[Review] Buku: 100 Langkah untuk Tidak Miskin

image

Golongan menengah (golongan berdaya):
Yang punya mata pencaharian, mampu makan tiga kali sehari, punya atap di atas kepala (rumah ortu, kontrakan, milik pribadi), yang berkecukupan.
Salah satu cara mengukur pertumbuhan ekonomi sebuah negara adalah dengan melihat angka Gross Domestic Product (GDP). Cara mengukur DGP adalah dengan pendekatan Expenditure, memperhitungkan GDP (Y) sebagai penjumlahan dari konsumsi (C), investasi (I), pembelanjaan pemerintah (G) dan selisi expor (X) impor (M).
Y = C + I + G + (X-M)
Konsumsi yang biasanya merupakan komponen terbesar GDP. Konsumsi (C) ini bukan berarti kita menjadi boros, tapi menunjukan seberapa besar kita bisa membelanjakan uang untuk berbagai kebutuhan hidup. Investasi (I) di sini adalah investasi pada sektor riil, pengadaan alat atau pembelian rumah. Pembelanjaan pemerintah (G) seperti belanja pegawai, pengadaan senjata dan segala transaksi yang dilakukan pemerintah.  Sementara export (X) impor (M) dihitung selisihnya untuk menghitung besar produksi mengurangi besarnya barang yang masuk ke negara. Tapi perhitungan ini pun harus dibandingkan dengan GDP perkapita karena tiap negara memiliki jumalah populasi yang berbeda.
Golongan mengah ini dapat membantu pertumbuhan ekonomi negara, untuk itu kita harus memyelamatkan diri kita dari kemiskinan, dari terlilit hutang, dari ketidak cukupan membiayai pendidikan.
Seperti yang dibilang mas @wimar: middle class people is independent yet not totally secure financially.
So, mari melek finansial.
Caranya untuk si middle class melindungi penghasilan dan pengeluarannya:
– produktif menghasilkan uang (pekerja kantoran, entreprenuer, buka usaha)
– nabung saja tidak cukup, mari berinvestasi (property, danareksa, pasar modal)
– memiliki history credit yang sehat
– memiliki dana darurat untuk setahun kedepan
– memiliki proteksi melalui asuransi.
golongan menengah yang kuat seharusnya dapat memenuhi paling tidak dua tujuan finansial penting: dana pensiun dan dana pendidikan.
Yang satu, agar dia dapat terus melanjutkan gaya hidupnya untuk periode panjang dan agar bisa melanjutkan pendidikan yang baik untuk generasi di bawahnya.
Buku ini juga memberikan 3 langkah pengelolaan keuangan yang dapat dipraktekan oleh kita yang sudah bekerja agar kita bisa berani untuk ikut  berinvestasi. Langkahnya: 1) Bayar tagihan sendiri 2) bayar hutang 3) beli properti.

Aku kategorikan ini buku paling horor yang aku baca di semester awal 2015, karena materi yang disampaikan buat aku mikir beribu kali untuk berani nyusun prospek keuangan masa depan. Masalahnya hidup kedepan nggak cuma untuk diriku sendiri. Nanti ada anak-anakku dan biaya darurat lainnya. Well, buku ini wajib dibaca sama orang yang mau berubah. Pola konsumsi dan savingnya. Sayang buku ini sudah nggak dicetak lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s