[Bicara Buku] #TemanTapiMenikah

Dear you,

Tipe hubungan yang pernah jadi impian gw, nikah sama sahabat atau jodoh dengan sahabat. Soalnya gw gak suka hubungan yang lovey dovey, dia atau gw yang clingy. Eugh. Geli. Dan dari dulu yang gw cari sosok saudara laki-laki bukan cowok romansa. Yang bisa diajak gila, asik-asikan tapi bisa serius juga. 

Sampai akhirnya ada di fase itu. Dimana suka sama teman sendiri. Ternyata gak selalu asik. Haha. Jadi ada kalanya kita tetap menjalani hidup dan biarkan Tuhan yang mengambil alih. Karena seseorang yang kita inginkan nggak selalu menginginkan kita juga. Yha baper. 

Ditto dan Ayu sahabatan belasan tahun dari sejak mereka SMP. Ditto jadi teman sebangku Ayu. Kedekatan mereka simply karena obrolan mereka selalu klik. Ayu yang dari kecil sudah kerja sebagai artis Ditto yang hobi main musik perkusi yang gak biasa. Bikin mereka saling support, care dan melebihi sahabat. 

Gak akan benar-benar ada hubungan pure teman/sahabat antara cowok dan cewek. Pasti salah satunya memendam perasaan. Dibuktikan oleh mama dan papa nya Sekala Bumi ini. 

Ditto ternyata sudah suka dengan Ayu sejak lama. Tapi gak tau persisnya kapan, dia pendam dan tangkis sekian lama. Ditto yang playboy tukang gonta ganti pacar, biarpun selalu ngincer cewek atau jadi inceran cewek karena keeksisannya sebagai pemain perkusi dan ketua OSIS, tapi selalu gak bisa lepas pikirannya dari sahabat termanisnya, Ayu. 

Ditto selalu jadi tempat curhatan Ayu soal pacar-pacarnya begitu juga Ayu untuk Ditto. Ayu gak pernah absen dari menyanjung permainan perkusinya dan Ditto selalu konsisten untuk ada buat Ayu. Bahkan ketika mereka tinggal di kota yang berbeda. 

Ide dari Ditto nembak Ayu untuk dijadiin teman hidup terlintas setelah banyak berkontemplasi soal masa depan yang harus dijalani, masa depan yang gak selalu tentang asik-asikan pacaran sana sini. Habis itu gak ada makna apapun.

Ayu hanya berharap, Ditto cepat bertobat dan menemukan pasangan yang bisa melengkapi hidupnya. Bagaimanapun, mereka tidak bisa hidup dewasa dengan cara seperti ini. Ditto tidak bisa hidup dengan hubungan yang dimulai dan diakhiri seenaknya di saat kehidupan menuntut kedewasaan mereka dalam memenuhi berbagai aspek kehidupan.

Mereka sempat ada di fase capek ah pacaran putus, pasangan baru putus lagi. Ayu apalagi capek diselingkuhin pacarnya. Dari situ Ditto membulatkan niatnya untuk meminang Ayu. Gak lama dari bilang, “kalo gw suka sama lo gimana, Cha?” Sampai akhirnya Ditto beliin cincin tunangan itu prosesnya gak lama. Karena Ayu pun sangat welcome dengan ajakan Ditto. 

Gw kasih bintang tiga di Goodreads. Karena finally penasaran gw terpecahkan dengan buku ini. Haha. Melihat gw juga kepingin banget punya suami hasil persahabatan. Tapi ya umur segini, mau mulai sahabatan sama siapa? Udah telat. Sayangnya pov buku ini pakai sudut orang ketiga. Tapi terkadang berasa kayak Ditto yang lagi cerita. Apalagi seringnya disinggung tentang keluarga Ditto aja, tanpa Ayu. Gw lebih suka kalau pov nya dari sisi Ditto aja atau Ditto lalu Ayu. Supaya kita tau sebenarnya ada apa dibalik hati masing-masing saat mereka jalin persahabatan. 

Selagi buku ini menjelang rilis, Ditto gak henti-hentinya teasing di IG pribadinya, ngasih semangat dan cibiran untuk kawula muda yang terjebak Friendzone. Haha. Kalau gak ada yang berani untuk mengutarakan gak akan terselesaikan urusan friendzonenya. 

Baiklah buat gw sepertinya akan menjadi impian aja bisa nikah sama sahabat sendiri. 😦 buku ini cukup menghibur. Dan gw makin yakin, kalau urusan yakin datangnya lebih banyak dipihak cowok. Biar dia yang meyakinkan. Kalau sahabat cowok lo cuma baik aja, belum berarti ada perasaan lebih. Kecuali kalau dia berani bilang serius suka. 

Ohya Ditto ini ESFP, playboy cap kampak. Wkwkwkwkw. Tapi jatuh cuma sama satu cewek aja. Ya yang selalu ada untuk dia dan dia bisa ada untuk cewek itu. He needs someone who can covenience him. Convenience dari sisi mentalnya, cuma sama Ayu dia diterima apa adanya. Kalau cewek yang pernah ada selalu menuntut dia. Wehehe. Gitu deh.

Gw suka kata-kata ini: bosan itu pasti. Tapi kita jangan pernah saling pergi ya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s