Mimpi #3

Dear,

Hampir setiap hari aku bermimpi, setidaknya dalam beberapa hari belakangan. Dan mimpinya pasti berhubungan dengan apa yang aku khawatirkan.

Ah, materi kajian selama satu jam dari guru besar Tauhid di Indonesia, Aa Gym, kemarin nggak membuat ku relax sedikitpun. Padahal beliau bilang sambil bertanya dan gemas. Siapa yang menciptakanmu? Yang memberikan kamu kehidupan? Yang memberikan kebahagiaan? Yang menutup aibmu? Yang menghapus dosamu? Yang memberikan kesempatan? Yang memberikanmu penjagaan? Yang melindungimu dari tangan orang jahat? Yang memberimu pahala? Yang menciptakan surga untukmu? Kalau semua itu jawabannya Allah, kenapa harus khawatir? Allah nggak zalim terhadap hambanya, bahkan ketika kita diam saja beliau menggerakan fungsi kerja otak dan otot kita, diam saja, perut bisa mules, jantung tetap berdetak, darah tetap mengalir, kita tetap bernapas, itu Allah yang menggerakannya.

Ya Allah, susah untuk ikhlas, susah untuk sabar dan selalu lupa untuk bersyukur. Innalillahi.

Mimpi yang tadi malam sebenarnya aku lupa tentang apa. Keywordnya, buku tebal, dengan tulisan merah di cover-nya, ada tulisan finance, aku yang sedang membeli buku itu. Dan loncat ke adegan yang lain, aku marah ke adikku. Biarpun aku tidak mengerti maksudnya apa, tapi itu semua, setidaknya menurutku, menggambarkan kegelisahan. Menggambarkan ketakutan. Menggambarkan kekesalan.

Ya Allah lindungi hamba dari mimpi buruk, dari mimpi yang menjadikan hamba masygul tak bersemangat. Innalillahi.

Ya Allah, bahkan tidur yang disebut kegiatan mengistirahatkan badan dan pikiran, tidak bisa membuatku lebih tenang.

Masih banyak penelitian apa sebenarnya fungsi tidur itu. Apalagi makin misterius jika kita membahas soal mimpi. Mengapa kegiatan tidur, memejam mata dan yang katanya melepaskan ruh bisa sampai ke alam mimpi. Alam di sebelah mana kesadaran kita kah mimpi itu?

Aku membaca sebuah buku yang di dalamnya diceritakan bahwa si tokoh utama mengalami mimpi yang tak biasa, sampai akhirnya dia meng-explore pengetahuannya untuk mencari tahu lebih lanjut tentang proses tidur dan bagaimana bisa sampai mengalami sebuah mimpi.

Aku mungkin akan berikan penjelasan lebih rinci tentang tidur dan mimpi pada buku itu di lain waktu. Sekarang yang ingin aku tekankan, ada satu pendapat dari peneliti mimpi dalam buku yang ku baca itu, Sigmun Freud. Beliau berpendapat bahwa semua mimpi merupakan terpenuhinya keinginan yang tertekan. Menurutnya mimpi adalah semacam dekor yan menyembunyikan sesuatu. Jadi keinginan yang kuat ketika di alam sadar yang kita pikirkan, pendam, atau alami sebelum tidur bisa merangsang kerja otak kita pada saat kita tidur sehingga kita bisa memimpikan hal tersebut.

Mungkin itu sama dengan kasus mimpi ku tadi malam. Memimpikan buku tebal bertuliskan finance, dan ada rasa terpendam pada seseorang/mungkin kesal atau juga tidak dengan orang tersebut tapi kita merasa ada hal yang kita sembunyikan sampai akhirnya mimpi ku menggambarkan kejadian ketika aku sedang kesal/marah, yang saat itu sayangnya lawan bicaraku dalam mimpi adalah adikku sendiri. Padahal aku dan adikku dalam keadaan fine lho. Kita nggak berantem sama sekali di alam sadar.

Ah, tidak paham. Tapi aku ingin mengerti mengapa mimpi bisa terjadi, dan kapan mimpi kita bisa disebut mimpi yang akan menjadi nyata? karena takut-takut itu bukan datangnya dari Tuhan tapi dari setan.

Allah Knows.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s