[Kajian] Memilih Pasangan Menurut Sunah Rasulullah

oleh Ustad Bendri Jaisyurahman.

13 Mei 2016/ Masjid Agung Sunda Kelapa.

Pernikahan adalah bagian dari awal pembentukan peradaban. Rasul dalam urusan nikah memberikan panduan, dalam pernikahan ada hak kita dan anak-anak kita. Maka itu dimulai dari bagaimana memilih pasangan.

Ada fulan yang bertanya kepada Amirul Mukminin Umar tentang hak anak. Anak berhak mendapatkan ibu yang baik, nama yang baik dan ilmu Quran beserta adab dan hukum-hukumnya. Maka disini berlaku hukum, yang kamu tanam itu yang akan kamu tuai. Karena pengasuhan itu ibarat hutang piutang, jika tak diberi hak anak dimasa kecil maka anak itu akan menagihnya disaat dewasa.

Dalam memilih pasangan disitu ada aspek kebutuhan keluarga, bukan hanya untuk diri kita sendiri. Contohnya kisah Jabir yang memilih menikahkan janda. Rasul bertanya, kenapa? padahal kamu berhak atas perawan, kamu bisa lebih banyak bersenang-senang bersamanya. disinilah letak cinta karena Allah, Jabir menjawab, aku anak piatu, adik-adikku perempuan semua dan ada yang masih kecil, aku butuh sosok yang bisa menjaga mereka. Inilah Islam bisa mengintervensi keputusan manusia untuk aspek yang lebih luas. Subhannallah.

Ada 3 hal yang harus dipikirkan ketika memilih pasangan:

Niat yang benar.Yakin dulu bahwa ibadah bukan dengan menikah saja, jomblo pun juga banyak cara ibadahnya. Nikah ibadahnya bersyukur, jomblo ibadahnya bersabar. Harus diniatkan beribadah dengan ikhlas, memurnikan ketaatan kepada Allah. Kenapa ikhlas? Karena nikah itu satu-satunya ibadah yang waktunya paling lama. Takwa itu mengendalikan syahwat dan produktif dalam beramal. Gimana caranya? Nikahlah salah satu caranya.

Contoh niat ingin menikah dalam kisah sahabat: Mahar agama, mengendalikan syahwat, meninggikan derajat, mengalihkan cinta yang salah. Dikisahkan Thalhah yang memiliki perasaan kepada Aisyah istri Rasul, dalam hati dia pernah terbesit keinginan, nanti saya akan nikahkan Aisyah kalau Rasul wafat. Wallahi, ketika Thalhah berpikirian itu, turunlah ayat Quran bahwa janda-janda Nabi tidak boleh dinikahkan.Subhanallah banget, Allah tau apa yang ada dihati kita. Maka dari itu, untuk mengalihkan cinta yang salah Thalhah berniat untuk menikah dengan siapapun supaya pikirannya tidak terbayang-bayang Aisyah, supaya bisa lebih melihat realita.

Intinya adalah mencari ridho Allah.

Kriteria yang benar. Karena kalau salah pilih pasangan, ini bisa jadi penyebab anak-anak yang salah. Ada hadist nabi: Wanita/Pria dinikahi karena 4 hal, karena harta, karena keturunan, karena kecantikan/ketampanan, karena agama. maka pilihlah yang basicnya karena agamanya. Jika tidak kamu menyesal yang  amat dalam.

Dikisahkan Faruq dan Ummu Rabiyah, Faruq baru menikah saat itu, tapi dia ingin menjadi Mujahid perang, akhirnya istrinya dia tinggalkan dengan rumah dan uang sebanyak 30.000 dinar (60 Milyar Rupiah). Sebelum pergi dengan menitipkan uang itu, mereka berhubungan suami istri. Faruq menjadi mujahid sukses, beliau kembali dengan badan yang masih kekar biarpun sudah ubanan setelah 30 tahun. Ketika kembali ke rumahnya, rumah itu masih sama, letaknya, besarnya, bentuknya. dan ketika  masuk kerumah dilihat pria muda cakap ada di dalam, dia pikir istrinya macam2 dengan pria lain, tapi ternyata itu anaknya. Dia bertanya kepada istrinya, “kamu apakan uang ku yang 30.000 dinar? rumah sama, kamu pun berpakaian tetap sederhana.” Istrinya jawab, “nanti saja diceritakan.” Ketika solat subuh keesokan harinya, Faruq bersama anaknya pergi ke mesjid Nabawi, setelah solat dia terpisah dari anaknya, ada banyak orang berkumpul mengitari syeikh. Faruq tanya ke orang terdekat, “siapa syeikh itu? ajarannya bagus.” Dijawab, “itu Rabiyah anaknya Faruq.” seketika, dia pulang kerumah dia cium istrinya dia berterimakasih. Istirnya telah amanah dengan harta yang ditinggalkan. Dia jadikan anaknya Mujahid lewat ilmu, sedangkan suaminya Mujahid lewat perang. Subhanallah kalau kita bisa benar-benar menjadi orang baik dan memilih pasangan yang baik.

Cara yang baik. (dihold sampai pertemuan selanjutnya habis lebaran)

Sesi pertanyaan: Bagaimana dengan nasab yang tidak baik.Yang harus kita perhatikan, jika sekedar keturunan buruk tapi pola asuh diluar dari keluarganya, ini bisa jadi pertimbangan. Jauhilah olehmu tumbuhan hijau yang dikubangan kotoran. Makna: penegasan bahwa pentingnya aspek pembentuk akhlak calon. Karakter itu dipengaruhi dari pola asuh umur 0-15 tahun. Jadi kita harus pahami betul karakter calon pasangan. Jadi bukan genetiknya, tapi pola asuhnya. Karena ada ibu-ibu yang inshaAllah solehah, rajin ngaji tapi kalau sudah marah dia bisa berbuat kasar sama anaknya. dan ini pun dia akui dan dia sadari tapi gak bisa dia sembuhi, karena dulu waktu kecil dia diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya. Sungguh disini kita belajar, nikah itu bukan hanya aku dan kamu, tapi anak-anak kita kelak dan keluarga kita.

Cari yang betul-betul bisa saling  membimbing, sarannya, kenali diri sendiri terlebih dahulu kita orang seperti apa, butuh pasangan yang bagaimana agar apa yang jadi hajat kita bisa di-support pasangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s