Masih Jauh #EdisiCurhat

Dear,

Hari ini di rumah seharian. Kenapa baca Quran itu cepet banget ngantuknya? Alhamdulillah udah mulai lagi ikutan ODOJnya. Tulisan ini cuma coret2an. Lagi males nulis sebenarnya.
Malam ini di grup ODOJ ku ada yang mau walimah-an minggu depan. Waktu natal kemarin teman yang mau walimah-an itu belanja sama teman yang lain, kebetulan grup ODOJ ku banyak yang tinggal di Depok&Bogor. Si mbanya ternyata tipe yang nggak bisa belanja baju, sepatu, tas sendiri. Haha semi-aku banget. Kalau belanja sendiri nggak pede untuk milih, kecuali kalau sudah diincar jauh-jauh hari. Dan malam ini, mba nya lagi di sidang sama keluarganya. Sidang soal adat resepsi yang kurang syari’. Subhanallah. Karena aku masih jauhhh banget mikirin itu. Jadi nggak kepikiran soal adat resepsi yang kayak gimana yang ngga syari’. Pejuang-pejuang Islam banget teman-teman baru ku itu. Mesti belajar nih dari mereka.
Jujur, aku belum kepikiran untuk nikah sama cowok yang gimana, kayak apa, bahkan dengan cara apa prosesnya. Tapi punya donk list pria idaman, aku kasih judul ‘ini dia babanya anak-anakku nanti’. Tapi rahasia donk.
Beberapa sahabatku maunya proses taaruf, dan maunya sama ikhwan. Tapi kalau aku ‘just let it be’. Semacam pasrah aja. Aku bukan tipe yang pacaran karena nggak biasa ngobrol sama cowok, yang ada awkward. Nggak deket juga sama cowok, jadi nggak tau gimana nanti. Taaruf mungkin. Tapi aku bukan tipe yang 3kali ketemuan aja langsung oke, aku tipe explore. Harus banyak diskusi, sejalan nggak? Bisa saling support nggak? Karena aku juga bukan akhwat, semacam nggak pede dan jomplang aja kalau dapat ikhwan. Hehe cuma kalau emang jodohnya mau gimana lagi ya. Tapi dari dulu, SMA, saya stick with… Biasa aja ah sama cowok-cowok ikhwan. Saya bisa jungkir balik sama cowok kalau dia sudah berfilosofi, berpendapat, bahkan pendapatnya beda sekalipun. Aku nggak cuma mau bimbingan ibadahnya, bimbingan otaknya bagaimana menyikapi lehidupan. Haha jadi inget Ayu, dia bilang gini, Genis itu gampang jatuh cinta sama cowok smart.oh iya donk, dia harus jadi partner diskusiku. Harus.

Jadi gimana ya? Sampai aku dikelilingi oleh mba-mba berkerudung panjang, mba-mba yang semangat ikut kajian yang suka kirim-kirim tausyiyah. Tapi sampai detik ini belum ada kepikiran mantab untuk, oke saya ikut taaruf aja.

Masih bocah. Belum dewasa. Masih banyak maunya. Nggak fokus. Masih NOL BESAR.
Tapi gini, semenjak tau kalau ada sahabat rosul yang dulunya kafir nauzubillah, aku jadi nggak begitu pengen banget atau harus banget yang tipe ikhwan. Masih abu-abu banget ya aku ini. Pokoknya yang soleh dan LAKI. Tau porsi suami ke istri ke keluarga dan pastinya ibadah ke Allah. Ngukur gimana solehnya ya dari diskusi, dari liat gerak geriknya, sikapnya, idealismenya. Asik.

Inget cerita ustazah nikah sama bukan ustad. Tapi ternyata dibalik sikapnya yang supel sama cewek dan cowok dia punya hati yang mulia bahkan ke kumpulan semut.

Cuma Allah yang punya ilmunya untuk menilai seseorang. Kualitas iman, kedewasaan ku kira-kira berlabuh ke kualitas yang kayak apa ya? Seorang pribumi kah? Atau seorang asing?
Wallahualam. Masih jauh. Entar aja mau kerja yang settle dulu. Jodoh ga kemana, paling ke temen. Etttt tapi aku ga punya temen cowok gimana donk? Ya mungkin sepupunya temen, sahabatnya temen. Who knows.

Buat kamu yang namanya tertera di lauh mahfuz. Sabar ya. Jangan buru-buru. Aku mah ngikutin kamu aja. Kamu siap terus bisa yakinin semuanya, inshaAllah aku juga siap.

Yah jadi curhat x_x

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s