Aku Saat Ini

Dear,

Rehat sejenak dari rutinitas membuat skripsi yang sampai saat ini masih belum rampung. Saya rasa saya kangen tulisan saya, saya kangen ide-ide saya untuk menulis di blog ini. Memang susah memulai lagi sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi kebiasaan dulu.

Aktivitas saya saat ini hanya membuat skripsi, membantu mama mengurus rumah dan membaca. Pasti kalian akan mengernyitkan dahi dan memberi komentar “masa hanya ini? kuliah nggak? kerja nggak?”. Sama seperti teman saya 2 minggu lalu yang menanyakan aktivitas sehari-hari saya dan terheran dengan jawaban saya itu. Tapi itu kenyataan.

Dengan kegiatan yang itu-itu saja, awalnya bosan. Beberapa teman menawarkan pekerjaan, ada yang saya tolak dengan alasan skripsi belum selesai, ada yang saya ladeni tapi akhirnya tidak jadi/gagal. Yakin, ada yang salah pada diri saya, hanya saja belum mendapatkan jawaban yang pasti, mengapa.

Sedikit demi sedikit saya bisa menerka-nerka dan berpikir kesalahan apa yang saya buat sehingga akhirnya saya terkatung-katung begini. Gundah tapi dibiarkan cuek, takut tapi dibawa sok berani, sedih tetapi disembunyikan.

Hobi saya dulu Korea, eh Korea kok hobi, Korea itu nama negara. Oke saya perjelas, saya senang mendengar lagu Korea, membanding-bandingkan lagunya, membuat rekomendasi di twitter. Selain itu saya senang mencari tahu tentang drama Korea yang terbaru, menonton MV (Music Video) artis-artis Korea terbaru atau variety show. Dan saat itu saya senang melakukannya, toh saya menemukan banyak teman dari hobi itu. Bahagia saat itu tapi kosong.

Saat ini kebiasaan itu berubah, tidak drastis tapi saya memangkas waktu saya untuk browsing soal itu. Satu yang tidak berubah, mendengar lagu Korea, tapi itupun sudah dibatasi. Dulu saya pernah bilang, “kalau orang yang nggak suka Korea boring kali ya hidupnya, kalo ngenet cari apa coba mereka?”. Dan saya sendiri kemakan omongan saya, sekarang saya yang berada diposisi yang tidak Korea-korean lagi. Dan saya mendapatkan jawaban dari apa yang saya tanyakan.

Sekarang dengan kegiatan senang membaca, saya merasa inilah yang seharusnya. Saya bisa mendapat masukan atau asupan untuk otak saya yang mungkin sudah menciut. Dari membaca saya sedikit peduli dengan masa depan saya nanti. Memang belum bisa semua bacaan yang mengandung nasihat saya praktikan semua, tapi at least saya sudah tahu hal apa saja yang seharusnya saya lakukan. Saya berubah? Ya, sedikit. Eh mungkin banyak. Ah tidak tahu, saya jalani saja.

Bacaan yang saya baca bukan buku fiksi, bukan komik, saya tidak punya budget untuk membeli buku-buku itu sekarang, meminjam pun sebenarnya bisa tetapi di rumah menumpuk buku bacaan yang belum terbaca. Saya hobi baca apapun yang berhubungan dengan agama saya. Saya senang membuka blog-blog yang sarat akan nasihat atau quote-quote yang membuat hati saya tenang, atau juga sejarah Nabi dan sahabatnya yang bisa mendekatkan diri pada Tuhan saya. Sedihnya, ternyata di rumah saya banyak menumpuk buku-buku agama, dari sejarah sampai self-motivation. Buku-buku itu saya biarkan hingga berdebu. Sedih. Sedih. Tapi ingat, tidak ada kata terlambat untuk berbuat baik.

Yang bisa merubah pemikiran saya, bahwa hobi saya yang kemarin itu nihil adalah ketika saya melihat timeline twitter. Teman-teman saya pergi ke Korea Selatan, negara yang saat itu menjadi impian saya. Saya juga melihat teman-teman saya menggambarkan kebahagiaannya menonton konser yang notabene-nya idola saya saat itu. Bukan hanya itu, saya mengetahui teman saya membuat buku, teman saya yang lain pergi ke negara impiannya untuk meneruskan sekolah. Iri. Nggak akan munafik, ya, saya iri. Tetapi hal itu membuat saya berpikir, kenapa bukan saya? kenapa saya  tidak bisa? Dan hal itu mengingatkan pada papa saya yang sebenarnya tidak suka dengan hobi Korea saya, beliau bilang “sudah berhenti saja Korea-nya, sampai saat ini kamu di sini, bukan di Korea.”

Itulah yang membuat saya merasa bosan dengan kehidupan saya yang dulu. Dan berlabuh pada hobi membaca, membantu mama mengerjakan pekerjaan rumah dan kewajiban terakhir mejadi mahasiswi, membuat skripsi. Satu bulan ini saya merubah kebiasaan saya yang senang membuang waktu. Ya saya pikir, saya telah membuang waktu. Buktinya teman-teman saya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, sedang saya hanya disini, di depan laptop dan hanya menjadi silent reader status twitter teman-teman saya yang bahagia dengan apa yang mereka dapat.

Mungkin saya tidak seperti mereka yang ayah ibunya mempunyai rezeki berlebih sehingga bisa membiayai mereka pergi keluar negeri, mungkin saya belum bersungguh-sungguh memahami kata-kata ‘i wish i could be there’ dan mempraktekan kalau mau sukses ya nggak cuma berharap. Atau… Mungkin saya belum tepat untuk diberi kesempatan bekerja sehingga tidak ada pemasukan untuk membeli tiket konser. Mungkin benar, saya hanya semangat tetapi tidak rajin sehingga hanya bisa begini-begini saja.

Atau mungkin bukan itu, Tuhan melindungi saya dengan keadaan seperti ini, supaya saya diberi kesempatan untuk memaknai hidup. Mungkin Tuhan menjaga saya dari rasa pamer kalau-kalau kemarin saya diberi kesempatan untuk mendapatkan ini itu. Mungkin Tuhan ingin saya memahami Dia dulu, Tuhan ingin saya lebih memperhatikan-Nya, sebelum akhirnya Tuhan bisa dengan lapang dada (ridha) memberikan apa yang saya mau.

Atau, yang ini. Mungkin saya adalah orang yang harus lebih giat, lebih rajin, lebih bersungguh-sungguh, lebih mendekatkan diri pada Tuhan dibandingkan dengan mereka. Karena Tuhan tahu cara yang terbaik memperlakukan tiap hambanya.

Biarpun sekarang saya tidak lagi mengikuti perkembangan Korea, bukan berarti saya tidak tahu apa yang sedang tren di sana. Saya tidak mau menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Apalagi dari sejak SMP, saya sudah dijuluki radio berjalan, yang tau banyak hal. Bukan sombong, tapi saya mau tetap menyandang predikat itu.

Kegiatan saya yang sekarang, biarpun kedengarannya lebih membosankan tapi saya senang. Banyak hal yang saya pelajari, ketimbang hanya tweet-tweet sana sini, RT sana sini, ngomongi orang. Hanya saja sesekali saya merasa menyesal dengan yang lalu-lalu, suka mengungkit-ungkitnya dan bersedih. Saya rasa kegundahan itu terjadi lama sehingga saya baru sadar, kalau saya membuang waktu selama kurang lebih 2 tahun. Karena saya merasa kosong semanjak tahun 2010. Tapi biarlah, hal itu saya jadikan pelajaran. Sudah saatnya saya berubah, bukan hanya karena umur saya yang sudah 20-something tetapi karena masa depan.

Jangan tersinggung, tulisan ini cukup hanya untuk menyinggung saya. Dan saya tidak men-judge bahwa hobi Korea itu jelek, nggak, sekali lagi nggak. Hanya saja saya tidak bisa memanfaatkan peluangnya hingga menghasilkan sesuatu yang membuat saya bahagia. Diri saya lah yang seharusnya disalahkan kenapa akhirnya saya berpikir hobi ini tidak bagus, tapi ingat, tidak bagus untuk saya. Mungkin kalian tidak karena kalian bisa meraih mimpi kalian dengan hobi kalian yang sekarang. Selamat.!

Saya lebih bahagia seperti ini, ketika saya tidak lagi begitu peduli dengan fenomena Korea. Mungkin ini saatnya, saya berkata “Goodbye, fandom!”. Kita bertemu di lain kesempatan.

cr pic: tumblr

Advertisements

5 thoughts on “Aku Saat Ini

  1. hi sist. Aslmlkum. suka bc blogmu. mutu, dn enak bacanya.
    wktu baca post yang ini aneh bgt rasanya. berasa baca jurnal sendiri. berasa jadi pemeran utama dr cerita yg ditulis orng lain. thats really my story! “gw prnah banget ada d situasi itu dn mrasa bgitu!” pikir saya.

    tp mungkin saya lbih mnyedihkan deng. tlat 2 stengah taun llsnya. 2taun cm nguplek2 skripsi thok. hehe.
    wktu itu smpt capek nonton korea dn nonton khidupan tmn2 yg udh jalan ninggalin sy di blkng.
    ttp smangat ya tman. bantu pkrjaan mama btul2 bkn hal spele.
    tdnya pengen numplekin isi hati disini karna brasa punya juga cerita yg sama. tp, tar puanjang bgt jdnya.ini aje ude panjang noh.

    cm bs mndoakan dn ksh support. ttp smangat ya..
    smoga skripsinya lancar.yakin Alloh punya yg trbaik. supangat supangat! 😀

    • hi Sali~ waalaikum salam^^
      alhamdulillah aku kira tulisan ini terlalu mendramatisir dan terlalu curhat karna ga biasa curhat panjang lebih kayak ditulisan ini sebelumnya..
      wahhh, tapi sekarang udah sukses jaya kan? udah kelar dan keluar dari masalah itu^^
      terima kasih supportnya, semoga sister juga gitu ya… selagi futur langsung digenjot sama ibadah (ibadah ga cuma sekedar solat,puasa,zakat ya tapi bisa melakukan hal2 positif).
      Bukan menggurui, tapi jadi inget cerita rasul, sahabat pernah tanya, “Ya Rasulullah, kenapa kalau didekat engkau saya rajin ibadah dan ingat terus kpd Allah, tetapi ketika saya dirumah dgn keluarga saya kembali lupa pada-Nya. Bagaimana menurutmu?” Rasul jawab, “ketika engkau merasa hilaf, segeralah menyadari dan lakukan ketaatan.”
      InshaAllah, kita bisa melaksanakan masukan dari Rasul itu ya sister..
      Sukses dan berkah sisa umurnya. :*

  2. btw secara dirimu suka omar series, saya mo rekomen buku. bole yaa, bole aja deh.
    karna di film itu banyak bermuculan sosok2 sahabat, saya jadi pengen tau lebih jauh. tapi disisi lain ngga kuat baca buku yang berat2 tentang para sahabat. nah mungkin buku yang ini bisa sdikit mngobati rasa kangen kita dengan cara yang lebih familiar dan bersahabat. buku anak2 soalnya. hehe
    judulnya :
    Kisah Luar Biasa: 365 Hari Bersama Sahabat-Sahabat Rasulullah saw. By Taha Kilinc, Seval Cevizci. Penerbit

    trimakasih udah didoain balik. amin amin amin

    • thank u sali1101.. iya bener jg,skrng aja yg buku Ali bin Abi Thalib blm sampe abis. udah ngumpulin e-book ke4 sahabat tapi ntah kapan tuh dibaca in english pula, tambah males kkkk.
      Oke, nanti ku cari ya bukunya. Mudah2an ada di toko buku deket rumah biar ga susah cari2~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s