Matahari terbit vs. Matahari terbenam

Dear you,

Dalam perjalanan beberapa hari ini, aku menemukan satu kata yang bisa membuat pikiran ini melayang dengan angan-angan yg paling tinggi, lalu berakhir tersungkur lama dalam sujud. Cahaya.
Aku baru sadar mengapa aku lebih menyukai matahari terbit dibanding matahari terbenam. Dan mengapa Pangeran Cilik berkata, “jika aku melihat matahari terbenam berarti aku sedang bersedih.” Ternyata jawabannya adalah sifat dari matahari terbit lebih gentle dibanding matahari terbenam, biarpun aku tahu keduanya ciptaan Tuhan, keduanya kuasa Tuhan. Tapi kita sebagai manusia diciptakan untuk berpikir lalu menentukan pilihan. Apa yang menjadi kebiasaan itulah yg akan menggambarkan siapa diri kita.

Matahari terbenam ditunggu, kita berharap padanya memberikan warna indah ternyata setelahnya MENGHILANG. Matahari terbit ditunggu, disaat2 fajar-waktu yang diberkati-dengan warna yang sungguh menawan semburat oranye bergabung dengan pantulan hijau dan biru yang bisa terlihat ungu, harapannya sesuai espektasi lalu muncul menguning, sebagai gentleman yang MENEMANI melakukan banyak aktifitas untuk mewujudkan setiap harapan. 

Aku pernah kecewa dgn senja, ditunggu disatu tempat ternyata terbenamnya ditempat lain. Dan tak pernah dikecewakan fajar, ketika menunggu cahayanya bisa meluas dan meluas sehingga dimanapun aku berdiri aku bisa merasakan keberadaannya.

Ah aku baru tahu, setiap apa-apa ada ceritanya. Makanya mengapa banyak cerita bertemakan senja yang begitu sendu. Kita biarkan senja pergi dan beralih ke fajar, bagaimana?

[Bicara Buku] Le Petit Prince by Antoine De Saint-Exupery

​Judul: Le Petit Prince
Penulis: Antoine De Saint-Exupery

Alih bahasa: Henri Chambert-Loir

Penerbit: Gramedia

Tahun: 2011

120hlm; 20cm

ISBN: 978-602-03-2341-1
“It’s only with heart,” as the prince said, “that one can see rightly.” 

Buku ini bercerita tentang perjalanan seorang pilot yang terdampar di Gurun Sahara. Cerita diawali dengan perkenalan dirinya tentang latar belakangnya, bilamana orang-orang dewasa tidak komentar mencibir tentang gambar yang dia buat yaitu ular sanca memakan gajah yang malah diartikan topi ala kadarnya mungkin dia sekarang telah menjadi seorang pelukis, tapi mimpi menjadi pelukis kandas di lukisan pertamanya itu.

Dalam buku ini penulis mencoba untuk menghadirkan imajinasi anak kecil di pikiran orang dewasa, maka tidak heran penggemar buku ini malah kebanyakan adalah orang-orang dewasa. 

Tokoh utama buku ini sebenarnya adalah Pangeran Cilik, karena sebagian besar menceritakan tentang hidup Pangeran Cilik yang diinterpretasikan si Pilot dengan gambar-gambar buatannya.

Pilot bertemu Pangeran Cilik di Gurun itu saat dia terdampar. Awalnya heran dia bertemu anak kecil tanpa dandanan kusut dan kehausan di tengah gurun yang tak ada apa-apa. Mereka berkenalan dan makin akrab ketika Pangeran Cilik meminta Pilot utk digambarkan seekor domba. Dari situ mereka saling mendengarkan cerita, lebih tepatnya Pangeran Cilik yang bercerita/bertanya dan Pilot yang menanggapi. Karena Pilot memiliki sisi anak-anak, dia tidak pernah merasa aneh dan heran dengan keberadaan dan cerita Pangeran Cilik, dia sangat percaya dengan semua yang diutarakan Pangeran Cilik. Yaitu tentang planet yang ditinggalinya, tanaman yang dijaganya, bintang-bintang lain yang dihuni makhluk-makhluk lain. 

Buku ini sangat memberikan pandangan tentang sungguh imajinatif dan cerdasnya isi pikiran seorang anak. Berbeda halnya dengan isi pikiran seorang dewasa yang sangat membosankan. Orang dewasa paling senang menggunakan kata sibuk atau serius dan itu menjemukan. Bahkan bisa jadi orang dewasa tidak dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian, mereka hanya pasrah dengan rutinitas. Orang dewasa bisa jadi tidak pernah benar-benar merasa jatuh cinta hanya menjalani rutin dan tugas.

Perjalanan yang dilalui pangeran cilik sebelum bertemu dengan si Pilot sungguh beragam dan membawanya memaknai arti seseorang yang dia cintai, dia mencintai bunga mawar yang dia rawat yang ditinggalkan di planet kecilnya seorang diri. Dimana dia semakin yakin bahwa sesuatu yang disitu dia menaruh perhatian dan waktu itu adalah sesuatu yang sangat spesial. Diperjalanannya yang paling saya suka ketika bertemu dengan rubah, disitu rubah menggunakan kata jinak untuk hubungan pertalian, dan berkata, “jika kau menjinakan seseorang (membuat dirinya dan dirimu saling membutuhkan) maka disitulah tanggung jawabmu atas seseorang tersebut.” Dan Pangeran Cilik diberikan rahasia yang bisa membuatku tersenyum, ‘Sangat sederhana: hanya lewat hati kita melihat dengan baik. Yang terpenting tidak tampak di mata.’

Buku ini sangat legendaris, ditulis oleh penulis yang seorang pilot. Tapi baru saya baca belakangan karena sebelumnya hanya asal dengar tentang Le Petit Prince, mau membelinya ketika buku ini dijadikan film dan filmnya cukup memuaskan, benar-benar menceritakan bahwa tiap kita itu butuh teman yang bisa saling mendengarkan bukan hanya saling mengerti. Sangat menginspirasi. :)) #Carpelibrum

Buat Apa Berharap

Katanya orang hidup karena harapannya, tanpa harapan sia-sia saja semua yang dia kerjakan. Tak ada tujuan.

Lalu bagaimana dengan harapan yang gagal direalisasikan yang gagal didapatkan. Apa lantas harus sok kuat dengan menyusun lagi bata demi bata hingga harapan meninggi lagi. Apa lantas mengubur dalam-dalam harapan itu hingga tak perlu dilanjutkan perjuangannya.

Lelah setelah berletih harapan tetap melesat. Eh nggak boleh pesimis katanya. Yang perlu dibenahi itu bukan harapannya terlalu tinggi atau terkuburnya harapan karena takdir tapi kepada siapa harapan itu kita gantung tinggi. Bukan malah menghujat takdir bahwa hidup ini tak selalu tentang tepat menyusun harapan. Tapi tepat menggantungkan harapan. 

– GK