Alien’s Journal: Home

Dear you,

Ada dua scene yang terlintas dipikiranku. Yang pertama scene kita yang sekarang:
Kamu sibuk dengan urusanmu, bersiap-siap untuk berangkat. Kala itu masih pagi, aku terduduk di kursi goyang, santai. Satu dua halaman majalah kubuka dan kubaca. Terkadang kalau bosan ku lanjutkan dengan novel yang belum selesai ku baca, bermain dengan imajinasi. Kamu. Tetap tergesa-gesa dengan tujuan mu yang aku tak tahu pasti apa itu. Setelah keluar kamar mandi, kau kembali ke kamar, berpakaian, pergi ke meja kerja merapikan laptop, buku-buku sisa pekerjaan mu semalam. Keluar kamar, sudah ada sarapan yang ku buat khusus untuk mu, tanpa basa-basi kau lahap habis sambil berdiri. Lalu berlari kecil terburu-buru ke luar rumah. Kupikir karena kau lupa menegurku yang masih asik bersantai di kursi goyang, kau kembali masuk ke rumah. Ternyata, kau lupa mengambil kaos kaki. Dan sekarang kau hanya pamit sekedarnya, bukan pamit menatap mataku tapi seperti berbicara pada rumah saja, “aku berangkat.” Dan aku tetap bersantai di atas kursi goyang.

Yang kedua ini scene harapanku. Ntah siapa yang akan memerankannya. Aku dan kamu atau aku dan yang lain. Tapi yang jelas ini bukan tentang kita, ini hanya harapanku. Aku lelah mencari. Aku lelah terburu-buru. Aku lelah mengatur hati. Aku ingin ditemukan, aku ingin dijadikan yang spesial. Toh aku bisa menyiapkan hal lebih untuknya jika kelak dia datang. Aku dan diriku, semua ada untuknya.
Kali ini malam hari, sudah ku siapkan juga air hangat untuknya mandi. Teh manis hangat di atas meja makan juga siap untuk dia sruput menghilangkan penat Ibu Kota. Menunggunya lagi-lagi aku asik diatas kursi goyang, dengan buku yang belum selesai aku baca. Dengan sejuta pikiranku tentang dunia yang banyak belum aku tahu. Dia datang, mengetuk pintu. Kewajibanku memang menunggu, mempersilahkannya masuk. Biarpun yang aku lihat dia yang lagi tak sesiap pagi hari, tak sewangi pagi tadi, mata peluh dan matanya berbilang “cukup panjang dan lelah hari ini, sayang,” tapi senyumnya menyejukan ku. Membuatku hanya ingin dia yang seperti itu. Belum lagi dia berkata sambil memelukku, “kamu adalah rumahku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s