Tak Dapat Kembali

Aku berjalan menelusuri rak-rak buku di toko buku yang sedang ramai mengadakan pesta anniversary salah satu perusahaan penerbit. Warna hijau muda dan biru tua mendominasi di tiap sudut ruangan bahkan rak-rak bukunya, sesuai dengan warna logo dari penerbit yang sedang berulang tahun ke 30 itu. Mall yang aku datangi memiliki satu toko buku dengan dua lantai, di lantai dua khusus untuk buku-buku saja dan ada dua ruang pertemuan yang biasanya digunakan untuk fan-signing atau diskusi tentang buku-buku yang best seller.  Di lantai satu khusus untuk semua hal yang berbau stationary, dimulai dari alat tulis sekolah, alat tulis kantor hingga pernak-pernik lucu hiasan dinding dan meja.

Aku kesini berniat untuk mengambil hadiah yang aku dapat dari undian poin yang diselenggarakan penerbit yang sedang berulang tahun itu. Aku nggak tau sebelumnya apa yang akan aku dapatkan nanti. Di bagian depan toko di situlah tempat pengambilan hadiah undian, ada  wanita berkaoskan sama dengan para karyawan lain di toko buku itu.

“Mba, saya mau ambil hadiah undian poin” saya memperlihatkan sms yang telah dikirimkan pihak penerbit sebagai bukti memang aku salah satu pemenang.

“Sebentar ya, mba. Saya urus dua mba yang ini dulu” aku pun meletakkan buku yang aku bawa di atas meja. dan menunggu sambil memperhatikan wanita di sebelahku. Dia sedang serius mengisi kertas yang mungkin itu adalah kuesioner pembaca, aku nggak pasti.

“Yap, terima kasih telah bekerja sama dengan membeli buku-buku kami, sebagai hadiah tambahan saya berikan satu buah buku untuk kalian masing-masing ya,” mba karyawan itu mengambil satu buah buku dari rak, memberikannya kepada salah satu dari dua orang di sebelahku, dan mengambil bukuku untuk diserahkan kepada yang lainnya.

Entah apa yang ada di mulutku, sehingga aku tidak bisa memberi tahu kepadanya bahwa itu buku milikku. Setelah kedua pemenang itu pergi, baru lah aku diladeni. Aku diberikan parsel yang berisikan banyak coklat dan syrup. Sebelum aku beranjak dari sana, aku baru bisa mengatakan, “mba buku yang tadi mba kasih ke orang lain itu buku saya.”

“Buku yang mana ya?” tanya nya sambil mengikat rambut panjangnya menjadi kuncir kuda.

“Yang judulnya ‘Seseorang yang Tak Kan Pernah Ada’, buku yang saya punya versi covernya bergambar siluet laki-laki, sedangkan buku yang ada di rak mba itu versi cover yang baru.”

“Oh begitu ya? Maaf kalau begitu, karena dari tadi saya bekerja terus nggak ada istirahat, jadi ribet sendiri. Oke, kalau gitu tolong kamu cari yang namanya Mba Riska, minta buku dengan judul yang sama. Kalau ditanya, bilang aja diminta Mba Kukuh gitu.”

Aku hanya mengangguk tanpa pikir-pikir lagi. Bodoh, aku diminta untuk mencari mba Riska tapi aku nggak tahu pasti di mana aku harus mencarinya, Riska yang seperti apa pula. Kaki melangkah ke lantai atas, aku pikir karena dilantai atas itu khusus untuk buku-buku mungkin orang yang aku cari ada di sana. Sesampainya di sana ternyata suasana sudah ramai, kedua ruang pertemuan di isi dengan seminar yang pesertanya anak-anak usia 10-12 tahun, di setiap rak juga dipenuhi orang. Aku tanya ke setiap karyawan dengan baju yang seragam semua tidak tahu dimana Riska. ‘Oh mungkin mba Riska ada di lantai bawah, di ruang khusus karyawan/gudang buku’, pikirku dalam hati. Tapi langkah kakiku malah menjauh dari toko buku itu, dan aku pun melupakan hadiah parsel yang aku dapat. Aku makin jauh hingga keluar dari mall. Pikiran ku malah tertuju dengan rumah yang ada di dalam buku itu. Buku yang tadi salah di ambil oleh Mba Kukuh. Buku yang baru selesai aku baca. 

Awalnya aku berjalan, lalu berlari, berlari dan berlari, hingga akhirnya aku berada di satu perumahan di daerah St. Louis. Ya aku sedang berada di Amerika. Aku tidak asing dengan suasana dan hawa dingin musim semi yang baru saja ditinggalkan musim salju itu. Yang berbeda dari pemandangan yang ku lihat adalah banyak rumah-rumah baru yang dibangun disekitar jalanan utama St. Louis. Aku seperti sudah tahu ke arah mana tujuan kakiku melangkah saat itu.

Aku mencari rumah dengan gambaran yang sama dalam buku. Sebelum aku sampai kerumah itu, aku melihat ada sepasang pengantin baru yang baru saja selesai melaksanakan pesta pernikahan. Dari mana aku tahu? Dari pakaian mereka yang masih berpakaian pengantin warna putih. Mereka sedang asik menata rumah baru, dibantu dengan teman dan keluarganya. Kegembiraan terpancar dari wajah pasangan baru itu dan terdengar dari gelak tawa keluarga yang sambil lalu membantu membenahi rumah baru.

Rumahnya unik, persis dengan pakaian pengantin yang bernuansa putih-putih. Rumah yang modelnya menjulang keatas, ada tiga tingkat, memiliki jendela yang berukuran besar. Khas rumah orang Amerika, seperti mereka selalu akan merasa aman dengan rumah yang memiliki jendela besar dan bening. Aku bisa lihat jelas letak-letak lemari, guci dan posisi barang-barang lain dari rumah itu. Aku terus memperhatikan rumah itu, ‘enaknya pengantin baru,’ itu yang ada dipikiranku.

Oh ya, kembali ke rumah yang ku tuju. Rumah itu berada di belakang rumah pengantin baru tadi. Rumah tua dengan cat berwarna hijau muda. Ada tanda hitam besar di depan pintu hingga tembok disebelahnya, tanda itu seperti bekas tembok yang terkena bocor. Lalu lagi-lagi, aku tergerak oleh pikiran bawah sadarku untuk melakukan hal yang sebenarnya aku tak mau. Aku menulis di tembok samping pintu utama dengan pensil yang aku bawa, ‘this house is like mine‘, selagi aku menulis, aku melihat bayang-bayang bekas tulisan di tempat yang sama, tetapi aku tak tau pasti tulisan apa itu. Aku hanya dapat membaca kata belakangnya ‘to you‘. Dan jujur, aku nggak tahu pasti mengapa aku bisa menulis ‘rumah ini seperti milikku’ padahal aku tidak memiliki rumah aku tinggal bersama orang tua. Dan aku tahu rumah itu dari buku yang aku baca. Aneh.

Ku ketuk pintunya, tapi aku mendengar bunyi bel dari dalam. ‘Aku mengetuk pintu, mengapa yang terdengar bunyi bel?’ aku membatin. Ku dengar derap langkah dari dalam rumah yang mendekat ke arah pintu. Aku melihat sosok kakek-kakek yang semakin mendekati ku, semakin terlihat muda dan bahkan seperti, sorry to say, anak cacat dengan kepala membesar. Wajahnya lama kelamaan semakin imut seperti anak usia 7-8 tahun.

Good evening” sambil tersenyum dan matanya menatapku lekat.

E-e-evening. Sorry, is this house a store?” aku tergagap. Aku bingung berhadapan dengan orang aneh ini. Dan aku juga baru tersadar saat itu, buat apa aku datang kesini, padahal yang aku cari itu Mba Riska, yang seharusnya aku datangai bukan rumah ini tapi toko buku.

Oh this is not a store,” tersenyum senang dan masih terpaku menatapku, sampai akhirnya aku pamit dan berlari menjauh. 

Di perjalanan ingin kembali ke toko buku, angin kencang berhembus aku tidak bisa melihat jelas kemana arah langkah kakiku. Sampai akhirnya aku kembali lagi melihat rumah pengantin baru tadi, mereka sedang sibuk menutup jendela rumah karena tiba-tiba hujan turun dengan hembusan angin yang cukup kencang. Lalu aku kembali lagi ke rumah tua itu. Aku berlari lagi menjauhi rumah itu, lalu kembali lagi di depan rumah yang sama. Ini aneh. Terus hingga malam pun tiba, area St. Louis semakin gelap, minim lampu jalan dan aku ketakutan. Dari situlah akhirnya aku tak dapat kembali ke kehidupanku yang lama. Aku sekarang tinggal di dalam rumah yang temboknya pernah ku tulis ‘this house is like mine‘. Aku akhirnya menjadi pemilik rumah itu sampai sekarang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s