Pria Idaman #2

Tadinya mau merangkai kata sendiri tapi akhirnya menemukan artikel ini yang sudah pas untuk menceritakan sosok Abdurrahman Bin Auf, yang saya paling ingat mengenai keahliannya berniaga dan bersedekah. Kalau mengenal sahabat-sahabat Rasul maka teringat jaman jahiliyah saya dulu, dari satu grup boyband saya akan merengking member terfavorit. Dan Beliau, Abdurrahman Bin Auf ada di peringkat ke-3 setelah Umar Bin Khattab dan Khalid Bin Walid.

Image

Simak kisahnya:

Oleh: Ustadz Arsalsyah 
Kajian Subuh MUI 27 Ramadhan 1434H

Abdurrahman bin Auf atau Ibnu Auf atau Abu Muhammad, begitu beliau kerap disapa. Salah satu dari sepuluh sahabat Rasulullah SAW yang dijamin Rasulullah masuk syurga.

Umurnya 75 tahun, wafat tahun 32 H di masa kekhalifahan Ustman.

Mengenal sosok beliau, perawakannya berbadan tinggi, wajahnya putih bersih..Cara mengenalnya juga mudah karena beliau cara bicaranya cadel karena keempat gigi serinya yg atas dan bawah sudah tanggal.
Dan yg plg kentara lagi, ada dua puluh bekas luka sisa perang Uhud..Yang paling besar dan menganga di bagian kaki yg membuat selama hidupnya terpincang-pincang.

Istimewanya lagi, selain beliau termasuk satu dari sepuluh ahli syurga, Abdurrahman bin Auf juga merupakan orang kedelapan yg masuk Islam setelah: Khadiijah, Ali, Abu Bakar, Ustman, Sa’ad bin Abi Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, serta Zubair bin Awwam..

Abdurrahman bin Auf termasuk pula golongan2 awal yg hijrah. Dan beliau pun termasuk satu dari 313 ahlul Badar yang istimewa.

AKTIVITAS PERNIAGAAN

Kelebihan yang telah kita ketahui adalah kepiawaiannya dalam berdagang. Setiap barang apapun yang dipegang selalu terjual dengan harga yg baik. Sampai dia sendiri heran dan berkata,
“Sungguh bila aku mengangkat sebuah batu maka dibaliknya akan aku temukan emas dan perak.”

Namun walaupun sangat kaya raya, beliau sangat bersahaja dan tidak suka bermewah-mewah..Perniagaan bagi beliau tidak hanya semata mendapatkan keuntungan, namun sebagai sarana pula untuk mendapatkan ridha Allah..

Beliau pun terkenal sebagai seorang tak pernah diam. Klo tidak ditemukan di masjid, sedang berjihad di medan perang, atau mengurusi perniagaannya..Beliau tidak pernah lama untuk beristirahat apalagi berleha-leha.

Ketika hijrah, ia tidak membawa apapun kecuali baju yang dikenakan. Lalu sesampai di Madinah ia dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, salah satu orang terkaya di Madinah.
Dan sejarah pun mencatat kisah indah ukhuwah diantara kedua sahabat ini, ketika Sa’ad bin Rabi’ menawarkan untuk memberikan setengah hartanya hingga Ibnu Auf diminta untuk memilih salah satu dari dua istrinya yg paling menarik baginya, agar diceraikan utk bisa dinikahi. Namun beliau menolak semuanya dan hanya meminta ditunjukkan kemanakah arah pasar.

RAHASIA KEBERKAHAN HARTA

Kenapa perniagaan beliau selalu menguntungkan? Selalu wara’ (berhati-hati) dalam menggunakan yg modal dan berniaga. Jangankan meninggalkan yg hitam bahkan yg syubhat! Sehingga hartanya senantiasa berkah..Dari 10 dinar mjd 100 dinar..Dari 100 dinar menjadi 1000 dinar.

Beliau pun menggunakan hartanya tidak hanya untuk dirinya sendiri, untuk keluarga dan seluruh sanak saudaranya, membayar hutang kaum muslimin, dan tentu berinfak kepada kaum faqir..

Sebuah pesan yg senantiasa diingat beliau, ketika Rasulullah bersabda, “Wahai Ibnu Auf, engkau termasuk golongan orang kaya tp kamu akan masuk ke syurga dengan merangkak. Maka pinjamkanlah kepada Allah dg pinjaman yang terbaik..maka pasti Allah akan mempermudah langkahmu nanti.” Sejak itu beliau menjadi semakin dermawan..

Suatu hari beliau menjual salah satu tanah seharga 40 ribu dinar atau sekitar 100 M..apa yg dilakukan dg uang itu? Tanpa ragu beliau shadaqahkan semua tanpa ia ambil sepeserpun..

Ibnu Auf pun selalu menjadi donatur nomor satu dalam hal berjihad. Pada suatu hari dikisahkan beliau memberikan 500 ekor kuda utk kebutuhan perang, pdhl hari sebelumnya beliau baru saja selesai memberikan 1500 kuda..

Dan ketika beliau hendak wafat, beliau membuat wasiat tentang harta warisnya yg diminta diberikan pada orang-orang berikut:

1. Ahlul Badar yang masih hidup di zaman khalifah Ustman yang jumlahnya masih sekitar r 80an orang, masing-masing diberikan 400 dinar atau 1M per orang
2. Digunakan untuk melunasi hutang-hutang seluruh kaum muslimin di kota Madinah
3. Istri Rasulullah yang masih hidup masing-masing 40 ribu dinar
4. Memberikan warisan kepada negara sebesar 50rb dinar *bayangkan ada orang yang ngasih warisan ke negara*

Hatta, Khalifah Ustman yg kaya raya sekalipun msh menerima harta warisnya..Khalifah Ustman tidak ragu menerimanya dan menyampaikan bahwa harta Ibnu Auf ini berkah, maka siapapun yang menikmati ia akan mendapatkan keberkahan..

Ibnu Auf adalah seorang yg mudah menangis. Pernah dikisahkan ketika Ibnu Auf Kisah ketika beliau makan bersama dengan penduduk satu kota Madinah, tiba-tiba beliau menangis krn beliau mengingat dulu Rasulullah dan para sahabat belum pernah makan dg roti gandum terbaik, daging terbaik sprti yang ia akan makan saat ini..

Abdurrahman bin Auf tdk pernah menampakkan kekayaannya, bahkan bila ada pendatang dari luarkota Madinah datang ke rumahnya, niscaya tidak akan ada yg dapat mengenalinya karena sama sekali tidak ada perbedaan antara ia dg pelayan-pelayannya..

RAHASIA KEZUHUDAN ‘AUF

Kenapa Abdurrahman bin Auf memiliki akhlak yg demikian?
Karena ia faham betul Nabinya, faham betul hadistnya yg dipesankan kepadanya..

“Berbahagialah orang2 yang bertaqwa lagi kaya raya, bila mereka hadir di tengah umatnya namun tdk dikenali..jika hilang tidak ada yang mengetahui.” (Al Hadist)

“Kamu tidak akan pernah bs memuaskan manusia dengan harta yg kamu punya..Kamu hanya bisa menundukkan dengan keramahanmu, dengan wajahmu yang berseri, dengan akhlakmu yang terpuji..” (Al Hadist)

Saking zuhudnya beliau sampai2 ketika Aisyah ra menawarkan sendiri kepadanya,
“Kalau engkau tidak keberatan, ketika engkau meninggal kelak maka jasadmu dapat disemayamkan di halaman rumah kami, bersama makam Rasulullah SAW bersama sahabatnya Abu Bakar dan Umar 
bin Khattab.”

FYI, dulu aja pas Khalifah Umar menjelang wafat, beliau yg request langsung ke Aisyah utk dimakamkan di tempat tsb..tapi Ibnu Auf ditawarkan langsung!

Namun beliau menolak karena merasa jauh dibandingkan Abu Bakar dan Umar..Beliau lebih memilih dikuburkan bersebelahan dengan sahabat dekatnya Ustman bin Mazhun, karena mereka berdua dulu pernah berikrar siapa wafatnya paling akhir akan menguburkan dirinya di makam salah satu diantara mereka yg wafat terlebih dahulu..Dan Ibnu Auf memilih untuk menjalankan ikrar persahabatannya..

PENUTUP

Belajar dari Abdurrahman bin Auf, kita ditampar betul tentang akhlak kita terhadap harta, persepsi kita tentang kekayaan.
Bahwa dalam konsepsi Islam, berbicara tentang kekayaan bukan tentang kepemilikan namun tentang pendistribusian..makin banyak yang dimiliki, makin banyak yang dishadaqahkan..

Bahkan banyak ibadah yang dijalankan semata-mata utk mendapatkan fadhilah kekayaan..Sholat Dhuha biar kaya, Qiyamul Lail agar kaya, Senin Kamis biar kaya..

Sudah tidak menarik kah syurga untuk kita dibandingkan fadhilah-fadhilah dunia tersebut?

Semua berawal dari pintu syahwat. Dua pintu orang banyak masuk neraka: mulut (syahwatul kalam) dan kemaluan (syahwatul farji). Mengeluarkan kata-kata tercela, jauh dari akhlak terpuji, menggujing..Serta syahwat biologis. Pusat energi syahwat ini terletak diantara keduanya yakni perut (syahwatul butun).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s