Hujan Menggalau

Hujan menggalau.
Buat apa aku menangis, aku bukan pengemis, yang mengemis cinta, dari seorang pria, yang tak akan mungkin bisa ku miliki, biarpun kita saling mengasihi. Nasi sudah menjadi bubur, lebih baik aku memendamnya dalam kubur, karena waktu tak akan bisa ditarik mundur. Buat apa aku berharap, tak ada lagi cinta seperti dulu yang berderap, melangkah beriringan, tersenyum kegirangan. Sudahlah, aku sudah lelah. Biar hujan sore ini menyapu kegalauan, memberikan aroma tanah yang kebasahan, menyimpan rasa yang tak terlupakan.

-Depok, 22 April 2013 // 13:30 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s