Pecicilan

Dear,

Teman saya bilang, ”abis ini kamu jangan pecicilan lagi ya.”
Ini kata-katanya setelah saya ceritakan kalau saya di Kediri tinggal sehari lagi. Pecicilan maksudnya kabur-kaburan dari rumah.
Kepergian saya kemarin ke Pare selama 2 minggu memang tidak banyak yang tahu. Jujur, yang mendorong saya pergi kesana itu karena saya penasaran. Karena 2 minggu kemarin adalah kesempatan saya untuk meniggalkan seluruh hari saya di Depok/Jakarta. Saya tidak perlu pikir panjang. 3 hari sebelum kepergian itulah persiapan saya menuju kota orang.

Hampir seluruh teman-teman saya shock setelah tahu saya sendirian ke kota orang. Mereka tahu siapa saya, dan bagaimana saya juga keluarga saya. Bahkan ada teman saya yang mengirimkan email dengan nasihat yang panjaaaang supaya saya baik-baik di tempat orang. #digitalhug

Perjalanan ke Pare, lalu tinggal di kostan, adalah pengalaman pertama saya. Pertama saya pergi dengan kereta luar kota, pertama saya pergi jauh sendiri, bahkan pergi ke Depok-Bogor saja belum pernah, saya nekat Depok-Pare sendirian. Pertama untuk saya merasakan tinggal jauh dari orang tua, kostan pula. Belum lagi satu kamar ditempati 4 orang dari kota yang berbeda pula. Semua serba pertama disana. Saya juga pertama kalinya tinggal di kampung yang nggak ada mall, yang toko buku pun seadanya, yang indomaret harus naik sepeda 30menit. ATM juga jauh.

Tapi sungguh pengalaman ini sangat langka didapat, khususnya dalam hidup saya. Benar-benar bersyukur banget. Dengan satu pengalaman saya dapat semua yang sudah jadi keinginan saya sejak lama.

Dulu waktu kuliah saya sempat ingin sekali merasakan tinggal di kostan, tapi kampus saya dekat dengan rumah. Saya juga ingin sekali tinggal di kampung, saya juga punya kampung tapi belum pernah menginap lebih dari 3 hari. Saya juga ingin merasakan perjalanan dengan kereta dan itu sendiri, dimana saya duduk sambil membaca buku sambil lalu melihat pemandangan sawah dari jendela kereta. Semua saya dapat. Alhamdulillah!

Saya pun tidak merasa homesick, kecuali ketika saya ‘sick’, homesick itu muncul. Tapi setelah sembuh semua berjalan biasa, bahkan seperti sudah pernah bertahun-tahun jauh dari keluarga. Hahaha, ini mungkin karena selama saya hidup, saya jarang dikasih kesempatan untuk jalan-jalan, saya anak rumahan dan selalu mendapat kesempatan sekolah atau bekerja yang lokasinya dekat rumah. Jadi semacam ada kebebasan ketika tinggal sendiri.

Karena pecicilan saya ini. Saya jadi ketagihan untuk pergi sendirian lagi ke kota lain. Kalau saya jadi mendapat pekerjaan dinas, mungkin pecicilan part 2 saya akan kesampaian. Saya ingin menjelajahi tanah Allah. Ayah saya bilang, dimana pun kamu belajar atau bekerja, asal masih di atas tanah Allah lakukanlah yang terbaik dan jadilah orang baik.

Ya semoga, pecicilan selanjutnya akan menyenangkan. Di tanah Allah yang masih di wilayah Indonesia atau luar Indonesia. Aamiin, satu pinta saya. O Allah, please always save me from myself.

Depok, 24 Juli 2013 pukul 07.33 WIB

Posted from WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s