Keluarga Baru di Keluarga PM

Pembiasaan lagi untuk menulis apapun setiap pagi.

Hari ini mau sharing tentang apa yang saya dapat dari cerita teman yang tanggal 13 Oktober lalu sukses melahirkan anak perempuan pertama dengan berat badan 3.1 kg. Alhamdulillah.

Dia teman SMA saya, setelah 5 tahun tidak ada kontak, saya meminta dia untuk menjadi mentor pengajian untuk geng saya yang dulu begajulan, well sekarang juga masih begajulan. Hahaha, apa sih begajulan itu? Whatever, pokoknya masih tahap proses pembelajaran untuk menjadi wanita muslimah seutuhnya. Aamiin bisa sukses jadi wanita solehah. 🙂

Teman saya itu, menikah dengan cara taaruf. Perkenalan dengan suami bisa dibilang cukup singkat. Gimana nggak. Menelisik sejarahnya, saya memulai pengajian awal Oktober, akhir Oktober dia ditawari untuk taaruf dengan laki-laki yang sudah cukup mapan 2/3 tahun diatas umurnya. Hanya taaruf 2 bulan, voila, akad nikah terlaksana. Alhamdulillah di hari sakral itu saya hadir, mendoakan dia dan suami juga untuk kelanjutan kelompok mengaji saya, serta berharap dari ke 7 temannya yang ranum ini segera mendapatkan teman hidup, menyusul dia. Hehehe.

Waktu libur idul Adha kemarin, saya dan beberapa teman pergi menjenguk si bayi cantik. Namanya Defia Wafa Arafah. Kata Abinya, artinya penepat janji. Subhanallah cantik namanya. Panggilannya Defia. Disela-sela Fia disusui, saya dan teman ngobrol tentang proses melahirkannya.

MashaAllah saya yang belum pernah melihat langsung apalagi merasakan langsung sedikit excited, ngeri, mau dibayangkan gimana tapi nggak bisa. Ehehe. Proses teman saya itu bis dibilang cukup lancar. Saat semestinya sudah melahirkan, sudah pembukaan 1 bahkan hari itu berlanjut ke pembukaan dua, tetap saja masih bisa jalan sore, masak, tertawa. Biatpun katanya ketika pembukaan selalu merasa nyeri. Kalau yang perempuan, katanya seperti sakit sedang datang bulan. 2 hari tetap seperti itu tidak ada perubahan. Sampai akhirnya di hari ke 4, pembukaannya sudah melebar menjadi 4. Hari itu juga segera dilarikan ke rumah sakit. Mungkin karena bayi sudah merasa nyaman, uminya berada di Rumah Sakit, si bayi berpikir inilah saatnya. Saya memberi saran pada uminya, untuk terus berdialog dengan si bayi ketika masih di dalam perut, untuk mengelus dan bilang “dek, kita kerja sama ya, umi udah pengen ketemu kamu”. Mungkin itu berhasil, setelah di rumah sakit pembukaan terus bertambah. Prosesnya hanya sebentar, ketika ketuban pecah, itu lebih cepat lagi prosesnya. Katanya biarpun ketuban sudah pecah ketika dokter belum menyuruh untuk mendorong si bayi dengan cara ‘ngeden’, si calon ibu harus menahan itu. Saat itu teman saya bilang, sungguh luar biasa. Karena biarpun sakit seperti sedang nyeri datang bulan, tapi itu berlipat-lipat sakitnya. Innalillahi… Nggak bisa membayangkan.
Ohya yang saya ingat, teman saya bilang, dia pesan ke suaminya yang menunggu di sebelahnya untuk mengingatkan dia mengucapkan istighfar, karena sakit yang luar biasa itu bisa membuat si ibu berkata kasar, marah-marah dan sebagainya. Saat proses tersebut karena teman saya melahirkan di rumah sakit islam, dia di tuntun untuk berdoa tapi karena tegang maka pecah konsentrasinya. Saat dokter menyuruh untuk ngeden, teman saya hanya butuh satu kali ngeden. Tarik nafas sekuat-kuatnya lalu dorong. Dan Alhamdulillah… Fia lahir. Masih dalam keadaan berlendir, Fia ditelungkupkan ke dada si Ibu untuk mencari sendiri puting susu ibunya. Katanya saat sudah di dada ibunya si bayi tenang kembali, tidak menangis karena suhu tubuh ibu lebih tinggi, panas ketimbang suhu tubuh si bayi. Mungkin itu berkat berbicara dengan Fia ketika masih di dalam perut. Karena katanya memang begitu, bayi mengerti dan menangkap apa yang kita bicarakan ketika masih di dalam perut, subhanallah kuasa Allah.

Saya yang memperhatikan ceritanya langsung kepingin banget punya bayi. Tapi teman saya bilang, “ayahnya dulu donk…” Hahaha, itu lagi. Eh saya ketawa bukan meremehkan bukan. Hanya saja sedikit santai sekarang kalau membicarakan soal itu. Sudah terbiasa dalam 1 tahun terakhir ini.

Well, selamat ya untuk sahabat saya dan suaminya atas kelahiran Dek Fia. Semoga Fia bisa menjadi anak yang solehah dan dibanggakan. Tunggu a dek Fia nanti pasti dek Fia ada temennya kok. Hihihi. Menyusul ya.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s