Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana.
“‘Raja kepiting’!”
“Hemmm mana ya, ah itu,” dek Bella menunjuk plang besar di depan rumah makan Istana Kepiting.
“Sekarang giliran Bella, Bang. Emm, yang mana ya. Ayo… Abang Lendra cari tulisan ‘Solusi Emas’?” Bella memalingkan wajah ke arah yang berlawanan dari tempat tulisan itu berada.
“Kamu mau ngelabuin Abang, Bel? Penglihatan abang tajam, setajam si Belang di rumah kalau mencari tikus-tikus bandel. Itu…” Lendra menunjuk tulisan dengan senyum menang.
“Cari ini Bel, ‘Teropong Bintang’. Dia ada di bawah tulisan ‘Rumah Boneka’.”
Bella mencari di mana pun matanya memandang. Sebenarnya kata-kata itu bisa cepat ditangkap mata Bela. Tapi karena Lendra memberi clue dengan menambahkan kata lain. Bella yang baru pintar membaca, pikirannya terbelah fokus. Antara mencari kata ‘Teropong Bintang’ dan ‘Rumah Boneka’.
“Hahaha” dalam hati Lendra terbahak-bahak, senang mengelabui Bella.
“Nyerah?”
“Belom.”
“Udah nyerah aja.”
“Tunggu, Bella pasti bisa”
“Udah mau jauh tulisannya, itu tuh.”
“Ih Abang, kenapa Abang selalu lebih pintar dari Bella sih? Ibu, kenapa sih?” Bella yang duduk di pangkuan Ibu mendongak dan menatap wajah ibunya yang tersenyum ramah.
“Terus belajar, terus baca sampai kata-kata yang panjang yang sulit. Kamu bukan tidak lebih pintar, kamu sama pintarnya kok sama Abang. Hanya saja kamu harus lebih rajin,”
Di dalam mobil itu. Di perjalanan menuju rumah Paman Dion yang cukup macet, Bella dan Lendra menikmati dengan asyik, saling menebak kata dari kata-kata yang mereka lihat di pinggir jalan. Mereka bahagia.
Bermain sambil belajar.
Mereka sederhana. Menikmati apa yang mereka bisa dengan terus mengasahnya.

Bahagia itu sederhana.
Sesederhana menikmati senja di atas genting rumah sambil menonton anak-anak tetangga bermain futsal di lapangan dadakan. Ya, dadakan karena sebenarnya itu bukan lapangan. Tapi tanah kosong yang akan dijadikan tol 3-6 bulan lagi. Mereka bahagia. Di mana pun lokasi bermain jika memang masih bisa untuk mengelindingkan bola, berlari-lari kecil mengerebutinya dengan gawang seadanya. Disitulah ada tawa, ada kebersamaan yang dibagi biarpun dengan cara yang sederhana.

Tak bisakah kita seperti mereka? Belajar, bermain, bersama tanpa mencemaskan apapun yang sebenarnya tidak perlu. Lakukan yang kita bisa, yang kita punya . Lakukan dengan cara yang sederhana.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s