Matahari terbit vs. Matahari terbenam

Dear you,

Dalam perjalanan beberapa hari ini, aku menemukan satu kata yang bisa membuat pikiran ini melayang dengan angan-angan yg paling tinggi, lalu berakhir tersungkur lama dalam sujud. Cahaya.
Aku baru sadar mengapa aku lebih menyukai matahari terbit dibanding matahari terbenam. Dan mengapa Pangeran Cilik berkata, “jika aku melihat matahari terbenam berarti aku sedang bersedih.” Ternyata jawabannya adalah sifat dari matahari terbit lebih gentle dibanding matahari terbenam, biarpun aku tahu keduanya ciptaan Tuhan, keduanya kuasa Tuhan. Tapi kita sebagai manusia diciptakan untuk berpikir lalu menentukan pilihan. Apa yang menjadi kebiasaan itulah yg akan menggambarkan siapa diri kita.

Matahari terbenam ditunggu, kita berharap padanya memberikan warna indah ternyata setelahnya MENGHILANG. Matahari terbit ditunggu, disaat2 fajar-waktu yang diberkati-dengan warna yang sungguh menawan semburat oranye bergabung dengan pantulan hijau dan biru yang bisa terlihat ungu, harapannya sesuai espektasi lalu muncul menguning, sebagai gentleman yang MENEMANI melakukan banyak aktifitas untuk mewujudkan setiap harapan. 

Aku pernah kecewa dgn senja, ditunggu disatu tempat ternyata terbenamnya ditempat lain. Dan tak pernah dikecewakan fajar, ketika menunggu cahayanya bisa meluas dan meluas sehingga dimanapun aku berdiri aku bisa merasakan keberadaannya.

Ah aku baru tahu, setiap apa-apa ada ceritanya. Makanya mengapa banyak cerita bertemakan senja yang begitu sendu. Kita biarkan senja pergi dan beralih ke fajar, bagaimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s