Hadiah Pernikahan: Nasihat

Menikah Bahagia

*****

Tentang pernikahan, Allah bilang waja’ala baynakum mawaddatan wa rohmah (QS Ar-Rum, 30:21). Kata-kata yang indah sekali. Kamu bisa terapkan kata-kata ini di sepanjang kehidupan pernikahanmu. Allah menempatkan diantaramu, antara suami-istri, cinta (mawaddah) dan kemurahan hati (rohmah).

Di awal-awal pernikahan, biasanya kamu bergairah. Kamu terobsesi sama istrimu. Kamu tidak bisa memikirkan hal yang lain. Temanmu menelponmu, suara temanmu langsung masuk ke kotak suara (voice mail). Benar kan? Karena kamu baru saja menikah. Selama enam bulan lamanya, kamu tidak terlihat (out of sight). Tak ada seorang pun yang melihatmu.

Kemudian ketika pernikahan berjalan semakin jauh, apa yang membuat pernikahan tetap menyala? Karena kini berbagai tanggungjawab bermunculan. Ada anak-anak, ada pekerjaan di kantor, ada keluargamu yang baru. Apa yang membuat pernikahanmu bertahan? Kemurahan hatimu. Kebaikan diantara kamu.

*****

Ada seseorang yang mendatangi Umar dan dia bilang, dia ingin menceraikan istrinya. Umar bertanya, kenapa kamu mau menceraikan istrimu? Dijawab, “karena aku tidak mencintainya lagi. Aku ga tertarik lagi sama dia.” Maka Umar bertanya, bagaimana dengan kebaikan hati (courtesy)? Apakah istrimu tidak peduli dengan anakmu? Apakah tidak ada kebaikan dari istri kamu sama sekali?

Laki-laki beriman yang pintar menjaga pandangannya, mengendalikan godaan-godaan yang melintas di depannya, dan dia baik banget sama istrinya, maka dia akan memiliki kehidupan pernikahan yang sangat memuaskan.

Sementara itu, wanita yang beriman harus memahami ini: bahwa sisi terlemah laki-laki adalah soal wanita. Seorang laki-laki, tidak peduli dia kaya atau miskin, sehat atau sakit, gendut atau langsing, tinggi atau pendek, apapun bahasanya, apapun budayanya, semua laki-laki itu kelemahannya sama: wanita.

Tapi wanita biasanya tidak sadar atau lupa tentang fakta dari kelemahan laki-laki ini. Wanita tidak menyadari betapa buruknya titik lemah ini.

Ketika ayat “tundukkan pandanganmu” (lower your gaze)_dibacakan kepada seorang laki-laki, dia bilang, “Oke, aku bisa melakukannya”. Semua orang punya mata, punya retina, sehingga dia berpikir apa susahnya. Dia sepertinya menganggap enteng urusan ini. Laki-laki ini belum sadar betul kekuatan ayat ini. Betapa kuatnya, sehingga di ayat yang lain, zuyyina linnaasi hubbusy-syahawaati minannisaa-i, Allah menempatkannya di urutan pertama dari daftar hal-hal yang dijadikan indah dalam pandangan manusia.

Fitnah terbesar yang Rasulullah takutkan pada umatnya yang laki-laki: wanita juga. Makin membuka mata kita bahwa ini adalah masalah yang serius.

Jika seorang istri sadar betul akan hal ini, alih-alih menyalahkan atau bahkan mengutuk suaminya, “Kenapa kamu begitu lemah??!!” “Bisa-bisanya kamu ga mengendalikan kedua matamu??!!” sebaiknya seorang istri menerima bahwa hal itu memang diciptakan oleh Allah subhanahu wata’ala. Di sini lah peran seorang istri, untuk mendukung suaminya, supaya menjadi kuat. Dan istri bisa melakukan itu, menyingkirkan godaan wanita itu, bukan dengan menguliahi suaminya.

Perlu dipahami oleh seorang istri. Suaminya ke kantor, suaminya berada di tempat umum, ada wanita yang pakaiannya minim, tersenyum ke semua orang. Ada wanita yang merasa dihargai bukan karena intelektualitasnya, bukan karena pemikirannya, bukan atas dasar shalihah tidaknya, tapi atas dasar sesuatu yang seharusnya malu untuk dipertontonkan dari tubuhnya. Sehingga wanita itu pun berpakaian yang sebenarnya kurang pantas tapi dalam benaknya berpakaian seperti itu lah yang membuat dia ‘dihargai’; yang dengan begitu orang-orang akan ‘melihat’ dia. Sebuah kenyataan yang memang mengerikan dan menyedihkan.

Apa saja yang bisa dialami oleh seorang suami? Sesampai di kantor, seorang sekretaris tersenyum lebar, menanyakan kabar dan keadaan suaminya, ntar makan siangnya di mana, atau apakah hari ini berpuasa. Di setiap iklan yang melintas, ada wanita yang selalu tersenyum manis dan riang.

Lalu si suami ini pulang ke rumah. Begitu membuka pintu, istrinya bertanya, “Ke mana saja kamu?” 🙂 Tidak ada senyuman. Tidak ada sambutan riang. Suami pun terpaksa menjawab, “Jalanan macet”. Atau, “Keretanya telat”. Atau, “Bannya bocor”. Sambil memendam rasa kelu menyaksikan betapa bedanya wanita di luar rumah dan wanita di dalam rumah memperlakukannya.

“Jadi kereta itu telatnya setiap hari??!!” 🙂 Dan suami pun harus ikhlas melihat wajah berkerut istrinya setiap hari. Kalo ini terjadi cuma sehari atau seminggu, mungkin tidak masalah. Tapi setelah sepuluh tahun, duabelas tahun, lama-lama sang suami jadi membenci istrinya.

Solusi sederhana yang ditawarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam adalah sesungging senyuman dari seorang istri saat suaminya pulang ke rumah. Tahukah kita betapa dahsyatnya advis Rasulullah ini? Ini bukan urusan kecil. Rasanya seperti tertusuk (it stabs the husband) ketika suami pulang ke rumah dan istrinya ga peduli. Ketidakpedulian seorang istri menyakiti suaminya. Menyakiti hubungan mereka berdua.

Dan ketika tiba saatnya makan malam, luka itu menganga kembali. Suami mulai mengeluhkan bahwa masakannya kurang garam. Lalu menjalar ke yang lain. Anak-anak jadi gampang kena marah.

Skenarionya diulang kembali, tapi dengan sesungging senyuman dari seorang istri saat suaminya pulang dan membuka pintu rumah. Tidak mahal. Tidak keluar uang. Tapi menghadirkan kebahagian di sisa malam itu. Suaminya jadi terbantu punya suasana hati yang baik (good mood), dia pun lancar ngobrol sama istrinya. Berawal dari sebuah langkah kecil dari seorang istri.

Solusinya sederhana tapi penuh daya. Kalo seorang wanita meremehkan nasihat Rasulullah ini, dia harus siap untuk menyaksikan masalah rumah tangga makin bertumpuk setiap harinya. Akhirnya statistik yang bicara, karena suami tidak tergerak lagi untuk melihat wajah istrinya. Jadi sebel. Jadi merasa terganggu.

Kedua pihak harus saling memahami. Keduanya harus saling memperhatikan kebutuhan masing-masing. Alih-alih mengharapkan sesuatu dari pasangannya, susunlah rencana bersama untuk saling memperhatikan dan mengurusi urusan atau pekerjaan pasangannya. Bahu membahu. Saling membantu.

*****

Saat menulis ini, saya membaca sebuah pesan WhatsApp di grup teman kuliah. Berisi quote dari Eyang B.J. Habibie. “Cinta tidak berupa tatapan satu sama lain, tetapi memandang keluar bersama ke arah yang sama.”

Keluarga adalah sebuah tim yang memandang keluar karena punya visi dan misi yang sama.

Dan saya pun jadi teringat bahwa Eyang Habibie setelah berjalan kaki dari kantor yang mungkin cukup melelahkan, masih sempat membantu membersihkan popok bayi buah hati mereka berdua.

*****

Satu-satunya saat para lelaki tidak menjaga pandangan mereka adalah saat bersama istrinya. Illaa ‘alaa azwaajihim (QS Al-Mu’minuun, 23:6). Dan hubungan suami-istri ini begitu kuat, sampai-sampai ada hadits yang berisi konsekuensi yang berat bagi seorang istri yang tidak mau melayani suaminya. Tapi sayangnya hadits ini sering dijadikan senjata oleh suami yang tidak memahami hadits itu secara utuh.

Tanpa ada kepedulian dan kasih sayang yang ditunjukkan oleh seorang suami, serangan dengan menyalahgunakan hadits seperti itu hanya akan berujung pada pertempuran ayat yang tak berujung. Sang istri gantian mempertanyakan perilaku suaminya yang tidak seperti sahabat, dan seterusnya. 🙂

Dan laki-laki tidak akan pernah memenangkan perdebatan dengan seorang wanita. Apakah itu istri, ibu, atau saudara perempuannya. Wanita itu mahir berbicara dan seorang laki-laki tiba-tiba bisa mendengar sebuah jawaban yang mungkin tidak pernah dia pikirkan atau bayangkan sepanjang hidupnya. 🙂 Seorang suami pun harus belajar menghadapi situasi seperti ini.

*****

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan untuk membina keharmonisan rumah tangga adalah argumentasi.

Seorang suami biasanya berpikir bahwa segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan pemikiran, akal sehat (reasoning). Dan juga bukti-bukti yang logis (logical evidences).

Sang suami ini lupa bahwa Allah tidak menciptakan wanita dengan setting hitam-putih seperti itu. Wanita adalah sebuah ciptaan yang rumit. Ketika kamu menikah, kamu akan menyaksikan suatu hari istrimu menangis dan kamu nanya, “Kenapa menangis?” Istrinya menjawab, “Aku tidak tahu.” Suaminya masih belum puas, “Gara-gara aku ya?” Dijawab lagi, “Aku ga tahu. Biarkan aku sendiri.”

Dan wanita memang kadang-kadang benar-benar tidak tahu. Dan jika wanita itu akhirnya menjelaskan juga, penjelasannya bisa rumit sehingga suaminya akhirnya gagal paham juga. 🙂

Jika pun kamu belum menikah, kamu bisa belajar ini dari ibumu, dari saudara perempuan kamu.

Suami yang memaksakan diri untuk selalu mendapatkan alasan di balik semuanya, akan menyengsarakan istrinya. Akan menyengsarakan keluarganya. Cara terbaiknya bukanlah dengan berargumen. Cara terbaiknya adalah mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam. Pertama, kemurahan hati (mercy). Kedua, diam (silence).

Tahukah kamu betapa efektifnya diam itu untuk wanita beriman yang shalihah? Ketika seorang suami diam dan tenang, kebaikan dalam diri istrinya akan membuatnya buka suara, “Aku tidak yakin apakah aku yang salah, tapi jika memang aku yang salah, aku minta maaf.”

Tapi seorang suami harus belajar teknik diam ini. Dan ini bukan diam dengan mengerutkan kening dan memperlihatkan sikap kasar. Ini adalah diam yang penuh ketenangan dengan wajah dan bahasa tubuh yang menenangkan seperti yang kamu sering lihat di hewan piaraan yang paling kamu sayangi. Cobalah itu dengan ibumu, dan in sya Allah akan berhasil dengan istrimu juga. 🙂

Ini penting. Ini adalah tata krama pernikahan (etiquette of marriage).

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, beliau bisa saja berteriak pada istri beliau. Beliau bisa saja bersikap kasar sama istri beliau. Tapi ternyata beliau tidak melakukannya. Karena hubungan suami-istri itu begitu rapuh dan setan ingin memanfaatkan setiap kesempatan, setiap kelengahan, untuk masuk dan menghancurkan.

Dan jika ikatan dalam sebuah keluarga ini berhasil dihancurkan, apa yang akan terjadi? Penghancuran ikatan keluarga hanyalah langkah awal setan, karena, dari sinilah dia bisa melakukan pembusukan di masyarakat, secara lebih luas. Itu yang akan terjadi. Sehingga laki-laki menjadi pendamba kebebasan yang tak bertepi. Matanya tidak ada lagi yang menahan pandangannya. Banyak kerusakan lain yang akan terjadi. Skandal bermunculan dan merebak kemana-mana. Dari mana ini semua awalnya? Dari pernikahan yang tak bahagia.

Banyak tragedi di dunia ini yang sebenarnya berasal dari sebuah kejadian yang sederhana: suami tidak peduli sama istri, istri tidak peduli sama suami.

Mencintai, bermurah hati, mempedulikan pasangan adalah tantangan untuk orang-orang yang beriman, yang ingin mempertahankan keimanannya.

Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan kita suami-suami terbaik atau istri-istri terbaik, dan berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat yang lebih baik.

Aamiin Yaa Rabbal ‘Aalamiin.

*****

Ditulis oleh Heru Wibowo

Edisi spesial menyongsong pernikahan Genis Anggraeni dan Rahmat Rusfandi

*****

Judul Video: “Want a Happy Marriage? Watch This! Ustadh Nouman Ali Khan”

Publisher:  Muslim Speakers

*****

Quote

Menjadi yang Istimewa

 

Yang terpenting dalam menanti adalah kamu tahu betul apa yang sedang kamu nantikan. Bukan kamu sudah tau siapa jodohmu atau sudah tahu bakal jadi apa, melainkan, kamu yakin bahwa apa yang akan datang padamu itu adalah yang sepadan dengan apa yang kamu lakukan selama ini.


“… Dan bahwa manusia akan memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

S. An Najm: 39

Semoga kamu bisa menjadi yang paling istimewa untuk masa depanmu. After patient a beautiful thing awaits. 🙂

 

Status

Jika kehilangan digenggam dengan iman, maka hanya butuh sedikit waktu untuk menyembuhkan.
Jika kekecewaan digenggam dengan iman, maka akan datang penerimaan yang membuatmu bersyukur.
Jika cinta digenggam dengan iman, maka jangan heran kehadirannya akan menyejukan.
Allah masih yang pertama kan?

Renungan

Hadits:

“Ya Allah, aku minta kepada-Mu rasa takut kepada-Mu di waktu sendirian maupun di hadapan orang lain, dan aku minta kepada-Mu ucapan yang benar dalam keadaan senang maupun marah, dan aku minta kepada-Mu kesederhanaan di waktu miskin maupun kaya.

[HR. An-Nasa-i dan Ahmad]

Dan (demi) jiwan serta penyempurnaan (ciptaannya). maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).

Asy-Syams: 7-10

Ku mohon, lindungi hamba Ya Allah.