Opportunity

Dear,

Selagi Maghrib, keadaan rumah sepi. Televisi di ruang keluarga dimatikan, papa membiasakan saya dan keluarga untuk mematikan tv selepas azan di tivi berkumandang. Nggak peduli acara tv jam segitu sebagus dan serame apapun pasti tv HARUS dimatikan. Kecuali kalau  ada pertandingan bola timnas Indonesia. Selesai “setor” sama yang punya bumi, langit dan isinya, biasanya saya dan adik-adik saya makan malam sambil berbincang-bincang. Hari ini cuma ada saya dan adik saya yang paling kecil. Baru saja dia selesai membaca Quran, tumben.

Saya yang sudah asik menyantap nasi, daging, sayuran dan tahu dikagetkan dengan cerita adik saya dari belakang. Biasa, selalu dia punya cerita soal teman sekolahnya atau apapun yang dia alami di sekolah. Kalau sudah begini selalu ingin kembali jadi anak SMA. Maklum sekarang saya pengangguran, di rumah terus. Cerita dia kali ini nggak lepas dari teman cowoknya yang konyol. Saya yang belum pernah bertemu berasa akrab dengan cowok itu dan sudah hapal benar sikapnya. Tapi bukan itu yang mau saya ceritakan ke kalian.

Saat kita makan bareng, papa bertanya “kamu baca surat apa tadi, Put?”. Sambil mengunyah, “aku dari ulang lagi bacanya, Pah.” Saya yang duduk di samping ikut berbicara, “kalau malam Jumat bacanya surat Al-Kahfi Put, nanti di surga muka kamu bercahaya.” Nah dari percakapan singkat itu, akhirnya adik saya menceritakan kenapa dia bisa tumben membaca Quran dan mengulang lagi bacaannya dari awal karena lupa dulu sudah sampai surat yang mana.

Begini kurang lebih ceritanya, “Tadi aku ditegur sensei karena nilai Jepang-ku jelek. Dan sensei tau jawabannya, karena aku sibuk sama ekskul tari saman dan kegiatan sekolah. Bahkan sensei juga tau kalau nilai-nilai perlajaran lain apalagi Fisika-ku turun. Trus sensei bilang sama aku gini, “kalau gitu sekarang kamu lakuin lagi kebiasaan yang dulu kamu lakuin waktu kamu merasa nilai kamu bagus”. Aku jadi mikir, teh. Dulu waktu SD aku punya trik buat jadi semangat belajar.”

Saya memotong dengan penasaran, “apaan?”

Adik saya melanjutkan ceritanya, “rajin baca Quran. Dan pensil untuk ngebantu aku baca Quran aku tempel dengan tulisan ‘masuk SMP2’. Nah dari situ beneran, Teh. Sebelum kelulusan di semester satunya tuh aku rengking 14 tapi karena dibiasain baca Quran dan sering baca tulisan itu, teteh tau sendiri kan aku rengking berapa jadinya di sekolah saat kelulusan, rengking 1.”

SMP 2 itu SMP favorit di kota saya, alhamdulillah saya dan adik-adik dulu bersekolah disitu. Sampai sekarang masih jadi favorit. Adik saya yang paling kecil ini waktu kecil senang menghapal Quran dan paling rajin baca Quran. Dulu waktu saya SMA kalau mau ujian selalu minta dia doa untuk saya. Yah saya nggak tau sih, impian saya saat tercapai itu berkat doa siapa dan yang mana, tapi karena si adik ini rajin baca Quran dulu saya merasa doanya pasti akan sangat membantu. Kalau di-flashback nih, pas zaman dia SMP dia jadi menjauh sama Quran dan hasilnya yah sekarang dia masuk ke sekolah swasta deh dan waktu mau masuk juga bingung mau sekolah di mana. Makanya saya bilang di awal, dia tumben baca Quran.

Dari cerita itu saya makin yakin dan percaya, kalau Quran itu nggak cuma penyejuk jiwa dan pengobat hati tapi pendukung kesuksesan juga. Hmmm apalagi kalau sampai bisa menghapalnya ya. Sudah banyak contoh dan cerita-cerita yang kadang nggak logik. Tetapi saya masih susah untuk menghapal padahal kalau dipikir-pikir, kalau saya bisa menghapal lagu-lagu Korea yang entah artinya apa, seharusnya saya juga bisa menghapal Quran. Semoga ada jalan. Aamiin.

Dari cerita itu juga saya terus mengingat kata senseinya, “lakukan aja apa yang biasa kamu lakukan saat akhirnya keinginan kamu tercapai”. Buat yang beriman, memang benar doa adalah senjata. Salah satu teman saya bilang, kesuksesan dia mungkin bisa terletak dari doanya, karena dia selalu meningkatkan kapasitas doanya ketimbang usahanya. Biarpun seharusnya sih seimbang, tapi kalau sudah berurusan dengan kehendak Tuhan, kita mana tahu, ya nggak? Perbanyak doa aja deh.

Inilah hal yang paling saya suka kalau sudah berada ditengah waktu antara magrib dan isya, ada hal positif yang saya dapat dari cerita adik saya atau yang kadang saya bagi ke mereka. Selalu ada kesempatan untuk belajar dan menjadi lebih baik. Pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s