How To Look Good Me Version

Dear good eaters,

Always be good not perfect. Cos you know lah nobody is perfect 🙂

Advertisements

Too Much Information

Dear good eaters,

Sudah dua minggu gw hidup tanpa Instagram. Jadi, gw dan teman gw buat perjanjian untuk log out dari IG selama dua minggu, dan ini hari terakhir. Alasannya karena sudah lelah dengan informasi yang terlalu banyak dan kepingin benar-benar merasakan dunia yang sebenarnya. Kemarin menemukan tulisan ini:

Lagi berpikir keras mau nge-post apa. Kalau saya posting lagi liburan keluar negri, duduk di kelas bisnis, naik mobil fortuner, pake tas lui tingtong pasti dibilang pamer. posting muka selfie akan dibilang “ya ampun berani amat ni orang, padahal gak ada cantik2nya”.

kalau posting anak anak, takut nanti ada predator pedophil. kalau posting punya suami 3, dibilang hoax karna mana mungkin ada banyak laki mau sama gua. Kalau posting lagi ibadah, pasti dibilang sok alim. Kalau posting petuah petuah dibilang nyampah.

Laahawlawalaaquwwata illabilla, apa gua buang aja nih ig?!! .
.
kata ustadNuzulDzikri “kita semua ini korban caci maki manusia, korban ghibahan manusia, korban fitnahan manusia, Betul tidak? Gak ada yang selamat dari komentarnya manusia. Antum mau baik pasti diomongin, antum mau resign dari pengajian pasti diomongin juga.

Imam Syafi’i berkata: Ridho manusia adalah cita cita yang tidak mungkin tercapai. Jadi gak usah berharap dapat simpati manusia (apalagi berharap Ridho Roma,,,,😑). .

Sedikit banyak tulisan ini menggambarkan apa yang pernah gw rasakan selama jadi pengguna Instagram. Paragraf pertama related, orang bilang gw pamer dengan posting apa yang baru gw punya dan baru alami. Sampai-sampai mereka minta gw untuk mempertanyakan maksud gw sebelum posting apapun. Diminta balik lagi, niatnya apa sharing semua kehidupan gw. Eh kehidupan? Gak semua kok. Lalu selfie, gw jarang posting foto selfie alesannya karena muka gw gak semenarik yang lain. Tapi memang senang posting groupie bareng teman-teman habis hore-hore. Tapi gw tetep aja dibilang tidak mencerminkan wanita surga 🙊 coba cek guys Instagram gw. Udah pantes jadi wanita surga? Nggak ya? Hehe Tapi semoga Allah memberi rahmatNya kelak untuk menjadikan gw sebagai wanita surga.

Paragraf kedua. Ketakutan itu sempat ada apalagi ketika gw dibilang menelanjangi diri gw lewat sosmed. Nauzubillahi minzalik. Bayangkan kata-kata telanjang yang dipakai. Itu sakit banget dibilang gitu. Padahal kalau dicek lagi gak semua hal gw telanjangin, masih ada bagian dari gw yang menurut gw aurat yang belum disebar di sosmed. Setelah dibilang itu, gw juga sempat selalu berpikir keras untuk posting apapun. Jadi bertanya-tanya, gw sedang telanjang gak nih. So rude ya kiasannya.

Paragraf tiga, apa dibuang aja IG nya? Wahahaha ini kocak. Buang aja pikiran orang-orang yang menjadikan lo insecure guys. Apalagi yang baru hijrah nih ya, lo berproses kok. Semakin lo sering ngaji semakin diri lo paham betul mana yang bisa dishare ke orang mana yang gak perlu. Nanti lambat laun kebiasaan posting A sampai Z lo mengikis dan jadi jarang. Apalagi setelah cibiran itu langsung ditujukan ke telinga lo. Jadi sabar, berproses aja. Instagram juga berguna kok apalagi untuk yang cari referensi belanjaan. Hehe. Dan yang mau promosiin barang jualannya. Jadi pengguna bijak aja coba.

Paragraf selanjutnya, ucapan ustad Nuzul. Sudah kenyang, apalagi yang bicara teman dekat sendiri. Yang bilang you have many problems i know jadi lo kayak gini melampiaskan semua ke sosmed. Tapi sorry, masih ada bagian yang lo gak tau teman. Apalagi gw dibilang, nanti cowok yang pedekate sama lo gak jadi deketin karena lo terlihat memiliki banyak hal yang gak bisa dia imbangi. Atau lo dimanfaatkan orang lain karena mereka tau semua tentang lo. Sekali lagi, gak semua mbak ada di sosmed gw.

Penutup yang baik. Harapan yang harus kita putus supaya gak sengsara ya harapan ke manusia. Jadi diri lo sendiri. Orang baik itu ciri-cirinya gelisah kalau lagi berbuat gak baik. Jadi, diri lo sendiri yang tau nantinya mana yang perlu dishare mana yang gak. Jangan menciptakan insecurity ke diri lo atas omongan orang lain. Be brave and gentle ya. Dan inget lo gak usah jadi orang lain itu juga yang menilai orang sampai mencibur ke orang lain tentang orang lainnya. Intinya gak usah ikut campur sama hidup orang. Kecuali lo tau betul latar belakangnya. Jgn judging !

Udah sekarang instagramnya di-uninstall dulu. Ngestatusnya diberentikan dulu. Karena orang yang tertarik sama kepribadian lo itu bakal dateng dengan ngeliat status atau tanpa ngeliatnya. Chill out ya.

Yuk dihidupkan lagi belajarnya dan baca bukunya. Katanya orang yang sukses yang berani memulai dengan mengasingkan diri. Yuk fokus lagi.

Visi Pernikahan

Dear good eaters,

Beberapa hari lalu ada yang terlintas dipikiran kalau ditanya apa visi pernikahanku. Maka jawabannya ini, ketika aku random membuka mushaf aku temukan apa yang harus aku jadikan visi dalam berumah tangga yaitu, memiliki keluarga yang mendirikan solat.

Dalam beberapa bahasan Ustad Nouman tentang ujian atau cobaan banyak ditemukan bahwa Solat dan Sabar adalah jalan keluarnya. Maka alangkah indah jika ayah, ibu dan anak mereka berdiri bersama bersujud bersama memuji nama Allah. Apalagi jika diingat lagi pelajaran Agama Islam waktu sekolah dulu kalau amal yang akan dihisab pertama kali adalah solat. Jadilah ini yang akan menjadi visi pernikahan yang akan datang.

Maka bagaimana mencapainya, selain menemukan (bukan mencari) pasangan yang mendirikan solat, akupun harus aware dengan diriku, apakah aku pribadi mengutamakan solat setiap harinya?

Lalu setelahnya aku ingin setiap kesempatan ada halaqah di keluarga kecil nanti. Baik ayah atau ibu yang berbagi. Sungguh ini menjadi mimpi kelak ketika berkeluarga. Gak mau meremehkan solat. Gak mau neglect panggilan Allah. Karena pasti aku juga kesel kalau udah suka ngasih perhatian eh orang gak perhatian balik. Aku akan kesel kalau udah suka ngasih waktu di antara waktu sibuk tapi orang lain ga bisa kasih hal yang sama. Mungkin Allah juga begitu.

Untuk teman-teman shalihah yang sedang menunggu. Semoga menunggumu berbuah manis hingga ke surga. Jika yang sudah menikah dan dirimu merasakan bahagia maka aku pinta, doakan aku agar bisa menyusul kebahagiaan itu.

Aamiin

Mepet buat Visa Jepang Korea untuk PNS

Dear Good Eaters,

Karena saya orangnya termasuk deadliner, yang mengerjakan mepet waktu tenggang. Maka beginilah tipsnya.

Perlu diketahui, pasport akan ditahan selama proses pembuatan visa. 

Proses pembuatan visa Jepang, 4 hari kerja. Saya submit tanggal 30 Agustus 2017 dan visa diambil tanggal 05 September 2017. Sedangkan proses pembuatan visa Korea Selatan, 6 hari kerja (di luar tanggal pengajuan). Saya submit tanggal 06 September 2016 dan visa diambil tanggal 14 September 2016. 

Hasil Visa Jepang dan Korea Selatan

Alhamdulillah banget lho, padahal jadwal perjalanan wisata saya ke dua negara itu dimulai di tanggal 16 September 2017. Mepet banget kan? 

Tapi jangan khawatir. Ada yang harus dicek sebelum mengajukan visa Jepang dan Korea untuk kawan-kawan PNS. 

Visa Jepang

Sila lihat persyaratan disini.

Catatan untuk PNS

  • Kamu wajib menyertakan Surat Keterangan Kerja yang menyatakan kamu salah satu karyawan di lembaga pemerintahan dalam bahasa Inggris.
  • Kamu tidak wajib menyertakan fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir atau rekening koran tabungan 3 bulan terakhir. Kecuali kalau kamu suami/ayah yang membawa anak dan/atau istri di perjalanan kamu, maka kamu harus menyertakan setidaknya fotokopi itu. Karena kedubes ingin memastikan kamu bisa ‘hidup’ di Jepang bersama keluarga. Untuk visa Jepang tidak diwajibkan menyertakan Surat Referensi Bank. Untuk saldonya, anggap saja satu hari tinggal disana menghabiskan 1 juta rupiah maka pastikan saldo buku tabungan mengcover akomodasi perjalanan itu.
  • Perhatikan foto yang disyaratkan ya. Bisa cek gambar ini.
  • Untuk itinerary, kamu harus lengkapi dengan nama tempat wisata yang akan dikunjungi, jangan hanya: Day 1 Tokyo, Day 2 Disney Land, Day 3 Osaka.
  • Semua berkas harus berukuran A4.
  • Gak perlu lampirkan Akta Lahir dan Kartu Keluarga kalau kamu mengajukan visa untuk diri sendiri, kecuali membawa keluarga dalam perjalanan ke Jepang.

Sisanya tinggal ikuti yang disyaratkan pada web. Jujur, visa Jepang sangat mudah.

Visa Korea

Sila lihat persyaratan ini.

Atau blognya Ariev ini sangat membantu.

Catatan untuk PNS

  • Kamu wajib menyertakan Surat Keterangan Kerja yang menyatakan kamu salah satu karyawan di lembaga pemerintahan, dalam bahasa Inggris. Lampirkan juga fotokopi SK PNS kamu ya. SIUP tidak diwajibkan jika sudah menyertakan Surat Keterangan Kerja.
  • Wajib juga menyertakan SPT Tahunan dan Bukti Potong 1721 nya
  • Wajib menyertakan Surat Referensi Bank dan fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir yang dilegalisir bank atau rekening koran. Slip Gaji 3 bulan terakhir tidak perlu.
  • Jangan lupa menyertakan fotokopi Akta Lahir dan Kartu Keluarga
  • Agar lebih meyakinkan kalau kamu benar ingin pergi ke Korea Selatan lampirkan juga Bukti booking tiket pesawat dan hotel 

Sisanya sesuai dengan persyaratan pada web.

Untuk Visa Korea Selatan agak deg-degan juga. Dipikiran saya, saya harus lolos dalam pengajuan pertama jangan sampai ada yang kurang. Karena sebelum mengajukan saya coba cari di google persyaratan untuk visa Korea, semua pengalaman berbeda-beda. Tapi yang saya poinkan di atas itu yang saya lampirkan saat penyerahan berkas Visa ke Kedubes Korea Selatan. Dan overall kata petugas loket, sudah terpenuhi.

Kalau gak mau dapat sensasi ketar-ketir mikirin jadi liburan atau gak karena nungguin visa, mending pengajuan visa Korea Selatan dilakukan sebulan sebelum keberangkatan ya. Fyi, kalau di assesment oleh Travel Tour lama pembuatan visa itu 10 hari kerja. Jadi kalau bisa sendiri mah urus sendiri aja :))

Semoga bermanfaat. Dan selamat berlibur! 

SPT Tahunan Madness

Dear Good Eaters, 

Maret telah tiba dan yang awam akan berbondong-bondong datang ke kantor pajak. Yay, tempat dimana sebagian orang benci karena merasa penghasilannya dizalimi, atau tempat dimana sebagian orang takuti karena bayang-bayang sanksi denda yang bisa berbunga, atau tempat dimana yang sebagian orang gak tahu itu tempat apa. Hehehe. Apalah penafsiran orang-orang tentang kantor pajak tapi sepertinya kantor pajak adalah tempat yang ngehits akhir-akhir ini apalagi setelah happeningnya Tax Amnesty. 

Kali ini gw gak mau ngomongin gimana cara pengisian SPT, gw gak mau ribet. Wehehe gw mau ngomongin printilannya aja apa sih sebenarnya yang harus kalian siapkan sebelum dan setelah pelaporan SPT Tahunan. Dan apa yang perlu kamu ketahui tentang istilah-istilah yang kadang membingungkan. 

Karena sebagian besar warga Indonesia itu pekerja maka gw akan meruncingkan tulisan ini terkhusus untuk Wajib Pajak dengan pekerjaan sebagai pegawai. Simak beberapa poin di bawah ini:

  • Pelaporan SPT Tahunan itu berbeda ya dengan pembayarannya. Kalau kalian pegawai maka yang bayar pajak ya perusahaan tempat kalian bekerja, kalian gak usah repot sama perhitungan dan penyetorannya. Tapi kalian berkewajiban untuk melaporkan pajak yang dibayar perusahaan atas nama kalian. Nah ini nih yang kata orang, due date pelaporan di tanggal 31 Maret tahun berikutnya.
  •  Yang punya kewajiban lapor itu siapa aja? Siapapun yang memiliki NPWP baik dia bekerja atau bekerja tapi gak ada pajak yang dipotong dari gajinya atau tidak bekerja atau sedang tidak bekerja. 
  • Kalau EFIN itu apa? Simpelnya itu nomor kunci untuk bisa log-in ke website e-filing.
  • Sedangkan E-filing itu berbeda dengan EFIN ya. E-filing itu cara menyampaikan SPT Tahun dengan menggunakan elektronik alias lewat website jadi kalian gak perlu repot antri pelaporan di kantor pajak dirumah sambil guling-guling juga bisa.
  • EFIN digunakan saat registrasi online supaya bisa log-in ke website e-filing (djponline.pajak.go.id). Kalau sudah oke EFIN gak diperlukan lagi, kecuali kalau kalian lupa password saat log-in (yang kamu create sendiri saat daftar) atau ingin mengganti email. Jadi tetap nomor EFIN yang sudah didapatkan harus kalian arsipkan.
  • Sebelum lapor, kalian pastikan mendapat Bukti Potong 1721 A1 (dari perusahaan swasta) atau 1721 A2 (dari bendahara). Kertas itu isinya summary dari pembayaran pajak selama setahun yang dilakukan perusahaan untuk penghasilan kamu. Jadi kalau punya ini kamu gak akan kebingungan untuk isi nominal di SPT Tahunanya. Kalau kantor belum kasih juga sampai mau habis bulan Maret nya, paksa hahaha. Karena Bukti Potong ini diperlukan juga lho untuk pembuatan Visa. So lagi-lagi, diarsipkan ya.
  • Beres lapor SPT Tahunan baik yang manual (datang langsung) atau yang via website harap untuk menyimpan bukti penerimaan surat (BPS) atau gampangnya tanda terima. Kalau manual kalian mendapat kertas sedangkan kalau via website BPS dikirimkan ke email.
  • Dan lebih baik lagi, sebelum pelaporan SPT Tahunan secara manual kalian foto copy dulu SPT Tahunannya. Karena kalau di hari kedepannya kalian dapat rejeki untuk beli rumah, KPR mensyaratkan untuk melampirkan kopian SPT Tahunan tahun sebelumnya. Dari pada repot harus buat permohonan fotokopi berkas SPT Tahunan ke kantor pajak. Ya gak? Kalau yang via website, kalian bisa klik di lihat SPT Tahunan dan tinggal dicetak. 
  • Kalau datang ke kantor pajak atau ke instansi pemerintah pastikan kalian membawa kopian KTP dan NPWP ya. Apalagi KTP itu sudah common banget.
  • Setiap ke instansi pemerintah mohon untuk lepas malu kalian, tanya apapun yang membingungkan kalian tanya apapun yang ingin kalian tahu dan pastikan kalian sudah jelas dari penjelasan yang kalian dapatkan, supaya kalian gak bolak-balik. 
  • Pelayanan pajak sudah lumayan service people kok menurut gw, jadi tolong untuk saling bekerja sama dengan pegawai setempat. Yang namanya antri pasti boring tapi asal bisa saling paham dan sabar gak perlu lah ya dibawa emosi. Maka bertanya adalah hal yang harus jadi awareness tamu yang datang ya. Supaya gak merasa disia-siakan waktunya. Atau menyalahkan pegawai setempat karena gak giving information properly. 

Segitu aja sih. Semoga semakin banyak yang sadar dengan pajak ya. Supaya jadi Wajib Pajak yang taat sehingga gak ada tuh kena denda-denda… 

Kalau ada yang mau ditanyakan bisa komentar di bawah… Semangat menuju Indonesia yang lebih baik. Eyaaaa 🙆

Finding: Being the Right Candidate yourself

I got another point of view nih about finding the right one. Tapi balik lagi ke diri masing-masing. In one condition gw sempat gini, i dont have any friends from boy sedangkan teman gw satu lagi have so many many friends from opposite gender sempat mikir yaaah doi lah yang bakal yang menemukan duluan karena kesempatan untuk kenal banyak orang lebih banyak, satu gak cocok doi still has one or two candidates, sedangkan i have nothing. Terus sempat di otak juga berpikir, lho everything in this life is possible in Allah’s hand, lo kali Gen yang bakal nemu banyak kemungkinan karena lo akan lebih fleksibel dengan berbagai macam situasi di depan sana. 

I share this with you guys cuma kepingin ngasih pandangan lain tentang bagaimana kebanyakan orang bilang, jodoh itu cerminan diri lo. Tulisan ini ditulis oleh orang yang sudah married. 

The logic that free-mixing in general will lead you to finding a good spouse is so flawed.

Our society has conditioned us to think that if we don’t go out there and mix, we won’t be able to find anyone for ourselves. I mean, you can’t say that just because a person intermingles that they are no longer a good person but this action does have an aspect of openly engaging in what is displeasing to Allah and also opening yourself upto fitnah. 

Your home, your family is such a sensitive structure and when you know that shayateen aim at it the first and hardest to break up then why would you not protect it from the evils such as this? You cannot expect that a person once married will leave off talking to their former friends simply because of their gender now if they hadn’t all this time. Even if it does happen, the fitna from a habit that was there before is a lot stronger than the one from without. The longer the habit remains, the harder it is to break off. Think about it: if you’re friends with a few people of the opposite gender for x amount of years, is it easy to cut them off and not check in every once in a while to see how they’re doing, what they’re upto? If nothing else, you do still check their social media and see what’s going on in their lives. Does that alone not cause fitna for your own home? 

Shaytaan works in steps not leaps.

So the fact that we seek a spouse through intermingling and then expect them and ourselves to abandon it doesn’t seem fitting. We should look for and possess traits that would contribute to a healthy and nurturing home for one another based upon the teachings of the Salaf.

Finding the right spouse begins with being the right candidate yourself.

Salah satu guru bilang, jodoh itu datang dari arah yang sama dengan rezeki dia adalah hal yang sedang kamu tekuni. 

Selamat bersiap! Kalau gak sekarang berbuat baik, emang yakin besok masih hidup?