#AliensJournal: Menjemput Mu dan Salam dari Papa #SuratuntukBintang

Dear you, 

Menjelang 27 tahun. Aku agak senewen karena belum juga dimampukan untuk berumah tangga, biarpun banyak yang memberi dukungan positif untuk bersemangat memperbaiki diri. Kata mereka, “Pernikahan bukan ajang lomba lari mbak. Terus saja memantaskan diri.” atau yang lebih bergaya motivator, “nikah itu sama seperti berbuka puasa, nikmat dan sunahnya disegerakan. Tapi waktu Magrib berbeda-beda kan?” yang mana pun intinya adalah menasihatiku untuk bersabar. Ikhtiarku memang belum cukup, walaupun ada yang tidak dengan ikhtiar jodohnya datang dengan segera dan tedeng aling-aling. Jodoh mah soal nasib. Pada akhirnya. Hehehe. Tapi jangan sampai aku berkomentar, “yasudahlah.”

Siang ini aku pergi silaturahim ke rumah sahabat almarhum papa. Beliau sangat menghormati papaku semasa papa hidup. Ketika ada masalah, papalah yang beliau cari. Usut punya usut tadinya anak pertamanya ingin dijodohkan denganku, tapi emang dasar nggak jodoh ya, doi udah ngebet akunya masih belum kepikiran nikah saat itu. Walaupun belum ada ajakan menikah tapi setelah pertemuan demi pertemuan yang gagal, doi akhirnya menikah. Waktu usiaku 15 doi yang main gitar ngucapin ultah, dan waktu kecil suka berenang bareng. Jodohku ternyata yang lain dan masih masih juga disimpan. 

Kami ngobrol beberapa hal, nggak banyak, paling soal persiapan keberangkatan si Bapak ke tanah suci bulan ini untuk melaksanakan haji. Alhamdulillah. Disela obrolan, Bapak tanya tentang hari kelahiranku. Aku lahir Sabtu malam jam 8, kalau di Islam itu sudah masuk hari Minggu. Dan papaku lahir di hari Minggu pagi. Makanya aku dan papa yang paling akrab dan emosi kita sering ngebland. Bapak menyarankan aku untuk mengeluarkan sedekah setiap hari lahir (Minggu) ke anak yatim, tapi nggak perlu banyak-banyak paling 10ribu tetapi rutin. Katanya akan ada sesuatu setelahnya. Aku sudah yakin pasti ini berhubungan dengan jodoh. Karena aku tahu, sedekah itu membersihkan hati, pikiran, penolak masalah dan memperlancar rejeki, katanya. Biarpun katanya, aku sangat yakin itu. 

Mungkin ini yang aku bilang, ikhtiarku belum cukup. Mungkin ini skenario hidupku yang berbanyak ikhtiar dulu untuk mendapatkan surga, indahnya berumah tangga. Kalau mau pamer ikhtiarku belum ada yang bisa dipamerkan, modal datang ke kajian pranikah, itu gak bisa disebut pamer. Wong habis kajian juga masih aja maksiat. Astaghfirullah. 

Untuk kamu yang sampai umurku menjelang 27 tahun belum juga datang, atau lebih tepatnya belum juga datang yakin melamar, hehe karena bisa jadi sebenarnya sudah datang cuma belum yakin dan tepat waktunya jadi masih diawang-awang, segala sesuatunya perlu pengorbanan bahkan untuk beribadah sekalipun. Solat, kita harus korbankan waktu istirahat kita untuk berdiri, rukuk lalu sujud. Zakat, kita korbankan keinginan kita berfoya-foya untuk menyenangi saudara kita yang kekurangan. Pergi haji, kita korbankan raga, harta dan keluarga untuk memenuhi undangan Allah ke tanah suci. Apalagi menikah yang notabene nya perintah Allah sejak Adam diciptakan, jauh sebelum ada peritnah solat, zakat atau pergi haji. So bisa ditarik kesimpulan, ibadah menikah itu ibadah surga, saat Adam masih tinggal di surga. Subhanallah. Jadi nggak heran juga ikhtiarnya harus pol-polan ya. 

Untuk kamu yang Bapak bilang, “sudah ada kok jodohnya cuma belum pas aja,” hehe ini agak ambigu ya, kata ‘sudah ada’ seolah kamu memang sudah jadi bagian dari hari-hariku, tapi aku lebih memilih mengartikan kata itu dengan, ya kamu dan aku memang sudah dijodohkan Allah dari 2000 tahun silam, hanya saja kita berdua ini belum siap untuk diamanahkan berumah tangga saat ini di dunia, saat umurku jalan 27 tahun. 

Aku berharap kamu juga sedang berikhtiar. Dengan cara apapun itu, semoga yang kamu lakukan itu juga untuk menjemputku. Kamu tahu, cuma ini yang bisa aku lakukan, memancing kamu datang. Maafkan aku yang nggak bisa datang secara langsung dihadapanmu lalu menyeretmu, “ayok kita ke KUA.” Karena biarpun kamu sudah ada di hari-hariku, bukan tugasku memaksakan kehendakku kepadamu. Aku ingin kamu yang yakin terlebih dahulu, jika sudah begitu yakinkan aku untuk memilihmu. Mungkin begini, soal jodoh ikhtiarnya laki-laki itu berani ditolak dan bagi perempuan tetap menunggu. Aku tak perlu mengejarmu karena yang yakin Hawa itu milik Adam adalah Adam. Adam yang berperasangka bahwa wanita satu-satunya disurga itu bakal jadi jodohnya. Walaupun sedikit berbeda dengan Ummi Khadijah yang yakin bahwa Muhammad saw adalah pasangannya kelak di surga tapi tetap yang memilih untuk setuju dan lebih yakin dengan lamaran Khadijah ya Muhammad saw. Tugasku cuma berbanyak prasangka baik pada Allah, tugasku mempercantik hati, memperbagus akhlak agar kelak ketika kita bertemu kamu dapat yakin pada pilihanmu yaitu aku.

Aku dan almarhum papa sangat dekat. Karena teman ngobrol soal masa depan dan agama hanya aku yang nyambung di antara anggota keluarga yang lain. Papa setuju dengan penilaianku, dan aku setuju dengan jalan pikiran papa. Ternyata setiap aku bermimpi ketemu papa, papa benar-benar ada di rumah. Sayangnya kamu nanti bakalan cuma bisa dengar soal papa dariku, nggak bisa bertukar pikiran langsung dengannya. Tapi gak apa-apa, Bapak bilang, akulah yang mirip secara emosi dengan papa, akulah yang ibaratnya pinang dibelah dua dengan papa. InshaAllah kamu bisa berdiskusi apapun lewat aku. 

Buat kamu, yang mungkin sedang berjalan menjemputku juga, tiap aku berdoa untuk papa, kemakam papa, ada rasa-rasa papa menitipkan salam untukmu. Mungkin kalau papa dapat bocoran dari Allah tentang dirimu, dia sudah sering menemuimu secara diam-diam. Tapi sayangnya perjodohan manusia di dunia bukan urusan para arwah, itu cuma urusan Allah. 

Bapak bilang, kalau sedang ziarah ke makam papa, beliau suka berdialog dengan papa. Papa nggak menanyakan gimana kabar aku dan adik-adik mungkin karena papa hampir tiap hari ke rumah menjenguk diam-diam. Karena Bapak pernah datang dan papa sedang tidak ada. Kamu tahu, aku percaya dengan hal ghaib macam ini, dan inilah yang membuat aku dan papa akrab. Aku percaya semua ceritanya tentang jiwa-jiwa diluar badan manusia. 

Siapapun kamu, aku berkeinginan untuk memiliki kamu dan ayahmu. Aku mendambakan sosok ayah jika memang kamu bisa begitu, tapi kalau belum aku mendambakan sosok ayah dari ayahmu. Semoga beliau masih sehat walafiat, karena banyak hal yang ingin aku diskusikan bersama ayahmu, yang belum sempat aku diskusikan dengan papa. Maaf ya, jika nanti kalau kamu berani melamarku, yang aku tanya pertama kali itu tentang ayahmu, bukan tentang dirimu. Jangan cemburu. 

Aku menulis ini di perjalananku menuju hajatan teman yang berhasil merealisasikan mimpinya. Mimpiku saat ini adalah kamu, mungkin cuma kamu. Jangan berhenti mencintaiku biarpun kita belum pernah bertemu, caranya jangan berhenti berdoa padaNya, berbuat baik, gemar melakukan hal-hal baik. Sesungguhnya Allah menghadirkan cintaNya lewat orang-orang yang mencintaimu, jadi cintai aku dengan cara yang paling baik. Semoga Allah membimbing kita. 
Fatmawati, 19:09. Minggu. Agustus 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s