Semut

Alhamdulillah baru selesai berbincang-bincang dengan-Nya. Guru saya bilang, kita berbincang dengan Allah melalui solat sedangkan Allah berbincang dengan kita lewat Quran. Kalau mau merasa diperhatikan, diberika nasihat oleh Allah bacalah Qurannya.
Malam ini baca surat An-Naml yang artinya semut. Surat ini sebagian menceritakan tentang kisah Nabi Sulaiman yang bisa bicara dengan binatang, termasuk dengan semut.

Ada dua hal yang mengingatkan saya dari membaca surat ini. Yang pertama, ada satu ayat mengingatkan saya ada masa SD dulu waktu tiap sore ikut pengajian di TPA (Taman Pendidikan Alquran). Memang benar, hafalan waktu kecil itu membekas sampai sekarang.

Dulu di TPA saya sering menghapal banyak surat, ayat dan doa. Saking banyaknya beberapa doa ada yang saya tidak tahu artinya, dari mana doa itu berasal, hanya ingat dulu pernah menghapal. Tadi waktu membaca Quran surat An-Naml ayat 19, ada bagian yang saya apal. Karena apal, saat baca ayat itu saya merem melek, karena hapal jadi sok tahu tidak melihat quran dan dipercepat bacanya.
Ayatnya seperti ini:
Bismillahirahmanirrahim … Rabbi au zi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alaiya wa ‘ala walidaiya wa an a’mala shoo lihantardhohu wa adkhilni birahmatika fii ‘ibaadikashshoolihin.
Pas lihat artinya, ternyata itu ayat adalah doa Nabi Sulaiman ketika mendengar suara semut yang ribut saling menyuruh teman sesama semutnya menjauh dari kaki Sulaiman, takut-takut terinjak. Artinya ternyata Subhanallah banget lho.
Artinya:
Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensykuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat Mu ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang soleh.

Ternyata doa itu ada dibagian AlQuran, ternyata itu doa Nabi Sulaiman. Saya ingat biasanya doa itu saya bacakan setelah pengajian selesai, sehabis baca doa itu baru deh baca doa penutup majelis.
Wah, bersyukur lagi. Kenapa dulu papa mama sedikit memaksa saya untuk ikut mengaji. Karena orang tua saya peduli dengan masa depan saya. Alhamdulillah.

Hal kedua, kalau semut mengingatkan saya kepada suami istri yang berbeda level dalam hal agama. Eh, bukan berarti sok melevelkan diri sendiri seberapa alim dirinya, cuma Allah Yang Berkuasa untuk itu. Astaghfirullah.

Ada kisah tentang Ustazah yang menikah dengan laki-laki bukan Ustad. Awalnya ustazah ini sedikit mengeluh kepada Allah, karena dia melihat tingkah laku suaminya yang kurang mengenakan. Suaminya suka solat terburu-buru. Pernah tidak mau jamaah-an. Sampai ustazah bilang “saya tidak akan mau solat kalau tidak abang yang mengimami.” Jadi setiap solat selalu berjamaah akhirnya. Suaminya uztazah ini juga sering berkumpul dengan rekan kerjanya yang perempuan, bahkan pernah terlihat cipika cipiki. Sampai akhirnya ustazah mengeluh pada Allah “Engkau Maha Mendengar ya Allah, hamba tahu dan yakin itu. tapi mengapa hamba mendapat suami seperti ini, yang tidak bisa menghijabi dirinya dengan non muhrim. Bukankah hamba pernah meminta pertemukan jodoh hamba dengan yang Engkau cintai. Apakah ini sosok yang Engkau cintai?” Dia hanya bisa mengeluh pada Allah, ustazah ini tetap mengambil perannya sebagai istri yang patuh dan nurut kepada suami. Dia hanya bertindak dengan mendoakan suaminya agar tidak terlewat batas dan tetap dijaga Allah.
Di titik jenuh ustazah ini dengan keadaan suaminya. Disitulah Allah memperlihatkan apa yang tidak diketahui ustazah. Ingat Allah Maha Tahu. Mari simak.
Ketika mereka berdua hendak berjamaah solat Subuh, suaminya lama keluar dari kamar mandi. Ditunggu tidak muncul juga, ustazah jelas khawatir, takut terkadi apa-apa dengan suaminya. Ketika dibuka kamar mandi, ternyata sang suami sedang asyik berjongkok. “Suamiku, mengapa kamu lama sekali mengambil wudlu?” Dan suaminya menjawab sambil tetap dalam keadaan jongkok, “ini, aku sedang membantu para semut menjauhi saluran air. Aku takut mereka terkena aliran air wudlu lalu tenggelam.”
Subhanallah, ternyata doa ustazah sudah diijabah semenjak berjanji pada akad nikah, berjodoh dengan laki-laki yang dicintai Allah. Ternyata ini, inilah sikap suaminya dan alasan mengapa Allah mencintainya. Karena dengan semutpun dia peduli.

Jadi galau nih. Hehehe.

Ditarik kesimpulan dari dua hal diatas. Bahwa Allahlah yang Maha Tahu. Kita ini yang seringnya melihat hal dari perspektif kita yang instan yang asal menarik kesimpulan. Alasan orang tua saya menyekolahkan saya pada TPA yang sebenarnya waktu itu cukup membosankan adalah supaya kelak menjadi anak yang solehah dan kenal dengan Allah-Nya. Allah lah yang paling tahu mengapa dari dulu. Dan saya baru sadar sekarang. Dan juga kepada ustazah itu, Allah tahu dari dulu kalau suaminya biarpun bukan dari kalangan ustad tapi memiliki hati yang dicintai Allah. Dengan semut saja yang kalau kita pikir “capek deh nolongin semut satu-satu, ribet” tapi disitu letak Allah mencintainya. Ustazah tidak akan tahu kalau kejadian itu tidak terjadi.

Mulai sekarang cobalah biasakan husnuzon dengan keadaan. Husnuzon ke Allah. Kenapa saya hanya begini, kenapa saya belum bisa begitu. Mungkin jawabannya bisa kamu dapat besok atau kamu bisa saja baru ngeh setahun kemudian.

Selalu ingat, Allah sesuai dengan sangkaan hambanya.

Kamar, 20:39.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s