit dari mereka sebenarnya mengalami peristiwa pahit tapi raut wajah mereka begitu tegar, seperti nggak terjadi apa-apa. Aku bukan cenayang, aku tidak bisa mengetahui isi hati mereka. Tapi aku bisa mengintip dan mencuri dengar setiap obrolan mereka lewat ponsel atau dengan penumpang di sebelahnya. Tidak beda dengan aku yang disebut benda mati oleh mereka, padahal kitapun sama, bisa memiliki perasaan dengan tampilan yang bisa membohongi.

Aku berterima kasih dengan dua perempuan muda yang aku ketahui namanya Angel dan Bella. Bella sering aku temukan berdiri di dekat tulisan yang ditempelkan Erika, dan tersenyum menatap tulisan itu. Bella menemani perjalananku, paling tidak sehari sekali. Biasanya aku mengantarkannya ke stasiun dekat kampus. Tidak ada Erika, aku  mendapatkan energi dari dirinya. Akhirnya aku tahu dia mahasiswa yang juga atlet panahan. Anak yang terlihat lebih aktif dari pada Erikaku. Dan anak yang memiliki banyak teman.

Malam ini, aku lihat dia menyembunyikan kesedihan. Aku melihat raut wajahnya yang berubah setelah membaca kertas entah apa isinya. Aku juga melihat tangan kirinya mengepal hebat. Ada perasaan yang dia tahan. Pemuda yang berdiri di sebelahnya menempelkan sesuatu di dekat tempelan milik Erika. 

Oh, ternyata itu kalimat yang sama, hanya saja dibahasa Indonesia kan. Dan oh, pemuda itu akan meninggalkan Bella. Oh, pemuda itu memiliki hubungan yang spesial dengannya. Oh, pemuda itu ingin meninggalkan kata-kata penyemangat sebelum nggak lagi bersamanya, sama seperti Erika kepadaku. 

Ingin rasanya aku memberitahu Bella bahwa hal yang biasa jika orang-orang yang kita sayang akhirnya meninggalkan kita. Ingin rasanya aku bilang, biarkan mereka meraih mimpinya, sama seperti mereka membiarkan mu meraih mimpimu hingga tinggi melangit. Orang-orang yang pernah berarti di hidupmu akan tetap berarti bagi hidupmu. Setidaknya mereka pernah bersikap begitu.

Ingin aku bilang tapi aku ini siapa. Pastilah Bella tidak akan pernah memahami bunyian hong-ku, atau hembusan mesin pendingin ruangan yang aku arahkan selalu ke tubuhnya agar hatinya yang mendidih sedikit adem. Tapi ucapanku sudah terwakili oleh tempelan yang ditempel Erika, ‘Tetaplah mejadi hebat.’

#Aliensjournal: Kumpulan Pikiran

​Caranya kamu menyayangiku sblm kita mnjadi halal itu kamu bertumbuh mnjadi lbh takwa, berbuat baik dgn niat yg baik.

Ust nuzul dzikri: 2poin pnting memilih pasangan itu qt suka 1.agamanya 2.karakteristiknya. 

Ust khalid basalamah: carilah yg mmbuat tentram

Personality over everything.

Cari yg kelakuannya baguer dr sblm nikah, gak suka hore2, pembelajar, gak main2 sm cewe/cowo, gak boong.

Karena karakteristik dan kebiasaan saat sblm nikah itu berulang ketika setelah nikah. Maka istikharahlah sungguh2 ktika mnentukan. :))

Biarlah Allah yg membimbing. Gak ada yg trlambat utk berubah baik. Jk nikah adlh prioritasmu, lakukanlah prbaikan. Saat sendiri/bersama2.

Ingat ktika ada org yg mnyakitimu/km merasa trsakiti dgn kata2&kelakuannya, fixed itu brsumber dr dirimu sendiri dr dosamu sendiri…

I got one lesson frm my bestie: dont be in hurry coz everything takes time. 

I jst want to be w you in jannah, Rasulullah.

Sorry, ive wronged myself. With my ettitude and words, my bad ideas and thought. Indeed, my worst enemy is my own self. #Astaghfirullah

Sejatinya perubahan itu apa2 yang menuju kebaikan.

Kenali dirimu, cari itu pada Sumbernya. Perbaiki relationship dgn Tuhan br temukan aku.

Dan aku jg berusaha utk begitu. Im not pious cuma kpingin nerapin kt papanya tmn, ‘berkah itu dr nikmat yg direm.’

Nikmat identik dgn nafsu

Meracau pagi kali ini, fixed dosanya banyak. Makanya hatinya gelisah. Serba salah.

Im currently reading Modern Romance by Aziz Ansari. I learned, texting can make you addict to be fake. You will hv two characters.

Jgn heran apa yg kalian muliakan itu yg akan diuji. Ustad Salim bilang hal itu terjadi karena Allah Maha Pecemburu.

When you already found someone who can make u at ease. Hold on. Find Allah with istikharah. Ask Him to be able to read the sign.

In Surah Arrum: marriage is to provide you peace. So choosing the right one, one you like in character, deen and appearance. InshaAllah.

Tentukan prioritas. Selamat bertumbuh!

Semoga kita bertemu dengan hati-hati yang tulus. Bukan yg dusta. Dan orang-orang yang berhati-hati bukan yang lupa. #selftalking

Gen gini: Aku tenang krn apa yg bukan jd takdirku dia akan hilang, apa yg menjadi takdirku dia akan tinggal. 

– Amirul Mukminin Umar

Nikahilah laki-laki yg mau menerima nasihat. Kata seseorang. 

Krn jk hatinya keras mnerima perbaikan maka tak dpt dperbaiki. Nauzubillah.

I summarize what i learned.:)) jgn terlalu dipikirkan racauannya. Murni untuk diri sendiri. 

Buat Apa Berharap

Katanya orang hidup karena harapannya, tanpa harapan sia-sia saja semua yang dia kerjakan. Tak ada tujuan.

Lalu bagaimana dengan harapan yang gagal direalisasikan yang gagal didapatkan. Apa lantas harus sok kuat dengan menyusun lagi bata demi bata hingga harapan meninggi lagi. Apa lantas mengubur dalam-dalam harapan itu hingga tak perlu dilanjutkan perjuangannya.

Lelah setelah berletih harapan tetap melesat. Eh nggak boleh pesimis katanya. Yang perlu dibenahi itu bukan harapannya terlalu tinggi atau terkuburnya harapan karena takdir tapi kepada siapa harapan itu kita gantung tinggi. Bukan malah menghujat takdir bahwa hidup ini tak selalu tentang tepat menyusun harapan. Tapi tepat menggantungkan harapan. 

– GK

Rasa Cuma Hanya

Dear you,

Terjadi sekali lagi. Dan berharap ini yang terakhir. Melakukan usaha tapi dinilai sekedar dan ‘cuma’, gak ada salahnya untuk mundur. Bukan berarti menyerah, terkadang kita butuh membiarkan yang bukan saatnya pergi mencari tujuannya sendiri. Simpelnya, hal itu bukan yang baik untuk kita saat itu.
Lagi pula kita perlu menghargai perasaan kita sendiri. Terlalu banyak memberi mungkin membuat orang yang menerima bosan. Terlalu banyak memberi membuat orang yang menerima merasa lemah diri. Terlalu banyak memberi membuat orang yang menerima tak tahu siapa diri mereka karena terlalu asik dengan pemberian kita.
Aku belajar disini, lebih baik diam. Lebih baik jadi diri sendiri. Satu lagi, jangan percaya pada apa yang kamu pikirkan. Merasa hanya merasa. Suka hanya suka. Senang hanya senang. Dan enyahlah semua perasaan. Jangan mengandalkan rasa, rasa cuma hanya. Tapi andalkan takdir.
Kalau begini baiknya balik lagi ke halaman awal, buat siapa buku kehidupanmu dituliskan.

Alien’s Journal: Home

Dear you,

Ada dua scene yang terlintas dipikiranku. Yang pertama scene kita yang sekarang:
Kamu sibuk dengan urusanmu, bersiap-siap untuk berangkat. Kala itu masih pagi, aku terduduk di kursi goyang, santai. Satu dua halaman majalah kubuka dan kubaca. Terkadang kalau bosan ku lanjutkan dengan novel yang belum selesai ku baca, bermain dengan imajinasi. Kamu. Tetap tergesa-gesa dengan tujuan mu yang aku tak tahu pasti apa itu. Setelah keluar kamar mandi, kau kembali ke kamar, berpakaian, pergi ke meja kerja merapikan laptop, buku-buku sisa pekerjaan mu semalam. Keluar kamar, sudah ada sarapan yang ku buat khusus untuk mu, tanpa basa-basi kau lahap habis sambil berdiri. Lalu berlari kecil terburu-buru ke luar rumah. Kupikir karena kau lupa menegurku yang masih asik bersantai di kursi goyang, kau kembali masuk ke rumah. Ternyata, kau lupa mengambil kaos kaki. Dan sekarang kau hanya pamit sekedarnya, bukan pamit menatap mataku tapi seperti berbicara pada rumah saja, “aku berangkat.” Dan aku tetap bersantai di atas kursi goyang.

Yang kedua ini scene harapanku. Ntah siapa yang akan memerankannya. Aku dan kamu atau aku dan yang lain. Tapi yang jelas ini bukan tentang kita, ini hanya harapanku. Aku lelah mencari. Aku lelah terburu-buru. Aku lelah mengatur hati. Aku ingin ditemukan, aku ingin dijadikan yang spesial. Toh aku bisa menyiapkan hal lebih untuknya jika kelak dia datang. Aku dan diriku, semua ada untuknya.
Kali ini malam hari, sudah ku siapkan juga air hangat untuknya mandi. Teh manis hangat di atas meja makan juga siap untuk dia sruput menghilangkan penat Ibu Kota. Menunggunya lagi-lagi aku asik diatas kursi goyang, dengan buku yang belum selesai aku baca. Dengan sejuta pikiranku tentang dunia yang banyak belum aku tahu. Dia datang, mengetuk pintu. Kewajibanku memang menunggu, mempersilahkannya masuk. Biarpun yang aku lihat dia yang lagi tak sesiap pagi hari, tak sewangi pagi tadi, mata peluh dan matanya berbilang “cukup panjang dan lelah hari ini, sayang,” tapi senyumnya menyejukan ku. Membuatku hanya ingin dia yang seperti itu. Belum lagi dia berkata sambil memelukku, “kamu adalah rumahku.”

Walaupun sebagian orang menjadi diri mereka di sosial media tapi kita tidak bisa menilai kalau diri mereka juga begitu. Kita berteman dgn dirinya bukan sosmednya. Buang perasaan suka karena statusnya. Yang kita nilai itu pembawaannya, sikapnya, tutur katanya, senyumnya untuk kita. Karena kelak rumah tangga tidak butuh sosmed tapi kebersamaan dan interaksi dengan tetangga. #acatinmyeyes #selftalking #utakatik maaf atas kerandoman yang berulang.

View on Path